Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
6 - Hipotermia


__ADS_3

Shika baru kembali kekotanya setelah menghabiskan waktu selama dua hari dirumah bunda Santi.


"Siall!" umpat Shika menyadari ban mobilnya kempes, mana hujan deras lagi. Ia memukul stir dengan gemes.


Shika mencari payung, ternyata benda itu tidak ia temukan dimobil. Shika mencoba keluar dari dalam mobil, seketika air hujan membasahi tubuhnya.


Kempes, benar-benar kempes! lalu kembali masuk dalam mobil merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya berniat menghubungi kakaknya, setelah mencoba beberapa kali menghubungi tetap tidak ada jawaban dari Ray. nasib baik tidak berpihak kepadanya disaat genting seperti ini ponselnya kehabisan daya.


"Aarghh... Double sial ini!!! kakak takut...!" matanya memerah, hujan deras yang mengguyur ditambah jalan terlihat sangat sepi membuat nyalinya menciut.


"Kakak, tolong Fe." gumamnya dalam tangis. tubuhnya menggigil kedinginan.


Tok tok tokkk


Seseorang mengetuk jendela mobilnya, karena tidak ada pergerakan dari dalam ia memberanikan diri membuka pintu mobil yang sedang dalam keadaan hidup dan melihat seorang perempuan dengan wajah menelungkup diatas stir, tubuhnya bergetar.


"Maaf nona, apa ada masalah?" Tanya lelaki itu. sangat terlihat kondisi perempuan itu sedang tidak baik.


Deg


Suara ini, Shika mengangkat kepalanya lalu menoleh kearah suara itu.


"Shika..!!!


"Kakak aku takut..." ucapnya dengan bibir bergetar ketika melihat sosok yang dikenalnya.


"Kenapa kamu sampai basah kuyup gini, sih?" ucap lelaki itu berusaha tenang, aslinya ia sudah tidakk karu-karuan melihat gadis didepannya.


"Ban mobilnya kempes, kak."


"Ayok, kakak antar kamu pulang."


Awan membawa gadis itu masuk kedalam mobilnya. Tubuh gadis itu sudah menggigil kedinginan wajah pucat dengan bibir membiru sepertinya ia sudah lama berada disini dengan pakaian yang basah ditubuhnya. Sehingga membuat Awan dengan cekatan menggosok telapak tangan Shika sebagai bentuk pertolongan pertama agar tubuh gadis itu menghangat. Jangan sampai Shika mengalami hipotermia.


"Dingin." Rancau Shika. Menggigil kedinginan lalu Awan mematikan Ac mobilnya.


"Bertahanlah, sebentar lagi."


Aku tidak punya pilihan lain. Bathin Awan.


Awan melajukan mobilnya menuju apartemen Ray yang tidak jauh dari sana. Jika harus mengantar Shika pulang atau membawa ke rumahnya akan memakan waktu lebih lama dan ia tidak tega membuat Shika kedinginan.


"Tahan sebentar, Shika, kita akan segera sampai, kakak mohon." ucap Awan cemas karena wajah Shika sudah sangat pucat.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di unit apartemen Ray.


"Ganti pakaianmu. Kakak akan kedapur buatkan minuman hangat."


"Aku harus menghubungi Ray." Awan mengambil ponselnya lalu menghubungi sahabatnya, tetapi tidak ada jawaban. Ia mencoba sampai beberapa kali tetap hasilnya sama. Akhirnya ia mengirim sebuah pesan lalu mengantongi kembali ponselnya.


Setelah mengganti pakaiannya, Shika menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang ia meringkuk menahan rasa dingin yang teramat sangat.


Shika meminum teh hangat pemberian Awan dengan mata terpejam, Awan juga mengukur suhu tubuh Shika.


"Astaga, Shika!!" Pekiknya melihat suhu tubuh Shika dibawah batas normal.


Awan segera menarik selimut membungkus tubuh Shika seperti lemper agar suhu tubuhnya kembali naik.


"Dingin." Rancau Shika lemah.


Gadis itu merasa sudah tidak kuat lagi menahan rasa dingin ditubuhnya semakin lama kian menusuk hingga ke tulang. Rasanya ia ingin mati sekarang juga.


"Shika... Shika.. tolong sadarlah... buka matamu." tubuhnya semakin dingin.


Awan melepaskan semua pakaiannya, tidak ada pilihan lain lagi ia harus melakukan langkah terakhir skin to skin jika tidak bisa fatal akibatnya, dengan Shika yang sudah mulai hilang kesadarannya. Perlahan ia mulai masuk kedalam selimut mendekat memeluk tubuh gadis itu.


Otak Awan masih berfungsi untuk tidak melakukan hal yang akan dia sesali. Jika itu terjadi pasti dirinya habis dihajar sama kedua kakak gadis itu.


"Maaf..."


*****


Awan menggeliat, ia sedikit terkejut dengan sosok yang masih meringkuk dalam pelukannya. Ia mulai ingat apa yang terjadi semalam, Awan tersenyum, dielusnya lembut pipi putih nan kenyal milik Shika. Kenapa dia begitu menggemaskan sekali ketika tertidur seperti ini? Tanpa ia sadari seseorang sedang mengawasinya dengan tatapan tajam.


Perlahan Awan mendekati wajah Shika, ia ingin menggulang kembali mengecup bibir manis itu. Saat benda kenyal miliknya hampir menyentuh milik sang gadis ia dikejutkan oleh deheman seseorang.


Ekhem.. ekhem


Awan tersentak luar biasa, ia menoleh dan tertegun ditempat keterkejutan dari efek munculnya laki-laki yang sangat ia kenal tiba-tiba sudah duduk di sofa dalam kamar itu dengan tatapan mematikan.


"Bangunkan dia, bersihkan diri kalian. Kami tunggu diruang depan." ucapannya sungguh sangat dingin penuh penekanan setiap kata-kata yang terucap.


Setelah lelaki itu keluar kamar, Awan menghela nafas panjang. Ia segera membangunkan gadis itu.


Eh, apa tadi katanya? kami??? bathin Awan.


Shika menggeliat dalam tidurnya, ia merasakan pipinya seperti ada yang tusuk-tusuk dan perlahan mengerjapkan kedua matanya. Pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan seorang pria yang sedang menatapnya dengan senyuman diwajahnya. Matanya membulat sempurna ketika semua kesadarannya kembali.

__ADS_1


"K-kak Awan." ucapnya gugup. Melihat dirinya dan Awan berada dalam satu ranjang dengan tubuh dalam keadaan tidak berpakaian.


"A-Apa yang terjadi? apa yang terjadi diantara kita? Kenapa--?" tanya Shika yang sudah mengeluarkan air matanya. Ia tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.


"Kakak tidak melakukannya, kakak hanya membantumu itu saja!" ucapnya lalu memeluk Shika dan menjelaskan semua yang terjadi akhirnya Shika pun mengerti, ia sempat berpikir yang tidak-tidak.


*****


Disinilah mereka saat ini, dihadapan dua orang yang menatap mereka seakan-akan ingin menguliti mereka berdua. Keduanya seperti terdakwa yang sedang menunggu keputusan hakim.


"Ada yang ingin kalian jelaskan." ucap sosok itu dengan datar.


Awan menghirup nafas dalam-dalam, ia mulai menceritakan bagaimana ia dan Shika bisa berakhir dengan keadaan seperti itu. Tidak ada yang ditambah ataupun dikurangi.


"Baiklah, minggu depan kalian harus menikah!" putus salah seorang dari mereka yang tak lain adalah kakak sulung dari gadis itu.


"APAAAAA!!!" pekik mereka berdua.


"Kenapa? keberatan?"


"Tapi kenapa harus nikah, kak?" protes Shika yang tidak terima, karena diantara mereka tidak terjadi hal yang fatal menurutnya.


"Kamu harus menikah! tidak ada bantahan!"


"Baiklah, kak. Aku akan menikahinya."


"Kakak, kenapa main setuju aja sih?" kesal Shika menatap Awan yang menyetujui mereka untuk menikah.


"Tapi... Fe engga mau nikah sama kak Awan!" lanjutnya.


"Engga mau nikah sama Awan, tapi tidur berdua mau?"


"Kak, tadikan udah di jelasin kami engga melakukan yang aneh-aneh! kak Awan melakukannya hanya untuk menyelamatkan aku kak!" sangat terlihat Shika frustasi dengan keputusan sang kak.


"Tapi tubuh kamu sudah disentuhnya dan dia harus bertanggung jawab."


"Kalau tau bakalan begini, lebih baik semalam kakak biarin aku mati kedinginan!" teriak Shika yang belum terima dengan keputusan kakaknya.


❄❄❄❄❄❄


Awan... kamu menang banyak yaaa... tapi curanggg...


Akukan cembukorrr jadinya😠...

__ADS_1


__ADS_2