Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
60 - Dilema


__ADS_3

Edgar dilanda dilema, pistol yang berada ditangannya terlepas jatuh kelantai. Bayang-bayang masa lalu saat bersama sang Ayah berputar dipikirannya, hatinya bergejolak. Disaat Edgar sedang berperang dengan hatinya, Delas dengan tiba-tiba menodongkan pistol dibelakang kepalanya membuat kesadaran Edgar kembali.


"Sudah cukup bermain-mainnya Edgar!" seru Delas dari balik punggungnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Edgar.


"Hahaha.... Kau tanya apa yang ku lakukan? tentu saja melakukan apa yang seharusnya aku lakukan dari dulu. Jika aku tau kau memiliki sebagian aset Ardhinata, sudah sejak dulu aku mempaketkanmu menyusul keluargamu." Ujar Delas.


"Apa maksudmu?" Edgar tampak terkejut dengan pernyataan Delas.


"Maksudku? emm... maksudku adalah aku menginginkan semua aset itu, jika kau tidak memberikannya padaku. Maka dengan sangat terpaksa kau akan bernasib sama dengan keluargamu," ancam Delas dengan pistol masih berada kepala Edgar.


"Kau!! penghianat. Kau yang membunuh istri dan anakku!" bentak Edgar.


"Sayang sekali kenapa kau baru menyadarinya sekarang! tapi tidak apa, itu lebih baik. Karena sekarang penerus Ardhinata ada dalam genggamanku, sebentar lagi aku akan menjadi penguasa terkaya didunia ini."


Bugh


Delas memukul kepala Edgar dengan pistol, ketika Edgar ingin menghajarnya. Membuat darah segar mengalir dari kepala Edgar, Delas menatapnya dengan seringai di wajahnya.


"Itu akibat kau berani melawanku, tetaplah menurut padaku jika kau ingin selamat. Kurung dia!" titah Delas pada anak buahnya.


"Jangan ada yang berani coba kabur dari sini, kalau kalian tidak ingin melihat bocah itu meregang nyawa." Setelah memberi peringatan Delas meninggalkan tempat itu. Malam ini juga ia akan memindahkan seluruh aset keluarga Ardhinata kedalam kekuasaannya.


Edgar yang masih pingsan diikat dan dikurung diruang tersebut bersama Awan dan yang lain. Kepalanya masih mengeluarkan darah, Shika yang melihat itu menjadi kasian.


"Kak," lirih Shika menolah dengan mata sayu pada suaminya yang duduk disebelahnya.


"Ray, kita harus gerak."


"Caranya?"


"Lo bantu bukain ikatan gue," Awan bergerak menggeserkan kursinya perlahan mendekati Ray bergitu juga Ray, sangat sulit karena kondisi tubuh mereka yang terikat. Tapi mereka terus berusaha.


*****


Disisi lain Dika berhasil masuk kedalam rumah itu, sementara diluar Alex dibantu Edo beserta anak buahnya berhasil melumpuhkan anak buah Delas.


Sementara Delas sendiri setelah meninggalkan gudang dimana ia menyekap Shika dan yang lain, ia segera kembali ke ruangan yang dimana ia bisa menjalankan rencananya yaitu memindahkan seluruh aset milik Ardhinata menjadi miliknya.


Adit yang sedang tertidur, secara paksa dibangunkan oleh Delas. Ia harus cepat sebelum orang yang datang menyerang tempatnya itu, menemukannya dan menggagalkan rencananya.

__ADS_1


"Bangunkan dia," Delas meminta anak buahnya membangunkan Adit yang tertidur diatas kursi.


Adit yang masih ketakutan bangun dengan menundukkan kepalanya, ia takut melihat Delas yang menatapanya.


"Aku mau Mommy!" ucap Adit.


"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu kalau kau mau bekerja sama denganku membuka semua akses ini. Setelah selesai aku akan mengantarmu pada Mommy mu itu." Kata Delas membujuk dengan menunjukkan laptop yang berada didepannya yang sudah tersambung dengan sebuah alat yang canggih berbentuk persegi seperti pemindai, Adit hanya diam saja melihat layar laptop dan alat tersebut dengan wajah polosnya.


"Cepat, letakkan tanganmu disana kalau kau ingin cepat bertemu Mommy mu." Titah Delas sambil menarik tangan Adit dan meletakkannya diatas tempat yang berbentuk persegi itu.


Tapi sayangnya, sidik jari Adit tidak terdeteksi. Delas mengulang sampai beberapa kali, namun hasilnya tetap sama.


"Brengsek, kenapa alat ini tidak berfungsi. Kalian berani bermain-main denganku." Ucap Delas sangat geram, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras ia merasa seakan sedang dipermainkan. Padahal ia sendiri yang melakukan kesalahannya.


Braaakk


Pintu ruangan tempat Delas berada terbuka setelah didobrak oleh Dika, secara bersamaan mereka saling mengarahkan pistol siap menembak. Adit yang melihat sang Papi langsung berlari kearah Dika, Delas yang menyadari itu melepaskan tembakan kearah Adit.


"Papiiii..." jerit Adit.


Dorr


Peluru tepat mengenai lengan Dika, karena ketika Adit berlari Dika langsung membaca gerakan Delas yang akan menembak. Dengan gesit Dika melindungi Adit dengan tubuhnya.


"Kenapa kau menginginkan Putraku?" tanya Dika.


"Hahaha.. Putramu? jangan bercanda, dia keturunan Ardhinata tidak ada hubungannya denganmu. Cepat berikan dia padaku." Ucap Delas.


"Tentu saja dia saja ada hubungannya denganku, dia keturunan Anggara bukan Ardhinata. Didalam tubuhnya mengalir darah yang sama denganku, dan kau berani menculik dan menyekapnya!" Dika pun tak kalah tajam menatap Delas.


Jadi bocah ini, bukan keturunan Ardhinata. Itu tidak mungkin, dia memanggil perempuan itu dengan sebutan Mommy. Tapi sensor sidik jarinya sama sekali tidak terbaca. Monolog Delas dalam hatinya.


Lalu matanya melirik layar laptop yang menampilkan tulisan ditolak. Dika tersenyum miring, Dika tau apa yang diinginkan laki-laki itu. "Jadi kau orang yang ingin menguasai harta Ardhinata?" tebak Dika, sontak Delas terkejut.


"Kenapa kau terkejut?" tanya Dika dengan senyum meremehkan. "Ternyata kau tidak sepintar dari yang aku pikirkan, kau menculik anak yang salah!" sindir Dika.


"Kau, berani sekali kau..."


Delas merasa terhina kembali melepaskan tembakannya tapi disaat itu juga Alex tiba dan menembak kearah Delas. Alhasil pistol yang dipegang Delas terlempar kesembarang arah sebelum ia menekan pelatuknya.


Delas panik, "Tembak mereka," perintah Delas pada anak buahnya, mereka kalah jumlah. Aksi saling serang pun terjadi, Delas melarikan diri dari sebuah pintu yang tak jauh dari tempat ia berdiri.

__ADS_1


Alex yang ingin mengejar Delas, melihat Dika memeluk seorang bocah dengan baju pada lengan sebelah kirinya basah dengan darah mengurungkan niatnya.


"Anda terluka, Tuan." Alex sudah berjongkok didepan Dika


"Saya tidak apa-apa, tolong kamu bawa dia. Saya akan mengejar laki-laki itu," Dika meminta Alex membawa Adit keluar dari sana.


*****


Ray berhasil melepaskan ikatan tali ditangan Awan, lalu ia bergegas membuka lilitan tali ditubuhnya. Kemudian Awan membantu Ray melepaskan ikatannya, saat Awan sedang membuka ikatan Shika. Pintu dibuka dari luar dan masuk beberapa orang bersenjata, Awan berdiri dihadapan istrinya untuk melindungi istrinya.


"Anda tidak apa, Tuan?" tanya seorang pria yang masuk terakhir. Dia adalah Edo yang berhasil menemukan tempat penyekapan mereka.


Ray bernafas lega, begitu mengetahui itu anak buah Kakaknya. "Iya, kami tidak apa-apa." Sahut Ray, kemudian ia berjalan kearah Edgar memeriksa keadaan pria tua itu.


"Denyut nadinya melemah, kita harus segera keluar dari sini," Ray mengangkat wajahnya melihat Awan dan Shika, setelah ia mengecek denyut nadi Edgar. Dibalas anggukan oleh Awan dan Shika.


"Tolong bantu saya membawa pria ini," kata Ray pada Edo, Edo pun meminta dua anak buahnya untul menggotong tubuh Edgar keluar dari tempat itu.


Awan menggendong Shika yang sangat lemas dan pucat, telapak tangan Shika yang menyentuh leher Awan terasa dingin. Shika meringis kala merasa perut bagian bawahnya nyeri.


"Kak, sakit!" lirih Shika. Kepalanya ia letakan diceruk leher Awan.


"Apa yang sakit?" tanya Awan cemas.


"Perut aku sakit, Kak!" keringat membasahi pelipisnya.


"Kita harus cepat kerumah sakit, Wan." Sela Ray yang berjalan disamping Awan. Ia juga khawatir dengan keadaan sang adik yang sangat pucat seperti mayat.


"Sayang, bertahanlah! kalian kuat." Awan berjalan cepat menuju mobil.


Kini mereka dalam perjalanan kerumah sakit dengan Ray yang menyetir, di mobil yang lain juga ada Edgar yang terluka, mobil mereka dikawal oleh anak buah dari Papa Yudha atas perintah Edo. Saat dalam perjalan menuju rumah sakit, Shika kehilangan kesadarannya membuat Awan semakin takut.


"Lo tenang, Wan. Mending lo hubungi Rizal, minta dia kerumah sakit sekarang." Ujar Ray, dengan tetap fokus melihat kedepan.


*****


Rizal yang di hubungi oleh Awan sudah sampai dirumah sakit, ia beserta suster sudah menunggu didepan IGD. Beberapa menit kemudian mobil yang dikemudi oleh Ray dengan kecepatan tinggi masuk pelataran rumah sakit. Ray memberhentikan mobilnya tepat didepan IGD.


Ray dengan cepat keluar dari mobil membantu Awan membuka pintu, Awan menggendong tubuh Shika, lalu membaringkannya diatas brangkar.


"Zal, tolongi istri gue!" mohon Awan pada Dokter Rizal dengan berlinang air mata.

__ADS_1


"Gue akan lakukan yang terbaik." Sahut Dokter Rizal.


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2