Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
38 - Semoga Cepat Berakhir


__ADS_3

Dibelahan dunia lain, Afnan yang baru sampai di rumah setelah selesai lembur dikantornya menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Matanya terpejam terdengar helaan nafas panjang yang berat, betapa harinya ini sungguh melelahkan. Hingga ia mendengar sesuatu yang mengusik pendengarannya, perlahan matanya yang mulai berat terbuka sedikit menyipit untuk memastikan apa yang dilihatnya.


Ia melihat perawat yang bertugas merawat tante Sofi ibu kandung dari mendiang suami adiknya masuk kedalam kamar yang ditempati oleh tante Sofi. Afnan melihat jam dipergelangan tangannya sudah larut malam, membuat lelaki bertubuh tegap atletis itu merasa sedikit aneh dengan sikap perawat itu.


Ruangan yang gelap hanya pencahayaan minim dari lampu luar rumah, membuat Afnan yang berada diruang itu tidak terlihat. Sehingga Afnan mudah memantau pergerakan perawat itu, setelah perawat itu masuk kedalam kamar, Afnan bangun dari posisinya berjalan perlahan dengan kaki telanjang menuju kamar tante Sofi. Beruntungnya pintu kamar itu tidak tertutup rapat, entah sengaja atau teledor tapi itu membuat keadaan sedikit berpihak pada Afnan.


Perlahan ia mendorong pintu kamar itu agar tidak menimbulkan suara, hingga kemudian matanya terbelalak sempurna seakan bola mata itu akan keluar dari tempatnya.


"Heh, apa yang kau lakukan?" bentak Afnan begitu melihat perawat berambut pirang itu akan menyuntikan cairan ditubuh tante Sofi. Sang perawat yang terkejut dengan kedatangan tuannya, spontan melemparkan suntikan itu dan jatuh dibawah tempat tidur.


"M-maaf tuan, saya ingin menyuntikan vitamin untuk nyonya Sofi." Ucap perawat itu dengan gugup wajahnya sangat pucat bak mayat. Perawat itu yang bernama Jeni itu hanya menundukkan kepalanya tidak berani melihat tuannya yang terlihat murka.


"Apa kamu yakin? sejak kapan tante Sofi harus menerima vitamin melalui suntikan, dan ini juga sudah larut malam." Afnan tidak semudah itu percaya, menurut pemikirannya ada yang tidak beres. Karena selama ini ia juga selalu memantau sendiri pengobatan tante Sofi, hanya beberapa hari ini ia sedikit lengah karena harus mengurus perusahaan yang sedang kacau.


Afnan membungkukkan badannya ingin mengambil suntikan yang jatuh, tanpa diduganya perawat itu memukul bagian belakang kepala Afnan sampai Afnan tersungkur kelantai tak sadarkan diri kemudian perawat itu segera berlari keluar dari rumah itu. Ia tidak ingin mengambil resiko dengan tertangkap oleh tuannya, ada orang yang harus di lindungi.


Hingga pagi menjelang, Afnan terbangun saat seorang anak laki-laki membangunkannya.


"Ayah, Ayah.... Bangun," anak laki-laki itu menggoyangkan tubuh Ayahnya yang tergeletak diatas lantai lengkap dengan baju kerja yang dipakai kemarin.


Matanya mengerjap pelan, ia meringis merasa sakit dibelakang kepalanya. Kedua matanya terbuka sempurna, menampilkan senyum di wajahnya kala melihat Putranya menatapnya dengan wajah bingung.


"Kenapa Ayah tidur dilantai kamar Grandma?" tanya bocah laki-laki yang bernama Aditya. Ingatannya langsung berputar kejadian semalam, Afnan langsung bangkit dan memeriksa kondisi tante Sofi yang masih terlelap.


Hufftt


Syukur tante Sofi, masih tidur. Batin Afnan


Kemudian ia kembali berjongkok mengambil suntikan yang dijatuhkan oleh perawat tadi malam, ia memperhatikan sejenak cairan itu. Tidak ada yang salah jika dilihat sekilas, tapi ia akan menanyakan pada Dokter nanti. Afnan mengajak Putranya keluar dari dalam kamar agar tidak mengganggu istirahat tante Sofi.


"Sayang, ayo kita keluar." Adit mengangguk patuh.

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa ke kamar grandma?" tanya Afnan setelah mereka berada didepan kamar dan berjalan kearah ruang tengah.


"Tadinya mau ambil minum kedapur, yah. Tapi Adit liat pintu kamar grandma terbuka, terus waktu Adit mau tutup pintu kamar liat Ayah tidur dilantai." Jelas Adit.


"Baiklah, Ayah kekamar dulu," pamit Afnan seraya mengacak rambut anaknya, dibalas dengan sebuah anggukan oleh sang anak.


Sambil menapaki anak tangga Afnan terus berpikir tentang kejadian semalam, ia akan bertanya pada istrinya terlebih dahulu setelah itu akan menghubungi Dokter. Pintu kamar terbuka ia melihat istrinya yang sedang duduk dikursi meja rias menoleh.


"Abang baru pulang?" tanyanya dengan heran, karena biasanya Afnan kalau tidak pulang akan mengabarinya. Afnan menghela nafas panjang, menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur, mengusap kasar wajahnya semakin membuat kening istri berkerut.


"Bang, ada apa? ada masalah lagi?" tanya istrinya lagi karena tidak dapat jawaban dari suaminya. Ia sangat cemas melihat Afnan sangat berantakan seperti itu.


"Mit, kita harus mencari perawat baru!"


"Loh, kenapa? bukannya udah ada Jeni!" tanya wanita itu masih bingung.


Afnan menghirup udara sebanyak-banyaknya, "Mita, sepertinya kita telah gagal dalam menjaga tante Sofi. Semalam saat Abang pulang kerja, Abang memergoki Jeni ingin menyuntikan sesuatu ketubuh tante Sofi." Jelas Afnan.


"Abang juga ngga tau, bahkan dia memukul Abang sampai pingsan!"


"Ya Allah, bang. Abang ngga kenapa-napa kan, bang? mana, mana yang sakit, bang?" Mita panik, ia memeriksa seluruh tubuh suaminya. Afnan tersenyum dengan kelakuan istrinya, ia meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya.


"Abang ngga kenapa-napa, sayang,"


"Syukurlah," Mita bernafas lega.


"Apa yang akan Abang lakukan selanjutnya, eh bang tunggu! apa jangan-jangan penyebab kondisi tante Sofi semakin memburuk karena suntikan itu?" tanya Mita tiba-tiba, mereka saling pandang.


"Abang rasa iya, arrgghh... kenapa bisa teledor kita, Abang akan hubungi Dokter. Baru kita kabari kak Dika." Afnan merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter. Setelah berbicara dengan sang Dokter dan menunggu kedatangan Dokter untuk mengecek isi dari suntikan itu.


Afnan kemudian menghubungi Dika, karena ini masalah serius ia harus memberitahukan sang Kakak. Menunggu hingga beberapa saat baru panggilannya di jawab oleh Dika.

__ADS_1


"Iya, Nan. Gimana?"


"Kak.." Kening Dika berkerut, ia bisa menebak kalau adiknya sedang tidak dalam kondisi baik.


"Ada masalah?"


Afnan menarik nafas panjang, "Maaf!" lirih Afnan, lidahnya terasa kelu untuk berucap.


"Katakan, ada apa? tidak biasanya kamu seperti ini."


"Aku gagal menjaga tante Sofi, kak!"


"Gagal gimana? coba ceritakan." Dika masih bersikap tenang, walau sebenarnya ia sudah dapat menebak keadaan disana seperti apa. Tapi ia ingin mendengar langsung dari adiknya, Afnan menceritakan semuanya pada Dika seperti apa kejadiannya.


"Ya sudah, kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Kakak percaya, kamu udah berusaha yang terbaik."


"Untuk masalah ini, biar jadi urusan kakak. Kamu fokus pada perusahaan aja, satu lagi! kakak akan menjemput Adit pulang ke Indonesia untuk sementara waktu sampai semua masalah selesai."


"Kak!"


"Demi kebaikan Adit."


"Baiklah kak," Afnan hanya bisa pasrah.


"Kakak juga udah nambah pengawalan untuk kalian, tapi kamu juga hati-hati."


"Iya kak?"


Setelah sambungan telepon berakhir, Afnan tampak termenung dibalkon kamarnya. Pandangannya jauh melayang entah kemana, saat ini ia tidak bisa berpikir dengan tenang. Afnan berharap semoga ini cepat berakhir.


❄❄❄❄❄❄❄

__ADS_1


__ADS_2