
Seorang wanita melangkah dengan begitu anggun dan penuh percaya diri menyusuri koridor rumah sakit. Dengan snelli lengan panjang menambah penampilan menjadi begitu sempurna, tubuhnya yang proposional, kulit putih, wajah cantik mampu menarik dan membuat orang tertegun ketika menatap wajah itu. Ia melangkah dengan tegap menuju poli kulit dimana ia akan bertugas dan mengabdi menunjukkan keahlian yang dimilikinya sebagai seorang Dokter Spesialis Kulit-Kelamin.
Ia sedang fokus mencari ruangan itu tanpa memperhatikan jalan hingga menabrak seorang pria yang sedang berbicara dengan seorang suster.
Bugh
"Sorry, sorry, saya ngga perhatikan jalan," ucap wanita itu dengan wajah penuh penyesalan, kemudian ia berjongkok mengumpulkan kertas-kertas yang berceceran dilantai.
"Tidak apa-apa," sahut Arya lelaki yang ditabrak oleh wanita itu. Kemudian ia ikut berjongkok, membantu wanita itu mengumpulkan kertas-kertasnya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Bella," wanita itu menjulurkan tangannya.
"Arya." Menyambut uluran tangan Bella.
"Maaf, Dokter baru?" tanya Arya setelah memperhatikan penampilan Bella.
"Iya, saya Dokter baru disini dan ini hari pertama saya bergabung dirumah sakit ini. Saya sedang mencari poli kulit-kelamin."
"Poli kulit-kelamin? anda Dokter kulit-kelamin?"
"Iya." Jawab Bella dengan ramah seraya tersenyum.
"Suster, tolong antarkan Dokter Bella ke poli kulit. Untuk pasien tadi, nanti saya visite ulang." Pinta Arya pada suster yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi kedua manusia berlainan gender itu.
"Baik, Dok. Mari Dokter ikut saya."
"Saya permisi, Dok. Sekali lagi terima kasih bantuannya." Arya hanya membalas mengangguk.
"Ck, itu muka licin amat udah kayak porselin. Lalat aja bisa langsung nyungsep kalau mampir di wajahnya." Gumam Arya setelah kepergian suster dan Bella hadapannya, ia pun berbalik kembali menuju ke ruangannya.
*****
Awan sedang menunggu jadwal operasi yang akan dilakukan satu jam lagi, ia fokus membaca lembar demi lembar tentang riwayat pasien yang akan ditanganinya. Terdengar ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Papa," gumamnya saat melihat nama yang muncul dilayar, lalu menggeser tombol hijau menerima panggilan dari sang Papa.
"Halo Pa.." Sapa Awan.
"Halo, Son. Apakabar cucu-cucu Papa?"
__ADS_1
"Papa tidak menanyakan kabarku!"
"Tidak, karena dari suaramu Papa yakin kau sangat baik."
Awan mendengus, "Mereka baik Pa, sangat baik."
Yudha tergelak diseberang sana, ia tau Putranya itu sedang kesal. "Kau ini dengan anak sendiri pun cemburu." Yudha masih terkekeh.
"Awan mau juga butuh perhatian Papa."
"Ck, kau ini!" Yudha berdecak. kemudian terdengar helaan nafas berat dari sang Papa.
"Ada apa, Pa?" tanya Awan merasa ada sesuatu yang menjadi beban Papanya.
"Wan, ada yang ingin Papa sampaikan,"
"Apa Pa?" jujur perasaan Awan menjadi was-was. Semoga tidak ada hubungannya dengan anak-anak, pikirnya.
"Twins dalam bahaya!"
Deg
Apa yang ia takutkan terjadi, berharap ia salah mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha sang Papa.
"Papa serius, Wan. Saat ini dia sudah berada di Indonesia."
Jedderr
Dunia Awan terasa bagai disambar petir, Awan mengusap wajahnya dengan kasar, baru juga ia merasa kebahagiaan rumah tangganya sudah diuji akan keselamatan anak-anaknya.
"Bagaimana dia bisa ada dinegara ini, Pa? tidak mungkin kan dia tau tentang anak-anak? pasti ini hanya kebetulan." sanggah Awan.
"Anak buah Papa sudah melacaknya, karena itulah Papa langsung menghubungimu. Keamanan kalian juga sudah Papa perketat, tapi mereka hanya bisa menjaga kalian dari jauh agar tidak menimbulkan kecurigaan Edgar." Yudha mengeram saat menyebut nama orang yang sangat ingin dihabisinya itu detik ini juga. Tapi ia tidak boleh gegabah.
"Edgar, Pa?"
"Iya, namanya Edgar dia dalang dibalik kejadian dalam keluarga mendiang Kevin, terutama kematian Anton." Ucap Yudha sendu, ia sudah melihat video rekaman dari CCTV tersembunyi dalam rumah Keluarga Kevin yang berhasil dilacak oleh salah satu Hacker andalannya. Disana terekam jelas, bagaimana Anton meregang nyawa dengan begitu tragis dihadapan sang istri sehingga membuat Sofi mengalami trauma akut.
"Sementara ini, dia hanya tau anak mendiang Kevin berada disana, bahkan dia sudah mencari keseluruh rumah sakit dan sekolah. Tapi pencariannya tidak membuahkan hasil, Papa belum tau apa yang akan dilakukannya karena dia pasti mencari data dengan latar belakang keluarga Kevin." Jelas Yudha lagi.
"Ingat Wan, dia seorang yang sangat licik. Cepat atau lambat dia pasti akan menemukan kedua Putramu." Yudha mengingatkan anaknya untuk lebih hati-hati lagi, karena orang yang dihadapi sekarang bukan seperti Edgar puluhan tahun lalu.
"Apa hubungannya dia dengan keluarga mendiang Kevin, Pa?"
__ADS_1
"Papa belum tau pasti apa hubungan mereka, jika masih ada hubungan saudara, sejauh yang Papa tau baik Anton maupun Sofi tidak memiliki kerabat yang bernama Edgar."
Hening!
"Pa, kecelakaan yang menimpa Kevin apa ulah Edgar juga?"
Yudha menghela nafasnya dalam-dalam, "Kecelakaan yang dialami Kevin, hasil dari sabotase. Papa belum menemukan bukti, karena pelakunya sendiri ditemukan tewas bunuh diri dengan cara minum racun disebuah rumah tua."
"Berat dugaan, Papa yakin Edgar terlibat didalamnya dari cara kerjanya yang sangat rapi, kita harus mengumpulkan bukti yang kuat jika ingin menyeretnya kejalur hukum karena saat ini ia dilindungi oleh aliansi bawah tanah. Papa akan coba bicara ini sama Dika."
Awan mengepal tangannya membuat buku-buku jarinya memutih emosinya terpancing mengetahui dalang dibalik kematian keluarga anak-anaknya.
Jika terbukti pria itu yang membuat anak-anaknya menjadi yatim diusia balita, aku sendiri yang akan menghabisinya! batin Awan.
"Pa, akan sangat berbahaya jika Kak Dika nekat bertemu dengan mereka."
"Kamu percayakan, sama Papa?"
*****
"Ray... Dokter Rayendra!" pekik Arya.
Ray menoleh, menghela nafasnya menatap sahabatnya itu. Alisnya berkerut, kenapa sahabatnya itu teriak-teriak.
"Apaan? bisa ngga sih ngga usah pakai teriak-teriak, lo lupa lagi diarea rumah sakit. Napa lo terburu-buru kayak lagi dikejar setan." Omel Ray.
"Lo udah kayak emak-emak aja ngomel, gue mau nanya? ada wajah baru ya disini?" tanya Arya.
"Wajah baru? maksud lo apa sih, ngomong yang jelas!" mereka berdua berbicara sambil melangkah.
"Dokter baru, Ray. Itu aja lo kagak ngerti." Ujar Arya membuat langkah Ray berhenti, menatap lekat sahabatnya itu.
"Dokter baru?" tanya Ray dengan kening berkerut. Arya mengangguk bingung dengan reaksi Ray.
"Serius lo? kok gue ngga tau!" lanjut Ray lagi seraya mengingat-ingat, ia tidak pernah menerima berkas untuk calon Dokter baru.
"Serius lo ngga tau? lah, tadi dia ngga sengaja nabrak gue pas cari poli kulit. Namanya Bella, dia Dokter kulit-kelamin." Jelas Arya lagi.
"Nanti gue cek, gue mau keruangan Awan. Ada yang mau gue omongin sama dia."
"Gue ikut,"
"Kayak anak itik aja lo ikut-ikut!"
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄