
Hulaaaaaa.... Awan datang kembali, Doakan ya zheyeng-zheyeng. Semoga hari ini bisa double up, untuk menembus dosa akikah dimasa lampauπ€§
Dukung terus ya cinta, biar tetap semangat mengapai Awanβ
Untuk ceritanya kenapa begini kenapa begitu? halu kak jingga tinggi, cinnn. Engga bisa lihat yang cakep-cakep nganggur, maunya diembat semua dari pada mubazir iya kan? π€
Jadi nikmati aja ceritanya, karena sepenggal kisah disekitar kita sedikit kak jingga pungut kedalam siniπ
Happy Monday π
Selamat Membaca Kesayanganππ€
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
*****
"Bagaimana?" tanya Kevin saat asistennya yang bernama Reno masuk kedalam ruangan.
"Sesuai dengan permintaan tuan." Jawab Reno sambil menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua pada Kevin.
Kevin mengambil kotak itu lalu membukanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman melihat isi kotak itu. Sebuah cincin permata yang telah disiapkan untuk melamar gadis yang dicintainya.
"Untuk tempatnya bagaimana?" tanya Kevin kembali.
"Sudah hampir selesai, tuan. Apa tuan ingin melihatnya?"
"Tidak, pastikan saja tidak ada yang kurang. Saya ingin membuat kenangan terindah malam ini untuknya."
"Baik, tuan. Saya permisi dulu." Pamit Reno meninggalkan ruangan atasannya. Kevin hanya mengangguk, setelah asistennya keluar Kevin kembali menatap cincin yang dibagian dalam terdapat ukiran namanya.
"Res, kakak akan menjadikanmu ratu satu-satunya di hati ini." Bisik Kevin pada dirinya.
Disisi lain tepatnya dibutik milik Shika, ia sedang berdebat dengan Zoya. Shika menolak memakai gaun yang dibawa oleh Zoya, menurutnya gaun itu terlalu mewah untuk sebuah acara makan malam keluarga. Apalagi setahu Shika nanti malam adalah acara lamaran resmi kakaknya sekalian tunangan. Jika dia yang memakai gaun itu, orang akan berfikir dia yang akan tunangan.
"Engga mau mba, Fe engga mau!"
"Fe, pokoknya kamu harus pakai ini. Kamu mau mba dimarahi sama kakak kamu?" ucap Zoya dengan wajah dibuat sendu.
"Yang mau lamaran dan tunangan kan mba, kenapa harus Fe yang pakai baju itu. Lebih cocok mba yang pakai. Pasti kak Dika akan pangling liat mba." Feshika malah menggoda balik calon kakak iparnya.
"Mba sudah punya gaunnya, Fe. Ini kakak kamu sendiri yang pilih, dipakai ya. Apa kamu mau liat Dika sedih, karena adik kesayangannya ini tidak mau memakai gaun yang susah payah dipesannya?" jelas Zoya berbohong, karena gaun itu dipesan oleh Kevin
"Tapi terlalu mewah, mba!" protes Shika kekeh tidak mau memakai gaun itu. Ia merasa tidak nyaman harus memakai gaun model sabrina yang berwarna biru tua itu.
__ADS_1
"Apa salahnya, Dika ingin kamu malam ini terlihat cantik. Nanti kita juga akan ke salon biar wajah kamu sedikit diberi sentuhan make up. Okey sayang?" Shika merengut menatap lesu pada Zoya, ia menyandarkan tubuhnya disofa tanpa membalas Ucapan Zoya.
Zoya tersenyum lebar melihat tidak ada bantahan lagi dari Feshika.
*****
Dalam perjalanan menuju ke tempat yang telah siapkan oleh Kevin, lagi-lagi Zoya harus berdebat dengan Shika karena dandanan yang menurut Shika terlalu berlebihan.
"Apa yang kamu lakukan, Fe!" seru Zoya melihat Shika ingin menghapus make up di wajahnya dengan tisu.
Zoya langsung menahan tangan Shika,
"Mba, ini terlalu berlebihan!" sungut Shika sebal.
"Dimananya berlebihan, Fe? sama dengan dandanan mba?" Zoya perlu kesabaran extra menghadapi Shika.
"Mba wajar dong, yang mau lamaran. Sedangkan Fe cuma ikut menemani kak Dika!"
"Siapa bilang, kamu malam ini jadi adik mba. Kamu yang menemani mba, makanya kita berangkatnya berdua ketempat acara." jelas Zoya meyakinkan Shika, kalau usahanya gagal bisa berantakan semuanya.
Feshika berpikir sejenak, membenarkan apa yang di katakan oleh Zoya. Sejak dari butik dan salon lalu sekarang menuju tempat acara, mereka hanya berdua tidak ada Dika sang kakak yang menjemputnya. Melihat Feshika mangut-mangut, Zoya sedikit bernafas lega.
Mereka telah sampai disebuah hotel mewah bergaya Eropa dan disambut oleh Reno asisten Kevin. Shika mengedarkan pandangan melihat sekeliling, ia terpukau dengan desain yang dimiliki hotel itu.
"Kamu nurut aja, nanti juga tau." Zoya menjawab Shika dengan berbisik juga.
Kini mereka telah tiba di lantai paling atas dari hotel itu, sebuah rooftop yang telah disulap sedemikian rupa membuat Shika memandang takjub.
"Kak Dika, sweet banget mba." Ucap Shika matanya begitu tersihir dengan dekorasi yang begitu romantis, pancaran cahaya dari lampu yang temaram, taburan bunga, balon-balon dengan warna tone lembut dan beberapa perintilan yang menunjang suasana semakin tampak memukau.
Bahkan sampai ia tidak menyadari seorang pria telah berdiri disisinya, "Kamu suka?"
Shika mengangguk tanpa menoleh, "Sangat suka." Jawab Shika jujur.
Hingga Shika tersadar tidak menemukan Zoya disampingnya, hanya seorang pria tampan yang berdiri disampingnya.
"Mba Zoya mana, kak? napa kak Kev disini?" tanya Shika bingung.
Kevin tersenyum lalu meraih tangan Shika mengenggamnya dengan begitu lembut, "Res, kakak bukan laki-laki romantis. Kakak juga engga bisa merangkai kata untuk merayu atau sekedar gombalan, tapi yang kakak ingin kan kamu bisa menyukai apa yang bisa kakak lakukan. Seperti yang kamu liat disini, kakak menyiapkan semua ini hanya untuk kamu." Jelas Kevin.
Kevin sedikit mundur lalu bertekuk lutut dihadapkan Shika, mengeluarkan sebuah kotak persegi dari dalam saku jasnya. Shika tau arti dari semua yang di lakukan Kevin, hatinya membuncah bahagia. Matanya memanas, tapi sekuat tenaga ia tahan. Ia tidak ingin melewati setiap kata yang akan diutarakan oleh Kevin.
"Res, malam ini didepan keluarga kita dengan segenap jiwa dan raga, dengan segala kekurangan yang kakak miliki. Kakak memberikanmu dua pilihan."
__ADS_1
"Hanya ada dua pilihan." Kevin mengulang lagi dengan penuh penekanan.
"Kamu jadi istri kakak atau kakak yang jadi suami kamu. Kamu tinggal pilih mau yang mana." imbuhnya lagi.
"Pilihan macam apa itu, kak? itu namanya bukan pilihan, ujung-ujung tetap aja aku sama kakak. Kagak ada sedikit pun romantisnya." Shika merengut manja.
Hening, mereka hanya menatap dalam diam. Tapi Kevin tidak bisa membaca arti dari tatapan gadis didepannya, membuat dia menjadi semakin tidak karu-karuan.
"Jadi, apa jawaban kamu?" tanya Kevin harap-harap cemas, jantung berasa diobok-obok oleh diam Shika. Semua yang melihat juga ikut panas dingin menahan nafas saking deg degan menunggu jawaban Shika.
"Maaf kak..."
Jederrr
Jederr
Lemas segala persendian Kevin, matanya terpejam menghela nafas perlahan lalu bangkit dari posisinya.
"Aku belum selesai, kak. Kenapa bangun, jongkok lagi!" sungut Shika melihat Kevin berdiri.
"Hah!" Kevin melongo mendengar ucapan Shika.
"Cepetan, mau dijawab ngga?" lanjut Shika lagi, Kevin menurut kembali pada posisinya semula dengan wajah bingung, sedangkan Shika rasanya ia ingin ketawa melihat betapa lucunya wajahnya Kevin.
Setelah Kevin berada dalam posisi bertekuk lutut, Shika menatap lekat mata itu.
"Maaf kak, aku engga mau jadi istri kakak. Aku...aku maunya kakak yang jadi suami aku." Senyum Kevin mengembang sempurna, matanya berkaca-kaca. Kevin langsung bangkit memeluk Shika, betapa bahagianya Kevin hari ini gadis yang sejak lama dicintai menerima lamarannya.
Sorak dan tepuk tangan pecah begitu Shika menerima pinangan dari Kevin, rasa takut dan kekhawatiran akan penolakan sirna berganti kebahagiaan. Tidak hanya mereka berdua yang bahagia, kedua kakak Feshika juga begitu bahagia, menyaksikan langsung insan yang saling mencintai mengungkapkan isi hati mereka.
"Makasih, Res. Makasih." Kecupan bertubi-tubi diberikan pada puncak kepala Shika, air matanya luruh. Inilah kebahagiaan hidupnya, mendapatkan wanita yang setiap hembusan nafas, detak jantung dan denyut nadi hanya ada namanya.
Kevin melerai pelukannya kemudian dengan kedua tangan kekarnya menangkup pipi Shika. Menatap lekat manik mata coklat itu, menyeka air mata sang gadis.
"I love you, Res." untuk pertama kalinya Kevin mengatakan kalimat cinta pada gadis itu.
"I love you too, kak Kev."
"Hah!"
"I love you too, kak Kevin." Ulang Shika lagi. Dengan wajah yang merah menahan malu, ia mengakui perasaan cintanya pada laki-laki yang akan menjadi suaminya itu.
Lagi-lagi Kevin menarik Shika dalam pelukannya, ia sangat bahagia.
__ADS_1
βββββββ