
Sinar matahari menyelinap masuk lewat celah tirai kamar menerpa wajah seorang wanita, membuatnya menggeliat kecil. Melihat pergerakan istrinya, Awan menghalangi sinar itu dengan tubuhnya, wajah damai tidur sang istri membuat Awan tersenyum bahagia.
Bagaimana tidak, sepanjang malam mereka memadu kasih saling memberi, menerima dan menikmati segala suguhan yang diberikan pasangannya. Sebuah resort pinggir pantai yang dipilih Awan untuk menghabiskan malam pertamanya setelah hati saling terpaut, padahal mereka sudah sering berbagi peluh. Namun menghabiskan malam panjang saat ini terasa begitu spesial.
Awan memindahkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri, mengecup bibir ranum yang tampak bengkak karena ulahnya. Awan benar-benar melahap abis bibir itu tampa ampun.
Shika merasa tidurnya tergganggu, perlahan membuka matanya. Netra coklat itu bertemu dengan netra hitam milik suaminya, senyum terbit dikedua sudut bibirnya.
Cup
"Morning kiss, sayang." Awan menyambar bibir ranum itu lagi, tidak bosan-bosan ia mencium bibir sang istri.
Shika mencebik, "Kak, jangan mulai lagi!" ucap Shika dengan wajah memelas, badannya terasa remuk. Sepertinya ia akan kesulitan berjalan.
"Memangnya mau ngapain?" tanya Awan dengan sebelah alis naik.
"Itu, Kakak cium-cium. Pasti mau minta lagi." sahut Shika dengan polos, tidak tau dia kata-katanya itu bisa membuatnya dalam bahaya.
"Minta apa sayang?" Awan malah menggoda dengan berpura-pura tidak mengerti, padahal sejak tadi ia sudah menahan untuk tidak memakan istrinya sebagai menu sarapan pagi ini.
"Minta itu."
"Itu apa, hm? coba bicara yang jelas." tangan mulai bermain-main dibibir Shika.
"Yang seperti semalam."
"Banyak, yang mana? apa yang seperti ini?" Awan sudah memposisikan dirinya diatas tubuh Shika, mengukung tubuh istrinya dengan senyum menggoda.
"Kak!" rengek manja Shika.
"Salah sendiri mancing-mancing, tanggung jawab."
Awan kembali mencumbu istrinya, mengawali pagi dengan olah raga sehat. Sehat jasmani dan juga sehat rohani.
*****
Siang hari, pasangan suami istri tiba dirumah. Yang seharusnya pasangan suami istri itu sudah kembali kerumah pagi hari, tapi karena olah raga sehat ala Awan dan Shika. Maka mereka baru sampai siang hari, keduanya melangkah masuk kedalam rumah dengan jemari tangan saling bertautan.
Shika terlihat sedikit kesulitan berjalan. Seolah dunia milik berdua, mereka tidak menyadari banyak pasang mata menatap penuh arti kearah mereka. Sebuah deheman membuat langkah mereka berhenti.
"Ekhem..."
"Ka-kak." Ucap Shika dengan terbata.
"Sepertinya Kakak ketinggalan banyak nih," seru Dika, matanya melirik pada tangan-tangan yang bertautan itu, Shika menjadi salah tingkah.
Awan menarik Shika ikut bergabung dengan Dika dan yang lainnya.
"Kakak kapan sampai?" tanya Shika.
"Pagi tadi, tapi langsung dapat tugas negara!" sindir Dika.
__ADS_1
"Tugas negara apa, Kak?" kali ini Awan yang bertanya, pikiranya langsung tertuju pada anak-anaknya. Apalagi mereka tidak terlihat.
"Mba Zoya, twins dimana?" tanya Awan lagi.
Semua yang ada diruang itu menahan tawa, bagaimana tidak wajah yang sedari tadi terus tersenyum tiba-tiba berubah menjadi panik.
"Mereka sedang tidur, kelelahan abis diajak Papinya pergi main. Pagi-pagi sekali sudah mencari Daddy nya, untung Kakak kalian pulang, jadi bisa menenangkan twins." Jelas Zoya.
Awan semakin merasa bersalah terlalu lama meninggalkan kedua Putranya.
"Sudah tidak apa-apa, jangan merasa bersalah. Nikmati kebersamaan kalian, apalagi baru jadian?" ucap Dika dengan santai.
"Jadian?" Awan dan Shika berucap secara bersamaan, keduanya saling pandang. Mata mereka saling bertanya, Awan menggeleng.
"Kakak suka, anti mainstream." Dika menahan tawanya melihat adik dan iparnya kebingungan.
"Berasa lagi nonton Drakor," kekeh Zoya. "Apalagi pas adegan lari-lari sambil nangis, jadi pengen ikut nangis." Zoya membuat wajah sedih.
"Adegan?" tanya Shika, sedetik kemudian Shika membelalakan matanya.
"Jangan bilang...." Matanya menyipit beralih menatap Ray yang sejak tadi hanya diam. "Kak Ray, ini pasti kerjaan Kakak? hayo ngaku."
Ray nyengir, "Sayang dek, kalau cuma diliat sendiri."
Shika melepar bantal sofa kewajah Ray, tapi Ray bisa menghindar. Lalu tiba-tiba saja Shika udah menimpuk-nimpuk badan Ray dengan bantal sofa lain. Sontak membuat ruang itu dipenuhi gelak tawa.
"Itu melanggar hak tau!"
"Iihhh, Kakak ngeselin banget tau ngga! nyebelin... nyebelin.. nyebelin..!" Kesel Shika sambil terus memukul-mukul Ray.
Bugh
Bugh
Bugh
"Udah-udah, kalau ngga gitu. Kakak pasti ngga tau apa yang terjadi." Dika melerai adiknya, Shika kembali duduk didekat Awan dengan nafas ngos-ngosan lelah menimpuk Ray.
"Tapi kan Fe malu, Kak!" Shika menyembunyikan wajahnya dibalik punggung suaminya.
"Kenapa harus malu, kamu katakan cinta sama suamimu sendiri."
Shika teringat bagaimana ia kemarin berlarian dirumah sakit sambil menangis. Pastinya ia terlihat sangat berantakan, oh! Shika tidak sanggup membayangkannya.
*****
Setelah berkumpul sebentar dengan adik-adiknya, Dika memilih untuk istirahat. Apalagi tadi baru sampai dari perjalanan jauh langsung menemani twins. Disusul Awan dan Shika, begitu juga Ray memilih istirahat sebentar sebelum pulang kerumahnya.
"Heii.. lo apakan adek gue ampe susah jalan gitu?" Ray baru menyadari kalau adiknya berjalan sangat pelan.
"Biasa pengantin baru." Sahut Awan.
__ADS_1
"Pengantin baru apaan, pengantin baru kadarluarsa!" ejek Ray.
"Berisik lo, kayak ngga pernah muda aja." Sinis Awan. Ia langsung menggendong tubuh Shika.
"Heh, lo kata gue udah tua. Wah.. dasar adek ipar kagak ada akhlak lo."
Ray pura-pura marah, sebenarnya ingin sekali ia membully sahabatnya itu. Ia tau apa yang terjadi pada adiknya itu, tapi ia tahan dulu. Ray akan melakukan saat mereka kumpul bertiga nanti. Pasti akan lebih seru. Pikirnya.
"Woii... kita seumuraaan, cuma beda bulan." teriak Ray lagi. Awan tidak mengubris ia terus menapaki anak tangga membawa istrinya kekamar agar bisa beristirahat.
Sampai dikamar Awan mendudukan Shika disisi tempat tidur, kemudian Awan merebahkan dirinya dengan posisi terlentang dengan kedua tangannya ia rentangkan.
Huftt
"Punya Kakak ipar, usil banget sih! kenapa juga kamu harus jadi adik seorang Rayendra!" keluhnya pada sang istri, ia menatap manja Shika.
Bughh
Shika memukul gemas paha suaminya, mendelikkan mata bulatnya.
"Kalau bukan Shika adiknya Kak Ray kita ngga bisa seperti sekarang, Kak." Shika memberengut, tapi tampak mengemaskan dimata Awan.
"Jangan mancing, ini aja kamu udah susah jalan Honey." Awan menarik tangan Shika hingga wanita itu jatuh diatas dadanya, mendekap erat tubuh sang istri.
"Dasar mesum!"
"Namanya juga laki-laki normal, apa kamu mau Kakak mesum sama perempuan lain."
"Kakak pernah ngerasain sunat dua kali?"
"Dua kali? apa lagi yang mau disunat?"
"Semuanya, sampai ngga tersisa!"
"Sayang, kamu mau jadi psikopat?"
"Kalau Kakak macam-macam!"
"Kamu aja satu macam ngga abis-abis, gimana mau dua macam." Awan menunduk melihat istrinya dengan tatapan mesum.
"Ck, Shika ngga nyangka Kakak semesum ini."
"Cuma sama kamu."
"Awwwhh.... kenapa kamu gigit!" Shika dengan gemas menggigit dada suaminya.
"Itu tanda cinta!"
"Kakak juga akan memberikan tanda cinta padamu."
❄❄❄❄❄❄❄
__ADS_1