Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
62 - Ngidam


__ADS_3

"Mommy..."


"Daddy..."


Jerit Ken dan Zie saat masuk kedalam ruang perawatan Shika. Kedua bocah tampan nan menggemaskan itu datang bersama Mita dan juga Afnan yang menggandeng tangan Adit.


Awan yang sedang menyuapi sarapan Shika meletakkan mangkuk berisi bubur diatas nakas, menyambut kedatangan twin yang sangat ia rindukan. Shika ikut tersenyum senang melihat kedua Putranya datang.


"Hai jagoan Daddy," Awan meraih tubuh kedua bocah itu mencium mereka secara bergantian. kemudian mendudukkan twin disisi sang istri.


Twin juga melakukan hal yang sama mencium pipi sang Mommy.


"Gimana keadaan kamu, Fe?" tanya Afnan memeluk adik kesayangannya.


"Udah mendingan, Bang. Tapi tetap harus bed rest."


"Bosan Bang, tidur terus ngga bisa ngapa-ngapain. Mau kekamar mandi aja pakai digendong lagi." lanjut Shika dengan cemberut.


"Kamu ini, udah mau nambah anak masih aja kayak bocah. Sabar ya!" ledek Afnan menepuk-nepuk kepala sang adik.


"Mom," lirih Adit.


Shika tersenyum, membuka lebar tangannya untuk memeluk keponakannya itu.


"Kamu ngga apa kan sayang?" Adit menggeleng didalam pelukan Shika, Shika menjatuhkan ciuman bertubi-tubi dipuncak kepala keponakannya itu.


Semua yang hadir didalam ruangan itu tampak haru, melihat pemandangan didepan mata mereka. Seperti apa sayangnya Shika pada Adit terlihat jelas dimata Awan, rasa cintanya semakin bertambah dan ia merasa menjadi pria beruntung memiliki Shika sebagai istrinya yang memiliki hati begitu lembut dan tulus.


"Mommy, adik bayinya tidak pa-pa kan Mom? Om penculik tidak jadi menculiknya kan, Mom?" celutuk Zie tiba-tiba ditengah-tengah momen haru Shika dan Adit dengan mata berkedip gemas, Shika tersenyum menatap Zie.


"Adik bayinya masih ada, sayang. Tapi harus banyak istirahat, biar kuat seperti Kak Zie dan Kak Ken." Ucap Shika membelai pipi Zie.


"Bagus deh, Om penjahat juga kenapa tidak beli sendili adik bayinya. Kenapa halus culik adik Zie." Tangan Zie bersidekap didadanya, Awan dan Afnan tergelak dengan ocehan Zie.


"Kak?" Shika mendelik pada suaminya.


"Kakak tidak mengatakan seperti itu, sayang!" sanggah Awan. Memang Awan tidak mengatakan seperti apa yang diucapkan oleh Zie, entah dari mana bocah kecil dengan pipi chubby itu bisa mempunyai pikiran seperti itu.


"Sepertinya Zie akan jadi Kakak yang posesif sama adik-adiknya nanti."


Ken dan zie mereka anak yang pintar, mereka selalu diajarkan untuk jujur. Seperti saat Shika diculik Awan mengatakan yang sebenarnya pada kedua bocah itu, dan memberi pengertian pada mereka dengan bahasa yang mudah mereka pahami.


*****


"Kak, keadaan Om Edgar gimana?" Saat ini Shika hanya berdua dengan Awan, setelah twin diajak pulang oleh Afnan.


"Masih sama," sahut Awan yang mengelus-elus rambut Shika yang tidur diatas pahanya.


Shika menghela nafas panjang, raut wajahnya tampak sedih. Seperti apapun kejahatan Edgar itu semua diluar kendalinya, bahkan setelah ia tau nyawa mendiang suaminya harus melayang karena ulahnya juga. Shika tidak sedikitpun menyimpan dendam.

__ADS_1


"Jangan jadi pikiran, ingat! kamu tidak boleh stres. Biar hukum yang bekerja, Bang Afnan akan berusaha sebisa mungkin untuk meringankan hukumannya." Awan menggenggam tangan Shika menyalurkan kekuatan pada sang istri.


"By, pengen Dragon Fruit," kata Shika manja mendongakkan kepalanya menatap Awan dengan puppy eyes. Alis Awan berkerut melihat istrinya.


"Kamu panggil apa?"


"By, hubby." Ulang Shika.


"Kenapa kamu jadi sangat menggemaskan begini sayang?" Awan menekan gemas kedua pipi Shika membuat bibirnya mengerucut.


"Kaaak!!"


"No... no.. no.. panggil seperti tadi."


"By..."


"Iya sayang.. Kenapa? hm?"


"Pengen makan Dragon Fruit."


"Kamu ngidam?"


"May be,"


"Kakak akan pergi beli,"


Aduh Nak, kamu mau ngerjain Daddy ya? batin Awan.


Disaat Awan sedang berpikir keras dimana dia harus mencari orang yang menanam Dragon Fruit, Rizal masuk untuk memeriksa Shika.


Ceklek


"Waaah, romantis sekali kalian." Seru Rizal ketika masuk kedalam ruangan Shika, disuguhkan pemandangan Momil yang sedang bermanja-manja pada suaminya.


"Ah, resek lo ganggu gue aja." Awan menggeser tubuhnya turun dari atas brangkar, kemudian membetulkan posisi duduk Shika agar lebih nyaman.


"Hahahaha.... Awas manjanya jangan kebablasan! lo masih harus puasa selama sebulan." Ledek Rizal.


"Eh buset.. yang bener aja sebulan?" Awan memplototin Dokter Obgyn tersebut dengan tajam.


"Kenapa? kurang? ya udah gue tambahin tiga bulan deh, itu udah paling aman dengan kondisi istri lo." Rizal mengulum senyum ditatap horor oleh Awan.


"Ajee gileee, ngadi-ngadi lo emang! yok gelut aja kita." Awan sudah bersiap menggulung ujung lengan kemejanya.


"By, udah dong. Ayok buruan cariin, ntar anaknya ileran loh!" seru Shika, melerai perdebatan antara suaminya dan Dokter Rizal.


"Ah.. iya, jadi lupa kan gegara Dokter sableng ini?"


"Emang lo mau cari apa?"

__ADS_1


"Nah kebetulan lo tanya, lo tau dimana ada kebun Dragon Fruit?"


"Kebun Dragon Fruit? maksud lo buah naga?"


"Iya, bini gue pengen makan yang langsung dipetik dari batangnya. Kagak mau yang dibeli supermarket."


"Bagus tuh buah naga mengandung asam folat yang mampu meningkatkan kekuatan janin, apalagi untuk kandungan istri lo."


"Hmm, tapi dimana ya? gue juga kagak tau." Imbuh Rizal menopang dagunya dengan sebelah tangannya yang berpangku didepan dada. Mengingat-ingat dimana dia pernah melihat penanaman buah naga.


"Aha!" Rizal menjentikkan tangannya ketika menemukan idenya.


"Apa? lo udah tau dimana?" tanya Awan antusias.


"Bukan gue, tapi bini gue. Baru-baru ini, kalau engga salah gue dia habis tinjau lokasi budidaya buah naga, sebentar gue hubungi dia dulu."


Rizal merogoh ponsel didalam saku celananya, kemudian menekan tombol panggilan untuk menghubungi istrinya.


"Halo, Mih."


"Iya Pih, kenapa?"


"Mih, Papi boleh minta alamat tempat budidaya buah naga yang pernah Mami kunjungi."


"Ada apa, Pih?" tanya wanita dari seberang sana.


"Ini Mih, istri teman Papi lagi ngidam. Dia minta suaminya cariin buah naga merah tapi harus petik langsung dari batangnya." Jelas Rizal pada sang istri.


"Ya udah, Papi ajak kerumah aja. Soalnya Mami lagi belanja ini."


"Loh kok kerumah, Mih?" heran Rizal.


"Papih ini gimana sih, dihalaman belakang rumah kita ada pohon buah naga. Kebetulan kemarin yang Mami beli udah diantar dari tempat budidaya nya."


"Maunya merah Mih,"


"Mau merah, putih, kuning, ungu ada semua tinggal Papi liat aja. Udah ya Pih, Mami mau lanjut belanja."


Tut


Rizal geleng-geleng menatap layar ponselnya yang dimatikan sepihak oleh sang istri, istrinya itu kalau sudah yang namanya belanja paling tidak bisa diganggu.


"Lo kerumah aja, ternyata bini gue beli noh pohon naga bonar dibelakang rumah."


"Serius loh?"


"Iya, lo bisa petik sesuka hati lo. Udah dapat ijin dari Nyonya besar."


❄❄❄❄❄❄❄

__ADS_1


__ADS_2