Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
8 - Makan Malam


__ADS_3

Awan terpaku menatap sosok dihadapannya, seorang gadis cantik berpenampilan sangat anggun dengan gaun berwarna maroon sangat kontras dikulitnya yang seputih susu. Mata Awan tak berkedip sedikit pun menatap sang gadis yang sehari-harinya hanya berpenampilan sederhana hingga sosok itu mendekat.


"Kak..."


"Cantik.." Ucapnya masih menatap lekat sosok yang kini berdiri tepat dihadapannya hanya berjarak dua langkah.


"Maksud kakak?" Shika mengerutkan keningnya.


"Kamu cantik, sangat cantik malam ini." Ucap Awan tulus karena itulah yang dilihatnya malam ini, wajah mulus dengan polesan makeup natural jangan lupa bibirnya yang semerah cherry berkilat efek lip gloss yang digunakan semakin menambah kesan sexy di mata Awan. Rasanya ia ingin mengecup kembali bibir itu.


"Oh... Cuma malam ini, kemarin-kemarin engga, gitu?" Shika pura-pura merajuk memanyunkan bibirnya dan kata-kata Shika mampu mengembalikan kesadarannya.


"Kamu selalu cantik, tapi malam ini kamu beneran sangat cantik, Shika."


Shika menatap lekat mata pria dihadapannya, menarik tangannya membawa ke meja yang telah disiapkan untuk makan malam mereka. Jika meladeninya terus tidak akan selesai, pikirnya. Suasana sangat romantis beratapkan langit malam yang bertaburan bintang dan lilin sebagai penerang, dengan taburan bunga mawar dan sebuket Casablanca Lily yang dibawa Awan untuk Shika.


Awan, boleh kagak author melipir kesitu, mupeng tau hawa-hawa romantis gitu!! kali aja ketemu babang ganteng.


"Kita kencan?"


"Menurut kakak?"


"Anggap saja begitu?" Mereka tertawa. Awan berharap waktu berhenti ia tidak ingin malam yang begitu spesial baginya cepat berakhir. Ia ingin terus berada didekat gadis itu menatapnya dan menghabiskan waktu bersama.


Salahkah Aku jika berharap lebih padamu, Shika? salahkah hatiku yang sudah terpaut padamu? Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dirimu.


Matanya mengitari sekelilingnya, tidak ada pengunjung lain diatas sini, berbeda dengan lantai bawah sangat ramai, ia kembali menatap gadis itu dengan rasa penasaran.


"Shika kamu tidak membooking resto ini kan?"


"Why..?"


"Karena tidak ada pengunjung lain disini kecuali kita berdua."


Shika tersenyum "Sekarang kita makan dulu, keburu makanannya dingin." Awan mengangguk pasrah, dipikirannya tersimpan begitu banyak pertanyaan. Gadis didepannya benar-benar misterius. Awan memotong steak menyuapi kedalam mulutnya, menikmati setiap kunyahan itu ia melihat Shika yang sedang menatapnya dengan lekat seolah paham arti tatapan itu.


"Enak..."


"Benarkah?"

__ADS_1


"He em... kakak suka."


"Syukurlah, kalau kakak suka. Itu steak special buat kakak, aku sendiri loh yang masak tentunya didampingi sama chef nya. Hehehehehe..."


"Hahh...! Jangan bilang kamu mengeluarkan banyak uang untuk makan malam ini?" lagi-lagi Shika hanya menggeleng lalu tersenyum.


"Resto ini milik aku kak dan aku hanya minta tolong bantuan chefnya untuk membimbing aku?" ucap Shika dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Serius kamu?" tanya Awan.


Shika mengangguk cepat. "Duarius malahan." Shika terkekeh.


Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Ditemanin alunan musik jazz keduanya kembali menikmati menu makan malam yang telah disiapkan Shika.


"Kak, maafin Shika ya? Shika engga ada maksud mempermainkan hati kakak." Ucap Shika begitu makan malam mereka selesai.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. kita buka lembaran baru."


"Makasih, kak."


Awan mengangguk lalu kembali memperhatikan setiap sudut resto itu.


Shika tersenyum "Kakak salah, yang kelola semua ini orang kepercayaan kak Dika. Ya.. walaupun semua modalnya dari Shika, tetap saja kemajuan resto ini karena hasil kerja kerasnya."


Awan tidak bisa berkata-kata lagi. Terlalu banyak kejutan yang diberikan oleh gadis yang telah mencuri hatinya itu. Setelah ini entah kejutan apalagi yang akan diberikan sang gadis. Awan semakin penasaran dengan sosok yang duduk diseberang mejanya itu, gadis manja berhati lembut, lebih suka tampil sederhana dan apa adanya tidak pernah menggunakan kekuasaan keluarga besarnya. Kalau gadis-gadis lain pasti akan memamerkan harta dan tahta keluarga demi menjulang popularitas.


*****


Dikediaman Anggara, Dika sedang menunggu adiknya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tetapi Shika belum berada dirumah.


"Belum tidur, kak?" tanya Ray yang baru turun dari lantai atas.


"Nunggu Fe, jam segini belum pulang." Ada kecemasan dari raut wajahnya.


"Lagi ma--" belum selesai kalimatnya sudah terdengar teriakan dari ruang depan, siapa lagi kalau bukan tuan putri Anggara.


"Kakaaaaakkkk.... Aku pulaaaang..."


"Nah, panjang umur tuh anak."

__ADS_1


Keduanya bergegas kedepan dan melihat sang adik sedang membelakangi mereka dengan kaki polos, ia sedang fokus melihat kearah luar teras depan, keduanya saling pandang lalu berjalan mendekati Shika ingin mengetahui apa yang sedang dilihat sang adik sehingga membuatnya tidak langsung masuk kedalam.


"Mana sepatu kamu? kenapa nyeker gitu?"


Shika terjekit "Astagfirullah Kakak... bikin kaget aja!" mengusap-usap dadanya. "Pegel kak pake heel." imbuhnya.


"Lagian kamu bukannya masuk, malah berdiri disini. Lagi liat apa sih?" kali ini Ray yang bertanya.


"Itu, nungguin kak Awan lagi terima panggilan telpon." menunjuk kearah Awan yang sedang berada disamping mobil. Setelah mengakhiri panggilan, Awan segera menemui ketiganya hendak berpamitan karena harus segera kerumah sakit.


"Maaf kak, telat antar Shika pulang. Sekalian mau ijin langsung balik."


"Makasih udah antarin anak manja ini pulang, apa dia nyusahin kamu?" tanya Dika sambil mengacak rambut Shika. Awan hanya tersenyum melihat muka kesal Shika.


"Sama-sama, kak. Kalau gitu saya langsung pamit. Permisi..."


"Makasih, bro." Awan hanya mengangguk, meninggalkan ketiganya menuju mobil.


Setelah mobil Awan melewati gerbang mereka masuk kedalam rumah dengan Shika berjalan sambil memeluk Dika.


"Cerita donk sama kakak, kemana sama Awan. Kayaknya senang banget."


Mereka memilih duduk diruang tengah, sudah sangat lama Shika tidak pernah lagi cerita tentang kesehariannya. Dan sekarang ia akan mengulang saat-saat seperti itu.


"Cuma makan malam diresto, kak. Fe, sengaja tadi ajak makan disana karena Fe mau masak sendiri untuk kak Awan." Ujar Fe Shika dengan wajah berbinar.


"Dan makasih juga untuk kakak, udah batalin pernikahan kami. Maaf udah buat kaka kecewa." lirihnya dengan suara tercekat menatap Dika dengan perasaan bersalah, ia takut menyakiti kakaknya itu.


"Kakak minta maaf udah maksain kamu, kakak merasa gagal menjaga kamu dan keputusan kakak malah buat kamu sedih."


"Aku tau kakak ingin yang terbaik untukku, sayaaaaaaang banget sama kakak. Fehika Anggara adalah adik yang paling beruntung didunia ini, punya tiga orang kakak yang begitu menyayangi Fe. Pokoknya engga mau yang lain cukup ini aja."


Dika tersenyum melihat Shika kembali ceria. Biarlah semesta yang menyatukan mereka, jika mereka ditakdirkan bersama sejauh apapun jarak pasti akan bersatu. begitu juga sebaliknya sedekat atau sekuat apapun dipaksakan jika bukan jodoh pasti akan berpisah.


Coba belajarlah kepada senja, karena dia mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian hanya sementara, karena tak ada yang abadi.


Senja mengajarkan kita menerima sebuah perpisahan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari.


❄❄❄❄❄❄

__ADS_1


Semoga besok kita akan bertemu yang hangat-hangat dan seger-seger ya... Contohnya bubur Ayam dan es teller🤭


__ADS_2