
Sejak kedua orang tuanya meninggal karena sebuah kecelakaan, Shika gadis kecil yang selalu ceria, manja dan cerewet berubah menjadi gadis kecil yang pendiam dan dingin.
Kevin, seorang remaja yang sedari kecil selalu berada disisi Shika. Dimana ada Shika pasti ada Kevin. Tetapi, pada satu hari karena kesibukannya dengan kegiatan disekolah, ia tidak menemani Shika. Hingga sore hari saat ia mendatangi Shika. Ia tidak menemukan gadis itu didalam kamarnya, bik Ijah yang bekerja di rumah itupun dibuat kocar kacir karena Nona mudanya hilang.
Padahal ia sudah memastikan sendiri saat itu Nona mudanya sedang tidur siang, entah kapan Nona mudanya itu keluar dari kamar. Bik Ijah sangat ketakukan, ia takut akan dimarahi oleh Tuan mudanya karena sudah lalai menjaga Nona mudanya itu.
"Bik, bibi beneran ngga tau kemana Resta?" tanya Kevin cemas, ia terus berpikir kemana gadis kecil itu pergi.
"Aduh, Den Kevin. Beneran bibi ngga tau, tadi bibi sendiri yang temani Nona muda tidur siang. Setelah bibi pastikan Nona tidur, bibi turun kebawah lagi."
"Bibi tenang ya, aku akan mencarinya. Kalau Dika atau Ray tanya bilang aja Resta lagi pergi sama aku bi." Bik Ijah mengangguk.
Kevin pun segera pergi mencari Shika, ia masih memakai celana sekolahnya dan baju kaos. Kevin mendatangi tempat-tempat yang biasanya dikunjungi Shika. Namun tak satu pun tempat ada tanda-tanda keberadaan Shika.
"Res, kamu dimana?" Kevin sungguh sangat khawatir, hari hampir magrib tapi ia belum menemukan Shika.
Tiba-tiba saja ia mengingat satu tempat, "Gudang!" gumam Kevin, ia yakin gadis itu disana. "Ah, sial.. seharusnya aku mencarinya kesana dulu." Umpat Kevin kesal.
Kevin kembali melajukan motornya dengan kencang, ia harus segera sampai disana. Kevin memasuki perkarangan rumah itu, disana telah terparkir mobil Dika. Kevin tidak peduli, setelah memarkirkan motornya asal. Kevin langsung berlari kearah belakang rumah itu, yang mana disana terdapat sebuah gudang.
Braakkk
Kevin mendorong pintu papan itu dengan keras, gadis itu tidak terusik sedikit pun dengan suara pintu yang terbuka. Bahkan ia tampak tidak peduli telah membuat Kevin atau Kakak-kakaknya kelimpungan mencari dirinya.
"Res!" seru Kevin, gadis itu duduk diam diatas lantai membelakanginya.
"Kakak.." Gadis itu tersenyum mendengar suara yang memanggilnya. Ia pun memutar badannya ke belakang, senyumnya semakin melebar.
"Res, kamu membunuh mereka lagi?"
__ADS_1
Kevin melihat baju dan tangan Shika berlumuran darah, sebelah tangannya masih memegang pisau. Pandangan kevin mengarah pada daging-daging yang berserakan dilantai dipenuhi darah yang berceceran.
"Aku hanya bermain-main dengan mereka, Kak. Tadi Res liat dia mengejar kucing lain, terus mereka gelut." Ucap Shika dengan wajah berbinar setelah itu berubah murung dan dingin.
"Res, Kakak mohon jangan seperti ini! Kakak sangat menyayangimu, jangan sakiti diri kamu seperti ini. Jadilah Resta kakak seperti dulu, yang ceria dan manja." Kevin mendekap erat tubuh kecil Shika, mengusap lembut punggung Shika memberi ketenangan pada gadis kecil itu.
Ia tidak peduli bajunya akan kotor dengan darah-darah dari tangan Shika. Perlahan kesadaran Shika pun hilang, Kevin langsung menggendong tubuh kecil itu membawanya pulang ke rumah.
*****
"Vin, napa lo diam aja tau kondisi psikis Fe seperti itu, napa lo ngga ngomong sama gue."
"Gue pikir ngga akan separah ini, Ka. Setelah hari itu ia mencincang abis seekor kelinci, gue ngga pernah biarin dia sendiri lagi! hari-hari berikutnya, Resta kembali seperti biasa." Kata Kevin.
"Sampai tadi gue temuin dia digudang belakang dengan sadisnya dia menyayat kucing itu sampai ngga berbentuk, karena kucing itu menyakiti kucing lain kata Fe," lanjut Kevin lagi.
"Tunggu-tunggu, gue masih ngga paham. Fe itu paling sayang sama kelincinya, bahkan kelincinya terluka sedikit saja ia akan menangis. Kita semua tau, Fe itu hatinya sangat lembut, Vin. Mana mungkin...?" Protes Ray, ia tidak percaya kalau sang adik bisa setega itu.
"Sama hal nya saat kejadian kelinci dulu, dia tidak ingat kalau dia yang sudah mencincangnya. Dan gue yakin kejadian tadi dia juga ngga akan ingat, kita buktikan saat Resta bangun." Ujar Kevin, menatap gadis kecil yang sedang tertidur dengan lelapnya. Gadis kecil yang diam-diam, telah mengisi hatinya.
"Kita hanya perlu ikutin saran Dokter, kita tetap bersikap seperti biasa. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa." Imbuh Kevin lagi.
Dika menghela nafas berat, berat...sangatberat tanggung jawabnya. "Gue benar-benar gagal menjadi Kakak untuk Fe!" keluh Dika. Dia yang sibuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh Papinya, sampai melupakan sang adik yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya.
"Ini salah gue juga, mungkin kalau tadi gue ngga sibuk dengan kegiatan sekolah, dia ngga akan seperti itu lagi!"
"Sudahlah, kenapa pada nyalahin diri sendiri. Sekarang yang lebih penting, kita harus k menjaga emosi Fe. Jangan sampai sisi lainnya itu muncul," sela Ray.
"Ngga kebayang aja, adik kecil kita yang penyayang bisa sesadis itu." imbuh Ray kemudian.
__ADS_1
"Ini cukup jadi rahasia kita, jangan sampai Fe tau." Saran Kevin.
*****
Shika kecil yang sudah terbangun dari tidurnya, mengucek-ucek pelan kedua matanya. Di sudut kamarnya, ia melihat tiga orang lelaki sedang tidur. Dua diatas sofa dan satunya diatas karpet.
Shika turun dari tempat tidurnya, melangkah mendekati mereka. Shika tampak heran, kenapa bisa ketiga kakaknya itu tidur didalam kamarnya. Biasanya, mereka akan tidur didalam kamarnya kalau Shika sedang sakit.
"Apa aku semalam sakit ya? sampai kakak tidur disini?" tanya Shika berbicara pada dirinya sendiri.
"Kak...kak..bangun!" Shika membangunkan Dika dengan cara menarik-narik tangan sang kakak. Merasa tidurnya terganggu perlahan Dika membuka matanya.
"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Dika dengan mata masih berat, tangannya menutup mulutnya yang menguap.
"Apa semalam aku sakit, Kak?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.
"Hah!"
"Res, udah enakan badannya? apa masih sakit?" Kevin menyela, untung ia ikut terbangun saat Shika membangunkan Dika, karena ia tau Dika pasti akan kebingungan.
"Aku udah ngga apa-apa Kak," jawab Shika dengan senyuman manisnya.
"Syukurlah kalau gitu, sekarang kamu mandi ya. Kakak sama yang lain juga akan mandi, setelah itu kita sarapan. Kamu semalam belum makan."
Shika mengangguk, lalu berbalik berjalan menuju kamar mandi. Kevin melihat Dika yang masih terbengong.
"Lo liat sendiri kan, dia berpikir dia semalam sakit. Karena liat kita tidur disini semua."
Semalam memang Kevin menyarankan agar mereka tidur dikamar Shika, selain untuk menjaga Shika. Kevin juga ingin membuktikan ucapannya dan terbukti Dika sendiri sampai dibuat bingung.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄