Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
51 - Puber Ke Dua


__ADS_3

"Ada apa lagi, Kak?" tanya Shika saat menjawab panggilan telepon dari suaminya.


"Aku merindukanmu, sayang! sangat-sangat merindukanmu." Jawab Awan dari seberang.


Alis Shika bertaut, suaminya ini kenapalah. Apa ketempelan setan-setan dirumah sakit, sikapnya hari ini sangat aneh. Padahal baru satu jam yang lalu ia menghubungi istrinya, apa setiap satu jam ia akan mengulanginya lagi. Begitulah kira-kira isi pikiran Shika.


"Sayang, kenapa kamu diam saja! apa kamu tidak merindukan suamimu ini?" tanya Awan dengan lesu. Shika memijit pelipisnya, tiba-tiba kepalanya berdenyut dengan tingkah suaminya yang menjadi manja.


"Aku juga sangat merindukanmu, suamiku sayang. Cepatlah selesaikan pekerjaan Kakak dan lekas pulang. Istri dan anak-anak menunggu kepulanganmu Kak." Ujar Shika dengan begitu lembut.


"Baiklah sayang, suamimu akan segera pulang setelah selesai operasi. Kita akan makan siang bersama." Ucap Awan semangat.


"I love you, Honey. Mmmuuuaahh...."


"I love you, too. Bee. Muaah.. muaah.. muaahh."


Shika memberikan begitu banyak kecupan jarak jauh agar suaminya itu senang. Dan benar saja, didalam ruangannya Awan jingkrak-jingkrak tak karuan. Sepertinya Awan memasuki puber kedua, eh! pertama ding. Karena Awan belum pernah merasakan rasanya dicintai dari usia remaja sampai usia hampir kepala empat. Nasebmu lah, Wan!!


*****


Shika mengajak kedua Putranya untuk makan siang bersama dengan Awan, rencananya Awan yang akan pulang kerumah. Akan tetapi karena ada cito, Shika dengan senang hati yang menyambangi tempat dinas suaminya.


Kini Shika sudah duduk manis didalam ruang kerja Awan, kedua anaknya sedang sibuk dengan mainan mereka yang limited edition itu. Twins duduk lesehan diatas sebuah karpet bulu tebal yang nyaman, Awan mempersiapkannya khusus untuk anak-anaknya. Agar jika mereka lelah bermain, mereka bisa langsung tidur disana. Lengkap juga dengan selimutnya. Sementara Awan sendiri, masih berkutat dengan scalpel nya.


"Mom.." Panggil Ken.


"Iya sayang," Shika menjawab sambil menoleh kearah Ken.


"Boleh beli ice cream?" tanya Ken dengan wajah tampan imut itu, hati siapa yang sanggup menolak permintaan bocah itu.


Shika tersenyum, "Tentu, tapi setelah makan."


"Oke Mom."


Setengah jam berlalu, Awan telah selesai dengan kegiatannya di OK. Ia keluar dari ruangan itu dengan wajah lelah, namun raut wajahnya tetap terpancar aura bahagia.


Ceklek


Shika dan twins menoleh saat pintu dibuka dari luar, ketiga nya langsung tersenyum senang melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Maaf, Daddy sudah membuat kalian menunggu." Ucap Awan sambil mencium pipi kedua Putranya itu, lalu berpindah mencium kening sang istri.


"Pengennya cium disitu!" bisik Awan pelan menunjuk bibir Shika dengan bibirnya.


Shika memalingkan wajahnya, suaminya itu tidak tau tempat, sekarang ini suka sekali menggodanya.


*****


Ray melempar sebuah map diatas meja dihadapan Direktur Rumah Sakit miliknya, kemudian ia juga melempar sebuah flash disk berwarna hitam.


"Bisa anda jelaskan, Dokter Burhan!" titah Ray datar dengan tatapan mengintimidasi.


Wajah Dokter Burhan pias melihat map itu, keringat dingin mulai keluar, tangannya gemetar. Namun matanya masih memandang flash disk hitam itu, Ray yang memperhatikan arah pandangan Dokter itu tersenyum remeh.


"Flash disk itu, berisikan adegan panas anda Dokter Burhan yang terhormat." Ucap Ray dengan penuh penekanan.


"Sa..saya, mi...minta ma....maaf." Ucap Dokter Burhan terbata-bata. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani melihat kearah Ray.


Ray menaikan sebelah alisnya, "Maaf kata anda."


"Selama ini anda mendedikasikan diri anda di rumah sakit ini, anda begitu menjaga reputasi anda. Tapi, hanya karena seorang wanita anda merusak reputasi anda sendiri!"


"Apa harga diri anda hanya setara wanita seperti itu?"


"Anda di percayakan oleh mendiang Papi saya untuk memimpin Rumah Sakit ini, apa anda tidak ingat perjuangan anda puluhan tahun lalu dalam membesarkan Rumah Sakit ini hingga menjadi sebesar ini. Hanya karena ulat nangka, anda menjadi gelap mata."


"Apa kurang gaji yang diberikan oleh Rumah Sakit, sehingga anda mencari sampingan?" sindir Ray.


Ray mencecar abis-abisan Dokter Burhan dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. Ray tampak geram, orang yang selama ini di percayakan untuk memimpin Rumah Sakit miliknya yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri, tapi sanggup melakukan hal serendah itu.


"Silahkan temui bagian keuangan, mereka akan menyelesaikan semuanya."


"Dokter Ray, tolong maafkan saya. Beri saya kesempatan, saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Dokter Burhan tampak memohon, bahkan bersimpuh dihadapan Ray.


"Seharusnya anda berpikir sebelum bertindak, anda sangat tau bukan, kalau keputusan saya final dan saya tidak suka dibantah. Jadi... pintu ada disana, silahkan tinggalkan ruang ini." Tegas Ray tanpa melihat lagi.


"Pak, Ray. Saya mohon, apa yang harus saya katakan pada keluarga saya."


Ray diam saja, tapi tangannya menekan telpon diatas menjaga.

__ADS_1


"Keruangan saya!"


Tak berapa lama, datanglah dua orang Satpam.


"Bawa orang ini pergi dari hadapan saya." titah Ray tegas dan dingin.


Kedua Satpam itu, saling pandang tampak bingung melihat Direktur Rumah Sakit sedang bersimpuh.


"Kenapa masih diam, apa kalian mau saya pecat?" Kedua Satpam itu terlonjak kaget dengan bentakan dari Ray.


"Ti-tidak Dokter!" mereka bergegas membawa Direktur Rumah Sakit itu keluar, lebih tepatnya mantan Direktur. Tidak ada perlawananan dari Dokter Burhan, ia sadar kesalahannya sangatlah fatal.


Mereka sangat hapal, jika Seorang Rayendra Anggara sudah berada diruangan kebesarannya. Maka auranya akan sangat berbeda saat bersikap sebagai Dokter, dan mereka tidak mau cari mati, mati dalam artian dipecat dengan membantah perintah Bosnya itu.


Karena kesejahteraan yang diberikan oleh Rumah Sakit ini tidak akan bisa didapat di Rumah Sakit lain. Banyak yang berlomba-lomba agar bisa bekerja di sana, walaupun hanya sebagai Cleaning Services.


*****


Sesuai janjinya, Shika menemani Ken membeli ice cream dikantin Rumah Sakit. Ken berjalan lebih dulu didepan dengan sangat hati-hati membawa ice cream cup di tangannya.


Namun hal tak terduga terjadi, Bella yang sedang terburu-buru menabrak Ken membuat ice creamnya tumpah mengenai celana bahan perempuan itu sehingga membuatnya murka.


"Kau mengotori pakaianku, dasar bocah sialan!" umpat Bella mendorong tubuh kecil Ken. Shika yang sudah berada tepat dibelakang Ken, menangkap tubuh Putranya agar tidak terjerembab kelantai.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Shika, ia tidak terima anaknya disakiti.


"Heh, perempuan rendahan. Bukan urusan lo, minggir biar gue kasih pelajaran bocah sialan ini. Berani-beraninya dia kotori baju mahal gue!" geramnya menatap nyalang pada Ken.


"Siapa yang kau bilang bocah sialan, kau yang perempuan sialan!" hardik Shika, nafasnya naik turun menahan amarah.


"Kau berani mengataiku, dasar perempuan rendahan!" Bella mengangkat tangannya hendak menampar Shika, tapi sebelum pipi mulusnya ternoda oleh tangan siluman bekicot itu, Shika lebih dulu menahan tangan wanita itu. Lalu...secepat kilat.


Plaakkkk


Plaakkkk


Plaakkkk


❄❄❄❄❄❄❄

__ADS_1


__ADS_2