
Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, cinta tulus yang dimiliki Awan semakin hari semakin tumbuh mekar. Cinta yang tak terbalaskan, cinta yang tersimpan begitu indah direlung hatinya yang terdalam tanpa tersentuh sedikit pun oleh pemilik nama yang bertahta di hati itu.
Memilih tetap bertahan meski sebenarnya tahu bahwa ia yang kau cinta tidak akan mungkin bisa menjadi milikmu. Namun, tidak ada yang tahu seperti apa takdir ini, mereka yang berencana tapi sang Pemilik kehidupan yang menentukan.
Cinta terkadang membuat orang tidak dapat berpikir, cinta tidak butuh alasan karena pada kenyataannya cinta hadir tanpa logika. Cinta tidak berbentuk, namun cinta dapat dirasakan oleh hati. Tapi sayangnya, gadis yang ia cintai tidak dapat merasakan ketulusan cinta dari laki-laki itu, seorang lelaki yang memiliki cinta yang luar biasa.
"Dia gadis pertama yang kucintai, dia gadis pertama yang mengisi hatiku dan dia juga gadis pertama yang menolakku! Apa seperti ini yang dinamakan terluka tapi tak berdarah?" lirih Awan dengan sendu.
Awan memejamkan matanya, bayangan gadis itu terlintas di benaknya. Senyum manisnya, mata bulat dengan bulu mata lentik, tingkah lakunya yang terkadang begitu menggemaskan dimata Awan.
Awan menghela nafas panjang, ia mengusap wajahnya lalu menompang dagu dengan kedua tanganya.
"Bukan aku lemah tidak memperjuangkanmu, ka. Mencintai bukan berarti harus memiliki bukan? jika di kehidupan sekarang kita tidak bisa bersama. Aku harap di kehidupan nanti, kamu menerimaku. Biarlah cinta ini kubawa pergi, kan kujaga sampai akhir nafasku."
Ibarat matahari tak pernah lelah menyinari bumi, bintang tak pernah letih menemani malam, bulan tak pernah meninggalkan langit, begitu juga diriku yang tidak akan pernah melupakan kenangan bersamamu.
Jika kamu merindukanku, carilah aku di dasar hatimu yang terdalam. Aku tidak kemana-mana. Aku hanya tertindih dan tersisih di antara dia yang lebih kau cintai.
*****
Hari ini Awan akan meninggalkan Indonesia, selain karena kedua orang tuanya terus mendesak agar ia segera mengambil alih perusahaan. Awan juga mempunyai alasan tersendiri, Awan telah menceritakan tentang hubungan dirinya dengan Shika pada kedua orang tuanya dan ini menjadi salah satu alasan mereka meminta Awan kembali ke Dubai.
Ray mengantar Awan kebandara, sepanjang perjalanan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Awan menatap keluar jendela, ia menikmati setiap jalan yang dilewati. Tidak tau kapan ia akan kembali lagi kesini ataukah masih ada kesempatan untuk kembali.
"Lo udah yakin dengan keputusan lo ini?" tanya Ray, mereka telah berada diparkiran bandara.
"Udah." Awan menjawab dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. Tapi siapa tau hatinya menangis membawa luka dan cinta secara bersamaan.
__ADS_1
"Ngga usah perlihatkan senyum jelek lo itu, gue bukan perempuan yang bakal klepek-klepek sama lo." .
"Nanti lo rindu sama gue." Jahil Awan menggoda Ray, mungkin ini terakhir kalinya ia akan mengganggu Ray. Pasti ia akan merindukan kedua sahabatnya itu, mau gimana lagi ia harus pergi.
"Idih, najis gue. Biar kata jomblo, gue masih lurus. Masih suka aroma Hawa belum belok sama Adam." Ray berdecak kesal.
"Udah, masuk sana. Ntar ketinggalan pesawat lagi." lanjut Ray lagi.
Mereka turun dari mobil, Ray membantu mengeluarkan koper milik Awan dari bagasi.
"Gue antar sampai sini aja, lo masuk sendiri kedalam!" usir Ray. Awan mengangguk.
"Makasih udah jadi sahabat gue." Ucap Awan tulus.
"Semoga lo menemukan kebahagiaan di tempat yang baru." Doa tulus Ray untuk sahabatnya itu.
Melepaskan, jika kamu adalah cinta sejatiku, maka esok kamu pasti akan hadir dengan cara mengagumkan.
Bila keputusanku ini salah, maafkan. Berbahagialah.
*****
Ray terkejut saat baru saja mendudukkan bokongnya diatas kursi dalam ruang prakteknya setelah kembali dari mengantar Awan ke bandara, ketika pintu ruangannya dibuka dengan kasar.
"Ar, apa-apaan lo?" seru Ray melihat Arya yang masuk kedalam ruangan dengan wajah panik.
"Ray, lo harus liat ini!" Arya menyerahkan sebuah map dengan logo rumah sakit tempat mereka bekerja.
__ADS_1
"Dokter Angga!" kata Ray, membaca nama yang tertulis didepan sampul map itu. Siapa yang tidak kenal dengan nama itu, seorang Dokter senior Spesialis Onkologi.
Ray tau penyakit apa yang ada didalam map itu, yang menarik perhatian Ray adalah nama yang tercantum disana. Jantungnya berpacu begitu cepat, Ray menoleh pada Arya yang berdiri diseberang mejanya.
"Awan udah melakukan serangkaian pemeriksaan dan hasilnya bisa lo liat sendiri."
"Leukemia Myeloid Akut." Baca Ray dengan suara lirih, Arya menjawab dengan sebuah anggukan.
Ray membaca semua hasil diagnosa dan pemeriksaan yang telah di lakukan oleh sahabatnya. Tenggorokannya tercekat membaca setiap detail kata demi kata diatas kertas putih itu. Matanya memanas, ia menggeleng ngga percaya dengan semua yang dibacanya.
"Ngga mungkin, Ar! ngga mungkin Awan melakukan sampai sejauh ini, gue baru aja pulang dari bandara. Flight Awan Dubai bukan Jerman, pasti ada kesalahan disini. Gue akan ke poli Dokter Angga." Bantah Ray berharap semua yang dilihatnya salah.
"Awan memang akan ke Dubai, tapi sebelum itu ia akan ke Jerman melakukan transplantasi sel punca." Jelas Arya.
"Dokter Angga udah memprediksi segala kemungkinan yang terjadi. Tapi Awan tetap dengan pendiriannya, dan lo harus janji. Tidak boleh seorang pun tau tentang masalah ini."
"Ini permintaan Awan, Ray. Gue harap lo bisa hargai keputusannya, Awan meminta Dokter Angga untuk merahasiakan semuanya. Tapi gue maksa agar Dokter Angga mau kasih tau gue sampai ia melanggar sumpahnya sebagai Dokter menjaga rahasia pasien. Dan lo tau itu tindakan yang sangat fatal." Arya menghirup udara dadanya terasa hampa dengan kenyataan yang ada.
"Gue ngga sengaja melihat map itu diatas meja Dokter Angga, gue tadinya ke sana mau antar laporan pasien yang collab sama beliau." Jelas Arya bagaimana ia bisa mengetahui tentang transplantasi itu. Walaupun terlambat, setidaknya mereka tau dan mendoakan semuanya berjalan lancar.
Ray memejamkan mata, memijit pelipisnya. Kepalanya saat ini berdenyut hebat, seandainya ia tau lebih awal. Ray tidak tau harus berkata apa, ia tidak dapat berpikir dan mencerna dengan baik keputusan yang diambil oleh Awan, terlalu beresiko.
Ray menghela nafas dengan perlahan, "Berapa persen?" tanya Ray kemudian.
"Sangat tipis, jika Awan ngga bisa bertahan. Maka---" Arya menjawab seraya mengeleng lemah.
Kenapa lo lakuin ini, Wan. Kenapa lo harus berkorban sebesar ini. Cecar Ray dalam hati.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄❄