Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
72 - Suasana Hati


__ADS_3

Shika sedang mengupas buah ketika pintu ruang perawatan twin di buka dari luar, ia pun menoleh kearah pintu, sudut bibirnya tertarik saat melihat suaminya yang memakai scrub masuk kedalam.


Shika mengakui jika suaminya itu memang sangat tampan, di tambah memakai pakaian seragam itu. Pasti banyak koas dan perawat yang cari perhatian pada suaminya.


Wajah yang tadi tersenyum mendadak berubah muram, Awan yang melihat wajah istrinya yang di tekuk mengerutkan alis. Awan mengecup kening istrinya yang bermuka masam.


“Kenapa sayang, kok di tekuk gitu mukanya. Hilang dong cantiknya.” Awan tau istrinya yang sedang sensisif ini pasti sedang memikirkan sesuatu yang membuat moodnya berubah.


“Kalau kakak pakai baju ini pasti banyak koas sama perawat yang incar kakak, mereka pasti cari perhatian kakak, hiks...”


“Loh, kok jadi nangis?” Awan menghela nafas panjang, benarkan! Kumat sisi sensitifnya. Awan memeluk Shika dengan posisi dirinya yang berdiri, tangannya mengelus lembut rambut wanita yang sedang mengandung anaknya itu.


“Kakak ngga boleh ganteng- ganteng kalau ke rumah sakit!” Ucapnya sebal.


Awan melepaskan pelukannya, mengambil piring yang berisi potongan buah dari atas pangkuan istrinya memindahkan ke atas meja. Kemudian ia jongkok di depan istrinya itu.


“Sayang, lihat kakak.” Awan menyentuh pipi Shika dengan satu, sedangkan tangan satunya menggenggam tangan wanita itu.


“Biarkan saja mereka cari perhatian sama suami kamu ini, yang penting di dalam sini sudah ada kamu yang mengisinya.” Ucap Awan sembari menunjuk dada kirinya.


“Kakak ngga pernah peduli sayang, mau mereka cari perhatian, mau jungkir balik, mau mereka telanjang sekalipun kakak ngga akan peduli.” Shika mendelikkan matanya.


“Enak aja mau telanjang depan suami orang, ngga boleh. Shika jambak, terus Shika arak-arak kalau sampai mereka berani kayak gitu.” Shika membuat tangannya seakan ia sedang menjambak seseorang.


Awan menahan senyumnya, hormon ibu hamil benar-benar ajaib. Bisa berubah dalam seperkian detik.


Setelah membuat suasana hati istrinya kembali membaik, giliran Awan mendekati twin yang sedang berbaring. Ia mencium kedua Putra kembarnya secara bergantian dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


“Gimana sayang, apa masih ada yang sakit?” tanya Awan pada keduanya. Twin menggeleng lemah.


Melihat dua anak kesayangannya terkulai lemah di rumah sakit, orang tua mana yang tidak sedih. Apalagi Zie yang biasanya biang rusuh di rumah, sekarang terasa sangat sepi tidak mendengar celotehnya yang seperti petasan.


“Cepat sehat kembali ya sayang, anak-anak Daddy kan kuat. Jangan mau kalah sama sakitnya harus cepat pulih, biar bisa cepat pulang.”


“Iya Dad,” jawab twin seraya menganggukan kepala mereka.


*****


Shika yang sedang tiduran di pangkuan suaminya, mengambil ponsel milik Awan ada diatas meja. Ia ingin memesan makanan lewat aplikasi, mendadak ia ingin makan batagor yang pedas, Awan membiarkan saja apa yang di inginkan oleh istrinya.


“Kakak mau makan apa? Biar sekalian di order.” Tanya Shika melihat pria yang sedang menatap dirinya.


“Mau makan kamu.” Shika melotot, tangannya mencubit gemas pinggang suaminya.


“Kakak mesum banget sih, tadi pagi udah ya kak sampai dua kali. Awas minta lagi, tidur di luar.” Ancam Shika.


Awan tertawa pelan, ia tidak mau twin yang baru tertidur sampai kebangun karena suara tawanya. Gaya istrinya ini suruh dia tidur di luar, ditinggal buang air kecil aja udah nungguin depan pintu kamar mandi, ini pakai sok-sokan suruh tidur di luar.


“Kakak ngga masalah sih tidur di luar, kakak bisa tidur disini sama twin. Jangan rindu ya, kalau ngga ada suami di samping.”


Awan mengulum senyum melihat istrinya dengan bibir tercebik seperti sedang berpikir, kemudian perempuan hamil itu melihat suaminya yang seperti wajah tidak berdosa itu.


“Kakak curang, sangat menyebalkan!” Sebal Shika merajuk.


Mana bisa ia tidur kalau tidak di kelon suaminya, selama hamil ia tidak bisa jauh-jauh dari suaminya. Jika tidak mencium aroma tubuh suaminya, ia pasti akan kebangun dari tidurnya.

__ADS_1


Terkadang Awan mengakalinya dengan meletakkan baju yang di pakainya di dekat sang istri yang tertidur agar tidak terbangun, karena kalau ibu hamil itu sudah kebangun tengah malam akan sangat sulit untuk tidur lagi. Yang salah posisilah, perutnya tidak nyaman, sakit di punggung dan masih banyak keluhan lainnya.


“Udah order pesanannya?” tanya Awan mengalihkan pikiran istrinya.


“Eh, belum. Tuh kan gara-gara kakak sih, jadi lupa mau order.”


Awan menggaruk kepala yang tidak gatal, salah lagi dirinya dihadapan bumil itu.


*****


Ruang perawatan twin malam ini terlihat ramai, untung ruang perawatan mahal. Coba kalau bangsal, udah di usir mereka sama perawat yang jaga. Tapi mana bisa, orang pemiliknya aja juga ada di dalam kamar itu.


Malam hari, Dika sama Zoya yang akan menjaga twin karena tidak mungkin mereka membiarkan Shika yang tengah hamil harus begadang dan tidur di rumah sakit. Apalagi Shika pernah mengalami pendarahan dan membuatnya harus bedrest hampir tiga bulan lamanya.


Kamar itu terlihat bukan kamar perawatan, mereka seperti sedang piknik di dalam sana. Mereka sedang makan malam bersama diatas lantai yang beralaskan karpet tebal.


Twin sendiri juga ikut duduk di lantai mereka di suapi makan oleh Papi dan Maminya, karena Daddy mereka sedang mengurus bumil yang makannya mau di suapi oleh sang suami.


“Fe, Fe, kamu ini udah mau punya anak lagi masih juga ngga mau kalah saing sama anak sendiri.” Ledek Ray yang duduk di samping sang adik.


“Biarin, wlee. Yang mau juga bukan Fe, noh! keponakan kakak dalam sana.” Shika menunjuk perut besarnya.


Mereka yang ada di sana tertawa lepas melihat perdebatan adik kakak itu, terkadang mereka lupa dengan usia bahkan status mereka yang sudah memiliki pasangan masing-masing.


Tapi begitulah cara mereka, agar hubungan diantara mereka tidak ada jarak dan bersyukur pasangan mereka


tidak pernah mempermasalahkan sehingga membuat kehidupan mereka selalu harmonis.

__ADS_1


__ADS_2