Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
59 - Kenyataan


__ADS_3

Awan berhasil menyelinap masuk kedalam rumah itu, dibelakangnya diikuti oleh Ray. Mereka berjalan mengendap-ngendap tanpa menimbulkan suara hingga sampai disebuah lorong panjang Awan menghentikan langkahnya, ia melihat ada dua pria berpakaian hitam yang sedang berdiri didepan sebuah pintu, mereka terlihat seperti menjaga pintu itu.


Brukk


Ray menabrak tubuh belakang Awan yang berhenti secara tiba-tiba, Awan segera menarik Ray saat melihat kedua pria itu melihat kearah mereka. Salah satu dari pria itu berjalan kearah tempat Awan untuk mengecek suara apa yang mereka dengar.


Setelah melihat sekeliling tidak ada yang mencurigakan, ia kembali ketempat semula. Awan dan Ray yang bersembunyi dibawah meja bisa bernafas lega melihat pria bertubuh besar itu tidak melihat mereka.


"Hampir saja," lirih Awan lebih terdengar seperti berbisik.


"Menurut lo, ada sesuatu ngga didalam sana?" tanya Ray, ia merasa curiga sambil mengintip kearah pintu yang dijaga itu dari bawah meja tempat mereka bersembunyi.


Keduanya saling pandang, berbicara lewat mata. Seolah mereka memikirkan hal yang sama, keduanya pun tampak menganggukan kepala.


"Kita tunggu sebentar lagi, tidak mungkin kan mereka akan berdiri disitu sampai pagi. Jika mereka tetap berjaga disana, kita harus bisa memikirkan cara lain agar bisa masuk sana dan mencari tau apa yang ada didalam sana." Awan memberi ide.


Hampir setengah jam mereka menunggu tidak ada juga tanda-tanda kedua pria berpakaian hitam itu pergi dari sana, akhirnya Awan dan Ray menjalankan rencana mereka yang lain.


Awan keluar dari balik meja, berjalan dengan pelan ia harus mengalihkan perhatian kedua pria itu untuk menjauh dari pintu itu. Sehingga Ray bisa masuk kedalam sana, walaupun itu sangat beresiko bisa saja ia akan tertangkap oleh anak buah Delas. Belum sempat ia melancarkan rencananya terdengar suara tembakan dari arah belakang rumah tersebut.


Kedua pria itu langsung meninggalkan tempat itu, kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Awan. Ray yang melihat sekeliling aman, keluar dari bawah meja menyusul Awan yang sudah lebih dulu berlari menuju pintu itu.


"Apa Kak Dika ketahuan?" tanya Awan cemas ketika Ray sudah ada didekatnya.


"Kita harus gerak cepat, Kak Dika pasti bisa mengatasinya." Sahut Ray. Tanpa membuang waktu Awan langsung menekan knop pintu tersebut, keduanya saling pandang ketika pintu terbuka hanya terlihat sebuah tangga menuju lantai bawah.


"Seperti ruang bawah tanah," tebak Awan.

__ADS_1


"Kita turun, mungkin saja mereka menyekap Fe dan Adit dibawah sana." Awan menganggukan kepalanya setuju dengan ide Ray, setelah melihat kiri dan kanan keadaan aman. Awan dan juga Ray menuruni anak tangga secara perlahan, agar tidak menimbulkan suara.


Ruangan itu seperti perpustakaan yang tidak terpakai lagi, tampak buku-buku sudah berdebu yang tersusun berantakan disana.


"Hanya ruang berdebu, kenapa harus dijaga!" Sungut Ray sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu, hingga matanya menyipit saat melihat siluet seorang perempuan dalam keadaan kaki dan tangan terikat duduk diatas sebuah sofa bekas.


"Fe!" sontak Awan menoleh dan mengikuti arah pandang Ray, matanya membola melihat keadaan sang istri. Mereka berjalan cepat mendekati Shika dengan wajah yang menunduk.


"Sayang!" Awan melepaskan ikatan tangan Shika meraih tubuh sang istri kedalam dekapannya, mengecup puncak kepalanya bertubi-tubi menumpahkan segala rasa. Awan bisa merasa kondisi sang istri sangat lemah dan tegang.


"Kak!" lirih Shika lemah, menyadari laki-laki yang sedang memeluknya saat ini adalah suaminya. Ia mencoba menguatkan diri membuka matanya, kepalanya sangat pusing.


"Fe, kita akan keluar dari sini. Bertahanlah." Ucap Ray setelah membantu Awan melepaskan ikatan dikakinya, Ray pun tak kalah panik melihat kondisi adiknya yang lemah.


"Adit, Kak. Tolongi Adit, mereka mengira Adit anaknya Kak Kevin." Shika kembali menangis dalam pelukan Awan, teringat akan keponakannya. Setelah tadi ia tertidur karena terlalu lama menangis.


"Kamu tenang dulu ya, rileks oke! pikirkan diri kamu dan anak dalam kandungan kamu ini. Kita pasti akan menolong Adit, Kak Dika juga ada disini untuk menolongnya, jadi kamu harus tenang!" Awan membelai lembut punggung istrinya, memberikan ketenangan.


"Sebaiknya kita segera keluar dari sini, sebelum mereka kembali." Usul Ray, dianggukin oleh Awan.


*****


"Berhenti!" suara bariton menghentikan langkah kaki Awan, Shika dan Ray. Ketika mereka hendak keluar dari rumah itu, tak hanya itu sebuah pistol ditodongkan dikepala Ray yang berjalan dibelakang Awan dan Shika.


"Berani melangkah, maka peluru akan meledakkan kepala lelaki ini." Ancam Edgar. Mereka sudah dikepung anak buah Edgar dan Delas.


"Om Edgar," lirih Shika membalikkan badannya, ia menatap intens pada pria tua itu.

__ADS_1


"Bawa mereka kembali kegudang." Titahnya.


Awan tidak melepaskan rangkulan pada istrinya, mereka digiring kembali kedalam gudang tanpa perlawanan.


"Om, dengan Om menyekap kami disini Om tidak akan mendapatkan apapun Om. Anak laki-laki itu bukan anak Kevin, Om. Tolong percayalah Om. Putri Kevin sudah meninggal beberapa tahun lalu, tidak mungkin Om tidak tau." Shika coba meluluhkan hati Edgar yang sudah dipenuhi oleh kebencian dan rasa iri.


"Sudah saya katakan, saya tidak percaya." Ucap Edgar.


"Tapi itu benar, Om bisa datangi pusaranya bersebelahan dengan Kak Kevin."


Edgar terdiam, kata-kata Shika sedikit mengusik hatinya.


Apa iya, kata perempuan ini. Aku memang tidak pernah mendatangi tempat itu, tapi tidak ada riwayat tentang kematian keturunan Ardhinata. Edgar berperang dengan hatinya.


"Om percayalah, semua tidak seperti yang Om pikirkan selama ini. Kakek Kak Kev tidak pernah meninggalkan Om, Kakek pergi demi keselamatan Om. Kakek ngga ada disamping Om, tapi Kakek selalu melihat Om dari jauh. Selalu memastikan bahwa Om tidak kekurangan apapun, walaupun Om bukan anaknya Kakek ngga pernah bedain Om sama Papinya Kak Kev."


Jederrr


"A-apa maksud kamu mengatakan saya bukan anaknya, hah!" Bentak Edgar membuat Awan meradang.


"Jangan pernah membentak istri saya!" hardik Awan tidak terima istrinya dibentak.


"Kak,"


"Tapi sayang," Shika menggeleng pelan.


Ia menarik nafas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak untuk menahan rasa pusing yang mendera. Shika kembali melihat Edgar.

__ADS_1


"Itulah kenyataannya, Om. Baik Kakek, Papi Anton maupun Kak Kevin tidak pernah mau mengatakan siapa Om, bagi Kakek Om tetap Putranya sampai kapanpun. Begitu juga Papi Anton, Om tetap saudaranya. Mereka begitu menyayangi Om, tapi Om hanya karena harta dengan tega membunuh mereka. Padahal tanpa Om ketahui Kakek sudah menyiapkan bagian untuk Om, sebesar apa rasa benci dan jahat Om. Kakek tidak pernah membenci Om." Shika mengatakan semua dengan berurai air mata, ia kembali teringat kondisi saat Kevin kritis.


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2