Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
61 - Bed Rest


__ADS_3

Afnan beserta polisi tiba di lokasi penyekapan beberapa saat setelah kepergian Awan dan Ray kerumah sakit membawa Shika. Saat tiba di Indonesia Afnan langsung menghubungi Edo, awalnya ia menghubungi Kakak dan Adiknya karena tidak ada jawaban ia menghubungi kaki kanan sang Kakak.


Adit telah bersama Edo, sementara Alex beserta anak buahnya mengikuti Dika mengejar Delas. Adit yang sedang duduk diatas sebuah kursi dengan tubuh yang dipakaikan selimut oleh Edo menaikkan pandangannya saat mendengar suara sang Ayah.


"Adit!"


"Ayah..." Raung Adit saat sang Ayah berjalan cepat kearahnya. Adit langsung menghamburkan diri kedalam pelukan Afnan. Tangisnya pecah didalam dekapan sang Ayah, kini ia telah kembali berada ditempat ternyamannya.


Afnan membiarkan Putranya itu memeluknya dengan erat, ia mengusap punggung Adit dengan lembut seraya mengecup puncak kepalanya memberikan rasa nyaman. Ia berharap semoga Putranya tidak mengalami trauma setelah kejadian ini.


"Kamu udah aman, Nak. Ayah di sini," ucap Afnan setelah mengurai pelukannya, ia menghapus sisa air mata dipipi bulat sang anak, Afnan bisa melihat ada ketakukan dari sorot mata Putranya itu.


"Mommy, Ayah!" ucap Adit dengan suara serak, menatap Ayahnya. Afnan berusaha tersenyum akan kekhawatiran sang Putra untuk adiknya.


"Mommy udah dibawa kerumah sakit sama Daddy dan Papa, sekarang kita pulang ya. Nanti kita liat Mommy." Bujuk Afnan. Adit mengangguk, bocah berusia tujuh tahun itu juga sangat mengantuk karena hari hampir menjelang pagi.


"Do, tolong bereskan semuanya. Aku akan membawa Putraku pulang. Terima kasih banyak sudah menjaganya hingga aku datang." ucap Afnan.


"Sama-sama, Tuan. Saya akan meminta beberapa orang untuk mengawal anda." Afnan hanya mengangguk.


Afnan menggendong Putranya seperti koala, Adit meletakkan kepalanya dipundak sang Ayah dengan tangan kecilnya melingkar dileher Afnan. Mereka keluar dari rumah itu menuju mobil, sampai dimobil Afnan memposisikan kursi mobil agar Adit bisa tidur dengan nyaman.


Edo dibantu anak buahnya dan juga polisi telah meringkus anak buah Delas dan juga menyita barang bukti, kini rumah tersebut sudah dipagari dengan garis polisi.


*****


Sementara Dika masih melakukan aksi kejar-kejaran dengan Delas, Dika memacu mobilnya dengan sangat cepat membuat Alex yang mengikutinya dibelakang kesulitan mengejar.


"Kakak menantunya si Bos besar udah kayak pembalap aja," celutuk Alex, sambil menginjak pedal gas menambah kecepatan laju mobilnya.


Delas sesekali menembakkan pistolnya kearah mobil Dika, beruntung Dika bisa mengindar. Jalanan yang dilalui sepi dan gelap disisi kanan dan kiri tebing dan jurang, mereka memacu mobil dengan kecepatan diatas rata-rata seakan mereka sedang berada di sirkuit F1.


Saat tiba ditikungan Delas yang sedang melepaskan tembakan kearah Dika tidak memperhatikan jalan sehingga ketika ia menyadari mobilnya melewati jalur Delas membanting stir kekanan membuat mobil itu berputar beberapa kali hingga keluar dari pembatas jalan dan menabrak tebing.


Ciiiiiiiiiiitttttt........


Braaaaakkk!


Terdengar suara hantaman keras, Dika yang melihatnya meminggirkan mobilnya. Disusul Alex dan anak buahnya, ia lalu keluar dari mobil berjalan kearah mobil Delas yang sudah mengeluarkan asap dari kap depan yang ringsek parah.

__ADS_1


Belum sempat langkah Dika mendekat, tampak Delas yang terluka pada kepalanya berusaha keluar dari mobil itu dengan langkah tertatih-tatih.


"Menyerahlah! kau sudah tidak bisa melarikan diri lagi." Seru Dika.


"Cuihh, kau pikir aku akan menyerah semudah itu!" Delas meludah kesamping, tersenyum sinis.


"Rasakan ini,"


Dorrrrr


Tembakan yang dilepaskan oleh Delas secara tiba-tiba tepat mengenai dada Dika yang tidak dapat menghindar tubuhnya ambruk ketanah.


"Tuan Dika!" pekik Alex.


Seorang sniper yang ikut bersama Alex melihat Delas akan menembakkan pistolnya lagi melepaskan tembakan tepat dikepala Delas membuat Delas tewas seketika.


*****


Sementara diruang perawatan rumah sakit, kondisi Shika harus bed rest total, di karenakan kandungannya yang lemah. Awan tidak sedetikpun beranjak dari sisi sang istri, tangannya terus menggenggam jemari lentik itu.


"Sayang," panggil Awan ketika merasa jari Shika bergerak. Kening Shika berkerut, kelopak matanya berkedut. Kemudian perlahan matanya terbuka, netra keduanya bertemu.


"Iya sayang," Awan mengelus pipi Shika. wajah Shika masih tampak pucat.


"Dia masih ada, sayang. Tapi sangat lemah, Mommy nya harus bisa kontrol emosi. Mommy nya ngga boleh stres," Ucap Awan tersenyum ketika tangan Shika memegang perutnya.


"Maaf!" lirih Shika, air mata mengalir dari sudut matanya.


"Tuh kan, baru juga diomongin udah nangis!"


"Aku takut, Kak."


"Jangan takut, semuanya udah berakhir. Jangan pikirkan yang tidak perlu dipikirkan."


"Adit bagaimana?"


"Adit udah di rumah, sekarang kamu istirahat ya."


Shika mengangguk, mungkin karena efek obat juga membuat ia mudah mengantuk. Beberapa saat setelah Shika kembali tertidur, kedua orang tua Awan datang.

__ADS_1


"Nak," panggil Jihan ketika sudah masuk kedalam kamar perawatan Shika.


"Mama," Awan bangkit dari duduknya memeluk sang Mama, Jihan bisa merasa Putranya itu sedang dalam keadaan tidak baik.


"Pah.." Awan gantian memeluk Yudha.


"Bagaimana keadaan menantu Mama?" tanya Jihan.


"Kondisinya sangat lemah, Ma. Shika harus bed rest total, karena kandungannya juga sangat lemah." Ujar Awan dengan suara bergetar.


"Shika hamil?" tanya Jihan tidak seakan tidak percaya.


Awan mengangguk, "Iya Ma, lima minggu."


"Kenapa kamu tidak bilang, hah! dasar anak nakal!" Jihan memukul lengan sang anak, kemudian ia mendekati menantunya itu.


"Maaf, Ma. Awan sama Shika juga baru tau beberapa hari yang lalu."


Yudha menepuk pundak sang anak, memberi kekuatan pada Putranya itu.


"Kamu harus kuat, semoga setelah ini hanya ada kebahagiaan dalam rumah tangga kalian."


"Aamiin, makasih, Pa!"


*****


Diruang perawatan yang lain, Dika baru saja melewati masa kritisnya setelah operasi yang dijalani untuk mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuhnya. Semua keluarga yang hadir disana bernafas lega.


"Ray, bagaimana dengan Fe?" tanya Afnan ketika teringat sang adik yang belum ia tau kabarnya. Saat ini mereka berdua sedang duduk dibangku tunggu didepan ruang perawatan Dika.


"Kondisi Fe sangat lemah, Bang. Untung saja kandungannya masih bisa diselamatkan. Jika melihat keadaan Fe saat itu tidak ada harapan." Kata Ray mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya.


"Fe hamil?"


"Iya Bang, lima minggu!"


Afnan menghela nafas panjang, "Ya udah, sekarang kamu sebaiknya pulang. Istirahatlah, Abang akan melihat Fe." Tukas Afnan melihat raut wajah lelah dan kantung mata Ray.


Berbeda dengan Edgar yang saat ini masih kritis, selain kehilangan banyak darah Edgar juga mengalami kerusakan sel saraf akibat dari efek obat penenang berdosis tinggi yang dikonsumsinya selama ini. Ruang perawatan Edgar dijaga ketat oleh anak buah Dika yang ditugaskan oleh Edo.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2