
"Pada ngapain keruangan gue?" tanya Awan yang sedang duduk dibalik meja kerjanya, menaikkan pandangannya dari berkas-berkas diatas meja.
"Ngga sopan lo Kakak ipar datang, disediain minum kek. Malah kayak orang ngajak gelut." Ketus Ray, menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
"Baiklah Kakak ipar yang terhormat, maafkan adik iparmu ini. Tapi disini hanya tersedia air kran, jika berkenan silahkan." Tunjuk Awan pada wastafel diruang kerjanya.
"Dasar adik ipar luknut!" Ray melempar mainan twins yang tersusun diatas meja kearah Awan.
"Woii... mainan anak gue. Hancur bisa ngamuk mereka." Protes Awan.
"Tinggal lo beli baru, dasar Daddy pelit." sahut Arya.
"Masalahnya ini limited edition, bro. Ampe kucing bertanduk juga kagak bakal keluar lagi."
Awan menyusun kembali mainan twins yang berhasil ditangkapnya.
"Lo masih ada jadwal operasi?" tanya Ray mengalihkan pembicaraan, ia kini dalam mode serius.
"Nope, why? kayaknya serius banget." Awan menatap sahabat sekaligus Kakak iparnya itu, lalu melihat Arya yang duduk disofa single. Tapi Arya hanya mengangkat bahu, karena tidak tau.
Ray menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, "Lo pasti udah tau apa yang ingin gue bahas!"
"Twins!" tebak Awan, Ray langsung mengangguk. "Papa udah cerita semuanya." Awan menghela nafas panjang.
"Gue ngerasa ada sesuatu yang di inginkan orang itu, maksud gue gini. Emmm...!"
Ray menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus mulai dari mana menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya. Awan dan Arya menunggu apa yang ingin dikatakan Ray dengan alis berkerut.
"Lo mau ngomong apa sih Ray, kok mendadak oon gitu!" tungkas Arya.
"Tau tuh, udah nungguin juga. Buruan, mau ngomong apa lo!" sambung Awan.
"Gini ya, semoga lo lo pada paham maksud gue. Ekhem... Gue ngerasa ada yang ganjil dari orang itu, kalian ngerasa aneh ngga sih untuk menguasai seluruh aset dan kekayaaan Ardhinata aja dia harus bersusah payah cari keberadaan anak-anaknya Kevin. Kenapa ngga langsung di akuisisi tu perusahaan dan aset-aset lainnya secara logika Kevin dan Om Anton sudah meninggal, Tante Sofi dalam keadaan yang tidak baik. Walaupun secara hukum ahli waris masih ada kan tidak tau ada dimana? mudah saja bukan baginya untuk memanipulasi data." Jelas Ray kemudian melirik Awan dan Arya secara bergantian.
"Jadi maksud lo, twins mengetahui sesuatu yang di inginkan orang itu?" tebak Awan.
"Nah, itu maksud gue. Sesuatu yang rahasia gitu." Ucap Ray menjentikkan jarinya dengan senyum sumringah apa yang ada di pikirannya tersampaikan.
"Astagaa, Ray. Lo mau ngomong itu aja blibet! harus panjang kali lebar kali tinggi, Sabang Merauke dulu!" cecar Arya dengan kesal.
__ADS_1
"Entahlah, gue masalah kayak gini mendadak bego. Soalnya bukan bidang gue!" Ray membela dirinya.
"Alesan lo!" balas Arya.
"Apa kita harus tanya sama anak-anak, Ray? atau tanya Shika? tidak mungkin, dia tidak tau. Benarkan?" tanya Awan.
"Jangan dulu, Wan. Menurut gue mending kita cari tau dulu, coba kita ke rumah Kevin. Siapa tau disana kita dapat petunjuk."
"Kita mau main detektif Conan?" Arya bertanya dengan sebelah alis naik.
"Abisnya gue penasaran, kenapa itu aki-aki gencar banget nyariin ponaan gue!"
"Kok lo tau, aki-aki?"
"Umurnya sepantaran Papa!" Bukan Ray yang menjawab tapi Awan.
"Buseeett... udah bau tanah, bukannya tobat masih juga ngincar harta. Ckck, perlu diruqyah emang tuh aki-aki biar kembali ke habitat yang benar!" Arya bersungut-sungut kesal.
"Selesai jam kerja kita langsung gerak, gimana? lebih cepat lebih baik bukan?" Ray menunggu persetujuan kedua pria didepannya itu.
"Okey!" sahut Awan dan Arya bersamaan.
*****
Rumah itu hanya dijaga satpam dan tukang kebun, dengan berbagai macam sistem keamanan yang terpasang disekeliling rumah mewah itu. Mereka tinggal di rumah belakang dari rumah utama, rumah yang diperuntukkan untuk para pekerja. Untuk urusan bersih-bersih akan ada yang datang untuk melakukannya.
Tidak sembarang orang bisa mendapat akses masuk ke rumah itu, maka dengan terpaksa Ray harus meminta ijin pada sang adik dan pastinya dengan berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan Shika. Dengan terpaksa mau tidak mau Ray dan Awan akan menceritakannya nanti pada sang Ratu pemilik Kerajaan.
"Lo gimana sih Ray, masak lupa kalau masuk sini harus ada ijin dari Kanjeng Ratu." Sunggut Awan kesal.
"Huff.. gue benar-benar lupa, bro!" Ray mendesah kasar.
"Ujung-ujungnya gue harus kasih tau Nyonya besar masalah ini."
"Ya udahlah, berkorban dikit demi anak-anak. Anggap aja tadi bini lo ngga restuin lo aneh-aneh." Ucap Ray asal.
"Ngga perlu dikit, nyawa pun gue kasih demi anak-anak." Tegas Awan.
Plukk
__ADS_1
"Yang punya ide kesini kan, lo!" lanjut Awan menggeplak kepala Ray dengan tangannya.
"Kalian berisik banget sih, mulai dari mana dulu nih misi kita?" sela Arya menghentikan perdebatan kecil dua sahabatnya itu.
"Entahlah, gue juga bingung mau mulai dari mana menjelajah rumah sebesar ini." Ray mengedarkan pandangannya keseluruh sudut rumah besar itu.
"Ruang kerja, kita mulai dari ruang kerja Kevin." Awan mecetuskan idenya.
"Good idea." Kata Ray, mereka menapaki anak tangga satu persatu hingga tiba dilantai dua. Melangkah menuju sebuah pintu yang berada dipojokan, dimana ruang kerja Kevin berada.
"Gila, setiap sudut terpasang CCTV." Arya memperhatikan keadaan lantai dua itu dengan seksama, benar-benar seperti seorang detektif. Walaupun KW-KWan.
"Kalau dilihat dari banyaknya CCTV dilantai dua ini, sepertinya lantai ini sangat sensitif." Awan ikut memperhatikan sekeliling sambil mangut-mangut seperti tau akan sesuatu.
"Lo benar, Wan. Dilantai bawah aja tidak sebanyak ini." Ray ikut membenarkan kata-kata Awan.
Begitu tiba didepan pintu ruangan itu, mereka bertiga saling pandang. Sejurus kemudian menatap tombol-tombol angka yang ada disamping pintu itu.
"Lo yakin ini ruang kerjanya?" tanya Awan menoleh pada Ray untuk memastikan lagi.
"Dulu Zie pernah nunjuk sama gue kalau ini ruang kerja Daddynya, pas gue anterin dia kekamarnya." Ray menunjuk kamar Zie yang ada diseberang, jika ingin kekamar itu harus jalan memutar karena ditengah-tengah langsung terhubung dengan lantai bawah yang hanya dibatasi oleh kaca pembatas.
"Apa harus menghubungi Fe lagi?" tanya Ray,
"Kita coba dulu, kalau tidak berhasil!" Awan menjeda ucapannya, menarik nafasnya sejenak.
"Baru kita hubungi, Fe," lanjut Awan lagi. Kemudian Awan menekan tombol-tombol angka yang terpasang didinding itu.
Tit
Ceklek
Pintu ruang itu bergerak terbuka setelah Awan memasukan angka yang ditebaknya, Ray dan Arya melongo saat pintu terbuka. Hanya sekali! hanya sekali masukan sandinya langsung benar.
"Lo kok bisa tau sandinya? kayak cenayang lo,"
"Sandinya apa yang selama ini dirahasiakan oleh Kevin." Jawab Awan sambil melangkah masuk kedalam ruang itu.
"Twins!" Awan mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Sejak awal twins lahir, Kevin memang menyembunyikan kehadiran mereka." Ray mengingat kembali akan momen dimana Kevin merahasiakan kelahiran anak-anaknya, ia rela mengeluarkan banyak uang untuk menutup seluruh akses rumah sakit saat Fe melahirkan sehingga data tentang istri dan anak-anaknya tidak akan ditemui.
❄❄❄❄❄❄❄