Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
67 - Kumpul Keluarga


__ADS_3

Shika menghembuskan nafas lewat mulutnya secara perlahan setelah turun dari mobil, padahal ia hanya turun dari mobil tapi sudah seperti abis turun gunung. Awan tersenyum melihat istrinya yang kepayahan.


“Makanya sayang, jangan kebanyakan makannya. Engapkan jadinya.” Awan mengulum senyumnya melihat tatapan horor istrinya.


“Anak Kakak nih, yang doyan makan. Apa-apa maunya double!” ketus Shika cemberut menunjuk perutnya.


“Hei, kalian kenapa masih disitu. Ngga mau masuk?” tegur Ray dari depan pintu, membuat atensi Awan dan Shika teralihkan padanya. Mereka melihat Ray yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang.


“Udah seperti emak-emak yang nungguin anak gadisnya pulang aja lo.” Awan menyindir sahabatnya.


“Emang! lo kan bawa adik gadis gue.” Sahut Ray asal.


“Lo liat noh, perutnya udah memblendung gini. Lo kata gadis.”


“Udah, buruan masuk. Laper gue, nungguin kalian lama banget!” Ray langsung membalikkan badannya masuk kedalam rumah.


“Kakak kamu, sepertinya ngga dapat jatah. Makanya asem kecut gitu.”


Plaakk


“Kok dipukul, dicium dong sayang.” Ucap Awan menoel dagu istrinya.


Malam ini mereka berkumpul untuk makan malam bersama dirumah Dika, karena kesibukan masing-masing membuat mereka kesulitan mengatur waktu mereka. Apalagi Dika yang sedang mengerjakan sebuah proyek besar di London yang mengharuskannya bolak-balik Jakarta-London, proyek ini bekerja sama dengan Perusahaan milik mendiang Kevin yang nantinya saat twin besar akan menjadi milik mereka.

__ADS_1


Saat ini Perusahaan itu dikelola oleh Afnan, karena Shika tidak akan mungkin lagi bolak-balik Jakarta-London setelah ia menikah ditambah dengan kondisi yang sedang hamil.


“Daddy..”


“Mommy..” Seru twin sambil berlari kearah kedua orang tuanya meninggalkan cemilan mereka ketika Daddy dan Mommy nya sudah berdiri di ambang pintu menuju halaman belakang.


“Hai, jagoan.” Awan segera jongkok untuk menyambut kedua Putranya.


“Daddy kenapa lama sekali datangnya?” tanya Ken.


“Iya, Zie cape tau tungguinnya.” Protes kedua bocah tampan itu.


“Maafkan Daddy sama Mommy ya sayang, Daddy tadi bawa Mommy dulu ke Dokter.”


“Tidak sayang, Mommy lihat adik bayi.” Jawab Shika tersenyum sembari mengusap kepala Putranya.


“Adik bayinya udah bisa dilihat?” tanya Ken.


“Kenapa Mommy tidak mengajak Zie, Zie juga mau lihat adik bayinya.” Zie menunduk dengan cemberut.


“Heii, kenapa anak Daddy cemberut. Nanti sewaktu Mommy lihat adik bayinya lagi, Daddy akan mengajak Zie sama Kak Ken.” Bujuk Awan.


“Benal Dad?” Awan mengangguk, “Tentu saja, sekarang senyum dong jangan cemberut lagi. Nanti ketampanan anak Daddy hilang.” Awan mencubit pipi Zie. Senyum kembali terbit diwajah bocah yang kesulitan untuk mengucapkan huruf R itu.

__ADS_1


“Anak Bunda..” Panggil seorang wanita yang sudah tidak lagi muda yang datang dari arah belakang.


“Bunda..” Kalau saja sedang tidak hamil besar, mungkin ia sudah berlari kearah wanita yang di panggilnya Bunda itu seperti dulu.


“Apa kata Dokter? kembar lagi?” tanya Bunda yang sudah dikabari kalau hari ini Shika kontrol kandungannya, Bunda Santi memegang perut Shika.


“Ngga Bun, cuma satu.” Jawab Shika,


“Tapi seperti perut kamu waktu hamil twin dulu,” ujar Bunda Santi heran.


“Mungkin karena berat badan Shika yang naik banyak Bun, jadi ngaruh sama bentuk perutnya.” Karena bentuk badan Shika sangat jauh saat dia hamil twin dulu, tidak melebar seperti sekarang ini.


“Makannya banyak Bun, porsi jumbo.” Sambung Awan.


“Namanya juga Ibu hamil, yang penting Ibu dan Anak sehat, lancar sampai lahiran nanti.” Ucap Bunda Santi tersenyum.


“Aamiin,” jawab Awan dan Shika.


Suasana makan malam begitu hangat, Shika yang selalu menempel pada suaminya menjadi bulan-bulanan sang Kakak Ray. Ray selalu saja ada bahan untuk meledek sang adik, berulang kali di tegur oleh Dika dan Bunda Santi, Ray tetap saja mengganggu adiknya itu.


Biasanya adiknya itu akan mengomel atau mengadu, tapi sekarang ia hanya menjawab sesuka hatinya. Fokusnya makan dan makan seakan tidak peduli dengan ledekan sang Kakak, setelahnya ia akan menempel lagi pada tubuh Suaminya. Momil satu ini emang ajaib, sudah seperti perangko saja. Maunya menempel mulu.


❄❄❄❄❄❄❄

__ADS_1


__ADS_2