Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
15 - Pawangnya Feshika


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, seorang gadis yang masih mengenakan piyama tidur bermotif pisang dengan rambut panjang yang ia cepol tinggi-tinggi sedang memporak-porandakan isi dapur. Gadis itu adalah Feshika nona muda keluarga Anggara, krusak krusuk yang diakibatkan oleh Shika membangunkan ART yang sedang berada dialam mimpi.


"Ya ampun, non. Apa yang sedang non lakuin?" melihat keadaan dapur yang subhanallah sungguh sangat menyakitkan mata. Seketika matanya terbelalak melihat penunjuk waktu yang tergantung didinding dapur.


Apa nona mudanya sedang mimpi memasak sehingga berada didapur saat yang lain sibuk dengan dunia mimpi mereka, begitulah isi kepala bi Ijah kira-kira.


"Non, tumbenan masak? non, tidak sedang mimpi masak kan?" bi ijah menatap nona mudanya dengan raut wajah khawatir.


"Tidak bi, aku sudah bangun. Lebih baik sekarang bibi tidur lagi. Aku akan memasak bekal untuk besok dan membuat beberapa kue dan cemilan lainnya." Ucap Shika. tangannya terus mengaduk adonan kue.


"Biar bibi bantu, non."


"No.. no.. noo! Bibi tidur aja, jangan ganggu Fe, okey bi?"


"Tapi non..." Shika menatap ART nya sambil menggelengkan kepala, bi Ijah yang paham kalau nona mudanya tidak ingin dibantah langsung balik badan kembali kekamarnya. Dari pada nanti merajuk malah susah untuk bujuknya lebih baik bi Ijah cari aman.


Shika kembali fokus melanjutkan aktifitas masak memasaknya, setelah bertempur selama hampir tiga jam lebih, semua masakan beserta kue dan teman-temannya telah berada dalam tempat mereka masing-masing.


Beberapa masakan yang masih panas ia biarkan terbuka untuk menghilangkan uap panasnya. Shika bergegas ke kamar untuk membersihkan diri, tubuhnya sangat lengket segala aroma wewangian menempel dan bercampur dengan keringatnya.


Shika memilih berendam sebentar dalam bathtub, merilekskan tubuhnya. Rasa lelah dan pegal ia rasakan, seumur-umur baru kali ini ia melakukan semua itu. Entah angin atau setan jin mana yang menempel padanya sehingga ia sanggup melakukan seorang diri tanpa mau dibantu oleh ART nya.


Shika mematut dirinya didepan cermin setelah yakin penampilan sudah sempurna, ia meraih tote bag yang berisi beberapa macam perintilan dan perlengkapannya.


Penampilannya seperti ABG, memakai celana pendek dipadu dengan baju kaos longar. Dengan rambut basah yang masih terbungkus handuk melangkah menuruni tangga. Rasa ngantuk mulai menyerangnya, Shika menemui bi Ijah yang sedang membersihkan dapur yang sudah seperti kapal pecah.


"Bi.. nanti tolong bekal yang diatas meja makan dibawa ke mobil ya! Nanti kalau ditanyain, bilang Shika diruang tengah." Ucap Shika pada bi Ijah ART nya. Terlihat Shika menguap, matanya mulai berat.


"Baik, non." Ucap bi Ijah, ia merasa kasian melihat nona mudanya tampak mengantuk dan kelelahan.


Dengan menyeret kakinya jenjangnya, Shika menuju ruang tengah mendudukan bokongnya diatas sofa, menyandarkan punggungnya. Kaki ia selonjorkan, dalam sekejap Shika sudah berselancar kealam mimpi dengan kedua tangan mendekap bantal kaki.

__ADS_1


Afnan yang tampak sudah rapi dan segar, ia merasa tenggorokannya sedikit kering berniat mengambil minum kedapur. Saat kakinya akan masuk kedalam dapur betapa terkejutnya Afnan melihat kondisi dapur seperti abis perang dunia ke satu kedua dan ketiga.


"Bi, kenapa ini da--"


"Bang..." Afnan tidak melanjutkan ucapan begitu mendengar panggilan Ray yang sedang berjalan kearahnya, mata Ray membola sempurna melihat penampakan dapur.


"Astagfirullah!!! Bi, ini kenapa? seperti abis pembantaian!"


"Maaf, den. Non Fe, abis masak." Ucap bi Ijah merasa tidak enak hati.


"Fe, masak???? tanya kedua lelaki itu secara bersamaan, mereka berdua saling pandang antara percaya atau tidak.


"Iya den, dari jam tiga tadi non Fe udah berkutat didapur masak dan juga bikin kue, katanya mau dibawa buat bekal nanti." Ucap bi Ijah sambil menunjukkan semua masakan yang sudah siap diatas meja.


"Ya ampun, tu anak. Ada aja kelakuannya." Ray geleng-geleng kepala dengan apa yang di lakukan oleh adiknya.


"Lalu dimana Fe, sekarang?" tanya Afnan kembali.


"Non Fe diruang tengah, den."


Mereka geleng-geleng kepala saat tiba diruang tengah, betapa nyenyaknya gadis itu tidur dengan kepala masih terbungkus handuk.


"Dasar bocah." Sungut Ray.


"Kayaknya, Fe baru tidur deh. Kasian, pasti dia sangat lelah." Ujar Afnan.


"Dampak Kevin sangat besar bagi, Fe." lanjut Afnan lagi. Merasa setelah Kevin kembali banyak perubahan dalam diri adiknya.


"Gue khawatir sama Awan, bang!"


"Mereka sudah dewasa, Ray. Biarlah mereka tentukan pilihan mereka sendiri, kita awasi saja. Toh, selama ini semuanya masih baik-baik aja. Abang yakin, baik Awan ataupun Kevin mereka bisa menempatkan diri. Sebaiknya kamu ceritakan tentang Kevin pada Awan."

__ADS_1


*****


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju villa, Feshika yang masih betah dialam mimpinya terpaksa digendong Afnan pindah kemobil. Afnan memposisikan pahanya sebagai bantal agar adiknya tetap tidur dengan nyaman selama di perjalanan, Shika sedikit pun tidak terusik dengan suara mereka.


"Gue engga sabar, bang, Liat Fe ngamuk!"


"Ngamuk kenapa, Ray?" tanya Awan dari balik kemudinya.


"Putri tidur dibelakang kita ini belum tau, kak Dika bawa calon istrinya,." kekeh Ray.


"Loh, kan engga apa-apa!"


"Lo kagak tau tu bocah, segala sesuatu harus dia yang pertama tau. Kalau engga siap-siap aja liat dia nangis mencak-mencak, dan kak Dika sepertinya lupa akan hal ini." Ujar Ray sambil cekikikan membayangkan kakaknya yang akan kalang kabut hadapi Shika nanti.


"Kakak lu tuh!" ledek Afnan.


"Kakak, abang juga kan?" balas Ray engga mau kalah.


"Semoga aja Kevin datang tepat waktu." Celetuk Ray tiba-tiba, sedetik kemudian ia menyesali ucapannya.


"Kevin?" alis Awan berkerut, menoleh sebentar kearah Ray yang duduk dikursi penumpang.


Afnan melihat Ray yang tampak bingung menjawab pertanyaan Awan, menjelaskan pada Awan siapa sosok Kevin dalam hidup Shika.


"Ekhem.. Kevin teman masa kecil kak Dika. Tapi, sejak Fe lahir mungkin lebih tepatnya saat Fe masih dalam kandungan Kevin sudah menemaninya. Bahkan Kevin setiap saat ajak bicara Fe yang masih ada dalam perut mami, dia yang paling antusias menunggu kelahiran Fe."


"Saat Fe mulai sekolah, Kevin tidak mengijinkan siapapun untuk antar-jemput Feshika kecuali dia ada kegiatan. Itupun sebisa mungkin dia bakal usahakan agar tetap bisa jemput Fe."


"Posesif, Kevin sangat posesif terhadap Fe. Kevin selalu menuruti kemauan Fe selama itu baik menurutnya. Kevin bahkan pernah berdebat sama kak Dika, melarang Fe ikut wisata karya yang diadakan pihak sekolahnya, Kevin menentang keras. Ujuk-ujuknya mereka babak belur karena tidak ada yang mau mengalah." Afnan terkekeh mengingat saat itu.


"Saat papi-mami meninggal, kami semua kewalahan hadapi Fe. Fe kecil terus saja berdiam diri, dia hanya menangis dan menangis. Begitu berhadapan dengan Kevin ia menjadi sangat tenang, tidak butuh waktu lama bagi Kevin mengembalikan keceriaan Fe. Bisa dibilang, Kevin pawangnya Feshika."

__ADS_1


"Satu lagi.... Kevin punya panggilannya sendiri untuk Fe, hanya dia seorang yang memanggil dengan nama itu. Kalau lo mau tau lebih lanjut tentang rival lo, tanyakan sama yang disamping lo itu. Gue cerita garis besarnya aja." Ucap Afnan dengan senyum tipis dibibirnya. Awan hanya melirik sekilas pada sahabatnya itu, Ray sendiri cuma bisa pasrah.


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2