
Pagi hari ini, suasana kediaman Dika kembali terjadi huru hura. Suara gedoran pintu saling bersahutan dengan teriakan twins memanggil sang Daddy yang tidak kunjung membuka pintu kamarnya.
Saking cerdasnya mereka, Ken dan Zie mengetuk pintu menggunakan sepatu milik mereka.
"Kak, kulang kelas kita ketuk pintunya. Ayo Kak, lebih kelas lagi!" ajak Zie dan Ken pun mengangguk menyetujui.
Tokk tokk tokk
"Daddy... Buka pintunya!" jerit twins bersamaan.
"Daddy... Daddy... Wake up, please!"
"Daddy....!"
Sementara didalam kamar sang Daddy masih betah berada dialam mimpi. Bagaimana tidak, Daddy mereka semalam abis kerja rodi untuk bisa memberikan adik pada twins.
Shika yang mendengar pintu kamarnya di ketuk dengan sangat keras langsung membuka matanya, ia melihat jam kemudian teringat kalau suaminya itu punya janji dengan anak-anak.
"Kak, bangun. Twins didepan!"
"Bentar lagi sayang," Awan malah menarik Shika kedalam pelukannya.
Di dalam tidurnya yang setengah sadar, samar-samar terdengar suara anak-anak memanggilnya. Matanya langsung terbuka lebar kala jiwanya telah kembali sepenuhnya. Ia langsung terduduk diatas tempat tidur
"Sayang, kakak lupa ada janji sama twins. Aduhh bisa ngamuk mereka nih," Awan yang panik buru-buru turun dari tempat tidur, bahkan ia hampir terjengkang karena kakinya kesangkut dengan selimut, ia bingung harus berbuat apa.
"Kak mandi dulu," tegur Shika melihat Awan yang kalang kabut sendiri, seharusnya suaminya itu membersihkan diri dulu ini malah langsung memakai baju.
"Hah! iya." Awan langsung ngacir masuk kedalam kamar mandi, Shika geleng-geleng melihat tingkah suaminya yang seperti orang kena gebrek aja.
Setelah suaminya berada di kamar mandi, Shika membuka pintu untuk anak-anaknya.
Ceklek
"Mommy, lama buka pintunya. Liat tangan Zie sama Kak Ken sampe melah ini." Begitu pintu dibuka sang adik langsung melayangkan protes kepada sang Mommy sambil memperlihatkan tangan mereka yang sedikit memerah. Shika menjadi merasa bersalah.
"Maaf, sayang!" Shika jongkok dihadapan anak-anaknya, menggenggam tangan-tangan mungil itu lalu mengecupnya secara bergantian.
"Udah Mommy kasih obatnya, nanti minta diobatin lagi sama Daddy, okey!"
"Okey, Mom. Daddy mana Mom?" Ken melirik kedalam kamar tidak melihat tanda-tanda Daddynya ada di dalam sana.
__ADS_1
"Daddy masih di kamar mandi, sayang. Kalian duduk disini dulu ya, Mommy siapkan baju Daddy." Menggandeng tangan mungil itu membawa mereka masuk kedalam kamar dan mendudukkan kedua anaknya diatas sofa.
Tak lama Awan muncul sudah berpakaian olah raga lengkap, warna yang sama dengan kedua anaknya.
"Daddy lama!" seru twins berbarengan, kedua tangan bocah itu bersidekap depan dada.
"Ya ampun, sayang. Siapa yang mengajarkan mereka seperti itu, benar-benar anak Kevin jiwa-jiwa Bos besar sudah mulai keliatan." bisik Awan pada sang istri yang berada disampingnya sambil terkekeh, Shika menepuk gemas lengan suaminya itu.
"Tapi, mereka banyak niru kelakuan Kakak. Udah sana, sebelum makin parah ngamuknya."
"Daddy minta maaf ya sayang, Daddy ketiduran." Kini Awan berjongkok dihadapan twins sambil menangkup kedua tangannya didepan dada.
"Okey, hari ini Daddy kami maafkan. Besok kalau Daddy telat lagi, Ken sama adik Zie tidak mau bicara dengan Daddy."
"Kalena Daddy ingkal janji, Daddy kan pelnah bilang jadi laki-laki itu halus bisa dipegang janjinya, tapi Daddy sendiri yang langgal." Sambung Zie.
Jederrr
Tertampar kata-kata sendiri, Awan menggaruk keningnya yang tidak gatal. Resiko memiliki anak yang berIQ tinggi ya seperti ini, tapi syukuri aja anugerah ini.
Mereka akhirnya lari pagi disekitaran komplek perumahan itu saja, Awalnya Awan ingin mengajak mereka kelapangan olah raga. Karena hari susah siang, jadilah mereka hanya keliling komplek saja. Walaupun begitu twins sangat senang, bisa lari pagi lagi dengan sang Daddy.
Setelah di rasa cukup, mereka akhirnya pulang. Sesampainya dirumah mereka lesehan diteras depan sambil berselonjoran. Shika sudah menunggu kedatangan mereka, ia juga telah menyiapkan air mineral untuk twins dan suaminya.
"Seru Mom, Mommy sih tidak ikut." Sahut Ken.
"Apalagi tadi, ada tante-tante genit dekatin Daddy,"
Uhukk uhukk
Awan yang sedang minum tersedak, ia tidak menyangka Putra bungsunya itu melapor pada Shika.
"Cantik tidak tantenya?" tanya Shika, tapi matanya melirik Awan.
"Emm.. cantik Mommy, tante itu bibilnya sangat melah telus alis kayak gunung, Mom. Selem Zie liatnya kayak Vampil." Zie bergidik, mengingat sosok tante genit ditaman tadi.
Byuuurrr
Awan tidak bisa menahan tawanya, ia yang sedang minum pun menyemburkan air yang sedang diteguknya. Melihat Zie yang merinding disko menceritakan sosok wanita yang menghampiri mereka tadi ditaman komplek.
Bagaimana Zie tidak mengatakan serem, lipstick merah terang, blush-on udah kayak orang abis ditabok, bulu mata anti tornado, alis kayak gunung merapi. Ondel-ondel aja kalah cetar dandannya.
__ADS_1
"Istirahatnya udah cukup, sekarang waktunya mandi, setelah itu baru kita sarapan. Mommy sudah bikinin sandwich dan omelet full keju dan abon."
"Siap, Mom. Ayo adik, let's go!"
*****
Tap tap tap
Hentakan sepatu seorang pria yang tidak lagi muda dengan langkah yang penuh wibawa, membuat karyawan yang dilewatinya membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Yudha, sosok pemimpin yang sangat tegas dan disiplin. Ia tidak mentolelir siapapun yang ingin berbuat curang dengan perusahaannya, ia seorang pengusaha yang cukup disegani dinegaranya itu.
Saat masuk kedalam ruang kerjanya ia disambut oleh anak buahnya yang sudah menunggunya sejak tadi, Yudha menjatuhkan bokongnya diatas kursi kebesarannya. Ia menatap anak buahnya, menunggu hasil penyelidikan yang mereka lakukan.
"Maaf Tuan, saya membawa dua laporan untuk anda."
"Katakan, apa yang sudah kau dapatkan!"
"Yang pertama, kami sudah berhasil melacak siapa pemilik suara itu, walaupun suaranya disamarkan dengan bantuan dari tim Edo kita sudah mengantongi namanya. Suara itu milik Jordan."
"Jordan?" mengerti akan Tuannya yang ingin memastikan lagi nama itu, lelaki itu mengangguk pasti.
"Iya benar, Tuan. Itu suaranya Jordan asisten dari Tuan Edgar." Jelas sang anak buah.
"Brengseekk!! ternyata kau dalang dibalik semua kejadian ini, belum kapok juga kau ternyata." Geram Yudha menggepalkan tangannya dengan tatapan dingin mematikan.
"Lalu laporan kedua." titahnya datar.
Anak buah itu sedikit menarik nafas berat, ia yakin laporan yang kedua ini pasti akan membuat Tuannya itu murka.
"Yang kedua sedikit buruk Tuan. Dari informasi yang kita dapat, Tuan Edgar saat ini sudah berada di Indonesia selama satu minggu."
Braaakkk
Yudha mengebrak meja dengan kuat, wajahnya merah padam. Emosinya dengan cepat sampai diubun-ubun. Anak buah itu hanya menundukkan kepala tidak berani menatap Bos nya yang sedang meradang.
"APA KAU BILANG! Bagaimana bisa kau baru mengatakannya sekarang, hah! SIAL..!!" rahang Yudha mengeras, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf, Tuan. Kita mengalami kendala saat melakukan pelacakan, karena nomor yang dipakai dilindungi oleh aliensi bawah tanah."
Yudha menghela nafas panjang, ia sudah menduganya. "Perketat penjagaan dan lakukan dari jarak jauh, jangan sampai menarik perhatian dan membuat si brengsek Edgar curiga." Perintah Yudha dengan tegas.
"Bagaimana keadaan di London?"
__ADS_1
"Saat ini keadaan disana masih kondusif, belum ada yang mencurigakan, Tuan."
❄❄❄❄❄❄❄