Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
46 - Om Edgar


__ADS_3

"Ruangannya sangat rapi, bersih, wangi lagi. Sepertinya tiap hari ada yang membersihkannya?" Ray berpikir sambil menggosok-gosok dagunya.


"Adik lo lah, siapa lagi." Jawab Awan, ia masih memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Tidak terlihat ada yang mencurigakan.


"Fe?"


"Emang adik lo ada berapa?" tanya Awan geleng-geleng.


"Satu sih! emang dia bilang sama lo kalau kesini?"


"Engga, coba lo pikir deh. Masuk kedalam sini aja pakai sandi, logika aja kasih tau sandi rahasia pada orang lain. Gimana menurut lo?" tanya Awan lagi seperti mengajari anak sekolah dasar.


"Ray, lo itu seorang komisaris rumah sakit besar. Kenapa jadi telmi gitu, atau lu ngga dapat jatah dari bini!" sela Arya yang greget dengan Ray.


"Entahlah, gue jadi pusing sendiri dengan teka teki ini. Gue ngga ada bakat jadi detektif, tapi gue penasaran!"


"Ini terlihat seperti ruang baca mini dan... tempat bermain?" Arya mengernyit saat menemukan area bermain mini disamping sebuah lemari.


"Aneh ngga sih, ada ruang bermain disini?" Arya meminta pendapat pada yang lain. Awan dan Ray mendekat, di mana disana banyak mainan yang tersusun rapi, juga miniatur pesawat dan miniatur rumah dari yang kecil sampai yang besar. Satu yang menarik perhatian Awan, sebuah foto bayi di kedua sudut yang berbeda.


"Foto bayi Ken dan Zie? kenapa letaknya terpisah?" gumam Awan membalikkan badannya melihat sahabatnya. "Satu dibagian miniatur pesawat dan satu di miniatur rumah. Seharusnya foto mereka terpajang bersebelahan,"


"Mending gue dikasih seribu soal Fisika deh dari pada main tebak-tebakan gini." Ray bersungut-sungut kesal, kepalanya berdenyut-denyut rasanya mau meledak.


"Ternyata rumit juga permasalahan keluarga Kevin," sela Arya ikut pusing memikirkan masalah yang menimpa keluarga sahabatnya itu.


Awan meletakkan kembali foto bayi twins di tempat semula. Namun matanya tetap menyusuri ruangan itu, sampai ia mendongakkan kepala hingga ia mengerutkan keningnya.


"Tidak terlihat kamera CCTV didalam sini." kata Awan, membuat Arya dan Ray ikut mencari-cari letak kamera tersebut. Tapi memang benar ruangan itu bebas dari kamera CCTV.


*****


Ceklek


"Fe!"

__ADS_1


"Sayang!"


"Shika!"


Ucap ketiga pria itu serempak, kala pintu ruangan itu terbuka dari luar. Mengalihkan atensi mereka yang sedang istirahat diatas sofa. Setelah lelah mencari dan tidak menemukan petunjuk apapun.


"Daddy..."


"Papa..."


"Om Arya..."


Suara dua bocah tampan itu semakin membuat ketiga pria itu terlonjak kaget. Tanpa menghiraukan keterkejutan para pria itu, Shika duduk dengan manis disofa panjang depan mereka. Sementara twins tentu saja mengapit Daddy mereka.


"Sudah ketemu yang Kakak cari?" tanya Shika pada Ray sambil tersenyum penuh arti.


Ray menggeleng lemah, "Terus kamu kenapa kesini, Fe? dari mana tau kami ada ruang kerja Kevin?"


"Kakak lupa, setiap sudut rumah ini terpasang CCTV." Jelas Shika, membuat ketiga pria yang masih shock atas kedatangannya itu menepuk jidat.


"Kakak minta maaf, sayang. Kakak juga baru dikasih tau Papa pagi tadi." Awan menjawab setenang mungkin, agar istrinya itu tidak curiga.


Tampak Shika menghirup udara untuk menenangkan hatinya, walaupun ada rasa kecewa ia juga tidak bisa menyalahkan suaminya. Ia yakin, suaminya itu ingin melindungi dirinya dan anak-anak.


"Fe tau masalah apa yang sedang terjadi. Dan kenapa Om Edgar mencari keturunan Ardhinata." Sontak membuat ketiga pria itu terlonjak kaget dengan mata terbelalak.


"Dek, jadi kamu tau? kenapa ngga ngomong! terus apa hubungan Edgar- Edgar itu dengan keluarga Kevin, sampai harus berbuat sadis dan mengincar anak-anak?" cecar Ray dengan bertubi-tubi.


"Ray, santai. Biar Fe jelasin dulu."


"Maaf!"


"Fe pikir, dia tidak akan mungkin datang kesini. Om Edgar itu mencari keturunan Ardhinata, bukan twins, karena sampai detik ini kehadiran twins tidak ada tau. Apalagi di belakang nama mereka memakai nama Daddy nya yang sekarang, tapi yang Fe takutkan jika Om Edgar bertemu twins. Wajah mereka...." Tampak raut wajah wanita itu sendu, tapi ia berusaha tersenyum dan kuat.


"Karena itu juga aku bersyukur Kak, pernikahan aku sama Kak Awan kemarin hanya nikah aja. Makasih kak, udah membuat keadaan anak-anak aman." Lanjut Shika berkata dengan tulus kepada Awan.

__ADS_1


"Kakak hanya ingin membuat kamu nyaman, dan kalau ada sisi baiknya berarti itu hikmahnya."


"Fe lanjut ya? Om Edgar itu, anak dari nenek mendiang Kak Kevin dari lelaki lain. Tapi keluarga kakek tidak mengakuinya karena mereka marah, kecewa nenek telah mengkhianati kakek dan menodai pernikahan mereka. Nenek diusir oleh keluarga kakek dalam keadaan hamil Om Edgar, tanpa sepengetahuan keluarganya kakek diam-diam membeli rumah dan membiayai segala kebutuhan nenek selama hamil sampai melahirkan Om Edgar, kakek juga yang membantu membiayai pengobatan ayah Om Edgar. Tapi seminggu setelah Om Edgar lahir, Ayahnya meninggal karena penyakit yang dideritanya, sebulan setelahnya nenek pun menyusul ayah Om Edgar,"


"Jadi dendam gara-gara cinta?"


"Fe lanjut dulu, nanti kak Arya buat kesimpulannya."


"Adik gue lagi seru cerita, lo main potong aja! gue slebew juga lo!"


"Lanjut ka,"


"Sampai mana tadi, oh ya... Akhirnya Kakek memutuskan membawa Om Edgar dan Papi Anton yang saat itu berusia empat tahun ke Dubai. Kakek merintis usahanya dari nol disana sampai usaha kakek besar tapi dengan kejamnya keluarga kakek menghancurkan usaha kakek hingga tak tersisa." Shika menghirup udara sebanyak yang ia bisa.


"Sayang, kalau tidak sanggup jangan di lanjut." Cegah Awan yang melihat mata istrinya mulai berkaca-kaca.


"Engga apa kak, biar jelas. Dari sanalah awal mula terjadinya kesalahpaham Om Edgar, kakek dipaksa pulang ke London dengan membawa Papi Anton jika tidak mereka akan melenyapkan Om Edgar. Sementara Om Edgar pikir kakek sengaja meninggalkannya sendiri disana dengan hanya ditemani oleh para pelayan yang berkerja disana. Padahal kenyataannya kakek sering datang, walaupun hanya melihat dari jauh. Namun kesempatan itu dimanfaatkan oleh saingan bisnis kakek yang sangat tidak menyukai kakek. ia mendekati Om Edgar mengaku sebagai teman kakek, lalu mendokrin Om Edgar agar mau merebut semua yang seharusnya menjadi haknya lalu membenci kakek dan keturunannya."


"Waaahh... kurang ajar banget tuh orang, memanfaatkan orang lain demi keuntungan sendiri!" geram Arya.


"Apa dia tidak tau, kalau dia bukan keturunan Ardhinata?" tanya Ray.


"Ngga tau kak, Kak Kevin bilang kakek selalu menganggap Om Edgar Putranya. Jadi, Om Edgar berpikir dia anak yang dibuang ditambah lagi dokrin dari pihak yang tidak bertanggung jawab."


"Apa kakek ngga coba jelasin sama tu orang." Tanya Awan.


"Ada, tapi ya gitu. Otak Om Edgar seperti sudah dicuci, ngga bisa bedain mana yang benar mana yang salah."


"Apalagi yang kamu tau?" tanya Ray, cerita ini sangat menarik baginya.


"Emm,, ngga ada, Kak Kev cuma cerita itu aja. Itupun Kak Kev ceritanya waktu usia Kenza dua apa tiga tahun ya? Fe lupa, karena saat itu perusahaan ada masalah."


"Ka, kita kembali kemasa sekarang yang dimana aki-aki itu ngincar anak-anak kalian, why? sedangkan ia tidak tau kalau twins ada di dunia ini." Kata Arya.


❄❄❄❄❄❄❄

__ADS_1


__ADS_2