
Byuuurrr
"Bangun..." Seorang pria bertubuh tinggi menyiram seember air pada seorang wanita yang sedang tak sadarkan diri, setelah itu ia juga menjambak rambut wanita itu.
"Hmphh... hmph.." Wanita itu terbangun, dinginnya air membasahi sekujur tubuhnya. Dengan mulut yang dilakban.
Tap
Tap
Tap
Terdengar langkah kaki seorang pria berjalan pelan namun membuat bulu kuduk merinding setiap hentakan langkahnya. Ruang yang gelap dan pengap hanya cahaya temaram dari bola lampu berukuran kecil.
Mata wanita itu membola hampir lepas dari kelopaknya, saat pria itu telah berdiri dihadapannya dengan jarak dua meter dari posisi duduknya. Kedua tangan pria itu dimasukan kedalam saku celananya, matanya menyorot tajam dan dingin, tubuh wanita itu bergetar hebat.
"Lepaskan penutup mulutnya!" ucap pria itu dingin.
Anak buahnya yang berdiri tak jauh dari wanita itu segera menuruti perintah bosnya untuk membuka lakban yang membekap mulut wanita malang itu.
"A.. Al... Aldika?" lirih wanita itu ketakukan.
"Apa kabar Bella Ramiro?" sapa Aldika. Kakak laki-laki dari Shika itu tersenyum bak iblis.
"Ternyata kau masih punya nyali kembali kesini, setelah bertahun-tahun aku mengirimu keluar negeri." Tatapan tajam seakan-akan sedang menguliti kulit tubuh wanita itu.
"Aku tidak mengganggumu, kenapa kau menyekap aku disini?" tanya Bella takut-takut.
Dika menaikkan sebelah alisnya, tersenyum miring.
"Kau bilang tidak mengganggu? Apa perlu kutunjukan buktinya, hm?" Dika mencengkram kuat rahang Bella, wanita itu meringis. Dengan kasar Dika menghempaskan wajah wanita itu.
Kemudian ia berjalan pada satu sofa single dan menjatuhkan bokongnya disana, duduk dengan kaki disilangkan. Sebelah tangannya diletakkan diatas sandaran lengan sofa, dengan jari tangan mengetuk-ngetuk sandaran lengan itu.
__ADS_1
"Putar!" titahnya.
Bella membelalakan matanya saat anak buah Dika yang tak lain adalah Beno memutar sebuah rekaman, yang mana disana memperlihatkan Bella mendorong seorang bocah laki-laki dan juga bertengkar dengan seorang perempuan.
"Sudah ingat?"
"Di... di.. dia.." Bella semakin gugup, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dipelipisnya.
"Dia keponakanku dan perempuan itu adik kesayanganku. Dengan tangan kotormu kau sudah berani menyentuh dan... menyakiti mereka. Kau bilang tidak menggangguku?"
"A.. aku tidak tau mereka keluargamu." Kata Bella dengan tergagap. Kini Bella ingat tatapan milik perempuan itu persis tatapan pria didepannya saat ini.
"Oo, jadi kalau mereka bukan keluargaku. Kau bisa berbuat sesuka hatimu? dasar wanita licik!" hardik Dika, telapak tangannya terlentang kearah samping kanannya. Meminta sesuatu pada anak buahnya, yang berdiri siap melayani Bos nya itu.
Beno mengeluarkan sesuatu dari samping pinggangnya. Sebuah pisau berkilat tajam, kemudian meletakkan diatas telapak tangan Dika.
"Kau juga pasti ingat dengan ini?" Dika memainkan pisau itu dengan kedua tangannya. Memutar-mutar ujung pisau itu dengan telunjuk kirinya.
Bella semakin gemetar, ia menunduk. Sekelebat bayangan saat ia berniat menghabiskan nyawa Shika hadir.
"Jawab!!" Bentak Dika dengan suara tinggi dan lantang membuat Bella terjengkit.
"A.. Awan, dia merebut Awan dariku." Jawab Bella.
Kening Dika berkerut berlipat-lipat, "Awan?" Bella mengangguk cepat, "Kau siapanya Awan?" tanya Dika pura-pura tidak tau, sebelumnya anak buahnya yang di minta tolong oleh Ray sudah memberikan semua informasi padanya.
"Aku menyukai Awan, bahkan aku sangat mencintainya."
"Dan kau kembali kesini untuk mengejarnya, benar begitu?" potong Dika tepat sasaran.
"Dia milikku, hanya milikku!" ucap Bella.
"Tapi sayangnya, Awan tidak mencintaimu. Bahkan melirikmu pun tidak, bukan begitu Bella Ramiro?" sinis Dika,
__ADS_1
"Aku pasti akan mendapatkannya, kalau adikmu itu tidak merebutnya dariku," ucap Bella berapi-api, ia bahkan lupa sedang berhadapan dengan siapa.
"Woww, nyalimu besar juga." Dika berdiri dari duduknya, berjalan kearah Bella. Tangannya menarik kuat rambut Bella, hingga kepala Bella mendongak.
"Kau sama saja dengan Ayahmu itu, SERAKAH!! demi keuntungan sendiri sanggup menghabisi nyawa kedua orang tuaku secara mengenaskan. Anjing saja, bisa membalas kebaikan Tuannya, Ayahmu!! sudah dipungut dari jalan, diberi kehidupan yang layak oleh kakekku. Tapi, masih menikam dari belakang. Dan sekarang kau ingin mengikuti jejak Ayahmu, untuk menghabisi adikku? karena pria yang kau cintai lebih memilihnya dari pada kau, hm!" Dika menyeringai.
"Tapi sayangnya, sebelum keinginanmu terwujud. Aku akan mengirimmu menyusul kedua orang tuamu. Kau sudah berani bermain-main denganku, berarti kau siap mengantarkan nyawamu." Sarkas Dika dengan tatapan membunuh.
Bella ketakukan, "Tidak.. tidak, kau tidak bisa membunuhku! lepas...lepaskan aku, tolong lepaskan aku. Aku janji akan pergi jauh dari sini!" Bella memohon dengan wajah mengiba, entah kemana wajah angkuhnya itu pergi. Bella bergerak-gerak agar bisa melepaskan ikatan tangan kakinya.
"Bereskan dia," titah Dika, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Tidak mempedulikan teriakan dari Bella, sebenarnya ia bisa saja meminta anak buahnya untuk menghabisi wanita itu langsung. Tapi ia ingin mendengar sendiri dari mulut wanita itu, dan juga ingin melihat reaksi wanita itu ketika melihatnya.
*****
Disebuah rumah besar berasitektur kuno jaman peninggalan Belanda yang terletak ditengah sebuah hutan, Shika dan Adit dikurung didalam sebuah kamar. Shika terus mendekap keponakannya itu, Adit merasa kerongkongannya sangat kering.
"Adit haus, Mom." Ucap Adit lemah.
"Sebentar ya, Mommy coba panggilin orang-orang itu," Shika pun melepaskan dekapannya ia berjalan menuju pintu yang dikunci dari luar. Shika mengedor pintu dari dalam, berharap ada yang mendengar. Hingga beberapa kali, tidak ada suara apapun dari luar.
Shika menoleh kebelakang melihat Adit yang duduk diatas ranjang dengan wajah pucat. Sampai kemudian terdengar suara seorang pria dari balik pintu.
"Heh, berisik sekali kalian!"
"Tolong berikan segelas air, keponakanku sangat haus!" mohon Shika.
"Kalian menyusahkan saja!" ketus pria itu, terdengar langkah menjauh saat Shika menempelkan telingannya didaun pintu. Shika menghela nafas panjang, melangkah menjauh dari pintu itu. Namun baru saja ia melangkah terdengar suara kunci diputar, Shika pun kembali membalikkan badannya.
Ceklek
Pintu terbuka, seorang pelayan wanita masuk membawa makanan dan minuman dalam nampan, dengan diikuti seorang pria berkepala plontos dibelakangnya.
"Kalian makanlah, beruntung Bos kami berbaik hati memberi kalian makan." Ucap pria itu, kemudian ia dan pelayan wanita segera meninggalkan kamar itu kembali mengunci dari luar.
__ADS_1
Shika memandang makanan yang diletakkan disebuah meja kecil, ada rasa ragu untuk menyentuhnya. Ia hanya mengambil air mineral dalam botol yang masih bersegel, tapi sebelumnya ia memeriksa dulu botol itu. Takut di suntikkan sesuatu kedalam air itu, setelah meneliti kemasan air itu aman. Ia membuka tutupnya dan memberikan air mineral itu pada Adit.
❄❄❄❄❄❄❄