
Suasana kediaman Awan begitu ramai, celotehan anak-anak dan para keponakan begitu ceria. Hari ini semua keluarga berkumpul, Awan mengadakan syukuran kecil-kecilan sebagai rasa syukur mereka masih diberi keselamatan setelah masalah yang terjadi belakangan ini.
"Sayang, makan dulu ya sebelum acara mulai!" Awan datang dengan membawa semangkok sereal beserta segelas susu hamil dan beberapa potong buah yang sudah dipotong dengan ukuran sekali suapan.
"Sereal?" tanya Shika manja.
Awan tersenyum sambil mengangguk, sudah beberapa hari ini Shika tidak bisa makan nasi. Ia hanya ingin makan sereal dan buah dengan porsi dua kali lipat dari biasanya. Jadi tidak heran jika mangkok yang dibawa Awan berukuran jumbo, karena isinya sangat banyak.
Hanya makanan itu yang bisa selamat, jika Shika memaksa untuk makan nasi maka akan dimuntahkan lagi. Berakhir ia akan tergletak lemah diatas tempat tidur dengan wajah pucat.
Shika menoleh lalu tersenyum, ia sangat bahagia diperlakukan sangat istimewa. Baik Suami, mertua, Kakak serta ipar semuanya begitu overprotektif kepada Shika. Shika yang masih harus bed rest hanya bisa menurut, sebenarnya ia sangat bosan hanya berdiam diri tapi demi sang calon bayi dia mengalah.
"Kak Dika belum datang?" tanya Shika, hanya Kakaknya itu yang belum terlihat sejak tadi.
Shika sudah sangat merindukan sang Kakak setelah kejadian dulu, mereka hanya sekali bertemu saat Dika akan pulang dari rumah sakit. Ia mendatangi ruang perawatan Shika, untuk melihat keadaan sang adik.
"Mungkin sebentar lagi," sahut Awan menyuapin istrinya. Mereka duduk lesehan diatas ambal, dimana akan diadakan doa bersama nantinya.
"Masih pusing?" tangan Awan terulur menyeka bibir Shika yang ada sisa susu yang diminum dengan ibu jarinya.
"Udah engga, mungkin baby nya ngga mau jauh dari Daddynya. Kalau udah dekat Kakak pusingnya tiba-tiba hilang gitu aja."
"Baby atau Mommy nya?" goda Awan mengedipakan matanya.
"Baby nya?" bantah Shika mengelus perutnya.
"Oh, jadi Mommy nya ngga nih?"
"Apaan sih Kak! ngga jelas."
Awan masih terus mengganggu sang istri hingga terdengar ucapan salam dari depan.
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam," jawab Awan dan Shika, senyum diwajah Shika mengembang kala melihat siapa yang datang.
"Kak," Shika melebarkan tangannya persis seperti bocah minta gendong.
Dika mendekat, kemudian menunduk untuk memeluk sang adik yang masih tetap dengan posisi duduknya. Diikuti Zoya dan Xena dibelakangnya.
__ADS_1
"Udah kayak bocah aja kamu, Dek!" ledek Dika.
"Biarin, abisnya Kakak lama banget datangnya!" sahut Shika masih dalam pelukan Dika. Kehamilannya kali ini sangat beda jauh dari dua kehamilannya dulu, kali ini Shika begitu manja dan juga bisa makan apa saja kecuali nasi.
"Jemput Xena dulu," Dika mengurai pelukannya lalu mengecup puncak kepala sang adik.
"Pakabar sayang?" tanya Zoya yang kini memeluk Shika. M
"Masih sama Mba, cuma duduk manis ngga dibolehin apa-apa Kak Awan!" adu Shika.
"Biarkan suamimu memanjakanmu, manfaatin aja kehamilan kamu ini. Kapan lagi coba ngerjain suami!" Zoya terkekeh disela ucapannya.
"Ngga hamil juga selalu tetap dimanja, Mba. Iyakan sayang?" Awan menatap dengan penuh cinta kepada istrinya. Shika mengangguk, tampak binar kebahagiaan terpancar dari rait wajahnya.
"Oh iya, luka Kakak gimana?" Shika teringat luka operasi sang Kakak.
"Sudah pulih, suami kamu memberikan obat terbaik dari Jerman. " Sahut Dika melirik adik iparnya.
"Benarkah? Kakak ngga ngomong-ngomong iihh." rajuk Shika manja mencubit lengan suaminya gemas. Mereka tergelak melihat sikap manja Shika.
*****
"Nak, bawa istrimu kekamar. Biar Shika istirahat, dia pasti kelelahan." Jihan yang sangat memperhatikan Shika meminta sang Putra untuk membawa menantunya kekamar, karena kondisi Shika yang belum benar-benar kuat. Ditambah wajahnya mulai pucat membuat Jihan khawatir.
"Baik Ma,"
"Ayok sayang, Kakak antar kekamar."
Shika pun tidak menolak, karena ia merasa perutnya mulai sakit. "Kak, perut aku sakit!" bisik Shika saat Awan membantunya untuk berdiri.
"Hah! kita kerumah sakit ya?" Awan cemas.
"Kenapa Wan?" tanya Dika, semua mata melihat kearah Awan dan Shika.
"Perut Shika sakit, Kak." Jawab Awan yang merangkul tubuh istrinya yang bersadar di dadanya.
"Bawa kerumah sakit aja kalau gitu. Ntar kenapa-napa lagi." Sahut Zoya ikutan cemas.
"Aku ngga apa, mau dikamar aja Kakak temenin." Ungkap Shika pada Awan.
__ADS_1
"Tapi sayang, perut kamu.."
"Udah Wan, bawa aja kekamar. Mungkin anak kamu bikin ulah, pengen dekat Daddy nya." Saran Yudha yang selalu bersikap tenang dalam keadaan apapun.
Awan menggendong Shika membawanya kekamar mereka yang terletak dilantai atas. Sampai dikamar Awan terlebih dahulu membantu Shika mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih nyaman.
"Nak, jangan ngulah ya. Kasian Mommy kesakitan. Daddy disini akan temani kalian." Awan berbicara pada calon anaknya, mengelus kemudian mengecup perut Shika.
Shika tidur dengan lengan Awan sebagai bantalnya, wajahnya ia tenggelamkan didada bidang Awan. Kebiasaan Shika selama hamil paling suka mencium aroma tubuh suaminya itu, sebelah tangan Awan mengelus punggung sang istri agar tidurnya lebih tenang. Sesekali Awan memberikan kecupan-kecupan cinta di kepala Shika.
*****
Lain Awan lain pula dilantai bawah, mereka masih berkumpul disana. Setelah Awan membawa istrinya kekamar, Awan menjadi topik perbincangan hangat. Dari keluarga Shika sendiri tentunya mereka sangat bahagia melihat kehidupan sang adik.
"Ma, sepertinya calon anak Awan kalau udah besar bakal bikin sakit kepala Daddy nya." Seru Ray.
"Husshh.. kamu ini ngomongnya!" Jihan yang duduk tepat disamping Ray, memukul lengan Ray.
"Lhoh, kan betul Mah. Liat aja sekarang, dicuekin bentar sama Daddynya langsung mengulah." Ray terkekeh, membayangkan betapa repotnya Awan.
"Awan itu persis seperti Papah, dulu Awan sewaktu masih dalam kandungan juga ngga mau jauh dari Papahnya." Ujar Jihan melirik suaminya.
Yudha menerawang jauh kembali kemasa lalu, saat melihat liat Awan dan Shika ia seperti melihat dirinya sendiri saat Jihan sedang mengandung Awan.
"Biar dia nikmati momen ini, nanti kalau anak-anaknya udah besar pasti dia akan rindu saat-saat seperti sekarang." Sambung Yudha.
"Kayak Papa sekarang ya?" ledek Jihan.
"Emang Mama ngga rindu, tiap hari maunya cium ketek Papa." ejek Yudha.
Jihan mendelik, "Papa apaan sih, bikin malu Mama aja." Wajah Jihan memerah, bisa-bisanya suaminya ini mengatakan hal yang membuatnya malu didepan anak-anaknya dan istri mereka.
"Buat apa malu, mereka juga pernah mengalaminya saat istri mereka hamil." Ucap Yudha tidak mau mengalah.
"Benar kan?" tanya Yudha lihat Ray, Afnan dan Dika secara bergantian.
"Iya Pa?" sahut Afnan.
"Nah, mereka aja mengakuinya!"
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄