Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
69 - Twin Sakit


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, Tari yang panik memberanikan diri mengetuk pintu kamar Awan dengan sedikit keras. Tari sangat gelisah wajahnya sangat pucat, baik Awan maupun Shika belum juga terbangun.


Aleta yang kamarnya tidak jauh dari Kamar Shika terbangun mendengar suara ketukan pintu, ia melihat jam di atas nakas kemudian membangunkan suaminya.


“Pa.. “


“Hm..”


“Pa bangun, ada yang ketuk pintu.” Aleta menggoyang lengan suaminya.


“Udah jam berapa, sayang?” tanya Ray dengan mata masih terpejam.


“Jam tiga pagi, Pa.” Jawab Aleta.


“Masih jam tiga pagi, siapa yang ketuk pintu sepagi ini?” Ray mendengar dengan seksama suara ketukan yang sangat keras.


“Kayaknya dari arah kamar Fe,” ucap Ray menatap istrinya.


Ray kemudian turun dari tempat tidurnya berjalan menuju pintu kamar.


“Tari, kamu lagi ngapain?” tanya Ray yang melihat Tari panik dengan mata sembab.


“Tuan Muda Zie dan Ken muntah-muntah dari tadi Tuan, tubuh mereka udah sangat lemas. Saya sudah berkali-kali ketuk pintu kamar Tuan Awan tapi ngga ada jawaban. Saya takut Tuan, badan mereka juga sangat panas.” Tari sudah berlinang air mata mengkhawatirkan anak dari majikannya, jika terjadi sesuatu dengan mereka makan Tuan besar Narendra pasti akan sangat murka. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya, sangat sulit mendapat majikan yang sebaik keluarga itu.


“Sekarang kamu siapin semua keperluan mereka ke Rumah Sakit, biar saya yang bangunkan mereka.” Tari mengangguk, kemudian ia bergegas kembali ke kamar twin.


Ray tidak lagi mengetuk, ia sudah mengedor-ngedor pintu kamar adiknya. Aleta yang mendengar suaminya, dengan terburu-buru keluar dari kamar.


“Pah, ada apa?” tanya Aleta cemas.


“Twin sakit Mah, kata Tari mereka muntah-muntah. Coba mama lihat dulu kesana,” Aleta pun mengangguk, ia segera menuju kamar twin.

__ADS_1


“Dua manusia ini, tidur udah kayak orang mati aja!” umpat Ray.


“Awan..”


“Fe..”


“Bangun!” teriak Ray, ia sudah tidak peduli satu rumah akan terbangun.


Samar-samar Awan mendengar suara gedoran pintu dan namanya yang dipanggil, ia memaksa membuka matanya. Suara gedoran itu sangat jelas berasal dari pintu kamarnya, dengan mata yang masih sangat mengantuk Awan melangkah kearah pintu dan membuka pintu di mana sudah berdiri Ray dengan wajah sangat kesal dan cemas.


“Ray, ada apa?” tanya Awan bingung.


“Ada apa ada apa, lo tidur apa mampos hah?” hardik Ray yang sudah sangat kesal.


“Anak lo itu dari tadi muntah-muntah ngga berhenti.” Lanjut Ray lagi.


Awan langsung berlari ke kamar twin, tidak bertanya apa pun lagi pada Ray. Jiwanya yang tadi baru terkumpul setengah kini sudah kembali sepenuhnya ketika mendengar tentang anaknya.


“Sayang!” panggil Awan, Zie membuka kedua matanya yang sayu saat mendengar suara Daddy nya. Zie mengulurkan tangan ke arah Awan. Awan langsung mengangkat Tubuh Zie, suhu tubuh sang anak sangat panas.


“Daddy, sakit hiks..!” adu Zie dengan suara sengau.


“Daddy di sini sayang, kita ke Rumah Sakit ya.” Awan mengecup kening Zie yang sangat panas, wajah putihnya memerah.


“Ray, lo gendong Ken. Kita ke Rumah Sakit sekarang, Zie sangat lemas, gue khawatir.”


“Anak-anak kenapa?” tanya Dika yang datang bersama Zoya, ada kecemasan di wajah nya saat melihat Zie dan Ken dalam gendongan kedua adiknya. Ia bersama istri langsung ke lantai atas ketika mendengar suara gedoran pintu yang sangat keras disusul suara Ray yang saat berbicara dengan Awan.


“Kata Tari mereka muntah-muntah dari tadi Kak, badannya juga panas.” Ujar Ray.


“Kami akan membawa mereka ke Rumah Sakit, Zie sangat lemas kak.” Sambung Awan.

__ADS_1


“Biar Kakak yang nyetir,” kemudian Dika menoleh pada pengasuh twin, “Tari kamu dirumah aja, nanti kalau Bunda tanya bilang kami bawa Zie dan Ken ke Rumah Sakit.”


“Baik Tuan.” Tari memberikan tas yang berisi pakaian dan keperluan twin kepada Dika.


“Sayang titip Fe ya,” Aleta mengangguk.


*****


Twin sedang ditangani oleh Dokter, Zie kehilangan banyak cairan akibat terus mengeluarkan isi perutnya. Wajahnya sangat pucat, sedangkan sang kakak kembarnya masih betah dengan tidurnya walaupun ia juga muntah-muntah tapi tidak separah adik kembarnya.


Itulah perbedaan mereka saat sedang sakit, Ken seperti apapun sakitnya ia akan tetap diam dan tidur. Tidak seperti Zie yang ketika sakit ia akan menjadi rewel.


Berdiri, duduk, mondar mandir itulah yang dilakukan Awan sekarang. Menunggu Dokter yang memeriksa kedua Putranya keluar, ia belum bisa tenang sebelum tau keadaan anak-anaknya.


Beberapa menit kemudian Dokter keluar, mereka langsung menyerbu sang Dokter.


“Bagaimana keadaan anak-anak saya Dokter?” tanya Awan yang sejak tadi berdiri di depan pintu.


“Mereka tidak apa-apa, panasnya juga sudah turun. Kami sudah mengambil sampel darahnya untuk pemeriksaan lebih lanjut.” kata Dokter yang memeriksa twin.


Awan sedikit bernafas lega, kemudian Dokter itu kembali bertanya. “Apa mereka ada alergi sesuatu, makanan atau apa?”


“Ada Dokter, mereka Alergi daun seledri dan kentang.” Jawab Awan setelah berpikir sejenak.


“Xena...” Pekik Zoya tiba-tiba.


“Xena kenapa Mi?” tanya Dika yang terkejut dengan istrinya.


“Xena kemarin bawa pulang bola-bola tahu, maafin Mami Pi. Mami lupa memeriksanya.” Zoya tertunduk merasa bersalah telah lalai.


Dika menghela nafas panjang, “Sudah terjadi juga kan, jangan disesali. Anggap ini pembelajaran untuk kita supaya lebih teliti lagi.” Kata Dika merangkul Zoya menenangkan sang istri.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2