
Hari-hari yang mereka lewati begitu cepat, tanpa terasa kandungan Shika memasuki usia lima bulan. Perutnya sudah membesar seperti layaknya sedang hamil tujuh bulan, hari ini waktunya ia kontrol ke Dokter kandungan.
Disinilah mereka sekarang, diruang praktek Dokter Rizal. Shika sudah berbaring diatas brangkar, tangan Dokter Kandungan itu dengan lihai memainkan sebuah alat diatas perut istri dari Dokter Bedah itu.
Awan bisa melihat dengan jelas calon anaknya itu dari layar besar yang menempel pada dinding ruangan itu. Matanya memanas, rasa haru hinggap direlung hatinya. Anaknya terlihat sangat aktif didalam sana, satu tangannya menggenggam erat tangan sang istri yang juga ikut meneteskan air mata melihat raut wajah suaminya yang tampak sangat bahagia. Mata mereka bertemu pandang, mereka pun saling melempar senyuman satu sama lain.
“Anak lo masih didalam udah ngerjain gue nih, gue mau intip kagak dibolehinnya.” Seru Dokter Rizal menghentikan keharuan suami istri itu.
“Lagian lo ganjen banget, mau ngintipin anak gue!” ketus Awan.
“Gue kan penasaran, belalai atau kembang. Emang lo kagak penasaran apa? Wajahnya aja mirip lo nih.” Ucap Dokter Rizal lagi, ketika menunjukkan wajah calon anak sejawatnya itu.
“Biarin aja, apapun jenis kelaminnya yang penting anak dan istri gue sehat sampai lahiran tanpa kekurangan satu apapun.” Shika mengaminkan ucapan suaminya.
“Semuanya bagus, oke! Selesai.” Dokter Rizal menggantungkan kembali alatnya lalu meninggalkan pasangan suami itu menuju meja nya. Seorang perawat membantu Shika membersihkan gel yang ada diatas perut nya.
Awan dengan sangat hati-hati dan pelan mendudukkan istrinya, perut nya yang besar membuat shika sedikit kesusahan. Awan mengecup kening Shika sekilas sebelum istrinya itu turun dari brangkar.
“Zal, kenapa perut istri gue besar banget gini? Kayak hamil kembar.” Tanya Awan.
“Gue kira tadi juga gitu, tapi lo liat sendirikan udah gue cari tetap aja satu!” jawab Rizal sambil menulis resep untuk Momil.
“Nanti pemeriksaan selanjutnya coba kita liat lagi,” lanjut Dokter Rizal kemudian.
“Mau makan apa sayang?” tanya Awan pada sang istri setelah mereka keluar dari ruang Dokter Kandungan.
“Mau makan Kakak!” jawab asal Shika.
__ADS_1
“Eh? udah mulai berani ya sekarang.” Awan menjawil ujung hidung istrinya.
Mereka tergelak bersama, Awan merangkul pinggang istrinya yang sudah sangat melebar. Berat badannya pun naik dua kali lipat, tapi Awan tidak mempermasalahkan perubahan tubuh sang istri. Malah ia semakin suka istrinya yang mengendat membuat sang istri semakin lucu dan menggemaskan dimatanya.
Kalau seperti ini terus, ingin rasanya tiap tahun ia menghamili istrinya itu. Tapi Awan tetaplah seorang Awan, ia akan tetap dengan niat awal nya. Walaupun istrinya menolak untuk di sterilkan nantinya.
“Kak, aku mau itu?” tunjuk Shika pada sebuah gerobak di pinggir jalan yang mereka lewati. Awan pun meminggirkan mobilnya, ia melihat arah yang di tunjuk oleh Shika tadi.
“Mie ayam?” tanya Awan melihat istrinya, Shika mengangguk “Iya, boleh?” tanya Shika meminta ijin suaminya itu. Awan tersenyum, tangannya terulur mengacak-acak rambut Shika. Istrinya itu mau makan apa aja selalu minta ijin dulu darinya, kalau seperti ini gimana ngga semakin cinta, pikirnya.
Awan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu agar tidak mengganggu pengguna jalan lain. Ia dan Shika kemudian
menuju gerobak mie ayam, mereka memilih duduk lesehan dengan meja kecil yang sudah disediakan. Setelahnya Awan memesan dua porsi mie ayam tanpa daun bawang.
"Pak, Mia ayamnya dua ya. Makan disini ngga pake daun bawang, tambahin pangsit seporsi ya Pak." Pesan Awan pada Bapak penjual.
"Disana Pak, perempuan yang pakai baju biru itu." Tunjuk Awan kearah istrinya yang sedang menangkup pipinya dengan kedua tangannya.
"Udah Kak?" tanya Shika ketika Awan sudah kembali.
"Kenapa? udah pingin banget ya?"
Shika mengangguk dengan bibir ia kerucutkan, "Udah nces-nces dari tadi, baunya aja udah kecium sampai kesini." Shika memejamkan matanya sambil menghirup aroma kuah dari mie ayam yang tercium.
"Sabar ya nak, bentar lagi mie ayam nya datang." Awan sedikit menunduk berbicara pada anaknya sembari mengelus perut istrinya, kemudian ia tersentak kala merasakan tendangan sang anak.
"Sayang, dia ngamuk!" ucap Awan melihat istrinya, Shika tersenyum melihat interaksi suami dan anak dalam kandungannya. Walau terkadang ia meringis, ketika sang bayi sangat aktif.
__ADS_1
"Lama ya nak?" tanya Awan.
"Dia nendang lagi! sayang, kamu masih didalam udah buat aksi protes." Awan terkekeh diikuti oleh sang istri.
Mie ayam mereka sudah tersajikan diatas meja, tidak menunggu lama Shika langsung meracik mie ayam miliknya. Setelah sesuai rasa yang di inginkannya, Shika langsung melahapnya.
"Sayang, pelan-pelan makannya. Nanti kamu tersedak." Shika mengangguk sambil menyeruput mie ayam nya.
Awan dan Shika sangat menikmati mie ayam mereka hingga habis tak tersisa. Namun ternyata porsi itu tidak cukup untuk seorang Momil, dengan memasang wajah memelas Shika meminta suaminya pesan lagi.
Awan sudah tidak heran, ia sudah terbiasa melihat porsi makan istrinya lebih banyak dari biasanya. Bahkan yang biasanya makan sehari tiga kali, sekarang bisa sampai tujuh atau lebih. Jadi Wajar saja kalau badan Shika membengkak seperti drum.
Awan dengan sabar menunggu istrinya yang sedang menghabiskan porsi kedua mie ayam itu dan juga seporsi pangsit goreng. Biarpun kehamilan sang istri membuat Awan sedikit kerepotan karena Shika tidak bisa jauh darinya, tapi untuk urusan makan istrinya itu tidak ada masalah.
"Udah kenyang?" tanya Awan ketika istrinya sudah menghabiskan porsi kedua mie ayam.
"Udah Kak," meneguk sisa air mineral milik suaminya.
"Hei, kamu yang didalam udah kenyang belum?" Awan kembali mengganggu anaknya, namun ternyata tidak ada balasan sama sekali.
"Yah, giliran udah dapat aja diam. Tadi aja ngamuk-ngamuk,"
"Beneran ngga ada gerakan sayang?" tanya Awan ingin tau, mungkin anaknya ngga nendang tapi gerak didalam.
"Ngga Kak, mungkin udah tidur." Sahut Shika yang emang tidak merasakan gerakan sang anak.
"Yeee.. udah kenyang aja tidur. Giliran lapar salto-salto ampe Mommy nya kesusahan." Awan meledek anaknya. Tangannya menepuk-nepuk lembut perut Shika.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄