Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
56 - Kabar Bahagia Sebelum Hilangnya Shika


__ADS_3

"Sayang, kita program anak kembar lagi ya?" saat ini pasangan suami istri itu sedang mengobrol ringan seperti biasa sebelum tidur diatas ranjang, Shika yang sedang bersandar pada dada suaminya mendongak melihat suaminya.


"Kenapa Kakak mau kembar lagi?" tanya Shika, alisnya berkerut.


"Biar kamu sekali sakitnya, Kakak tidak sanggup jika kamu sakit berulang-ulang. Setelah itu jika kamu setuju sekalian di sterilkan." Awan berbicara sangat hati-hati, ia tidak ingin Shika salah paham yang bisa merusak mood nya. Kejadian beberapa waktu dulu, membuat Awan sangat menjaga emosi sang istri.


"Kakak tidak ingin punya anak lagi?" tanya Shika.


"Bukan Kakak tidak mau, kita sudah punya dua anak. Kalau nanti kembar lagi jadi empat, Kakak ngga mau nanti mereka kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya karena sibuk mengurus adik-adik mereka yang lain. Jadi cukup fokus kita pada keempat anak saja, Kakak juga ngga mau kamu sampai kelelahan karena sibuk harus mengurus banyak anak. Kapan waktunya untuk mengurus suami, suamimu ini juga butuh perhatianmu sayang." Awan mengecup sekilas bibir Shika.


"Iiihhh, bilang aja takut tersaingi sama anak-anak." Ledek Shika


"Bukan takut, lebih menjaga aja." Awan mencium pangkal rambut Istrinya.


"Besok kita konsul ke Dokter ya?" menguyel-uyel pipi Shika yang tembem.


Shika mengangguk dengan manja, wajahnya ia tenggelamkan didada bidang milik Awan. Tangannya makin erat memeluk pinggang suaminya itu.


*****


Esok harinya, mereka mendatangi Dokter kandungan untuk konsultasi tentang program bayi kembar seperti rencana mereka. Awan membawa Shika ke Dokter Rizal, Dokter Spesialis Obgyn terbaik.


"Hei bro.. Wah, sepertinya kabar baik nih. Pagi-pagi udah nyamperin gue!" Seloroh Dokter Rizal menyambut Awan dan Shika dengan senyum khasnya yang bikin emak-emak kliyengan kalau bertemu dengan Dokter tampan itu.


"Kagak usah lo tunjukin senyum dajjal lo itu, kagak mempan di bini gue. Lo berani macam- macam, hem... gue kasih bogem mentah lo!" seru Awan seraya membuat kepalan tangannya didepan Dokter Rizal.


Tawa Rizal pecah, dia Dokter paling usil yang suka menjahilan sejawatnya. Shika melihat kekonyolan suaminya dengan Dokter itu hanya tersenyum tipis.


Di Rumah Sakit itu hanya Dokter Rizal yang mengetahui pernikahan Awan, karena saat mereka menikah ia ikut hadir. Awan tidak khawatir karena walaupun sejawatnya itu rada sengklek tapi rahasianya aman.


"Cape juga gue ketawa!" keluh Dokter Rizal.


"Kagak ada yang nyuruh lo ketawa," sarkas Awan. Rizal tergelak.


"Oke.. oke.. Jadi udah berapa bulan?"


"Heh, gue sama bini gue kesini mau konsul Muhidin. Lo tanya berapa bulan, yang Dokter Obgyn gue apa lo?" geram Awan, sejawatnya ini bener-bener dah! bikin dirinya darah tinggi.


"Hahahaha.. Sorry.. sorry.. Ka, kayaknya yang ngidam laki loh nih. Dari tadi ngegas mulu." Rizal terkekeh.


"Kagak apa gue yang ngidam, asal istri gue ngga menderita."


"Bucin lo!"


"Kayak lo sendiri ngga, malahan lebih parah lo lagi."


"Hahahaha.. sialan lo!"

__ADS_1


"Gue mau konsul!"


"Konsul apaan?"


"Gue mau program bayi kembar, bisa kan lo? kalau ngga bisa lo buang aja titel belakang nama lo."


"Ka, lo kok mau sih punya laki model gini."


"Udah takdir jodohnya ini, Dok." Jawab Shika dengan tersenyum manis.


"Pasrah amat jawaban lo, Ka." Rizal berdecak, kemudian ia kembali serius.


"Bisa, tapi untuk hasil tetap kehendak yang kuasa."


"Tapi istri lo ngga lagi hamil kan, bro?" tanya Rizal lagi menatap pasangan suami istri didepannya secara bergantian.


"Ngga, kenapa?" Awan menjawab dan bertanya.


"Kalau lagi hamil, mana bisa program." Sahut Dokter Rizal.


"Kapan terakhir haid?" tanya Rizal kemudian.


Raut wajah Shika yang tadi sumringah, tiba-tiba berubah pucat sepertinya ia menyadari sesuatu. Rizal yang melihat wajah Shika menjadi pucat mengkode Awan dengan matanya untuk melihat kearah istrinya itu.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Kak, kayaknya aku melupakan sesuatu."


Shika menggeleng lemah, "Udah sebulan ini, aku belum..."


"Kita periksa aja, gimana?" Rizal menyela cepat, tampak perempuan itu terlihat cemas. Mungkin ia takut suaminya itu kecewa, karena jika ia hamil tidak bisa melanjutkan program bayi kembar.


"Iya, gue setuju."


Awan membantu Shika berbaring diatas brangkar pemeriksaan, seorang perawat yang bertugas sebagai asisten Dokter Rizal membantu menyelimuti bagian bawah perut dan menurunkan celana Shika sampai lipatan perut.


Setelah itu ia menuangkan gel diatas perut Shika, lalu Dokter Rizal memainkan stik yang terhubung dengan layar monitor dengan lihainya. Awan terus memandang layar monitor didepannya, satu tangannya menggenggam lembut tangan sang istri.


"Nah, Udah ada nih Wan! selamat ya bro," seru Dokter Rizal. Senyum Dokter itu merekah.


Awan bergeming, ia terus melihat layar monitor itu. Calon anaknya telah hadir disana, matanya berkabut, ia sangat bahagia. Awan menatap wajah istrinya dengan senyum lebar, tak segan ia mencium tangan sang istri didepan sejawatnya itu.


Shika menggigit bibir bawahnya, air matanya menetes. Ia memejamkan matanya, bingung harus apa bahagiakah atau sedih, karena tidak bisa mewujudkan keinginan suaminya.


"Usianya sudah lima minggu, perkembangan janinnya baik, semuanya bagus." Dokter Rizal mengakhiri pemeriksaan.


Setelah perawat membersihkan sisa gel diatas perut Shika, Awan membantu istrinya bangkit dari tempat tidur.

__ADS_1


"Hati-hati sayang, turunnya." Bisik Awan mununtun istrinya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, Shika pun ikut tersenyum.


*****


"Ngga nyangka mereka udah ada disini, sayang." Awan mengelus perut Shika dengan sumringah.


"Mereka?" Shika mengerutkan keningnya.


"Iya, mereka calon anak-anak kita. Bukannya ucapan itu adalah doa, jadi kita doakan aja mereka."


"Kak," lirih Shika.


"Kakak tau apa yang sedang kamu pikirkan," Awan menghela nafasnya, menatap lekat istrinya.


"Kakak tidak kecewa dengan kehamilan kamu ini. Kakak sangat-sangat bahagia, akhirnya kemesuman suamimu selama ini membuahkan hasil. Tidak rugi setiap malam keringatan, kerja rodi." Awan mengedipkan sebelah matanya dengan senyum menggoda.


Bugh


Shika memukul lengan suaminya itu, "Bisa ngga sih, omongannya di filter!" sungut Shika, ia memalingkan wajahnya keluar jendela. Rona merah di wajahnya menjalar hingga ketelinganya. Suaminya ini benar-benar terjangkit virus vulgar no sensor-sensor.


Awan mengulum senyum, ia sangat suka melihat wajah malu-malu istrinya itu.


"Sayang.." Panggil Awan lembut seraya mengecup tangan istrinya, Shika menoleh. Kedua netra itu bertemu, saling mengunci untuk waktu yang lama.


"Makasih sudah mau mengandung mereka," Shika tidak kaget lagi dengan kata 'mereka' ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca, ia pun berharap dengan doa yang sama.


Lelaki didepannya ini begitu lembut memperlakukannya. Tidak pernah sekalipun meninggikan suara atau membentaknya.


Ah! entah seberapa banyak aku berucap syukur. Sepertinya tidak akan pernah terasa cukup, diberikan suami sebaik ini. Bisik Shika dalam hati.


Mereka saling berpelukan, didalam mobil dipelataran parkir Rumah Sakit yang menjadi saksi betapa bahagianya pasangan suami itu.


❄❄❄❄❄❄❄


Awaaan... tidak adakah tempat yang lebih romantis, kenapa harus parkiran RS.. hadeeuuhh kamu ini yaa... 🙈


Kak Jingga itu udah mesem-mesem hayalin kamu, eh.. tau-taunya.. hufff😤


NB : HAII PEMBACA SETIA AWAN, ADA YANG JINGGA MAU SAMPE-IN,


BAB 55 - HILANGNYA SHIKA.


ADA SCENE NYA AWAN YANG HILANG, TAPI SUDAH JINGGA REVISI.


BAGI YANG BACA SEMALAM/PAGI TADI, BISA BACA ULANG.


ADIK-ADIK,KAKAK-KAKAK, EMAK-EMAK, TANTE-TANTE ATAU OM, ABANG. ATAU SIAPA PUN YANG SUDAH BERKENAN BACA NOVEL AWAN.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN GIFT🎁 DITUNGGU YA...


I LOPE YOU SEKEBOOOOOOONN, KALAU MASIH KURANG NANTI KITA MINTA BELI SAMA TWINS LOPE YOU NYA SEBENUA ASIA🤭


__ADS_2