
Hari ini Awan kembali bekerja, senyuman tak pernah hilang dari wajah tampannya. Pria dengan dua Putra itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju ruangannya. Hari ini juga ia dan Ray akan melihat kondisi Om Edgar, karena menurut Dokter yang menanganinya sampai dengan saat ini tidak ada kemajuan apapun. Om Edgar bertahan hidup dengan bantuan alat medis.
Awan sudah sibuk bertempur didalam ruang OK, ada beberapa jadwal operasi hari ini yang harus dilakukannya. Untung saja anaknya yang didalam kandungan tidak membuat ulah, mungkin ia tau jika sang Daddy akan sangat sibuk hari ini.
Ray sudah lebih dulu berada di ruang perawatan Om Edgar, tak lama kemudian disusul oleh Awan yang baru selesai dari ruang OK.
“Gimana?”
“Seperti yang lo liat,” Awan dan Ray memandang pria yang usianya tidak lagi mudah itu terbaring tak berdaya. Namun didetik kemudian jari tangannya memberi respon, Ray yang melihat langsung berseru.
“Wan, liat!” menunjuk jari Om Edgar yang bergerak-gerak. Awan langsung menekan sebuah tombol untuk memanggil Dokter.
Tak lama kemudian Dokter pun datang dan memeriksa kedaan Om Edgar, sementara Dokter memeriksa Awan dan Ray menunggu diluar. Seorang suster keluar memanggil Awan dan Ray untuk masuk, didalam sana Om Edgar sendiri sudah bangun dari tidur panjangnya.
“Pasien ingin bertemu Feshika.” Ucap sang Dokter ketika Awan dan Ray sudah masuk kedalam, keduanya saling pandang. Mereka melangkah mendekati brangkar agar bisa lebih mudah berkomunikasi langsung dengan Om Edgar walaupun keadaannya masih lemah.
“Om, saya Ray Kakaknya Feshika dan ini suaminya.”
“Sa..ya i..ingin berr..temu di..dia.” Ucap Om Edgar dengan terbata-bata dan nafas yang tersengal-sengal.
“Maaf Om, tapi Shika sedang bed rest. Ia tidak bisa kemana-mana dulu untuk sementara ini. Sebaiknya Om istirahat, biar kondisi Om cepat membaik.” Jelas Awan.
“To..tolong bi..bi..biar..kan sa..saya ber..te..mu..dia.” Om Edgar memohon dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Sebaiknya, temukan saja mereka. Mungkin ada yang ingin disampaikannya, sebelum semuanya terlambat. Kondisinya sangat lemah tidak tau berapa lama pasien sanggup bertahan.” Dokter yang menangani Om Edgar memberi saran, Awan sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Tapi ia sebagai Dokter tentu saja mengerti maksud dari Dokter itu.
“Ray?”
Ray menghela nafas panjang, “Pertemukan saja, tapi keputusan tetap ditangan lo. Karena dia sekarang istri lo, dan lo yang lebih tau gimana keadaannya.”
*****
Shika ditemani oleh Jihan dan Yudha mendatangi rumah sakit, Shika duduk diatas kursi roda yang sudah disiapkan oleh Awan yang sudah menunggu kedatangannya. Awan tidak ingin sang istri kelelahan karena harus berjalan, mereka tiba didepan ruang rawat Om Edgar. Awan mendorong kursi roda istrinya mendekat kearah brangkar yang ditempati oleh Edgar diikuti Jihan dan Yudha dibelakangnya, disana sudah ada Ray yang menunggu.
“Om Edgar!” panggil Shika. Om Edgar yang mendengar namanya dipanggil membuka kedua matanya. Kulit wajahnya yang sudah keriput tidak mengurangi kadar ketampanannya sewaktu muda. Om Edgar tersenyum ketika melihat siapa yang ada didepan matanya saat ini.
“Ma..af!” ucap Om Edgar dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
Dada Shika tampak sesak melihat kondisi Edgar yang sangat lemah, Awan yang menyadari itu mengusap-usap punggung Shika memberikan ketenangan pada sang istri. Edgar tampak kesulitan menarik nafasnya.
“Bo..leh sa..ya me..me..luk mu sebagai putri saya, mung..kin ji..ka putri saya ma..sih hidup pasti dia a. .kan secantik kamu.” Ucap Edgar dengan tersenyum lepas. Shika mendongak melihat Awan meminta ijin pada suaminya. Awan mengangguk, Shika perlahan bangkit dari kursi rodanya dibantu Awan, kemudian ia memeluk Edgar dengan air mata yang mengalir. Edgar dengan tangannya yang lemah mendekap tubuh Shika, menepuk pelan kepalanya seolah-olah ia sedang memeluk dan menepuk putrinya sendiri. Karena sewaktu putrinya kecil suka di tepuk seperti itu.
“Te..ri..ma ka..sih, to..long ji..ka sa.ya per..gi semayamkan saya disamping istri dan putri saya.” Edgar meminta pada Shika setelah melepas pelukannya. Edgar tampak tersenyum dibalik masker oksigen yang terpasang,
Monitor jantung menunjukkan detak jantung Edgar semakin lemah, Ray langsung memanggil Dokter. Edgar mengedarkan pandangannya menatap satu persatu yang hadir disana.
“Ma..af,” kata terakhir yang diucap oleh Edgar, perlahan mata Edgar tertutup dengan senyum yang masih tersungging diwajahnya.
__ADS_1
*****
Kehidupan rumah tangga Awan dan Shika semakin hari semakin harmonis, Shika semakin manja dengan suaminya itu. Sementara twin, mereka minta sekolah seperti sepupunya. Mereka tidak mau lagi sekolah dirumah. Afnan beserta istri dan anaknya telah kembali ke London begitu juga dengan kedua mertua Shika, mereka telah kembali ke Dubai setelah kondisi sang menantu sudah membaik.
Namun tetap saja Awan membatasi aktifitas sang istri, seperti sekarang ini Awan sedang berkutat didapur menyiapkan makan siang untuk istri dan anak-anaknya. Padahal ada ART yang biasanya menyiapkan makan mereka, karena kebetulan weekend Awan turun tangan langsung memasak makanan kesukaan sang istri dan twin. Awan ditemani oleh kedua Putranya begitu serius didapur, entah apa jadinya dapur nanti kita lihat saja setelah mereka selesai masak.
Sementara Shika duduk manis sambil membaca buka parenting yang baru dibeli oleh Awan, ditemani berbagai macam cemilan sehat yang telah disiapkan oleh suaminya membuat pikirannya untuk sementara waktu teralihkan dari sang suami yang sibuk bertempur dengan pisau, wajan, panci dan spatulla. Karena kalau tidak begitu, maka Shika akan terus menempel pada sang suami.
“Dad, kenapa adek bayinya belum kelual-kelual?” tanya Zie yang duduk lesehan dilantai depan kulkas, ia bersama kembarannya sedang memakan salad milik sang Mommy.
“Adik bayinya keluar kalau udah sembilan bulan, sayang.” Jawab Awan sambil menoleh sebentar melihat twin, kemudian ia kembali fokus memasak.
“Berarti dulu Ken sama adik Zie juga seperti itu, Dad?” tanya Ken, kemudian menyuap salad kedalam mulutnya.
“Iya sayang, adik bayinya masih sangat kecil. Tempat paling aman dan nyaman mereka untuk sekarang didalam perut Mommy.” Jelas Awan dengan sabar akan rasa ingin tau kedua Putranya.
“Daddy, perut Mommy kan kecil. Kenapa Ken bisa muat berdua dengan Zie?” tanya Ken, ia sangat penasaran bagaimana ia dan sang adik bisa muat diperut sang Mommy.
“Pasti kita seling belantem deh Kak, kan sempit.” Tambah Zie.
“Telus kalau kita pup, kita kelual dulu dari pelut Mommy. Kan kasian Mommy kena pupup kita.” Imbuh Zie dengan wajah polos nan menggemaskan.
Awan tergelak, ia sudah tidak bisa menahan tawa dengan pemikiran lucu twin terlebih Zie. Rumahnya kini begitu ramai penuh warna dengan segala celoteh dan tingkah polah twin dan nantinya akan bertambah dengan kelahiran adik-adik twin.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄