Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
28 - Pesona Awan Dan Twins


__ADS_3

Awan kembali menetap di Indonesia, selain karena permintaan Dika. Ia juga tidak ingin berpisah dari kedua jagoan kesayangannya, yang super duper menggemaskan dengan segala tingkah polah dan celotehan dari mereka.


Bahkan saat ditinggalkan Awan ke Amsterdam selama hampir dua minggu untuk mengurus segala keperluan kepindahannya ke Indonesia. Ia begitu tersiksa ketika merindukan kedua balita laki-laki tampan itu. Hanya bisa melepas rindu lewat Video Call bagi Awan tidak cukup.


Twins, mereka mempunyai tempat tersendiri dihati awan. Seperti pagi ini mereka kembali berulah membuat sang Papi harus mengelus dadanya berkali-kali. Marah? kesal? tidak ada dalam hati sang Papi, karena tingkah mereka seperti itu yang ia rindukan ketika jauh dari keduanya.


"Papi, hari ini Ken ikut Daddy. Ken mau tinggal sama Daddy biar bisa jaga Daddy." Ucapan Bocah kecil tampan itu, sekali menyuarakan suara selalu berhasil bikin hati ketar ketir.


"Sayang, Daddy harus kerja. Ini hari pertama Daddy kembali kerja. Ken sama adik Zie disini aja ya, nanti ketemu Daddy lagi." Bujuk Dika.


"Noo... kami halus ikut, nanti Daddy pelgi lagi." Jawab sang adik, Ken dan Zie yang duduk disisi kiri dan kanan Awan memeluk posesif tubuh Awan, seakan mereka takut untuk dipisahkan.


"Engga apa, Kak. Biar Awan bawa aja."


"Kamu yakin? nanti kamu kerepotan kalau mereka rewel?" Dika sedikit khawatir dengan keinginan balita itu.


"Yakin, kak." Awan mengelus kepala Ken dan Zie yang bersandar manja di dadanya.


Dika menghela nafas panjang, "Kalau Papi rindu sama jagoan Papi gimana?" tanya Dika menatap kedua anak laki-laki yang terus menempel pada Awan.


"Papi bisa telpon atau datang ketempat Daddy. Jangan sedih Pi... Papi engga mau kan, Zie sama Kak Ken masuk nelaka kalena ingkal janji sama Daddy."


Dika menggaruk keningnya yang tidak gatal menghadapi kedua malaikat kecilnya, sikap keras kepala keduanya persis seperti sang Daddy kalau sudah menginginkan sesuatu.


Kerja keras lo sangat baik, Vin. Mereka benar-benar copyan lo, semua yang ada pada diri lo, berhasil lo pindahkan pada kedua anak ini. Monolog Dika dalam hati.


*****


Awan menggandeng kedua tangan mungil balita tampan itu, berjalan bersisian menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangannya. Tidak banyak yang berubah dari rumah sakit ini selama sembilan tahun ia tinggalkan.


Hot Daddy, julukan yang disematkan oleh rekan sesama Dokter dan para suster. Sejak Awan dan kedua jagoan kecilnya menginjakan kaki di rumah sakit, mereka langsung menjadi tranding topik seantero rumah sakit. Banyak pasang mata yang menatap kagum dan penuh puja melihat sosok Awan dan twins.


"Uhh.. gemesnya tuh bocah. Dikasih makan apa sama Mak Bapaknya."

__ADS_1


"Cara ngadonnya gimana ya? bisa hasilnya begitu?"


"Gue pengen punya anak cakep kayak gitu."


"Cari dulu Bapaknya yang satu spesies dengan Dokter Awan."


"Pergi bertahun-tahun, eh, pas kembali bawa buntut mana cakep banget tu anak pasti emaknya cantik."


"Beruntung yang jadi istrinya Dokter Awan."


"Sayang istri sayang anak."


"Tuhan, sisakan satu yang seperti Dokter Awan."


"Jadi istri kedua pun aku rela, Ayah anakmu pengen kawin."


"Dokteeer.. kutunggu Dudamu!"


Abaikan syaiton-syaiton yang berisik dibelakang, kita kembali kedunia manusia.


"Hebat lo, dalam sekejab udah bikin heboh rumah sakit." Ray terkekeh geli.


"Dan buat hari patah hati serumah sakit." Arya menimpali ledekan Ray sambil ikut terkekeh.


"Hai, Dokter kecil ikut Daddy kerja." Arya menyapa twins berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan twins.


"Kami mau jaga Daddy, Uncle." Jawab Zie menatap Arya dengan kedua mata polosnya, membuat Arya gemas dan mencubit gemas sebelah pipi Zie.


"Ck, masih kecil aja udah posesif sama lo. Gimana besar nanti." Arya mencebik.


"Biarin aja, jadi gue aman dari gangguan ciwi-ciwi diluar sana." Sahut Awan santai.


"Sok, iyes lo."

__ADS_1


*****


Hari pertama Awan bekerja, ia sudah disibukkan dengan jadwal OK, kedua balita tampan itu bermain dengan anteng di ruang Daddy nya diawasi oleh satu suster yang sudah disiapkan oleh Ray.


"Mamanya dimana dedek gemes?" tanya suster itu pada Ken.


"Kak Ken sustel, bukan dedek gemes!"


Aku aja engga tau bedain yang mana Ken yang mana Zie, Dokter Awan kok bisa ya? eh, kan Bapaknya. Aduuh, aku kok jadi oon gini sih. Suster itu berbicara dalam hatinya.


"Iya kan, wajahnya gemes gini. Pengen cubit!"


"Wajah kami tampan sustel sepelti Daddy, bukan gemes!" jawab Zie lagi dengan kesal.


Suster yang bernama Tika itu, menghirup nafas dalam-dalam. Ia harus siapin stok sabar yang banyak jika lain kali diminta jagain balita yang bisa menguras tenaga, emosi dan air mata ini.


"Daddy!" Pekik Ken melihat Awan masuk kedalam ruangannya. Ia bangkit dari duduknya berlari kearah sang Daddy.


"Ken, jangan lari sayang!" Awan menangkap tubuh gembul Ken saat sampai didekatnya lalu menggendongnya.


Tuh kan, apa aku bilang. Dokter Awan langsung tau kalau itu Ken, dimana coba bedainnya. Dari ujung rambut sampai kaki sama semuanya. Batin Suster Tika.


"Suster, terima kasih sudah menjaga anak-anak saya. Apa mereka rewel?" tanya Awan.


"Sama-sama, Dok. Mereka anteng kok. Kalau gitu saya permisi dulu Dokter." Pamit Suster Tika pada Awan dan juga twins.


Tinggalah mereka bertiga dalam ruang itu, Zie yang masih sibuk dengan susunan puzzlenya yang hampir selesai tidak terganggu dengan kedatangan Daddy nya. Awan begitu bahagia, rasa lelahnya setelah bertempur di dalam OK seketika hilang saat melihat kedua balita tampan itu.


❄❄❄❄❄❄❄


Hadeuh yang di tanya siapa yang jawab siapa, dasar Zie. Kak Jingga tepok jidat🤦‍♀️ Jari sedikit oleng waktu ngetik.


Author : Suster-suster sini tak bisikin, Awan bisa bedain mereka karena author. Ken dan Zie hadir karena author, suster bisa bersama mereka juga karena author. Apapun yang terjadi dalam novel ini karena author. Sampai disini suster paham!'

__ADS_1


Suster : Paham aja deh dari pada STR dicabut.


Author : Anak baek🤪


__ADS_2