
Kelahiran bayi kembar Awan dan Shika di sambut suka cita oleh keluarga Shika, begitu juga dengan kedua orang tua Awan. Jihan dan Yudha langsung terbang ke Indonesia setelah dikabarkan jika cucu mereka telah lahir.
Kini di sinilah mereka semua berkumpul, di ruang rawat Shika. Hanya kurang Ray dan twin yang sedang menjemput Xena anak dari Dika. Mereka saling berebut untuk bisa menggendong kedua bayi tampan itu, tidak ada yang mau mengalah.
Awan sendiri duduk di atas ranjang mendampingi sang istri, “Makasih sayang, kamu telah memberikan kebahagiaan untuk kita semua.” Awan mengecup lama kening istrinya.
“Sama-sama, kak. Makasih juga telah hadir memberi warna dalam hidup Shika.” Shika memeluk Awan dari samping, kepala di rebahkan di dada sang suami.
“Bunda, Afnan juga mau gendong.” Rengek Afnan pada Bunda Santi yang tengah menggendong bayinya Shika.
“Kamu bikin sendiri sana, iya kan sayang. Ayah kalau mau gendong bayi bikin sendiri.” Bunda Santi berbicara pada bayi mungil itu, seolah mengerti sang bayi pun tertawa.
“Tuh lihat, ponakan kamu aja setuju.” Afnan mengerucutkan bibirnya, sedari tadi ia sudah sangat pengen gendong bayi-bayi gembul itu. Tapi selalu harus mengalah dengan para orang tua.
“Sayang, kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi-bayi lucu ini?” tanya Bunda Santi mengalihkan pandangan ke arah suami istri itu.
“Sudah Bunda, yang sedang Bunda gendong Kakaknya Arkana Zidan Narendra, yang sama Kak Dika Azkana Zidan Narendra.” Ujar Awan.
“Nama yang bagus, semoga kalian kelak menjadi pemimpin yang bijaksana dan peduli sesama seperti nama kalian.” Bunda Santi menatap bayi-bayi mungil itu secara bergantian.
“Halo Azka,” sapa Dika mencium pipi bayi mungil nan tampan itu yang tidur dalam gendongannya, wajahnya persis Awan.
“Fe, kamu ngga ikut nyumbang waktu bikin si kembar. Kakak nyari yang mirip sama kamu ngga ketemu.” Kata Dika dengan kekehan.
Mendengar perkataan Dika sontak mereka yang ada di sana tergelak. Shika menatap cemberut pada suaminya, semua anaknya tidak ada yang menuruni nya pasti ikut Daddy mereka semuanya.
Shika melotot, saat Awan berbisik padanya. Luka bekas operasi aja belum kering, udah ngajakin bikin adik lagi untuk ke empat kakaknya.
Harsa menarik Shika kedalam pelukannya, memberikan banyak kecupan sayang untuk istri tercintanya.
“Res,” panggil Sofi dengan lirih.
“Iya Mi.” Jawab Shika melerai pelukan suaminya, ia menoleh pada mantan mertuanya itu, sudah tidak menjadi menantu lagi tapi Shika tetap berlaku hormat kepada nenek dari twin tersebut.
__ADS_1
“Boleh Mami minta sesuatu dari kalian?” tanya Sofi menatap Awan dan Shika secara bergantian dengan tatapan penuh harap.
Shika menoleh pada suaminya, ia tidak berani mengambil keputusan tanpa ijin dari Awan. Semua orang yang ada di dalam kamar itu pun bertanya-tanya apa yang akan diminta oleh wanita yang duduk di atas kursi roda itu.
“Maaf Tante, tante mau minta apa?” tanya Awan.
Sofi menarik panjang nafas, dengan bibir bergetar ia mengatakan apa keinginannya. “Jika di ijinkan, Mami ingin Putra kalian juga memakai belakang Ardhinata di belakang nama mereka sama seperti twin. Maaf, Mami tidak ada maksud apa-apa. Untuk Awan, kamu dengan lapang hati menerima Putra Kevin dan mengakuinya sebagai anakmu dan juga memakai nama belakang Narendra di belakang nama mereka.”
“Mami, Mami hanya ingin di ijinkan mereka juga memanggil Mami dengan panggilan Grandma sama seperti kakak-kakaknya. Mami sudah tua dan sakit-sakitan, Mami tidak punya siapa-siapa lagi. Mami hanya ingin di sisa hidup wanita tua ini bisa menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya.”
“Mami tidak memaksa,” Ucap Sofi dengan berlinang air mata.
“Mami, Mami jangan bicara seperti itu. Mami boleh menganggap mereka cucu-cucu Mami, Kami tidak keberatan. Iyakan kak?” Shika yang tidak tega melihat Mami Sofi menangis pilu.
Mita memeluk wanita tua itu dengan penuh kasih sayang, ia yang selama ini merawat Mami Sofi bersama Bunda Santi. Mita tau betapa kesepiannya Mami Sofi yang sangat merindukan Putra dan suaminya yang telah lebih dulu kembali ke Sang Pencipta.
“Mami jangan seperti itu, Mami masih punya kami. Mami tidak sendiri.” Dengan penuh kasih sayang, Mita menghapus air mata di wajah tirus itu.
Sofi sangat bahagia mendengar permintaannya di penuhi, cucu-cucunya benar berada di tangan orang tepat. Almarhum Kevin memilih penggantinya seorang pria berhati malaikat, untuk merawat dan membesarkan kedua cucunya.
Tidak akan ada yang percaya jika Awan bukan Ayah dari twin, karena kedekatan mereka dan manjanya twin kepada Awan seperti Ayah dan anak kandung. Apalagi diantara mereka ada kemiripan, jika suatu hari ia pergi menyusul suami dan Putranya ia akan pergi dengan tenang.
Ditengah rasa yang dirasakan oleh Sofi, kegaduhan terjadi dengan kehadiran twin yang baru datang bersama Rayan. Mereka sedikit terlambat karena Ray menjemput Xena terlebih dahulu di asramanya.
“Daddy..”
“Mommy.. “
Twin langsung berlari mendekati Awan dan Shika, Awan turun dari tempat tidurnya mengangkat kedua Putranya lalu mendudukkan mereka di samping Shika. Keduanya memberi ciuman kepada sang Mommy di masing-masing pipi Shika.
“Makasih Mommy sudah memberi kami adik bayi.” Ucap Kenzo.
“Kami sayang Mommy,” twin memeluk erat Shika, Shika menahan rasa ngilu di perutnya karena tubuh twin mengenai bekas operasinya.
__ADS_1
“Mommy kenapa nangis?” tanya Kenzie dengan mata bulatnya.
“Mommy nangis bahagia sayang,” Shika mengecup kening twin dengan penuh kasih sayang.
Awan yang peka, khawatir dengan istrinya. “Kakak ken sama kakak Zie tidak mau lihat adik-adiknya?” tanya Awan. “Adik-adik, Dad?” Awan mengangguk, “Iya sayang, adiknya kembar juga sama seperti kakaknya.” Terang Awan.
“Benal Mom?” tanya Zie dengan mata berbinar menoleh melihat Mommy nya, Shika mengangguk sebagai jawaban di karenakan menahan rasa nyeri di perutnya.
Twin bersorak girang, mereka minta turun dari atas brankar Shika untuk melihat baby twins. Awan menarik sedikit selimut yang menutupi tubuh Shika, ia ingin melihat bekas luka operasinya.
“Perih?”
“Sedikit, tapi kalau sudah melihat wajah tampan Kakak rasanya perihnya hilang.”
“Apakah ini kode, untuk segera produksi lagi, hm?” Awan memainkan alisnya naik turun.
Shika memukul manja dada suaminya, ia sangat gemes melihat suaminya yang bertambah mesum.
“Anak sudah empat, tingkah masih seperti pengantin baru saja.” Awan tergelak di omelin oleh Shika, istrinya makin gemas jika sedang merajuk seperti ini.
Kehidupan yang mereka jalani penuh lika-liku, rasa cinta Awan yang sangat besar kepada Shika akhirnya takdir mempersatukan mereka.
Terpisah oleh jarak dan waktu bukan halangan, kesabaran dan keihklasan Awan dalam memupuk cintanya kepada Shika akhirnya terbalaskan.
Kini kehidupan mereka di penuhi kebahagiaan, dengan kehadiran buah hati sebagai bukti cinta di antara mereka semakin kuat.
Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka hingga maut memisahkan.
~TAMAT~
SEE YOU SEASON II
❄❄❄❄❄❄❄
__ADS_1