
Keesokan harinya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Bella membuka kedua matanya, namun ia kembali memejamkan matanya. Tangannya perlahan terangkat memegang kepalanya yang terasa berat dan berdenyut.
Bella belum menyadari jika saat ini ia berada di sebuah apartemen milik pria yang membawanya semalam. Perlahan Bella memaksa kedua matanya terbuka, dengan meringis menahan denyut di kepalanya.
"Morning, Dear."
Deg
Sebuah suara bariton yang terdengar berat dan serak khas orang bangun tidur membuat Bella terlonjak kaget. Dengan gerakan cepat, kepalanya menoleh kesisi kanan ranjang itu, mata Bella terbelalak melihat seorang lelaki yang usianya telah senja berada satu ranjang dengannya dengan bertelanjang dada.
"Si-siapa kamu? kenapa bisa ada di dalam apartemenku?" tanya Bella yang ketakutan, bagaimana bisa seorang lelaki asing bisa berada diapartemennya dan tidur seranjang dengannya. Dan apa ini? Bella langsung melihat dirinya yang polos hanya tertutup selimut.
"Aku?" tanya lelaki itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Apa kamu tidak ingat apa yang kita lakukan semalam, hm? dan kenapa aku bisa berada disini, ya.. karena ini apartemen milikku!" lanjut lelaki itu bertanya dan menjawab apa yang ditanyakan perempuan yang sudah menghabiskan malam panas bersamanya.
Bella mengedarkan pandangannya, benar! ini bukan apartemen miliknya. Lalu bagaimana bisa ia berakhir dan menghabiskan malam dengan lelaki tua itu, pikirnya.
Aaah.. sial. Pasti gara-gara aku mabuk semalam. Pekik batin Bella.
"Brengseekk!!! apa yang sudah kau lakukan padaku! dasar bajingaaan!!" teriak Bella, Wajahnya memerah karena menahan emosi, ia menatap tajam lelaki itu. Tidak terima lelaki itu memperlakukanya seperti itu saat ia dalam keadaan mabuk.
"Aku brengsek!! bukannya kau juga menikmati permainan panas kita, bahkan kita melakukannya berulang kali. Lagipula kamu sendiri terlihat sangat berpengalaman, aku yakin diluar sana sudah banyak lelaki yang menikmati tubuhmu itu. Aku akui penampilan luarmu sangat cantik dan menggoda tapi sayang sudah tidak legit!" Sarkas lelaki itu dengan sebelah alisnya naik seraya tersenyum meremehkan.
__ADS_1
"Setelah kau tidurin aku lalu kau hina, dasar bajingan!" ucap Bella dengan emosi yang meledak meletup.
"Woww.. Kau sangat sexy baby, kalau sedang marah begini. Asal kau tau, awalnya aku tertarik dan bergairah padamu. Tapi setelah menyentuhmu, gairahku menurun tidak seperti pertama kali melihatmu yang membuat aku sangat menggebu-gebu untuk secepatnya menuntaskan has ratku, kau bilang aku bajingan? kau sendiri seperti ja lang yang haus akan belaian. Selama sesi bercinta kita, kau yang selalu memimpin. Aku sebagai lelaki normal menikmati saja suguhan darimu, kau sama saja dengan ja lang diluar sana."
"Tutup mulutmu, kau pasti yang memaksa aku melakukannya? iya kan? jawab?" bentak Bella dengan suara meninggi.
Lelaki itu yang sudah hilang kesabarannya, menampar Bella hingga sudut bibirnya berdarah lalu mencengkram kuat rahang Bella dengan sebelah tangannya yang lebar hingga Bella meringis kesakitan.
"Kau berani membentakku, kau belum tau siapa aku, hah! apa perlu aku tunjukkan video, agar kau percaya!" Lelaki itu melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
"Vi-video? ka-kau merekamnya?" mata Bella berkabut, bibirnya bergetar ia tidak menyangka kalau lelaki didepannya ini merekam adegan panas mereka. Dengan tubuh yang terbalut selimut ia meringkuk dan terisak, rasa sakit di wajahnya tidak sebanding dengan apa yang akan ia dapat nanti, jika sampai laki-laki itu menyebarkan video itu. Bella merutuki kebodohannya.
"Iya, apa kau ingin melihatnya? disitu terlihat kau yang menggodaku!" seringai terbit di wajahnya, dengan tidak tau malunya lelaki itu turun dari ranjang itu dengan tubuh polosnya berjalan kearah sofa mengambil bathrobe lalu memakainya. Dengan santai ia duduk diatas sofa dengan kaki menyilang.
"Tidak ada, aku hanya ingin kau secepatnya keluar dari kamar ini dan pergi dari apartemenku." Ucap lelaki itu dengan tatapan bak devil.
Bella tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia turun dari ranjang kemudian memungut pakaiannya yang berserakan dilantai dan juga mengambil tasnya yang tergetak diantara pakaiannya itu. Ketika hendak ke kamar mandi lelaki itu melarangnya.
"Pakai saja disini, tidak usah sok malu. Aku juga sudah melihatnya semua, kau telanjang pun sekarang aku sudah tidak bergairah." Ucapan lelaki itu seperti keris yang menghujam tepat di jantungnya, rasa sakit di hatinya tidak dapat lagi dirasakan oleh Bella. Harga dirinya sudah sangat diinjak-injak oleh lelaki asing itu.
Tanpa mempedulikan lelaki itu, Bella memakai pakaiannya lalu bergegas keluar dari apartemen terkutuk itu.
Bella sudah berada dalam taxi, saat keluar dari area apartemen tadi ia langsung menemukan taxi yang baru menurunkan penumpang. Bulan menyandarkan tubuhnya pada kursi penumpang, pandangan matanya menatap jauh keluar jendela. Ia tidak bisa mengingat sedikitpun apa yang terjadi semalam, sisa-sisa dari minuman itu masih membuat kepalanya sakit.
__ADS_1
"Tidak pernah ada lelaki yang merendahkanku sampai serendah ini, aku akan membalas laki-laki brengsek itu!" ucap Bella dengan mata berapi-api.
"Ini semua gara-gara Awan, aku harus bisa mendapatkannya bagaimana pun caranya termasuk menghabisi perempuan kampung itu! Awan hanya milikku seorang, tidak ada yang boleh memilikinya, hanya milikku aku..aku..dan aku, hahahaha!" Bella tertawa keras, Bella sudah seperti orang yang tidak waras, membuat sopir taxi itu ketakutan.
Dosa apa yang sudah saya lakukan, sampai dapat penumpang seperti ini. Batin sopir taxi itu.
*****
Di dalam apartemen lelaki asing itu, tampak lelaki tua itu masih mengenakan bathrobe berdiri dibalkon kamarnya. Ia sedang menerima telpon dari anak buahnya yang ditugaskan untuk mencari informasi tentang seorang anak kecil.
"Sudah kau dapatkan?" tanya lelaki itu, aura dingin menguar dari setiap kata yang diucapnya.
"Tidak ada data tentang keberadaan anak itu, Tuan. Bahkan hampir seluruh sekolah dan rumah sakit di kota ini tidak ada daftar nama dengan nama belakang Ardhinata, Tuan." Jelas anak buahnya.
"Bagaimana bisa tidak ada, sudah jelas anak itu berada dinegara ini. Saya tidak mau tau, kamu cari sampai ketemu. Apa perlu kamu culik semua anak kecil negara ini, cari seorang bocah saja kau tidak becus! jika kau tidak bisa membawanya kehadapanku, maka kau yang akan aku habiskan!" hardik lelaki itu dengan suara tinggi, untung saja pita suaranya tidak lepas. Santai Bos, nanti bisa darah tinggi, sang anak buah yang berada diseberang sana dengan susah payah menelan salivanya mendengar ancaman dari Bos nya itu.
Tut
Lelaki itu mematikan panggilan telpon secara sepihak, ia menggenggam ponselnya dengan keras, rahangnya mengetat. Kilatan matanya memancarkan kemarahan dan kebencian.
"Tidak mungkin info yang aku terima salah, aku yakin, bocah sialan itu pasti ada dinegara ini. Aku pasti akan menemukannya."
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1