Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
26 - Cerita Awan


__ADS_3

Hari ini Kevin datang kerumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaannya, Kevin sangat terkejut melihat Awan yang sudah berdiri disana saat ia keluar dari ruang Dokter Angga. Awan yang sudah menunggunya sejak tadi mencegat Kevin yang ingin segera pergi dari hadapannya.


Kevin divonis Leukemia Myeloid Akut tepat seminggu sebelum pernikahannya dengan Feshika.


"Hidup gue engga lama lagi!"


Saat ini Kevin sedang duduk dibangku taman rumah sakit bersama Awan, cukup lama keduanya terdiam hingga pada akhirnya Kevin membuka pembicaraan diantara mereka.


"Apa Shika tau?" tanya Awan. Kevin menjawab dengan gelengan lemah.


"Gue mohon jangan beritahu Resta tentang penyakit gue, gue akan pergi jauh dari hidupnya." Kevin berucap dengan suara memelas, ada luka yang dirasakannya saat mengetahui kondisi kesehatannya.


"Jika itu terjadi gue sendiri yang akan menghajar lo, Vin! Pernikahan kalian tinggal seminggu dan lo mau tinggalin dia begitu saja." Hardik Awan, geleng-geleng kepala tidak menyangka jika Kevin akan mempunyai pikiran seperti itu.


"Lo mau mengulang kesalahan lo dulu, hah! pengecut lo, Vin." imbuh Awan lagi.


"Lo engga ada diposisi gue, gue engga mau orang yang gue cinta bersedih karena penyakit gue." Terdengar begitu pilu setiap kata yang terucap.


Awan menghirup udara dalam-dalam lalu melepasnya secara perlahan, ia membuang pandangannya kesisi lain, matanya terpejam. sejenak.


"Tolong, lo lanjutkan pernikahan ini. Lo harus jujur sama Shika, gue mohon sama lo, Vin! Tolong jangan sia-siakan dia, Shika sangat mencintai lo. Jangan buat hatinya hancur, setidaknya bahagiakan dia disisa umur lo...." Awan menggantung kata-katanya, menguatkan hatinya yang lara.


"Lo harus berjuang untuk sembuh, demi Shika." Lanjut Awan.


"Lo masih mikir perasaannya disaat gadis yang lo cintai akan jadi milik pria lain, dan salahnya pria itu gue. Gue engga nyangka cinta lo sangat besar untuknya, mungkin kalau laki-laki lain sudah berdoa gue cepat anfal. Gue nyesel pernah kembali lagi dalam hidupnya, seandainya gue engga hadir mungkin ini jadi pernikahan kalian, gue minta maaf."


"Gue akan maafin lo, tapi lo janji teruskan pernikahan ini."


"Tidak ada harapan kecuali gue dapat pendonor." Lirih Kevin lemah, ia sudah pasrah jika tidak mendapatkan pendonor yang cocok.

__ADS_1


Jika hanya melakukan kemoterapi, terapi radiasi hanya bersifat sementara sedangkan kondisi kesehatannya semakin menurun. Bagaimana dengan gadisnya, jika ia tidak mampu bertahan.


"Lo tenang aja, gue akan bantuin lo cari pendonor. Gue akan minta bantuan teman gue di Jerman untuk dampingin pengobatan lo selama disana dan dia pasti akan dapatkan pendonor yang cocok dengan lo. Setelah menikah lo harus segera berangkat."


"Lo yakin?"


"Gue sangat yakin, dia bisa diandalkan. Jangan kecewakan Shikha lagi dengan niat lo yang ingin pergi darinya. Berjanjilah, lo akan bahagiakan dia dan lo engga akan nyerah."


*****


Dua minggu sebelumnya tanpa sengaja Awan melihat Kevin masuk kedalam ruang praktek Dokter Angga, sudah pasti ia tau diagnosa penyakit yang di derita pasien jika berhubungan dengan Dokter Angga. Karena ingin memastikan sendiri apa yang terjadi dengan Kevin, tanpa diketahui oleh siapapun Awan diam-diam menemui Dokter Angga dan menanyakan tentang pasien yang sedang ditanganinya yang tak lain adalah Kevin.


Setelah mendengar penjelasan sang Dokter dan memprediksi tingkat kondisi kesehatan Kevin, Awan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui tingkat kecocokan untuk menjadi pendonor dan hasilnya pun cocok. Tapi karena Awan memiliki alergi anestesi sangat beresiko melakukan operasi transplantasi sel punca atau pencangkokan sel sumsum tulang.


Awan mengatur segala keperluan untuk operasi itu, ia meminta Kevin untuk menjalani pengobatan di Jerman. Awan juga telah mengurus kepulangannya ke Dubai dengan demikian mudah baginya untuk melakukan operasi itu tanpa ada yang curiga. Jika sesuatu terjadi padanya, maka tidak ada yang tau.


Awan besikeras ingin melakukannya, yang ada dibenaknya hanya Feshika. Jika terjadi sesuatu dengan Kevin ia yakin betapa hancurnya hati Feshika. Satu diantara dua harus ada yang terselamatkan, yaitu Kevin. Kebahagiaan Feshika jauh lebih berarti dari nyawanya.


"Saya akan tetap melakukannya, dokter. Ada kebahagiaan seseorang yang dipertaruhkan disini Dokter, saya harap Dokter bisa membantu saya dan tolong rahasiakan semua ini dari siapapun termasuk Dokter Ray dan Dokter Arya." Sahut Awan mantap, tidak ada keraguan sedikitpun dari setiap katanya.


"Apa Dokter sangat mencintai gadis itu?" tanya Dokter senior itu menatap sejawatnya dengan tatapan tak terbaca. Awan hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


"Dengan melihatnya bersama laki-laki lain?" tanya Dokter itu lagi.


"Iya, jika senyuman itu tidak pernah hilang dari wajahnya saat bersama pria yang dicintainya, kenapa tidak. Mencintai tak selamanya harus memiliki, melihatnya bahagia saja, sudah lebih dari segalanya."


Dokter Angga hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Dokter Bedah itu. "Sebesar itukah cintamu Dokter, sampai mempertaruhkan nyawa sendiri. Andai saja ia dapat melihat besarnya cintamu, pasti ia akan sangat beruntung memiliki pasangan seperti Dokter."


Awan tersenyum getir mendengar kata Dokter Angga, cintanya yang begitu miris. Dokter Angga sudah mengantisipasi keputusan Awan, dengan sangat terpaksa ia menyetujui keputusan yang sangat beresiko ini.

__ADS_1


"Baiklah, jika ini sudah keputusan Dokter. Tapi, berjanjilah pada saya."


"Apa Dokter?"


"Bertahanlah sampai semuanya selesai."


*****


Operasi transplantasi sel punca berjalan lancar, tubuh Kevin menerima dengan sangat baik. Tapi tidak dengan Awan, tiba-tiba monitor pendeteksi alat vital menunjukkan penurunan fungsi organ vital Awan, membuat tim Dokter dan paramedis yang menangani operasi itu hampir pingsan.


Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi, tubuh Awan bereaksi saat operasi hampir selesai. Awalnya para Dokter sedikit bernafas lega, karena tidak ada tanda apapun dari tubuh Awan saat dilakukan anestesi. Dokter Berry sampai pucat pasi, semua panik hingga semua usai. Awan tertidur lelap tak sadarkan diri.


Selama dua tahun lamanya Awan terbaring koma, berbagai alat-alat medis terpasang ditubuhnya sebagai penunjang hidupnya, tidak ada perubahan dari hari ke hari. Awan begitu betah dalam dunianya yang lain, seperti tidak ada niatnya untuk bangun kembali. Kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dan berlapang dada, mencoba ikhlas dengan apa yang terjadi.


Mereka juga langsung menutup semua akses tentang Awan dari dunia luar, sesuai permintaan Putra semata wayangnya begitu Awan lepas landas meninggalkan Indonesia.


Hargailah orang yang mencintaimu, dia berkorban bukan untuk mengemis cinta, tapi dia ingin menunjukkan betapa berharganya kamu di hatinya.


❄❄❄❄❄❄❄


Malam kesayangan Awan.... 🤗


Alhamdulillah bisa Double Up😌


Walaupun harus nangis bombay waktu nulisnya, maklumlah hatinya Kak Jingga Hello Kitty🤧


Semoga senang ya.. lope you lope you yang gedeeee buat pecinta Awan ☁


NOTE :

__ADS_1


Ini bab kilas balik saat Awan menjelaskan pada Dika dibab sebelumnya, okey cintaaaa.


🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁🧁


__ADS_2