
Shika tampak kepayahan dengan kandungannya yang semakin membesar, Rizal sang Dokter kandungan memperkirakan kelahiran istri sahabatnya itu sekitar tiga minggu lagi.
Kandungan Shika juga dalam keadaan baik, Rizal meminta Awan untuk selalu siaga. Seperti keinginannya, Shika bisa melahirkan anaknya secara normal.
Awan sendiri semakin posesif terhadap istrinya, bahkan mereka kini menempatin kamar di lantai bawah. Awan tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya karena harus naik turun tangga, apalagi kondisi kandungan istrinya yang sangat besar.
Untuk berjalan saja Shika sudah kesusahan, sudah seminggu ini Shika tidak dapat tidur dengan nyaman. Ia terkadang sampai tidur dengan posisi duduk bersandar pada dada bidang suaminya, karena dirasanya nyaman tidak membuat dadanya sesak.
Awan merasa kasihan melihat istrinya seperti itu, ia juga dengan rela membiarkan istrinya tidur di dadanya. Walau semalaman ia harus merasakan pegal di sekujur badannya, itu tidak sebanding dengan pengorbanan istrinya yang mengandung anaknya.
Shika terbangun dari tidurnya, ia merasa pinggangnya panas, tidak nyaman untuk tidur, gerah, pokoknya nano-nano rasanya. Kehamilannya kali ini Shika merasakan perbedaan dengan saat ia mengandung twin, rasanya tidak separah seperti sekarang.
Shika tiba-tiba memekik, merasakan perutnya mulas luar biasa. Awan yang sedang tertidur sontak terbangun.
“Sayang, kenapa?” tanya Awan khawatir. Tangannya mengelus perut istrinya yang buncit.
“Mules banget Kak,” Shika menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
“Kamu kontraksi sayang, kita ke Rumah Sakit ya.”
Shika hanya mengangguk lemah dengan mata terpejam menahan rasa mulas di perutnya. Awan berusaha tidak panik, sejujurnya ia merasa takut. Ini pengalamannya yang pertama, tentu ia sangat khawatir kepada istrinya.
Awan mengambil ponselnya lalu menghubungi Rizal, melihat Shika yang merintih membuat Awan tidak tega. Ia ingin rasanya menggantikan sakit istrinya itu.
“Halo Wan, gimana?” tanya Rizal dari seberang.
“Zal, Shika sepertinya akan melahirkan.” Ucap Awan dengan lirih.
“Ini terlalu cepat dari perkiraan, Wan.” Rizal terkejut.
“Kakak,” Shika memekik ketika rasa mulas itu kembali menyerang dan Rizal bisa mendengarnya.
“Gue ke Rumah Sakit sekarang.”
“Ok, gue tunggu.”
__ADS_1
Awan memeluk istrinya, Shika tampak terlihat pasrah dalam dekapan suaminya. Dengan mata terpejam ia menikmati rasa sakit yang menyerangnya.
Awan kemudian mengurai pelukannya, ia harus bergegas bersiap ke Rumah Sakit.
Awan mengganti baju tidur istrinya dengan baju terusan, saat akan berdiri Shika merasakan ada yang merembes di sela pahanya, ia menunduk.
“Kak.” Lirih Shika pelan, Awan mengikuti arah pandang istrinya. Matanya terbelalak, ia tau jelas air apa itu yang membuat lantai kamarnya basah.
“Sayang, ketubannya!” gumam Awan dengan lirih, ia berusaha bersikap tenang di depan istrinya. Jauh di lubuk hatinya terdalam, ia sendiri tidak dapat tenang. Perasaannya seperti roller coaster.
“Duduk disini dulu ya? Kakak tinggal bentar ya, kakak mau titip twin sama Tari. Khawatir nanti mereka bangun cariin kita.” Awan mengusap pipi istrinya, Shika hanya mengangguk lemah.
Awan pun meninggalkan Shika yang duduk dengan bantal yang diganjal sebagai tempat istrinya bersandar.
Shika menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Ia lakukan berulang-ulang, tiba-tiba saja rasa takut hinggap di hatinya.
Bagaimana dengan persalinannya nanti, jika benar-benar ia harus melahirkan sebelum waktunya. Tangannya terulur mengelus perutnya, ia berharap tidak terjadi sesuatu dengan bayinya.
****
Wajah Awan pucat, bagaimana bisa air ketuban hampir habis sementara istrinya sama sekali belum ada pembukaan.
Awan semakin ketakutan, dengan air mata menetes dan tubuh gemetar ia meminta tindakan sectio caesarea secepatnya. Anaknya sedang dalam bahaya, ia tidak ingin ambil resiko sampai terjadi sesuatu dengan anak dalam kandungan istrinya.
Rizal langsung menyetujui, dan ia berlalu meninggalkan suami istri itu untuk mempersiapkan ruang OK dan segala sesuatu untuk proses persalinan istri sahabatnya.
Shika menangis ketakutan, wajahnya telah basah dengan air mata. Awan memeluk tubuh istrinya menenangkan wanita yang paling di cintainya.
“Tenang sayang, anak kita pasti akan baik-baik saja. Kamu jangan panik, jangan takut. Kakak ngga mau tensi darah kamu naik, bisa sangat beresiko saat operasi.” Awan memberikan kecupan-kecupan di puncak kepala istrinya supaya istrinya bisa lebih tenang, Shika mengangguk pelan.
“Kalau nanti terjadi sesuatu padaku, tolong kakak selamatkan anak kita.” Isak tangis Shika dalam dekapan suaminya.
“Ssstt.. Kamu bicara apa, sayang. Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah semuanya akan berjalan lancar.”
*****
__ADS_1
Shika terbaring di atas meja operasi, tangannya telah terpasang infus, selang oksigen di hidungnya. Ini pertama kalinya ia masuk kedalam sana, ruang yang sangat dingin, Shika memandang kesekeliling.
Ruang dimana setiap hari suaminya bertarung dengan nyawa pasien di dalam sini, namun kini ia yang berada dalam ruang ini sebagai pasien.
Ia bisa melihat Dokter Rizal dan beberapa tenaga medis sedang bersiap, mereka akan melakukan tugasnya.
“Kakak dari mana?” ketika Awan muncul dan langsung melingkarkan tangannya di atas dada Shika, ia mengecup dalam kening istrinya dengan penuh cinta.
“Kakak takut masuk kesini, sayang.” Kening shika tampak berkerut, bukannya ini sudah seperti tempat main suaminya. Setiap hari masuk kedalam sini, kenapa sekarang jadi takut.
“Setiap hari kakak juga mainnya disini, pegang pisau operasi. Kenapa sekarang jadi takut?” Shika terkekeh.
“Beda sayang, hari ini kamu yang terbaring di sini.” Awan mengecup-ngecup pelan wajah istrinya demi menghilangkan rasa gugupnya.
Shika bisa merasakan tangan suaminya yang ada diatas dadanya gemetar, ia tersenyum, seorang Dokter bedah bisa takut juga masuk ke dalam OK.
Awan mengajak Shika bicara untuk mengalihkan perhatian istrinya dari suara-suara alat medis dan saat Dokter Rizal akan menyayat perut istrinya, untuk mengeluarkan bayi mereka.
"Kak, udah ya!" lirih Shika merasakan perutnya seperti di tarik-tarik, Awan mengusap pipi istrinya sembari mengangguk.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara lengkingan keras tangisan bayi.
Shika meneteskan air matanya, Awan langsung merangkul kembali istrinya, ia menempelkan pipinya pada pipi sang istri.
“Kamu berhasil sayang,” bisiknya lirih dengan suara serak, air mata bahagia tak berhenti menetes.
“Wah, ganteng-ganteng.” Entah suara siapa itu.
“Dua jagoan Wan!” seru sebuah suara yang dikenal Awan, siapa lagi kalau bukan Dokter Rizal.
Di luar dugaan, ia sendiri juga kaget saat akan mengeluarkan bayi yang saling berpelukan dari dalam rahim wanita itu.
Awan sontak membelalakan matanya, ia mengangkat wajahnya kemudian melihat istrinya yang sama terkejut.
Karena saat USG tidak sekalipun tampak bayi yang di kandung Shika kembar. Hasil USG selalu menunjukkan hanya ada satu janin dalam kandungannya, pantas saja kandungan istrinya sangat besar ternyata bayinya menyembunyikan kembarannya.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄