Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
18 - Cinta Dalam Diam atau Cinta Tak terbalas


__ADS_3

Shika melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga seraya tangannya mengamit lengan Kevin. Dika sedari tadi menunduk dan sibuk dengan pikirannya sendiri tidak menyadari kedatangan Shika, Shika menatap kakaknya dengan mata mengembun. Hatinya perih, karena sikap kekanak-kanakannya membuat sang kakak bersedih.


Zoya yang duduk disamping menyentuh pundak Dika, Dika menoleh dengan lirikan mata Zoya menunjuk Shika. Dika melihat kearah yang di maksud Zoya, ia langsung berdiri begitu melihat adiknya ada disana. Bibirnya tertarik membentuk senyuman, matanya berkaca-kaca.


"Kak!" panggil Shika dengan suara bergetar. Ia berlari kearah Dika menubruk tubuh laki-laki itu, memeluk erat tubuh sang kakak. Tangisnya pecah, Shika terisak-isak dalam pelukan Dika.


"Maafin Fe, kak. Maaf!" Cicit Feshika dengan suara seraknya.


"Kakak yang salah, sayang. Kamu engga salah, maafin kakak. Lagi-lagi kakak buat kamu kecewa!" Dika pun engga sanggup lagi membendung air matanya, ia tidak peduli di anggap laki-laki cengeng.


Shika menggeleng, "Tolong, kakak jangan terus mengalah untuk, Fe."


"Kakak, akan terus melakukan apapun untuk kamu. Selama kakak masih bernafas." Suasana begitu haru, tidak hanya mereka yang menangis. Semua orang yang ada disana ikut menitikkan air mata.


Termasuk author ikut menangis, jadi termehek-mehek 😭


*****


Setelah mendengar segala penjelasan dari kakaknya, Shika merestui hubungan Dika dan Zoya. Suasana haru biru telah berganti keceriaan, mereka saling bercengkrama dan becanda. Kehangatan yang tercipta ditengah-tengah mereka membuat ikatan mereka semakin kuat.


Hari mulai larut malam, semua telah kembali ke kamar masing-masing. Hari ini begitu melelahkan, banyak drama yang terjadi tanpa diduga. Takdir yang menentukan segalanya, semua skenario telah tertulis dengan rapi. Kita sebagai tokoh hanya menjalankan adegan sesuai dengan peran masing-masing.


Shika kembali kekamarnya dengan membawa satu botol air mineral di tangannya. Namun, saat Shika melewati ruang tengah yang terhubung langsung dengan taman belakang. Ia melihat Awan sedang berdiri seorang diri menghadap kearah taman, Shika pun membawa kakinya mendekati Awan.


"Kak..!" panggil Shika saat menghampiri Awan yang berdiri diluar.


Awan tersentak, saat suara lembut itu menyapanya. "Ya..!"


Gadis itu telah berdiri dibelakangnya, Awan berbalik berdiri tepat dihadapan gadis yang tadi ada pikirannya. Iya, Awan sejak tadi berdiri disana ia hanya memikirkan gadis yang dicintainya dan juga dicintai oleh laki-laki lain. Dengan jarak hanya terpisah satu langkah, Awan dapat melihat dengan jelas wajah cantik didepannya, menatap dengan lekat tak ingin berpaling sedetik pun.


Tidak berbeda dengan Awan, Shika juga menatap lekat wajah Awan. Lelaki yang ia tau memiliki rasa cinta padanya. Tapi ia tidak mampu membalas rasa cinta itu, dengan memberikan harapan palsu pada Awan sama saja menyakiti hati pria itu lebih dalam lagi.

__ADS_1


"Makasih, Fe...." Ucapan Shika terhenti karena air matanya ingin luruh.


"Kenapa kamu suka sekali menangis, hm? jangan sedih lagi dan berhentilah menangis, nanti kamu bisa dehidrasi." Ucap Awan setengah bercanda untuk menetralkan gemuruh dihatinya.


"Hmm.." Shika tersenyum kecil lalu mengangguk seraya mengusap kasar air matanya.


"Nih minum." Awan mengambil air mineral di tangan Shika membuka tutupnya dan menyodorkan pada Shika.


Kini mereka berdiri bersisian memandang taman bunga yang terhampar didepan mata, hanya keheningan malam disertai suara jangkrik yang menemani mereka.


"Ka, boleh kakak tanya sesuatu?"


"Boleh." Jawab Shika tanpa menoleh.


"Bagaimana perasaanmu terhadap, Kevin?" tanya Awan to the point, ia tidak ingin rasa penasarannya mengusik hati dan pikirannya.


Shika terkejut mendapat pertanyaan itu dari Awan, ia menoleh sebentar melihat Awan kemudian kembali menatap kedepan. Matanya terpejam, mengatur debaran didalam dada.


"Apa harus di jawab, kak?"


Hening


"Aku engga pernah meminta kepada siapa rasa itu harus tumbuh, tapi saat kak Kevin datang seolah separuh jiwaku yang pernah hilang kini kembali. Aku pernah merasakan cinta selama lima tahun, tapi...aku engga tau, apa itu bisa dinamakan cinta."


"Saat bersama kak Kevin aku merasakan hal yang berbeda yang tidak pernah aku rasakan. Setiap bersamanya, entah mengapa jantung ini selalu berdebar. Hingga akhirnya aku menyadari, kalau aku mencintainya."


"Kenapa tidak kamu katakan pada Kevin? Apa kamu tidak merasa kalau Kevin juga mencintaimu?"


"Semua yang kak Kevin lakukan untuk aku hanya sebatas perhatian dan kasih sayang seorang kakak untuk adiknya. Aku tidak mau salah mengartikan semua itu, yang akan membuat kebersamaan kami sirna. Aku akan menyimpan rasa ini, aku harap kakak tidak mengatakan pada siapapun termasuk kak Kevin." Shika tersenyum getir.


"Berjanjilah, kak. Seperti janjiku padamu untuk membuka hatiku kembali. Sekarang telah kupenuhi janji itu." Mata Shika berkaca-kaca, menatap penuh harap pada Awan. Shika memberikan kelingkingnya, Awan menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuang dengan pelan. Dengan berat hati Awan mangaitkan kelingkingnya pada kelingking Shika.

__ADS_1


Shika memeluk Awan erat, wajahnya ia benamkan didada bidang Awan. Luruh sudah air matanya, begitu sakit cinta dalam diam. Tapi demi sebuah hubungan ia harus rela memendam rasa.


Lebih sakit mana, mencintai dalam diam atau cinta yang diungkapkan tapi tak terbalaskan?


Cinta itu kita yang rasa


Biar sengsara hati kan merana


Wahai pujangga cinta biar membelai indah


Teladani kalbuku


Jujurlah pada hatimu


Perbedaan aku dan engkau


Biar menjadi bait


Dalam puisi cinta terindah


"Sudah malam, sebaiknya kita masuk. Istirahatlah, kakak engga mau kamu sampai sakit." Ucap Awan setelah melerai pelukannya. Menyeka dengan lembut sisa air mata dikedua sudut mata indah milik Shika.


Shika mengangguk, lalu berpamitan pada Awan. "Good Night, kak."


Shika berjalan menuju kamarnya, Awan sedikit pun tidak mengalihkan pandangannya sampai gadis itu menghilang dibalik pintu. Ia segera melangkah menuju kamarnya untuk mendinginkan tubuh, hati dan pikirannya.


Tanpa mereka sadari, seseorang telah mencuri dengar semua pembicaraan mereka dari sejak awal hingga akhir. Tak satupun luput dari pendengarannya dan terekam sempurna dalam ingatannya.


Cinta kalian sangat rumit!


Meski awan telah selimuti cahayamu, tidak sedikitpun dirimu terlupakan dari anganku.

__ADS_1


Selamat Malam, Feshikaku!


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2