Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
12 - Hadiah Spesial


__ADS_3

Gadis kecil yang dulu selalu dijaganya dari bocah laki-laki yang menganggunya, gadis kecil yang dulu suka merengek ketika tidak di ijinkan bermain hujan dan dengan terpaksa Kevin mengijinkan. Kevin yang mengingat itu hanya mampu tersenyum, kini gadis itu telah tumbuh dewasa dan menjelma menjadi gadis yang sangat cantik dan juga pintar.


"Sudah siap melihat hadiah spesialnya?" Tanya Dika dibalas anggukan oleh Shika. Senyum merekah wajahnya ia ingin segera melihat hadiah yang dimaksud.


"Kok pake ditutupin segala sih, kak!" protes Shika ketika kakaknya mengikat sapu tangan menutupi matanya.


"Diam, nurut aja. Jangan berisik." Ucap Dika.


*****


Kini mereka telah berada ditaman belakang disamping kolam renang yang sudah disulap sedemikian rupa. Dekorasi nan indah dengan berbagai macam ornamen terpasang disana. Tema garden party sederhana yang disiapkan untuk perayaan ulang tahun Shika tapi terlihat begitu mewah, dengan berbagai macam menu makanan yang telah tersaji dan tertata rapi diatas meja. Tak lupa juga ditengah-tengah meja terdapat bunga casablanca lily yang terangkai cantik dalam vas kaca bening dengan pinggiran berlapis emas.


Seorang laki-laki yang berdiri tepat dibelakang Shika melepaskan ikatan yang menutupi mata indah pemilik netra coklat itu. Perlahan-lahan Shika membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya, ia begitu terpukau dengan kejutan didepannya. Matanya berkaca-kaca ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini, belum selesai sampai disitu ia kembali dikejutkan dengan seuntai kata yang terucap dari bibir seorang lelaki dan bersamaan itu juga sebuah kalung liontin berlian blue sapphire yang didesain khusus oleh lelaki itu terpasang dileher jenjangnya.


"Barakallah Fii Umrik, Resta."


Deg


Tubuh Shika menegang, "Suara ini? tidak mungkin, tidak-tidak aku pasti berhalusinasi dan ini....?" Shika geleng-geleng kepala, menghilangkan pikiran itu lalu tangannya secara reflek memegang kalung itu. Lelaki itu mengernyitkan alisnya, kemudian mengulum senyum melihat tingkah Shika dihadapannya. Dengan perlahan Shika membalikkan tubuhnya, jantungnya berdegup sangat kencang.


Oh jantung, tolong kerjasamanya.


Shika tertegun melihat sosok dihadapannya dengan jarak begitu dekat, ia menelisik pahatan yang begitu sempurna didepannya. Otaknya masih mencerna apa yang dilihatnya saat ini, sedetik kemudian ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Bahwa lelaki yang berucap tadi itu adalah...


"K-kak Kev..." dengan gugup Shika menyebut nama lelaki itu.


Lelaki itu tersenyum begitu manis menandakan kebenaran bahwa itu benarlah Kevin.


"Barakallah Fii Umrik, Resta. Gadis kecilku." Ucapnya lagi.


Suara hangat dan manis. Bariton tidak asing yang telah membuatnya berdebar ternyata milik Kevin. Suara menenangkan yang dulu selalu menemaninya, suara yang sama yang telah membuatnya begitu bahagia hari ini. Bukan hanya suara tapi juga kehadirannya. Shika tak mampu lagi berkata-kata, air matanya luruh sudah mengalir dipipi mulus miliknya.


Shika menghamburkan diri ke pelukan Kevin, tangisnya pecah dalam dekapan lelaki itu. Seorang lelaki yang sangat dirindukan dalam diam kini sedang memeluknya, mendekapnya dengan begitu hangat. Ini nyata bukan halusinasi ataupun sebuah mimpi, ia bisa merasakan detakan jantung itu, hembusan nafas dan belaian lembut dari tangan kekar laki-laki itu saat mengelus rambutnya. Sesekali laki-laki itu mengecup puncak kepala Shika sebagai ungkapan betapa ia begitu sangat merindukan gadisnya.

__ADS_1


"Kenapa baru sekarang?" Ucapnya dalam isak tangis, suaranya nyaris tidak terdengar. Karena wajahnya ia sembunyikan didada bidang milik Kevin.


"Maaf.."


"Jangan pergi lagi."


"Iya.."


"Janji."


"Kakak tidak ingin berjanji lagi, tapi kakak akan membuktikan ucapan kakak sampai nafas ini berhenti." Shika mengangguk dalam pelukan Kevin.


Kevin melerai pelukannya, meraup wajah gadis itu dengan lembut jarinya menghapus sisa air mata yang membasahi pipi gadis kesayangannya. Setelah beberapa saat saling melepas rindu yang telah bersemayam selama belasan tahun dihati masing-masing, mereka menyadari bahwa tidak hanya mereka berdua yang ada disana saat sebuah suara menginterupsi mereka.


Ekhem.... ekhem..


"Mau berapa lama kalian bernostalgia? cacing perut gue udah pada meronta-ronta minta diisi."


"Kaki gue juga sampe kram kelamaan berdiri!"


Membuat kedua manusia beda gender itu menjadi salah tingkah. Jangan tanya betapa merahnya wajah Shika saat ini, ingin rasanya ia menghilang dari hadapan kakak-kakaknya detik itu juga. Beda dengan Kevin yang masih bisa menguasai diri, Kevin yang melihat betapa meronanya wajah gadis itu karena menahan rasa malu akibat godaan sang kakak, ia segera menariknya kedalam pelukan, hal yang sama yang sering dulu ia lakukan untuk melindungi gadis kecil itu.


Apapun yang terjadi, kamu tetap menjadi nomor satu bagiku. Bisakah kamu memaafkanku atas apa yang telah aku lakukan?


Buat Shika dan Kevin tolong ya, pleasee..!!! jangan uwu-uwuan didepan author soalnya author orang nya baperan, kasian guling abis author gigitin.👌


*****


Keesokan harinya suasana diruang makan kediaman Anggara berbeda dari biasanya dengan kehadiran Bunda Santi ditengah-tengah mereka. Menambah kehangatan dalam keluarga itu, terlebih lagi sarapan yang disiapkan sendiri oleh Bunda Santi untuk anak-anaknya.


"Pagi, Bunda. Pagi, kakak-kakakku yang ganteng." Sapa Shika yang baru turun dan ikut sarapan bersama, tak lupa ia mencium Bunda Santi lalu beralih pada Dika, Ray, Afnan secara bergantian.


"Pagi, sayang." Jawab Bunda Santi menyodorkan piring berisi roti yang telah diolesi selai blueberry kesukaannya.

__ADS_1


"Makasih, Bun."


"Sama-sama."


"Cerah amat mukanya, dek?" tanya Dika.


"Cerah dong, pawangnya udah kembali." Goda Afnan.


"Apaan sih, bang!" Shika melanjutkan makan rotinya.


Tak lama kemudian, Kevin datang lengkap dengan tampilan formalnya. Membuatnya terlihat sangat tampan dan semakin gagah, aura seorang pemimpin terpancar dari lelaki itu.


"Pagi, semua nya.."


"Pagi.." balas mereka bersamaan.


"Eh, nak Kevin. Ayo sarapan."


"Makasih, Bun."


Kevin langsung menariknya kursi yang berhadapan dengan Shika, matanya tak bosan-bosan menatap Shika. Senyuman tipis itu terus terukir diwajahnya. Pagi ini ia datang untuk menjemput dan mengantar Shika seperti rutinitas yang dulu selalu ia lakukan, ia tidak akan pernah biarkan Shika melakukan semuanya sendiri. Terlihat berlebihan, bukan? mungkin bagi orang yang iri terkesan lebay.


Baginya yang penting ia harus menjaga dan melindungi gadisnya, Kevin ingin menembus kesalahannya selama ini yang telah meninggalkan Shika. Karena sebuah keputusan yang salah, sehingga membuat gadis kesayangannya menderita.


Dika dan Afnan menyelesaikan sarapan terlebih dulu mereka akan berangkat kekantor bersama. Afnan telah memutuskan untuk menerima tawaran Dika bekerja diperusahaan. Semua itu tak lepas dari bujukan dan nasehat Bunda Santi. Disusul Ray, kemudian Shika dan Kevin menuju tempat kerja mereka masing-masing.


Tes


Air mata wanita yang berusia lima puluh tujuh tahun itu menetes menatap kepergian anak-anaknya. Ada rasa bahagia dan bangga melihat mereka tumbuh dewasa menjadi sosok yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan yang keras ini walaupun ia tau hati mereka sangat lah rapuh. Dan rasa sedih saat mereka berhasil tidak didampingi oleh kedua orang tua.


Begitu sesak dadanya mengingat dulu bagaimana Dika harus bertahan dan berjuang untuk adik-adiknya saat usianya baru lima belas tahun. Masa remajanya harus ia korbankan demi memikul tanggung jawab besar untuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh sang Ayah.


Adnan, Pamela lihatlah mereka. Anak-anak yang kalian tinggalkan telah sukses. Terima kasih telah menghadirkan putra-putri yang begitu tangguh, semoga kelak kita bisa berkumpul kembali...

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2