Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
16 - Shika Merajuk


__ADS_3

Memasuki kawasan Villa mata mereka disuguhi dengan kerindangan pohon-pohon besar yang tumbuh berjajar sisi di kiri dan kanan jalan. Suara indah cicitan burung terdengar menyapa pendengaran mereka. Kaca jendela mobil sengaja di buka agar udara dapat masuk kedalam dan menghirup sejuknya udara dari pegunungan, dinginnya angin yang berhembus menyapu kulit mereka.


Shika yang sedikit terusik karena merasakan hawa dingin hanya mengeliat, ia semakin merapatkan wajahnya di perut Afnan. Tubuhnya meringkuk tapi tidak membuatnya terjaga, Afnan membenarkan letak selimut kecil yang menutupi tubuh Shika. Selimut kecil yang selalu dibawa Shika ke mana pun ia pergi.


"Bang, itu bocah tidur apa pingsan? kagak bangun-bangun?" Ray membalikkan badannya menghadap kebelakang melihat Shika masih tidur dengan begitu tenang.


"Biarin aja, nanti juga bangun sendiri."


Didepan pintu masuk Villa sudah berdiri sepasang suami istri yang menyambut kedatangan mereka, Ray segera turun membukakan pintu untuk Afnan, lagi-lagi Afnan harus menggendong adiknya untuk dipindahkan kekamar yang ada didalam villa. Ray dan Awan menurunkan semua barang milik mereka dan juga bekal makanan yang sudah disiapin Shika di bantu oleh mang Harun.


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarain oleh Dika memasuki halaman Villa dan parkir tepat dibelakang mobil milik Awan. Seperti yang dikatakan Ray tadi bahwa Dika membawa seorang perempuan cantik. Perempuan itu adalah Zoya, asisten butik milik Shika sekaligus orang kepercayaan Dika yang selama ini membantunya mengurus segala keperluan dan manajemen butik itu.


"Selamat datang, tuan." Ucap mang Harun sopan membungkukkan badannya.


"Terima kasih, mang Harun. Bagaimana kabar mamang sama si mbok?" tanya Dika. Berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang mereka tetap rendah hati, menghormati yang lebih tua.


"Alhamdulillah saya sama istri sehat, tuan." Jawab mang Harun. Perhatian kecil seperti inilah, yang membuatnya setia dengan keluarga Anggara. Mereka hanya orang kecil tapi diperlakukan dengan sangat baik. Selain itu, kedua anak mang Harun juga diberi pekerjaan disalah satu anak cabang perusahaan Anggara Grup dikota itu.


"Dimana mereka?" tanya Dika lagi, setelah melihat sekeliling tidak menemukan adik-adiknya.


"Tuan Ray sama temannya sedang menaruh barang kekamar, sedangkan tuan Afnan sedang mengantar nona muda kekamarnya."


"Pasti gadis itu tidur."


"Benar, tuan."


Dika menghela nafas, melanjutkan langkahnya kedalam ruang keluarga. Disana sudah ada mbok Narti yang sedang menghidangkan minuman dan beberapa cemilan. Dika memperkenalkan Zoya pada mang Harun dan mbok Narti. Afnan ikut bergabung disusul oleh Ray dan Awan dibelakang.


"Masih tidur?" tanya Dika.


"Gimana engga tidur, kak. Jam tiga pagi bocah manja itu udah bikin rusuh didapur." Cicit Ray.


Dika mengerutkan keningnya. "Apa yang dilakuinnya?"


"Masak!"


"Masak..!" Dika mengulang ucapan Ray. Reaksinya sama dengan kedua adiknya pagi tadi.


"Iya... masak. Dan masakannya ada di meja makan sekarang."


"Kamu engga tau adikmu masak, mas?" tanya Zoya menatap laki-laki disampingnya.


Dika menggeleng, "Engga, pagi tadi aku langsung pergi jemput kamu."


Karena penasaran Dika bangkit dari duduknya, kemudian bergegas menuju meja makan. Semua masakan yang dibawa tadi sudah ditata rapi di atas meja oleh mbok Narti. Yang menarik perhatian Dika adalah semua menu masakan yang di masak Shika menu resto miliknya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk mencicipi hasil masakan Shika.


"Kalian yakin, ini Fe yang masak?" tanya Dika ragu, saat suapan pertama masuk kedalam mulutnya. Rasanya hampir sama dengan milik resto, untuk seorang Shika yang tidak pernah menyentuh dapur masakan ini sangat luar bisa enaknya.

__ADS_1


"Yakin, kak. Bi Ijah sendiri yang ngomong, ini semua Fe yang masak sendiri termasuk kue, pudding dan cemilan itu." Ujar Ray sambil menunjuk kotak makan yang berisi kue dan kudapan lainnya.


"Makanya tu anak tidur ampe sekarang, benar-benar kelelahan dia abis obok-obok dapur dan isinya." Afnan terkekeh kala mengingat pemandangan pagi tadi.


"Gue, punya rekaman videonya."


*****


Sementara didalam kamar, Shika mulai mengeliat. Kedua matanya perlahan terbuka, menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Menguap kecil sambil meregangkan kedua tangannya. Shika menyibak selimutnya, gadis itu turun dari ranjangnya membawa kedua kakinya keluar kamar. Ia menuruni setiap anak tangga secara perlahan sembari mengitari pandangannya ke setiap sudut ruangan, pandangannya tertuju pada jam yang tergantung didinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.


"Ternyata, aku sudah tertidur begitu lama." Gumam Shika pada diri ssendiri.


"Mbok...."


"Iya, non."


"Kakak sama abang mana, mbok?"


"Mereka lagi ngumpul di halaman belakang, non."


"Sudah pada makan, mbok?"


"Tuan sama yang lain sudah pada makan semua. Apa non Fe, mau makan sekarang?"


Shika mengangguk. "Minta tolong bawain nasi Fe, ya mbok. Nasinya sedikit aja."


"Baik, non."


"Kakaaaakk..." Panggil Shika begitu melihat Dika ada disana. Ia langsung menjatuhkan diri dalam pelukan Dika.


"Kamu kayak setahun engga ketemu kakak." Dika terkekeh. Membalas pelukannya dan mengecup pucuk kepala Shika dengan lembut.


Shika cemberut, pipinya ia gembungkan. Awan yang melihat betapa menggemaskan Shika dengan wajah seperti itu, rasanya ia ingin mencubit kedua pipi itu. Apalagi bibir merah milik Shika, bibir yang pernah ia kecup. Awan tersenyum simpul teringat akan perbuatannya.


Awan sadar Awan, mikir apa sih kamu? Hatinya berusaha menyadarkan Awan dari bisikan-bisikan syaitan yang tersesat.


Shika melepaskan pelukannya dari tubuh Dika, saat mbok Narti datang membawa nampan yang berisi makan siang untuknya dan disaat itu juga Zoya kembali dari kamar mandi.


"Loh, mbak Zoya disini?" tanya Shika.


"Iya." Jawabnya tersenyum seperti biasa.


Suasana hening seketika, Shika bisa melihat wajah kakak-kakaknya yang berubah tegang.


"Ada apa? kok pada tegang gitu!"


"Kakak yang bawa Zoya kesini. Kakak mau melamar Zoya untuk jadi kakak ipar kamu, Fe." Ucap Dika. Jantung Dika berdegup sangat kencang mengatakan keinginnya pada Shika. Rasanya ia lebih baik menghadapi calon mertuanya dari pada adik perempuannya, lebih mengerikan.


"Ohh..." hanya ber'oh' saja.

__ADS_1


Apa tadi kakak bilang? kakak ipar?


"Kakak ipar? maksud kakak? kakak sama mba Zoya....?" Fe, tidak melanjutkan kata-katanya lagi, mata bulatnya sudah mengembun. Shika menatap satu persatu kakaknya, kemudian menatap tajam Dika. Karena hanya dia yang tidak tau hubungan Dika dan Zoya.


"Kakak udah engga sayang lagi sama, Fe." Sarkas Shika, wajahnya telah basah dengan air mata.


"Kakak sayang sama kamu."


"BOHONG!!! kakak bohong. Kalau kakak sayang, kenapa kakak engga kasih tau Fe!" raung Shika.


"Fe, dengerin kakak dulu. Kamu salah paham, sayang."


"Engga ada yang perlu di dengerin, sudah jelas kakak engga anggap Fe, adik kakak. Kenapa Fe, baru tau sekarang? kakak jahat... Fe benci kakak. Kakak mau nikah? Silahkan.... Fe akan pergi! buat apa Fe disini, kakak udah engga sayang sama Fe." Salak Shika galak.


"Fe, dengerin kakak. Kakak akan jelasin semuanya, kamu tenang dulu." Dika berusaha membujuk Shika, ia sangat kewalahan menghadapi Shika yang mencak-mencak seperti itu.


Shika tidak menjawab, ia menatap Dika dengan perasaan kecewa. Air matanya terus mengalir, Shika berlari keluar Villa tidak peduli teriakan kakaknya yang memanggil.


"Biar gue yang kejar Shika." Ucap Awan.


Sedangkan Dika tampak terkejut dengan reaksi shika, ia menjambak rambutnya mengingat sorot mata kecewa sang adik. Sesaat kemudian ia tersadar telah melupakan sesuatu. Dika menoleh, menatap kedua adiknya yang sejak tadi hanya diam saja.


"Kenapa kalian, tidak ingatin kakak, hah?"


"Kami pikir, kakak sudah bicara dengan, Fe."


"Arrrghh.... Shiit!"


Bodoh kau Dika, bodoh ...lagi-lagi kau membuatnya kecewa. Kenapa aku bisa sampai lupa, sial! rutuk Dika dalam hatinya. Dika menyesali kecerobohannya sendiri.


"Mas, maaf. Gara-gara aku kalian jadi bertengkar." Zoya terisak, ia begitu sedih melihat Shika menangis.


"Bukan salah kamu, mas yang lupa kasih tau, Fe."


Disisi lain Awan terus mengejar Shika, yang sangat jauh didepannya. Shika terus berlari hingga kakinya membawa kesebuah sungai kecil yang jauh dari Villa. Shika mendudukan dirinya diatas bebatuan, ia masih terus menangis sesegukan.


"Dari mana tenaga tuh cewek, kencang amat larinya." Lirih Awan dengan nafas ngos-ngosan Awan berhasil menyusul Shika. Pria tampan itu berdiri dibelakang Shika, suara gemericik air sungai tak mampu meredam suara isakan tangis gadis itu.


"Shika.." Awan mendudukan diri disamping Shika.


"Ngapain kakak kesini!" tanya Shika ketus dengan suara serak.


"Kakak khawatir sama kamu."


"Untuk apa kakak khawatirin Shika, kakak kandung Shika aja engga peduli lagi sama Shika. Kak Dika udah engga anggap Shika adiknya lagi!" Shika semakin menangis tersedu-sedu.


Awan membawa Shika dalam pelukannya, membiarkan gadis itu meluapkan segala rasa dihatinya.


"Menangislah sampai kamu puas, kakak akan ada disini untuk kamu."

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2