Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
29 - Oji Dan Oyu


__ADS_3

Awan memboyong kedua Putranya pulang kerumah, mulai hari ini mereka akan tinggal bersama Awan. Biasanya rumah terlihat sepi, tapi mulai malam ini riuh dengan celoteh dan tawa dari kedua balita tampan itu.


"Dad, ini siapa?" tanya Kenzo ketika melihat sebuah bingkai foto sepasang Suami Istri yang terletak diatas buffet di ruang keluarga rumah Awan.


"Mama-Papanya Daddy, sayang. Oma Jihan sama Opa Yudha" Awan menjawab seraya mengelus kepala Ken dengan seulas senyuman.


"Kapan kita kelumah Oji dan Oyu, Dad?" tanya Zie mendongak kepala melihat Awan dengan mata bulatnya yang sangat menggemaskan.


Alis Awan berkerut, "Oji dan Oyu," ulang Awan.


Zie mengganguk cepat, "Iya Dad, Oma Jihan dan Opa Yudha." Jelasnya, Awan tersenyum mendengar Zie memanggil orang tuanya dengan nama yang lucu. Awan mensejajarkan tubuh dengan kedua bocah tampan itu.


"Anak-anak Daddy, emang pintar. Oji dan Oyu tinggal di Dubai, sayang. Tunggu Daddy dapat libur kerja ya sayang, nanti kita pergi kesana." Ujar Awan membuat kedua balita di hadapannya mengangguk serempak.


"Mau Video Call Oji dan Oyu?" tanya Awan lagi.


Keduanya mengangguk begitu semangat, Awan membawa twins duduk diatas sofa dengan posisi duduk Awan dihimpit Ken dan Zie disisi kanan dan kiri. Awan mengeluarkan ponselnya dari saku celana, mencari kontak mamanya lalu menekan tombol panggilan.


"Halo sayang!" sapa seorang wanita yang usianya tak lagi muda dengan sebuah senyuman hangat saat wajah sang Putra muncul dilayar ponselnya.


"Halo Oji..." Kedua bocah itu langsung berseru memunculkan wajah gemas mereka di depan kamera.


"Mereka...?" Mama Jihan tertegun melihat kedua balita tampan itu.


"Iya Ma," jawab Awan mengerti kebingungan sang Mama.


"Halo cucu Oma, kalian tampan-tampan sekali sayang." Mama Jihan begitu senang melihat kedua bocah laki-laki itu. Mama Jihan menganggap kedua balita laki-laki itu cucunya, setelah mendengar cerita dari Awan Putranya,


"Kami emang tampan Oji, sama sepelti Daddy. Benalkan Dad?" jawab Zie seraya bertanya pada Awan.


"Iya sayang." Awan mengacak gemas rambut Zie.


"Oji? siapa Oji?" tanya Mama Jihan bingung dengan alis berkerut.

__ADS_1


"Oji, Oma Jihan Ma. Ken dan Zie memanggil mama dengan sebutan Oji dan Papa- Oyu singkatan dari Opa Yudha." Jelas awan.


"Ya ampun, sayang. Kalian sangat lucu, Oji makin kangen kalau begini."


Tak lama Papa Yudha datang dan ikut nimbrung.


"Lagi telponan sama siapa, Ma? kayaknya asik banget." Opa Yudha duduk disamping sang Istri. Oma Jihan mengarahkan kamera ponselnya pada wajah mereka berdua.


"Ini pah, sama cucu kita,"


"Halo Oyu.."


"Hah, Oyu?"


"Iya pah, Opa Yudha. Keren ya pah, panggilannya." Papa Yudha terkekeh, mengangguk.


Mereka ngobrol hampir satu jam, hingga terlihat kedua bocah tampan itu mengantuk dan menyudahi obrolan mereka. Karena gemas melihat kelucuan kedua cucu nya, Oji Dan Oyu memutuskan pulang ke Indonesia untuk bertemu langsung dengan mereka.


*****


"Aku sangat merindukanmu, Kak." Tangisan wanita itu pecah, ia tak sanggup menahan sesak dalam dadanya. Mendekap bingkai foto itu dengan erat, kedua matanya ia pejamkan seolah sang pria yang dirindukannya sedang memeluk dirinya.


"Kamu tidak benar-benar mencintainya!" seorang pria berseru, ia membuang nafas dengan kasar melihat keadaan adiknya.


"Apa maksud Abang?" tanya wanita itu tidak mengerti.


"Jika kamu seperti ini terus, kamu menyiksanya disana, Fe! apa begini cara kamu mencintainya, hah?" tungkas Afnan.


"Abang tau gimana perasaan kamu, apa kamu lupa kalau Abang lebih dulu berada diposisi kamu seperti ini? Ingat, Fe. Kamu masih mempunyai twins yang membutuhkanmu, penuhi permintaan Kevin sebagai baktimu padanya."


"Sekarang, makanlah. Minggu depan kamu akan balik ke Indonesia, keadaan perusahaan sudah kembali stabil. Biar Abang yang menghandelnya disini."


"Satu lagi, twins sudah tinggal bersama Awan. Mereka sudah menepati janjinya pada Daddy mereka, belajarlah dari kedua Putra kecilmu itu, Fe."

__ADS_1


"Kak Awan sudah kembali?" Shika terkejut. Afnan mengganguk pelan.


"Mungkin inilah yang dinamakan takdir, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya. Selama ini kita terus mencarinya, tapi nyatanya Allah sendiri yang mendatangkan Awan."


Hidup dan mati itu pasti datang dan pergi itu hakiki. Hilang dan memiliki itulah takdir. Ingat adanya awal pasti ada akhir, ada pertemuan pasti ada perpisahan.


*****


"Sayang, kalau nanti Daddy udah engga ada. Ken sama Zie harus tinggal dengan Daddy baru ya, nak?"


"Daddy mau tinggalin kami?"


"Daddy tidak pernah meninggalkan Ken dan adik Zie, karena Daddy ada dihati kalian anak-anak Daddy. Begitu juga disini di dalam hati Daddy hanya ada Ken, Zie, Mba Kenza dan Mommy."


"Telus kenapa Daddy minta kami tinggal dengan Daddy balu?"


"Karena Daddy harus menjaga Mba Kenza, Zie harus bantu Kak Ken untuk menemukan Daddy baru. Daddy baru nanti akan menyayangi dan mencintai anak-anak Daddy dan Mommy melebihi sayang dan cintanya Daddy dan kalian juga harus menyayanginya."


"Bagaimana kami bisa menemukannya, Dad?" tanya Ken dengan wajah polosnya.


Kevin meminta sebuah foto pada asistennya yang saat ini ada diruang perawatannya itu, lalu memperlihatkan pada kedua putranya.


"Ini siapa, Dad?"


"Daddy kalian, sayang. Namanya Daddy Awan, simpanlah foto ini."


Twins mendongak melihat Kevin, "Apa anak Daddy tidak percaya dengan Daddy, hm?"


"Berjanjilah sayang, setelah bertemu Daddy Awan kalian akan tinggal bersamanya. Jangan buat Mommy sedih, Daddy minta bahagiakanlah Mommy kalian."


"Kami janji, Dad. Kami menyayangi Daddy."


"Daddy lebih menyayangi kalian twins."

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2