Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
40 - Merindukan Twins


__ADS_3

Suasana hening, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar di sebuah ruang makan. Para penghuni rumah itu makan dengan begitu tenang, menikmati segala sajian yang tersedia dihadapan mereka. Hingga semuanya selesai, sebuah suara memecahkan keheningan itu.


"Wan, ada yang ingin Papa bicarakan denganmu," semua mata tertuju pada Yudha dan Awan.


"Tentang apa, Pa?"


"Tentang perusahaan, Papa tunggu diruang kerja."


"Shika, Papa pinjam bentar suamimu ini ya."


"Iya, Pa."


"Daddy mau kemana?" tanya Zie ketika melihat Awan bangkit dari duduknya.


"Daddy mau bicara sebentar sama Oyu, kalian sama Oji dan Mommy dulu ya." Zie mengangguk, Awan mengecup kepala Putranya satu per satu secara bergantian lalu segera menyusul Papanya.


"Ada apa, Pa? sepertinya sangat serius, bukan tentang perusahaan kan, Pa," ucap Awan tempat sasaran.


Yudha menghembuskan nafasnya dengan sangat berat, "Ya, kau benar ini masalah yang lebih serius." Kening Awan berkerut, ia masih menunggu sang Papa meneruskan ucapannya.


"Pertama, Papa sama Mama besok akan kembali ke Dubai," Yudha menatap Putra semata wayangnya cukup dalam dan lama dengan tatapan yang Awan sendiri sulit untuk memahaminya.


"Ada apa, Pa. Jangan buat anakmu ini penasaran." Protes Awan melihat Papanya masih mengunci mulutnya.


"Sekarang kau sudah jadi seorang suami dan Daddy untuk anak-anakmu dan untuk indentitas Kenzo dan Kenzie, Papa sudah membantu Dika menyembunyikannya. Saat ini mereka sudah terdaftar dan berstatus sebagai Putra kandungmu. Papa harap kau bisa bijak dalam mengambil keputusan sebagai kepala keluarga. Paling penting kau harus bisa melindungi anak-anakmu."


Deg


"Apa maksud, Papa?"


"Wan, Papa diam bukan berarti Papa tidak tau apa yang sedang terjadi, tentang kematian Kevin dan juga Ayahnya, Papa tau. Tapi Papa belum menemukan bukti yang kuat, untuk menyeretnya keluar dari tempat persembunyiannya. Tentang kondisi Nyonya Sofi yang membuat Dika harus terbang kesana, Papa juga tau. Itu dilakukan oleh orang yang sama."


"Papa tau siapa orangnya? dan apa alasannya melakukan semua ini."

__ADS_1


"Papa belum tau, orang-orang Papa masih melacak keberadaannya. Jika dilihat dari cara kerjanya yang begitu rapi dia tidak bisa dianggap remeh. Papa yakin orang ini masih ada kaitannya dengan keluarga Kevin, kematian Tuan Anton yang tidak wajar Papa yakin beliau saat itu mengetahui dalang dibalik semua kejadian ini. Tapi belum sempat Tuan Anton mengatakan kebenaran, mereka telah melenyapkannya."


"Kalau menurut Papa, harta dan jabatan. Itu masih dugaan sementara Papa, karena beberapa kali dia mencoba menjatuhkan saham perusahaan Kevin dan berusaha melengserkan jabatan yang saat itu diambil alih oleh Shika istrimu dan beberapa hari lalu kejadian serupa terjadi lagi."


"Apa hubungannya dengan anak-anak Awan, Pa!"


"Dari informasi yang Papa dapat, para pemegang saham dan dewan direksi tidak dapat menggantikan jabatan itu oleh siapapun karena perusahaan itu mempunyai ahli waris yang sah secara hukum, mungkin inilah maksud mendiang Kevin memintamu mengganti status mereka menjadi anak-anakmu sampai mereka mampu dan mengambil alih memimpin perusahaan besar itu."


Awan mengusap wajahnya dengan kasar, bahaya sedang mengintai keluarganya terutama kedua Putranya.


"Vin, kenapa lo libatkan anak-anak!" Awan menjambak rambut kasar, saat ini otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih.


"Hargai keputusan Kevin, mungkin dia punya alasannya sendiri. Jangan merutuki yang sudah tiada." Yudha menepuk pundak anaknya.


"Maaf, Pa!"


"Yang menjadi masalah, kedua wajah Putramu itu mewarisi Kevin hampir seluruhnya. Semoga aja suatu saat nanti mereka tidak akan curiga jika tanpa sengaja bertemu anak-anakmu." Lanjut Yudha lagi membuat Awan seakan berhenti bernafas,


"Apa yang harus Awan lalukan, Pa?"


"Bagaimana Awan bisa tenang, Pa. Papa tidak berada diposisi Awan, Papa tidak akan mengerti anak-anak Awan, Pa. Mereka..." Potong Yudha tiba-tiba.


"Kau lupa, anak-anakmu juga cucu Papa. Dibelakang nama mereka telah tersemat nama besar Narendra, bagaimana kau bisa bilang Papa tidak mengerti. Percayalah, Papa akan menjaga kalian semampu Papa. Karena itu Papa harus segera kembali ke Dubai."


"Maaf Pa, Awan selalu nyusahin Papa dan Mama."


"Sudahlah, itu udah tanggung jawab kami sebagai orang tua."


*****


Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya dan juga anak-anaknya dengan berat hati Awan meninggalkan rumahnya kembali ke kediaman Anggara. Padahal ia masih merindukan twins, karena Papa-Mamanya besok akan bertolak ke Dubai mereka meminta twins tinggal bersama mereka malam ini. Awan tidak ingin membuat pilihan yang sulit untuk anaknya, jadilah ia yang mengalah.


Sepanjang perjalanan Awan hanya diam, pikirannya berkecamuk. Bahkan ia seakan melupakan kehadiran sang istri disampingnya.

__ADS_1


"Kak,"


"Iya.. kenapa, ka?" tanya Awan menoleh sebentar melihat Shika yang duduk dikursi penumpang.


"Kakak lagi ada masalah? dari tadi diam aja ngga kayak biasanya."


Awan menghela nafas panjang, "Ada sedikit masalah," ucapnya dengan memaksa bibirnya untuk tersenyum.


"Apa istri kakak ini tidak boleh tau masalahnya?"


Awan tersenyum melihat wajah istrinya yang dibuat imut, "Ck, kamu ini paling bisa."


"Kan kalau senyum gitu enak dipandang, engga kayak baju belum disetrika." Shika tersenyum senang suasana hati suaminya paling tidak sedikit membaik pikirnya.


"Kamu ini ya, nanti sampai dirumah kakak pasti akan cerita." Awan mengacak gemas rambut Shika, istrinya ini pintar membuat suasana jungkir balik. Seperti hati Awan dulu saat jaman penjajahan dibikin salto-salto oleh Shika yang kejam.


*****


Di sebuah club malam, terdengar suara dentuman musik yang memekakkan telinga sebagai sambutan begitu kaki memasuki club tersebut. Pria dan wanita berliuk-liuk mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh seorang DJ, bau alkohol, asap rokok, pasangan yang berciuman tanpa mengenal tempat mewarnai club itu.


Begitu juga dengan seorang gadis yang sudah mabuk berat, kepalanya tergeletak diatas meja bartender dengan beralas lengan tangannya.


Gadis itu adalah Bella, ia mendatangi club itu karena frustasi setelah hampir dua minggu tidak menemukan keberadaan lelaki yang di cintainya. Seorang lelaki yang sudah menjadi milik wanita lain. Apa itu bisa disebut cinta atau obsesinya, hanya dia yang tau.


Seorang lelaki yang sejak tadi terus memandang kearahnya dari awal Bella datang hingga ia mabuk, akhirnya melangkah mendekatinya dengan smirk di wajahnya.


"Nona, sebaiknya anda pulang. Anda sudah terlalu banyak minum," Ucap lelaki itu ditelinga Bella.


Bella mengangkat kepalanya yang terasa berat bagaimana ditimpa berton-ton bongkahan batu, matanya memicing agar bisa melihat dengan jelas lelaki didepannya itu.


"Siapa kau, jangan ganggu aku. Pergi... pe..rgi sana," Bella sudah sangat sempoyongan, ia berusaha lepas dari lelaki itu. Tapi sayang baru jalan beberapa langkah, ia sudah jatuh dengan sigap lelaki tadi menangkap tubuh itu dan membopongnya keluar dari club itu.


"Dasar perempuan, bawa diri saja kau sudah tidak mampu." Bella sudah tak sadarkan diri karena terlalu banyak minuman yang diteguknya.

__ADS_1


"Malam ini kita akan senang-senang, baby!" ucap laki-laki itu dengan seringai di bibirnya.


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2