
Shika memandang jauh keluar jendela pesawat yang ia tumpangi, awan-awan berkejaran dari balik jendela. Hari ini ia akan menginjakkan kakinya dinegara kelahirannya, negara yang nyaris sembilan tahun telah ia tinggalkan.
Shika sebenarnya tidak berniat kembali ke Indonesia andai saja ketiga kakaknya tidak terus membujuknya bahkan setahun yang lalu kedua Putra kembarnya sudah lebih dulu dijemput oleh Papi mereka pulang ke Indonesia.
Sebagai seorang Ibu, tentu saja ia tidak boleh egois. Ia harus memikirkan perasaan kedua anaknya, apalagi usia mereka masih kecil tapi kedua bocah tampan itu sangat cerdas dan peka.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam 10 menit London -Jakarta (waktu tempuh setiap maskapai berbeda-beda), pesawat yang ditumpangi Shika mendarat dengan selamat.
Shika segera menggeret kopernya keluar dari pintu terminal kedatangan luar negeri Bandara Soetta. Ia menghirup dalam udara Ibukota, mengedarkan pandangan hingga ia melihat sesuatu yang membuat matanya memanas.
"Mommyyyy..." Suara teriakan itu menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Shika bertekuk sambil merentangkan kedua tangannya menyambut Putra Kembarnya ke dalam pelukannya. Ken dan Zie tidak tinggal diam, mereka langsung berlari menghamburkan diri ke dalam pelukan sang Mommy.
"Kami rindu, Mom!" Ucap kedua balita tampan itu.
"Mommy juga sangat merindukan Ken dan adik Zie." Sahut Shika memeluk keduanya seraya mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada twins.
"Mom, jangan menangis." Ken dan Zie menghapus air mata dipipi sang Mommy, wajah milik mereka mengingatkannya kembali pada mendiang Suaminya. Hanya manik mata Ken yang sama dengannya, selain itu semua menguasai kemiripan dari Kevin.
Suasana haru saling melepas rindu antara Ibu dan anaknya tidak luput dari pandangan seorang pria yang hadir disana, pria yang mengantar kedua bocah itu untuk menjemput Mommy mereka.
"Mom, ayo ketempat Daddy." Ken menarik tangan Shika sambil menunjuk kearah Awan berdiri, pria yang tadi mengantar kedua anaknya itu adalah Awan.
Shika tertegun melihat sosok yang berdiri sedikit jauh dari tempatnya, tidak ada yang berubah dari sosok itu masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu sembilan tahun yang lalu.
"Kak.." Sapa Shika begitu lirih ketika mereka sudah saling berhadapan.
Awan tersenyum, "Apa kabar, Ka?" tanya Awan dengan tenang, setelah bertahun-tahun lamanya, ini untuk pertama kalinya mereka bertemu kembali. Rasa dihatinya masih sama tidak sedikit pun berkurang, yang ada semakin hari semakin besar.
"Seperti yang kaka liat."
"Kurusan!"
__ADS_1
"Hah?"
"Iya, kamu terlihat kurusan."
Shika mengerucutkan bibirnya, membuat Awan terkekeh. "Kamu masih sama aja kayak dulu, suka cemberut." Ledek Awan. Mereka berasa lagi reunian sampai-sampai melupakan kedua bocah yang berdiri disamping mereka.
"Dad, Mom. Apa kita akan terus berdiri disini? kaki Ken sama Zie sudah pegal." Protes Ken pada keduanya.
"Maaf, sayang. Daddy sudah membuat kaki jagoan Daddy pegal, ayo kita pulang." Awan berucap sembari meraih tubuh Ken dalam gendongannya, sementara Zie digendong oleh sang Mommy. Mereka bak keluarga bahagia dan sempurna, berjalan berdampingan menuju area parkir. Selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju kediaman Anggara.
*****
"Papiiii..." Teriak seorang gadis kecil yang baru masuk kedalam rumah besar itu.
"Sayang, jangan teriak. Kamu persis seperti Mommymu hobinya teriak-teriak setiap masuk rumah." Dika menghela nafas panjang, sang Papi geleng-geleng kepala liat Putri semata wayangnya itu, tak ubahnya Feshika kecil.
Sang anak hanya nyengir, ia sibuk celingak celinguk kesana kesini. Dika menaikan sebelah alisnya melihat sikap Putrinya itu.
"Ken sama adik Zie, Pi. Biasanya mereka lagi pada main disana, tapi kok ngga ada."
"Adik-adikmu itu udah tinggal sama Daddynya, sayang."
"Daddy?" tanya bingung Putrinya yang bernama Xena.
"Iya sayang, Daddy Awan udah kembali." Wajah Xena berubah murung, biasanya setiap ia pulang dari asrama selalu disambut oleh kedua adik-adiknya, sekarang sudah tidak lagi.
Tak lama kemudian, terdengar suara bocah kecil yang ia rindukan lari masuk kedalam rumah disusul oleh Shika dan Awan belakangnya. Rumah yang tadi sepi sekarang menjadi sangat ramai.
"Papiiiiii... Mamiiii....!" Teriak keduanya secara bersamaaan, membuat Dika kembali menghela nafasnya.
Kenapa mereka suka sekali berteriak. Batin Dika frustasi.
__ADS_1
Dika memeluk twins dengan rasa sayang, ia juga memberikan ciuman pada pipi keduanya. Lalu pandangannya beralih pada dua manusia yang berbeda gender yang sedang berdiri saling berdampingan.
Dika tersenyum kearah mereka, ia menoleh sebentar pada Xena dan meminta Putrinya itu untuk membawa twins bermain kedalam. Setelahnya Dika kembali berdiri, menatap adik perempuannya.
"Apa kamu tidak merindukan kakakmu, hm? biasanya kamu selalu berlari dan memeluk kakak setiap pulang kerumah."
Shika yang dicerca seperti itu, air mata yang sejak tadi ditahannya luruh juga. Shika langsung berlari menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang kakak. Sosok yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun, walau ia sudah menjadi Istri dan seorang Ibu. Tapi, tangan itu tidak pernah sekalipun melepaskan rangkulan pada sang adik.
Dika menepuk-nepuk lembut punggung Shika, seperti saat Shika menangis waktu kecil dulu. Zoya sang Istri yang baru selesai dengan urusan dapurnya telah berdiri dibelakang Suaminya, ia ikut menitikan air matanya.
Zoya yang sangat mengenal Suaminya tentu saja tidak pernah protes jika sang Suami memberikan kasih sayang yang lebih pada adiknya. Pernah suatu ketika Dika dihadapkan dengan dua pilihan antara putrinya dan sang adik dimana saat itu kondisi Kenza Putri Shika dan Kevin sedang kritis sedangkan Xena Putrinya sedang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Zoya dengan senang hati merelakan Suaminya untuk berangkat London saat itu juga.
"Kamu juga tidak merindukan, Mbak?" sela Zoya setelah Dika melepas pelukannya. Dika membalikkan badannya menatap sang Istri yang entah sejak kapan sudah ada disana.
"Mbak," Shika memeluk kakak iparnya itu.
"Udah, jangan nangis terus. Sebaiknya sekarang kita makan, Mba udah masak makanan kesukaan kamu. Setelah itu biar kamu bisa istirahat, pasti cape walaupun cuma duduk dalam pesawat." Zoya mencoba mencairkan suasana.
"Aku sudah kangen makan masakan Mba. Pasti nanti aku akan gemuk, dan pastinya ngga ada yang bilang kurusan lagi." Ujar Shika tetapi matanya melirik Awan. Lelaki itu hanya tersenyum tipis menanggapi lirikan dari Shika.
"Bik, tolong panggilkan anak-anak ya." Titah Zoya.
"Bi Ijaaahhh..." Belum sempat sang ART menjawab, teriakan Shika mengagetkan Bi Ijah.
"Non Fe, ya ampun non akhirnya bibi bisa ketemu non lagi." Bik Ijah pun menangis, ia akhirnya bisa ketemu lagi dengan anak majikannya dulu yang sejak kecil sudah dirawatnya, merekapun saling berpelukan.
"Bik, udah dong nangisnya. Fe udah kembali, sekarang Fe mau makan dulu, makanan di pesawat engga enak bi." Adu Shika pada ART nya.
Keluarga akan selalu berada di dekatmu hingga kamu bisa bergerak berhasil ataupun terjatuh, karena memang mereka selalu mencintaimu apa adanya.
❄❄❄❄❄❄❄
__ADS_1