Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
7 - Penolakan Shika


__ADS_3

Disebuah kamar mewah, tampak seorang gadis cantik terlihat murung ia masih belum terima dengan keputusan sang kakak yang hendak menikahkannya, ia belum siap untuk menikah. Ia terus memikirkan bagaimana cara membujuk kakak sulungnya untuk membatalkan pernikahan dadakan itu.


"Aaakhhh.... kakak nyebelin banget sihhh!!! jelas-jelas aku masih segel malah dipaksa nikah!!! sebel..sebell...!!!!" teriaknya sambil meninju-ninju bantal dipangkuannya.


"Lebih baik sekarang aku bicara dengan kak Dika siapa tau pagi ini mood kakak lagi baik." Ucapnya dengan semangat empat lima, dengan masih mengenakan piyama tidur bercorak pisang kesukaannya ia turun dari ranjang berjalan keluar kamar. Ia menuruni tangga sambil terus menyemangati dirinya.


"Aku pasti bisa, Ayoo... Feshika kamu pasti bisa.. kakak kan sayang banget sama aku, pasti berhasil! Caiyooo...." Mulutnya terus komat-kamit membaca segala doa peluluh hati untuk kakaknya.


Kok sepi... pada kemana ini kan hari minggu?


Ia celingak celinguk mencari kedua kakaknya yang biasa kalau hari minggu seperti ini mereka akan bersantai di ruang keluarga sambil ngopi. Ia pun terus berjalan menyusuri setiap sudut rumah, sampai ia menemukan kedua kesayangannya sedang bersantai ditaman belakang.


Shika menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, sebelum ia melanjutkan langkah kakinya.


"Kak.." dengan jantung jedag jedug ia mendekati kakak sulungnya, menjatuhkan dirinya dalam pelukan Dika, Dika mengerutkan keningnya melihat betapa manjanya Shika memeluk dirinya, ia menghela nafas pelan sudah bisa ditebak ada sesuatu yang diinginkan kalau sudah bersikap seperti itu.


"Mau minta apa, hm? kalau soal pernikahan batal jawabannya tetap sama." Ucap Dika cepat yang mengerti keinginan adik perempuannya itu.


Shika mengerucutkan bibirnya, ia melepaskan pelukan Dika menatap dengan wajah cemberut. Otaknya terus bekerja keras, mencari kata-kata yang bisa meluluhkan hati Dika. Dia harus benar-benar bisa meyakinkan kakaknya sebelum undangan tercetak dan persiapan pernikahan dilakukan.


"Aku akan menikah, kak. Tapi tidak sekarang, aku mohon ya kak, please. Aku belum siap sekarang, aku akan menikah kalau sudah menemukan laki-laki yang aku cintai dan juga mencintaiku kak. Ya..ya yaa.. batalin ya kak, please... Kakak hukum Fe juga boleh, yang penting pernikahan ini batal." Bujuk shika dengan wajah sedih ia berharap sang kakak luluh.


"Kamu harus tetap menikah dengan Awan, Fe. Tidak ada bantahan." Ucapnya dengan lembut tapi penuh ketegasan sambil mengelus lembut rambut Shika.


"Tapi Fe, engga cinta sama kak Awan, kak. Fe hanya anggap kak Awan sebagai kakak, Fe engga ada perasaan apapun terhadapnya, Fe mohon kak! selama ini Fe selalu nurut apa kata kakak, kali ini Fe mohon jangan nikahkan Fe dengan kak Awan, kak!" Shika menangkupkan kedua tangannya ia berharap Dika luluh. Melihat tidak ada respon dari Dika, Shika menundukkan kepalanya menahan segala gejolak di dadanya.


"Kakak udah engga sayang sama Fe, kakak tega!" imbuhnya dengan suara serak. Mata Shika sudah berkaca-kaca.


Ray sejak tapi diam merasa kasian kepada adiknya, walaupun mereka melakukam kesalahan tapi tidak sampai fatal bukan. Adiknya masih suci, Awan menjaganya dengan sangat baik. Ia akan mencoba bicara dengan Dika, kenapa Dika begitu sangat ingin menikahkan Shika dengan Awan. Mereka tidak digrebek warga bukan? yang harus di nikahkan secara paksa, mereka hanya ke geb sama kakak gadis ini.

__ADS_1


Shika menghela nafas kasar, dengan perasaan campur aduk karena tidak berhasil membujuk kakaknya meninggalkan Dika dengan wajah ditekuk kembali kekamarnya. Pupus sudah harapannya menolak pernikahan yang akan terjadi minggu depan itu. Setelah melihat shika sudah menjauh masuk kedalam Ray menatap Dika.


"Kak, kasian Fe. Apa tidak berlebihan memaksanya untuk menikah dengan Awan? Fe terlihat sangat tertekan, dia sangat sedih, kak. Mungkin kemarin kita terlalu gegabah mengambil keputusan karena emosi melihat mereka tidur berdua dalam keadaan tanpa busana. Kondisi Awan saat itu terdesak bukan? sehingga ia tidak ada pilihan lain? tolong kak, tarik kembali keputusan kakak itu. Ray engga tega liat Fe tertekan seperti itu."


"Ini juga salah Ray, seandainya kemarin Ray engga ninggalin ponsel. Pasti Ray langsung kesana saat mereka hubungi Ray dan semua ini pasti ngga bakal kejadian." lanjut Ray. menyesal atas kecerobohannya.


Dika menghela nafas panjang, melihat bagaimana kerasnya Shika menolak pernikahan ini. Dika memijit pelipisnya kepalanya berdenyut. Apa keputusannya salah? tapi melihat bagaimana Awan menatap adiknya dengan begitu hangat, sorot mata itu memancarkan ketulusan cinta yang begitu besar untuk adiknya. Ia yakin keputusan ini yang terbaik, Awan laki-laki yang tepat mendampingi Shika.


*****


Saat kembali ke kamar, Shika mengambil ponselnya ia memutuskan menghubungi Awan. Hanya Awan satu-satunya yang bisa membatalkan pernikahan ini terjadi, pasti Awan akan berhasil bujuk kakaknya.


"Hallo, kak."


"Iya Shika, gimana?"


"Kak, Shika mau kakak bicara sama kak Dika batalin rencananya untuk nikahin kita. Shika belum mau menikah kak, Shika yakin kalau kakak yang bicara pasti kak Dika setuju! Shika mohon kak tolong kakak bujuk kak Dika untuk batalin semuanya. Shika, mohon kak...!" Ucapnya disertai isak tangis, ia sudah sangat putus asa dengan keinginan sang kakak.


"Benarkah? Janji...?"


"Iya..."


"Janji dulu... "


"Iya, janji. Tapi kamu juga harus janji satu hal sama kakak."


"Apa??"


"Tolong buka hati kamu, jangan biarkan masa lalu merusak masa depanmu. Bisa?"

__ADS_1


"Baiklah kak, akan kucoba. Hmm... Kakak malam ini ada acara?"


"Kenapa?"


"Shika mau makan malam sama kakak, ya itung-itung sebagai ucapan terima kasih. Shika yang traktir deh." Ujarnya dengan suara yang kembali ceria.


"Okey, cafe kemarin ya?"


"Tidak-tidak, Shika engga mau cafe itu, nanti bukannya makan malam kita malah ngelanjut ghibahin si sapi, Shika engga mau makan malam kita rusak gegara sapi jadi-jadian itu." Mereka tergelak mengingat saat dicafe beberapa waktu dulu.


"Malam ini kita makan diresto aja, pasti kakak suka. Nanti Shika kirim alamat restonya. Okey?" lanjut Shika.


"Sampai jumpa nanti malam. bye kakak."


"Byee.."


*****


Dibelahan benua lain, seorang laki-laki tampan, berperawakan tinggi tubuh atletis dengan rahang kokoh yang ditumbuhi rambut-rambut halus alis tebal dengan potongan rambut klasik pompadour ditambah bibir tipis berwarna kemerahan semakin menambah kesan maskulin.


Jangan cakep-cakep babang, author bisa oleng. Tau sendirikan iman author lemah🀧


Lelaki itu berdiri dibalkon apartemen mewah miliknya, ia menatap gelapnya malam, sudut bibirnya tertarik saat bayangan seorang gadis terlintas dipikirannya. Ia sangat merindukan gadis kecilnya itu, gadis kecil yang selalu manja setiap kali bersamanya.


Apakah ia sudah gila menyukai seorang gadis kecil? Walaupun sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Entah mengapa rasa itu masih ada setelah ia memutuskan untuk pergi meraih cita-citanya menjadi seorang pilot. Ia berharap setelah kepergiaannya ia mampu menghilangkan rasa yang salah dihatinya. Namun keputusannya tidak berarti apa-apa hanya rasa rindu yang semakin dalam.


"Apakabar kamu, Res? kakak sangat merindukanmu. Masihkah kau mengenal kakak setelah bertahun-tahun kita berpisah? kau pasti telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik."


"Kakak akan kembali, tunggu kakak gadis kecilku..."

__ADS_1


❄❄❄❄❄


__ADS_2