
Mobil yang dikendarain oleh Kevin memasuki pelataran parkir sebuah mall, setelah tadi ia menjemput Shika dibutik dan mengajaknya untuk makan siang di tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat Kevin jemput Shika pulang dari sekolahnya.
"Ayo turun." Ajak Kevin setelah memakirkan mobilnya.
"Bentar, kak."
Kevin mengikuti arah pandang Shika lalu bertanya "Siapa?"
"Tunangan kak Arya." Kevin mengerutkan keningnya.
"Ya sudah, dia lagi sama tunangannya, jangan bilang kamu cemburu lihat mereka atau kamu mau seperti mereka." Terdengar kekehan dari Kevin yang membuat Shika melotot kearahnya.
"Isss....apaan sih kak, engga nyambung. Laki-laki itu bukan kak Arya."
Kevin semakin bingung dibuat Shika.
"Huff.. sapi itu selingkuh, tapi kak Arya engga pernah percaya. Padahal kak Ray sama kak Awan sering melihat sapi jalan dengan pria lain bukan hanya satu tapi banyak pria. Aku kasian loh kak, sama kak Arya." Raut wajah Shika berubah sendu. "Kak Arya itu baik orangnya." lanjutnya lagi.
"Ya udah, kamu beritahu, Arya." Shika menoleh kearah Kevin, lelaki itu tersenyum tangannya terulur mengacak-acak rambut Shika.
"Kita turun sekarang?"
Mereka keluar dari mobil, Shika bergelayut manja dilengan Kevin, banyak mata yang melihat kearah mereka. Sepanjang langkah mereka menuju lantai atas dimana tempat tujuan mereka berada, sesekali mereka bercanda dan terdengar gelak tawa hingga tidak menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian.
Bukan hanya kaum Hawa yang menatap takjub pada ketampanan Kevin, tapi para wanita itu juga menatap iri akan pesona dan kecantikan yang dimiliki Shika. Kecantikan Shika yang alami dengan penampilan sederhana menjadi daya tarik bagi kaum Adam yang menatap puja padanya.
"Itu, kak Arya." Ucap Shika jarinya menunjuk sosok lelaki yang dikenalnya disebuah tempat makan duduk seorang diri. Shika menarik tangan Kevin agar mengikutinya.
"Kak Arya." Sapa Shika dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Shika...!" Lelaki itu tersentak begitu suara lembut Shika menyapa pendengarannya.
__ADS_1
"Mana kak Ray sama kak Awan?" tanya Shika polos. Ia celingak celinguk mencari dua sosok itu.
Lelaki itu terlihat menariknya nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar. "Tadi janjian sama Safira, tapi dia buru-buru pergi begitu dapat panggilan dari managernya."
Shika dan Kevin saling pandang lalu menoleh menatap Arya. "Maaf, kak. Kalau boleh tau managernya laki-laki atau perempuan?" Shika sungguh penasaran, ia tidak ingin menduga-duga. Dari pada terjadi salah paham lebih baik bertanya. Seperti kata pepatah author tidak berani bertanya jadinya jalan-jalan.
"Perempuan, kenapa?" tanya Arya yang merasa aneh dengan pertanyaan dari adik sahabat dan juga sejawatnya dirumah sakit.
"Emm.. boleh Shika duduk, kak?" ragu-ragu Shika ingin menceritakan apa yang dilihatnya, ia takut dituduh merusak hubungan orang lain.
"Oh, iya... Maaf, kakak sampai lupa nyuruh kalian duduk." Arya tersenyum kikuk merasa tidak enak hati pada keduanya.
Hening
"Maaf kak..." Shika menggantung ucapannya ia menoleh kearah Kevin, Kevin mengangguk kepala sebagai isyarat menyetujui apa yang akan di lakukan Shika.
Shika menghela nafasnya, menatap lelaki didepannya. "Apa kakak yakin, sapi eh Safira maksud Shika dapat telfon dari managernya?"
Lagi-lagi Shika menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya tadi sewaktu Shika sama kak Kevin sampai diparkiran, Shika engga sengaja lihat tunangan kakak dengan om-om."
"Mungkin yang kamu lihat itu omnya." Kevin yang mendengar jawaban Arya menjadi emosi sendiri, tapi ia tahan karena itu bukan urusannya.
Lelaki ini bodoh atau apa? bisa-bisanya tertipu oleh perempuan licik itu. Geram Kevin, tapi ia hanya mampu memgumpat dalam hatinya.
Walaupun Kevin melihat perempuan itu dari jarak yang sedikit jauh, tapi Kevin bisa menilai perempuan seperti apa tunangan laki-laki itu.
"Apa wajar seorang ponakan dan omnya berciuman?" sarkas Shika.
"Apa maksud kamu? jangan mutar-mutar Shika, katakan!" jantung Arya berdetak kuat, ia berharap apa yang akan Shika katakan tidaklah benar.
"Tunangan kakak selingkuh!"
__ADS_1
"Tidak mungkin, Safira bukan perempuan seperti itu ia dari keluarga terhormat, kamu pasti salah orang. Lagi pula kamu belum pernah bertemu bagaimana mungkin kamu mengenalnya."
"Dari kak Awan, wak--" Belum selesai Shika menyelesaikan kalimatnya, Arya sudah memotongnya. Ia masih menolak semua yang diucapkan gadis itu, ia berusaha keras untuk tetap mempercayai Safira tunangannya.
"Awan tidak pernah suka dengan Safira, makanya dia menjelek-jelekkan Safira. Kamu jangan percaya Shika, Safira tidak serendah itu." Tetapi Shika tidak mempedulikan semua yang di katakan Arya, baginya ini kesempatan baik untuk mengatakan siapa perempuan itu sebenarnya.
"Waktu itu kami sedang makan siang disebuah cafe, kebetulan juga tunangan kakak berada disana bersama seorang lelaki...." Shika menjeda ucapanya, menarik nafanya sejenak menekan rasa sesak didadanya. "Yang tak lain adalah mantan Shika." imbuhnya.
"Mantan kamu?"
Bukan Arya yang bertanya tapi Kevin dengan raut wajah terkejut.
Shika mengangguk cepat "Iya."
"Jika lelaki yang kamu maksud adalah Evan, kamu salah Shika, itu sepupunya."
"Kak, bukan Shika ingin mencampuri urusan kakak, Shika udah anggap kakak sebagai kakak Shika sendiri. Shika engga mau kakak terus-terusan dibohongin. Asal kakak tau aja, mereka pernah ke gep sama shika sedang berhubungan badan di apartemen Evan. Satu lagi perlu kakak ketahui, Evan anak tunggal dia tidak mempunyai sepupu mau itu laki-laki atau perempuan. Terserah kakak mau percaya atau tidak!" Jelas Shika tidak memberi kesempatan pada Arya untuk memotong ucapannya. Ia menatap lekat lelaki itu yang terkejut akan kebenaran yang baru diungkapnya.
"Shika, permisi kak. Shika mohon sama kakak, bukalah mata hati kakak, lihat kebenarannya." lanjutnya. Sebelum meninggalkan Arya yang masih terdiam mencerna tentang semua yang diungkapkan Shika.
"Seharusnya anda sebagai seorang lelaki dapat mengambil sikap, tuan!" sindir Kevin saat beranjak dari kursi yang ia duduki sebelum menyusul Shika yang terlebih dulu pergi.
Kevin tau, gadis itu saat ini sedang bersedih. Ia harus menenangkan gadisnya dan dia juga butuh penjelasan.
"Kamu harus menjelaskan sesuatu pada kak, Res!" gumam Kevin sembari terus berjalan mengikuti langkah Shika yang sedang menuju arah pintu lift.
Setelah kepergian kedua manusia beda usia dan gender, Arya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kegamangan menyelusup dihati dan pikirannya. Ia kembali mengingat apa yang pernah kedua sahabatnya katakan, beberapa kali juga ia melihat dan bertemu tunangannya itu dengan pria yang berbeda. Tunangan? masih pantaskan disebut tunangan, jika semua perkataan Shika terbukti benar?
Terkadang apa yang dilihat tidak selalu benar, terkadang apa yang didengar juga tidak selalu benar. Terkadang apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan, Kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan. disitulah sakitnya mulai terasa. Ikutilah hatimu, belajarlah untuk mempercayai hati.
Ketidakpastian membuatku jatuh dalam penantian dan aku terjebak dalam dua pilihan bertahan atau melepaskan.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄