Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
34 - Merealisasikan Keinginan


__ADS_3

Awan benar-benar merealisasikan keinginannya untuk menghabiskan waktu berdua dengan Shika, makan, nonton, belanja, bermain di arena permainan bahkan ia lupa usianya bukan lagi seorang anak kecil. Tapi ia tidak peduli begitu juga dengan Shika, mereka sangat menikmati hari ini.


Tertawa, bercanda persis seperti remaja yang sedang kasmaran, para ABG saja sampai iri melihat bagaimana kebersamaan mereka. Seakan lupa dengan beban yang selama ini dipikulnya, hari ini Shika benar-benar menjadi dirinya sendiri setelah mengalami begitu banyak kesedihan dalam hidupnya. Hari ini seakan beban itu hilang dari pundaknya.


"Kak, aku senang banget hari ini. Aku benar-benar puas, tapi aku juga lapar," ucap Shika sambil tertawa.


"Kamu ini," mengacak gemas rambut Shika.


"Yuk, kita cari makan. Setelah itu pulang, kasian anak-anak terlalu lama ditinggal." lanjutnya lagi.


"Kak, aku mau makan ikan bakar yang dipojokan dekat komplek rumah. Tapi kita bungkus aja makan sama anak-anak dirumah, boleh?"


"Boleh dong, kenapa ngga."


"Makasih Kak,"


"Sama-sama."


Bugh


"Eh, sorry- sorry. Maaf ya, sa--"


"Awan!" pekik seorang wanita saat matanya melihat sosok lelaki disamping wanita yang ditubruknya. Wanita itu tanpa permisi langsung memeluk Awan, membuat mata Awan terbelalak secepat mungkin Awan mendorong kasar tubuh wanita itu.


"Tolong jaga sikap anda, jangan sembarangan memeluk" Hardik Awan, menatap tajam wanita itu.


"Awan, you remember me? Aku Bella, kita ketemu waktu di Jerman." Mata wanita itu berbinar, senyum terus mengembang diwajahnya.


Awan menelisik wanita didepannya itu, otaknya berputar cepat hingga ia mengingat siapa perempuan itu. Seorang perempuan yang selalu mengganggu dan menyatakan cinta padanya.


"Kamu Bella temannya, Alex!" ucap Awan datar.


"Yes... Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Aku senang banget, aku cariin kam-" Awan langsung memotong ucapan wanita itu, ia tidak ingin mood menjadi kacau.


"Maaf, saya harus pergi." Awan menarik tangan Shika untuk pergi dari sana.


Dengan gerakan cepat, wanita yang bernama Bella itu merentangkan kedua tangannya menahan Awan untuk tidak pergi dari sana. Awan menautkan alisnya melihat tingkah wanita itu.


"No, kamu tidak boleh pergi, Awan. Kita baru ketemu." Wanita itu ingin memeluk Awan lagi, tapi Awan langsung mundur beberapa langkah ke belakang.


"Tolong jaga sikap anda, ini tempat umum. Apa anda tidak malu memeluk seorang lelaki yang sedang bersama seorang wanita disampingnya." Sarkas Awan yang sudah geram dengan kelakuan Bella.

__ADS_1


Bella bahkan melupakan wanita itu, saking senangnya bertemu dengan lelaki idamannya. Ia melihat wanita itu lalu matanya beralih pada tangan yang menggenggam erat tangan wanita itu, ia baru menyadari wanita yang ditubruknya itu bersama lelaki yang dicintainya.


"Siapa dia?" tanya Bella dengan nada tidak suka, ia memandang rendah pada Shika karena penampilan yang tampak sederhana walaupun baju yang dipakainya branded semua. Itulah Shika, ia tidak suka pamer kemewahan.


"Dia Ibu dari anak-anak saya!" Awan semakin mengeratkan genggaman pada tangan Shika.


"Apa? maksud kamu perempuan ini Istri kamu? tidak mungkin, kamu pasti bohong! mana mungkin perempuan rendahan seperti ini... ck, yang benar saja!" Bella tersenyum sinis pada Shika.


"Kecuali dia rayu kamu dengan cara murahan!" lanjut Bella lagi membuat kesabaran Awan habis.


"Tutup mulut anda nona Bella, wanita yang anda bilang rendahan belum tentu lebih rendah dari anda. Jangan menilai sesuatu dari luarnya, wanita ini jauh lebih terhormat dan berharga dari anda." Awan menatap dengan murka tampak rahangnya mengeras, wajahnya memerah menahan amarah.


Sementara Shika hanya terdiam, ia sangat takut melihat Awan seperti itu. Tidak pernah sekalipun ia melihat Awan marah, tubuhnya bergetar Awan bisa merasakan keringat dingin dari telapak tangan Shika.


Kakak kenapa sangat mengerikan, apa ini sisi lain diri Kakak yang baru aku ketahui. Ucap Shika dalam hati.


"Satu lagi, pulanglah kerumah lalu bercermin. Liat diri anda, apakah sudah mencerminkan seorang wanita terhormat dan seorang Dokter yang professional!" sarkas Awan lagi, jika yang berdiri didepannya seorang laki-laki sudah pasti Awan akan menghajarnya tanpa ampun.


Awan segera merangkul tubuh Shika, membawanya pergi dari sana. Ia tidak ingin Shika semakin ketakutan, wajahnya sudah sangat pucat.


"Awas kamu Awan, liat saja kamu pasti akan bertekut lutut dan bermohon-mohon padaku. Tidak mungkin seorang Bella yang diidamkan banyak pria kalah dengan seorang perempuan rendahan seperti itu."


"Kamu hanya milikku seorang, aku tidak akan menyerahkan kamu begitu saja." Bella tersenyum licik, entah apa yang sedang direncanakannya.


"Maaf, tolong maafkan sikap Kakak tadi. Kakak ngga terima kamu di rendahkan seperti itu."


Shika menatap lekat mata itu, mata yang tadi begitu dingin kita telah berubah menjadi tatapan teduh dan hangat. Awan membawa Shika dalam pelukannya, mengelus lembut punggung Shika memberikan kenyamanan untuk wanitanya. Setelah merasa Shika mulai tenang, Awan melepaskan pelukannya.


"Maaf!" ucap Awan lagi dengan perasaan menyesal.


"Aku ngga apa, Kak. Aku udah lebih baik, sedikit kaget aja liat Kakak kayak tadi, selama ini Kakak ngga pernah marah. Taunya sekali marah ngalahin monster seramnya." Awan melotot.


"Tadi kamu bikin Kakak khawatir, sekarang malah ledekin Kakak. Liat saja nanti akan Kakak kasih hukuman kamu."


"Kayak sekolah aja, ada hukumannya." Mereka tertawa bersama dan saling meledek.


"Emm, Kak. Perempuan tadi siapa?" tanya Shika.


"Ngga penting, anggap aja boneka chucky."


"Kakak jahat banget ngatain dia, boneka chucky. Cantik gitu."

__ADS_1


"Cantikan kamu, tanpa polesan lagi."


Blussshh


Shika membuang pandangannya, pipinya merona, "Kakak udah pintar ngerayu ya.."


"Bukan rayuan, tapi kenyataan."


"Udah ah, kita pulang."


*****


"Mommy...."


"Daddy...."


Seru bocah-bocah tampan itu ketika melihat orang tuanya muncul dari pintu depan, mereka langsung berlari sambil merentangkan kedua tangannya minta untuk di gendong.


Awan dan Shika langsung meraih kedua bocah itu kedalam gendongan, mencium kedua pipi mereka masing-masing.


"Daddy sama Mommy mandi dulu ya, sayang. Setelah itu kita makan, Daddy bawain ikan bakar mamang Rojali."


"Selius, Dad?" tanya Zie.


"Serius dong, sekarang sama Oji dulu ya." Dua balita itu pun langsung turun dari gendongan Awan dan Shika. kembali bersama Oji nya.


"Ka, kamu mau mandi dikamar tamu atau kamar anak-anak?"


"Kamar tamu aja, Kak."


"Yuk, Kakak tunjukkan kamarnya. Nanti biar pakaiannya diantar bibi."


❄❄❄❄❄❄❄


Lunas ya Zheyeng,,,lanjut besok👌


Semoga suka☺


Lope lope lope,, muuaaahhh..🤗


Tarekk selimut, tidurrr

__ADS_1


Good Night, Semuanya


Jangan lupa makan pisang dulu sebelum tidur😁🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌


__ADS_2