
"Menangislah sampai kamu puas, kakak akan ada disini untuk kamu."
Seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka hanya melihat saja setiap gerak-gerik Awan. Ia tidak mendekat sedikit pun, setelah memastikan keadaan Shika, pria itu segera membalikkan badannya pergi meninggalkan kedua manusia berbeda gender itu. Ada terselip rasa cemburu dihatinya melihat Shika berada dalam dekapan laki-laki lain, tapi ia berusaha untuk tidak egois.
Saat ini Kevin lebih mementingkan kondisi Shika. Pria yang melihat kedekatan Awan dan Shika adalah Kevin yang langsung menyusul mereka ketika mengetahui gadisnya pergi dalam kondisi hati dan pikirannya yang tidak baik.
Beberapa saat yang lalu, Kevin yang baru kembali dari luar kota segera menyusul ke Villa seperti janjinya pada Resta. Sesampainya di Villa ia bergegas turun dari mobilnya ingin segera bertemu dengan gadis kesayangannya. Kevin membawa kedua kakinya masuk kedalam Villa, Kevin yang melihat Dika berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, ia merasa telah terjadi sesuatu.
"Ada apa, kenapa Dika terlihat kacau?" sontak semua mata menoleh kearah suara itu, mereka terkejut dengan kehadiran Kevin yang tidak disadari oleh mereka.
Afnan membuang nafas dengan berat, "Fe, pergi!"
"Pergi? pergi kemana?" Kevin menatap tajam Dika. Melihat dari sikap Dika, ia yakin ada kaitannya dengan kepergian Resta. "Apa yang udah lo lakuin sampai dia pergi?" Dika hanya diam, menundukkan kepalanya.
Kevin tersenyum kecut, "Aku akan mencarinya, jika terjadi sesuatu padanya. Aku akan menghajarmu!" Sarkas Kevin geram.
"Tenanglah, Vin. Awan tadi sudah menyusulnya!"
"Awan??" tanya Kevin, alisnya berkerut. Ray mengangguk.
"Aku akan tetap mencarinya!" Kevin langsung keluar tanpa menghiraukan ucapan mereka yang ada didalam sana, secepat mungkin ia berlari. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Resta, Resta dan Resta, Kevin yakin saat ini pasti Resta sedang menangis dan dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan gadisnya.
Saat ini, Awan kembali ke Villa dengan Shika berada dalam gendongannya, karena terlalu lelah menangis sehingga ia tertidur dalam pelukan Awan.
"Fe.."
__ADS_1
"Sayang.."
"Res...!"
Pekik mereka panik secara bersamaan saat melihat Awan masuk kedalam Villa sambil menggendong Shika yang bersandar nyaman didadanya dengan mata terpejam.
"Fe, kenapa?" tanya Dika panik.
"Dia hanya tidur, terlalu lelah menangis. Aku akan membawanya kekamar."
Awan membawa Shika kekamar yang berada dilantai atas, membaringkan tubuh Shika diatas tempat tidur dengan perlahan, menarik selimut menutupi tubuh itu. Ia menatap sejenak gadis itu kemudian keluar dari kamar. Awan melangkah menuju dapur, mengambil nasi lalu menyendok beberapa lauk kedalam piring dan mengisi segelas air meletakkan diatas nampan untuk dibawanya kekamar Shika.
"Boleh, aku yang antar?" tanya Kevin dengan rasa canggung, ketika melihat Awan yang membawa nampan di tangannya.
"Are you okey?" Ray bertanya sembari menepuk bahu Awan yang masih menatap kepergian Kevin. Awan menarik dan membuang nafas nya pelan lalu mengangguk.
Kevin mendatangi kamar Shika, ia duduk ditepi ranjang. Memandang wajah cantik yang sedang tidur dengan tenangnya, mengelus lembut pipi kenyal itu. Kevin terkekeh mengingat dulu ia sangat suka mencubit pipi itu sampai si empunya merajuk dan sekarang Kevin akan melakukannya kembali.
"Res.. ayo buka matamu. Kakak bawain makan, kamu belum makan kan?" Kevin mencubit-cubit lembut pipi itu. Shika yang merasa ada yang menjepit-jepit pipinya perlahan membuka matanya, mengerjap pelan. Shika cemberut bibirnya mengerucut saat mengetahui siapa pelakunya.
"Ayo bangun, kakak suapin makannya."
Kevin membantu Shika bangun, gadis itu duduk bersila didepan Kevin. Tiba-tiba ia kembali menangis.
"Loh, kok malah nangis?" Kevin menyeka air mata Shika dengan jemarinya.
__ADS_1
"Kak Dika, udah engga sayang sama aku, kak!"
Kevin menghela nafasnya, "Sudah, sekarang makan dulu. Biar ada tenaga untuk nangis, siap makan ceritakan sama kakak, okey?" Shika mengangguk. Kevin menyuapi Shika dengan sabar sampai nasi dipiring habis tak tersisa lalu menyerahkan air minum pada Shika, setelah meneguk hingga setengah gelas kembali menyerahkan gelas pada Kevin.
"Sudah lebih baik? mau cerita sekarang?" Shika mengangguk cepat.
Shika menceritakan semua yang terjadi siang tadi, Kevin hanya mendengar tanpa menyela sepatah kata pun. Kevin meraih tangan Shika, menggenggam dengan lembut. Menatap lekat wajah cantik didepannya.
"Kakak disini tidak membela Dika. Mungkin, Dika tidak sengaja lupa bilang sama kamu. Dika juga manusia biasa, pasti dia pernah salah dan juga lupa. Kamu sudah besar, Res. Kamu pasti tau betapa berat tanggung jawab Dika, coba kamu sedikit perhatikan! Dika selalu menutupi masalahnya seorang diri, semuanya dia simpan sendiri. Apa kamu tidak kasian? Dia pernah gagal tapi menutupi semua kesedihannya dengan sibuk kerja, agar saat dia kembali kerumah adik-adiknya tidak melihat betapa payahnya dia."
"Dika selalu berusaha agar adik-adiknya tidak khawatir akan dirinya. Dika selalu berusaha untuk memberikan waktunya untuk kamu, agar kamu tidak kekurangan perhatian dan kasih sayangnya. Karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaannya. Semarah apapun Dika sama kamu apa pernah dia membentak kamu? tidak kan? Dika selalu mengalah sama kamu, Res. Mungkin kali ini Dika benar-benar lupa.Tanyakan padanya! tanyakan alasannya." Air mata Shika menetes kembali.
"Apa kamu tau, betapa khawatirnya Dika saat kamu pergi tadi. Dia terus saja menyalahkan dirinya, bahkan dia sampai menangis karena telah membuat adik kesayangannya ini sedih dan kecewa. Masih juga kamu bilang Dika tidak sayang lagi sama kamu, hm? Temui dia, minta maaf. Kamu semangat hidupnya, Res. Kamu segala-galanya untuk Dika. Jangan tambah lagi beban pikiran, Dika." Shika semakin menangis terisak-isak, kakaknya sudah berkorban begitu banyak tapi ia masih tetap saja menuntut. Selama ini kakaknya tidak pernah sedikitpun mengeluh dengan segala keinginnya.
"Zoya... Zoya, sepertinya cocok jadi pendamping Dika. Bukannya kamu sudah kenal bahkan dekat dengannya, kakak bisa liat ketulusan dari sorot matanya. Dia juga begitu khawatir, saat kamu dibawa pulang oleh Awan dalam keadaan tertidur."
"Sudah, jangan nangis lagi. Udah jelek makin jelek tau!" Shika mencebik kesal. Kevin tergelak dengan tingkah Shika lalu menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya.
"Makasih, kak. Udah buat aku lebih baik." Ucap Shika tulus pada Kevin.
"Sama-sama, kamu juga harus bilang makasih sama Awan yang udah gendong kamu dari sungai sampai Villa."
"Ngomong-ngomong tentang Awan, tidak ada yang ingin kamu ceritakan sama kakak." Lanjut Kevin kembali menggoda Shika.
❄❄❄❄❄❄❄
__ADS_1