Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
31 - Keputusan Shika


__ADS_3

Kamu benar-benar mencintai seseorang ketika kamu tidak bisa membencinya meskipun ia telah menyakitimu.


*****


Kedua netra coklat seorang wanita memandang jauh kedepan di kegelapan malam, kenangan bersama mendiang suaminya terlintas dibenaknya. Saat hari ulang tahunnya dimana Kevin kembali hadir dalam hidupnya.


Shika memejamkan matanya, menghela nafas panjang. Hatinya bimbang, ketika keputusan besar dalam hidupnya harus diambil.


"Tidak semua berjalan sesuai keinginan kita, Fe."


Dika telah berdiri disamping adiknya setelah tadi ia terus memperhatikan kegelisahan sang adik.


"Biarkan waktu yang menghadirkan cinta dihatimu, kita tidak akan pernah tau akan berakhir dengan siapa. Mungkin seperti ini takdirmu bersamanya, pikirkan kedua Putramu. Sebelum semua terlambat dan mereka menemukan twins, keputusan ada ditanganmu, Fe."


Dika mengelus sebentar kepala sang adik kemudian beranjak pergi masuk kedalam rumah. Membiarkan Shika kembali sendiri ditaman belakang untuk memikirkan keputusannya.


*****


Semalaman Shika telah memikirkan semuanya, dan pagi ini Shika akan mengatakan kepada Dika. Shika menatap Dika dan Zoya secara bergantian, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memberitahukan keputusannya.


"Kak, Mba..." Shika menjeda kalimatnya, lidahnya terasa kelu. Melawan hati bukan sesuatu hal yang mudah.


"Fe, akan penuhi permintaan terakhir Kak Kevin." Ucap Feshika bersamaan dengan luruhnya air mata di kedua pipinya. Zoya segera bangkit memeluk adik iparnya, ia tau sang adik harus melawan perjolakan batin yang sangat kuat sebelum keputusan itu diambil.


"Kamu yakin, Fe?" tanya Zoya.


"Yakin, Mba."


"Jika ragu jangan lakukan, karena tidak hanya menyakitimu tapi juga akan banyak hati yang tersakiti."


"Tidak Mba, Fe udah siap. Tolong bantu Fe, jangan sampai Fe goyah." Pinta Fe pada Zoya.


"Mba sama Kakakmu selalu ada untukmu Fe, apapun keputusanmu kami akan mendukung."


Dika pun bangun dari duduk menghampiri adik dan istrinya, ia memeluk kedua wanita yang ia sayangi dan sangat berarti dalam hidupnya.


Drrt


Drrt


Drrt


"Halo, Kak." Jawab seorang pria dari seberang.


"Bagaimana keadaan perusahaan disana?"


"Sejauh ini masih stabil kak, tapi..."


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Kesehatan tante Sofi semakin menurun, Kak." Lirih pria itu yang tak lain adalah adiknya Afnan.


"Kenapa kamu tidak mengabari, nan?"


"Maaf, Kak, tante Sofi melarang. Beliau tidak ingin membuat Fe semakin sedih."


"Kalau ada apa-apa segera kabari."


"Kakak meneleponmu cuma mau bilang Fe akan penuhi permintaan Kevin, kakak tau hatinya masih berat."


"Afnan yakin, Kevin sudah memikirkan semua ini, Kak. Semoga setelah ini, Kevin bisa tentang disana. Nanti, pengacara Kevin akan mengurus semuanya setelah mereka menikah."


"Afnan.."


"Iya Kak."


"Bagaimana dengan test DNA?"


"Awan harus melakukannya Kak, sebaiknya Kakak bicarakan dengan Awan tentang masalah ini."


"Baiklah."


Setelah mengakhiri percakapan dengan Afnan, Dika segera menghubungi Awan. Kebetulan hari ini Awan tidak memiliki jadwal yang padat, disinilah mereka saat ini diruangan Awan. Karena Dika tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka, beruntung twins tidak ikut karena sedang bersama dengan Oji dan Oyu nya.


"Ada apa, Kak? sepertinya sangat penting."


"Iya penting, ini sangat penting. Menyangkut Ken dan Zie."


"Kamu harus melakukan test DNA, agar twins terbukti anakmu."


"Tapi itu tidak mungkin Kak, sudah pasti hasilnya tidak akan cocok."


"Kakak tau, kamu hanya perlu melakukan testnya, untuk hasilnya biar jadi urusan Kakak. Kakak tidak akan membiarkan kamu dalam masalah, lakukan dan percaya sama Kakak."


"Jangan bilang kalau Kakak...?" Dika mengangguk."


"Astagaa...Kak, aku bahkan lupa kalau Kakak berteman dengan mafia."


*****


Dika tidak ingin menunda lagi, sebelum adiknya Fe berubah pikiran. Setelah pertemuannya dengan Awan siang tadi, Dika juga meminta Awan dan kedua orang tuanya datang kerumah untuk membicarakan tentang pernikahan mereka. Mungkin terkesan mendadak tapi lebih cepat lebih baik.


"Papiii..." Teriak dua bocah tampan itu sambil berlari menghampiri sang Papi.


"Hai, jagoan Papi.. Sudah tidak rindu dengan Papi ya?"


"Rindu dong Pi," sahut Ken sembari mencium pipi sang Papi.


"Adik Zie tidak?" Dika memasang wajah sedih kepada Zie.

__ADS_1


"Lindu juga Pi, sangat lindu."


Dika meraih keduanya membawa kedalam gendongannya, melangkah menghampiri Awan dan kedua orang tuanya. Kemudian menurunkan kedua bocil tampan itu dan mendudukan mereka diatas sofa.


"Apa kabar Ma-Pa?" Menyalami kedua sahabat orang tuanya yang sudah dianggap orang tua sendiri.


"Kami sehat, Nak. Mana istri sama anak kamu?" tanya Mama Jihan.


"Zoya ada dibelakang Ma, sedang siapin makan malam. Kalau Xena udah balik asrama, Ma."


"Kamu benar-benar ya, masih kecil udah dimasukin asrama. Ngga kasian anaknya."


"Xena sendiri yang minta, Ma. Dia sama seperti Fe kecil maunya mandiri tidak ingin indetitasnya diketahui, Dika sama Zoya ikuti aja selama itu baik."


Tak lama Zoya datang, mengajak mereka untuk makan malam terlebih dahulu. Sedangkan Shika tidak tau akan kedatangan mereka malam ini karena Dika tidak mengatakan padanya. Zoya meminta twins untuk memanggil Mommy mereka dikamarnya, sekalian memberikan kejutan akan kedatangan mereka.


"Kak, kita buka pintunya baleng-baleng ya?" pinta Zie dibalas sebuah anggukan oleh Ken.


Satu


Dua


Tiga


"Mommy...." Teriak mereka bersama saat pintu kamar terbuka, Shika yang sedang duduk didepan meja rias menjatuhkan ponselnya karena terlonjak kaget dengan suara kedua Putranya.


"Kalian...?"


"Sayang, Mommy kangen banget." Memeluk kedua anaknya memberikan kecupan di pipi gembul kedua bocah itu.


"Kami juga, Mom. Ayok Mom kita makan, Zie udah lapal."


Zie menarik tangan Shika untuk ikut dengannya. Dengan senyum diwajahnya Shika mengikuti kedua balita tampan itu dengan kedua tangannya digenggam oleh anaknya kiri dan kanan.


Sampai diruang makan, Shika sangat terkejut melihat kehadiran orang tua Awan disana. Ada rasa canggung dihatinya, kedua orang tua itu saling pandang mengisyaratkan sesuatu diantara mereka hingga kemudian Jihan bangun dari duduknya menghampiri Shika yang masih berdiri.


"Jangan ingat yang sudah berlalu," Jihan merengkuh tubuh Shika, membelai lembut rambut Ibu tiga anak itu.


"Maaf,"


"Sssstt... tidak ada yang perlu dimaafkan, sudah jangan menangis. Nanti anakmu yang bijak itu bertanya lagi kenapa Mommy nya menangis." Jihan dengan penuh kelembutan menyeka air mata Shika.


Setelah makan malam, kini mereka berkumpul diruang keluarga seperti keinginan Dika ingin membicarakan tentang pernikahan Awan dan adiknya. Mereka semua telah sepakat dan telah menentukan tanggalnya, tapi masih terselip keraguan dihati Shika akan statusnya.


"Mama sama Papa, tidak masalah. Kami bisa menerima anak-anakmu kenapa tidak bisa menerima Ibunya, bukan begitu Pa?" jelas Jihan seraya bertanya pada suaminya.


"Itu hanya status, setelah menikah kamu akan kembali menyandang status sebagai istri. Jangan berpikir terlalu jauh, ikutin aja alur yang sudah dibuat oleh author. Hahaha."


Shika merasa lebih tenang, tidak ada yang berubah dari kedua orang tua itu mereka masih tetap hangat seperti awal pertemuan. Dua keluarga itu tampak bahagia, hanya Shika saja yang harus menguatkan hatinya lagi untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2