Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
36 - Seorang Perawan


__ADS_3

Serangkaian acara telah dilalui, kini hanya tinggal keluarga inti saja. Shika sang pengantin wanita telah kembali ke kamar, ia ingin segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.


Sedangkan Awan mendatangi dua sahabatnya yang tengah asik mengobrol, sejak tadi ia belum sempat berkumpul dengan kedua karena harus menemani sanak saudara yang lain sebelum akhirnya mereka pamit pulang.


"Kayaknya gue mulai di lupakan, nih!" sindir Awan sambil melangkah mendekati kedua sahabatnya.


"Eh, adik ipar. Selamat adik ipar, akhirnya halal juga." Kelakar Ray memberi ucapan pada pengantin baru itu.


"Makasih, Kakak ipar." Balas Awan mengundang gelak tawa ketiga pria dewasa itu.


"Gue masih ngga habis pikir mas kawin lo, harus ya dengan angka sembilan kenapa ngga lo genapin sepuluh."


"Ah! elo mah kayak ngga ngerti aja, itu sebagai bukti setelah sembilan tahun penantian akhirnya halal juga."


"Resek kalian mah!"


"Akhirnya segel perjaka lo, akan terlepas!" lagi-lagi mereka tergelak dengan candaan Arya.


"Udah lo periksa kan, masih berfungsi dan ngga karatan. Soalnya ntar kasian adik gue."


"Sialan lo, Ray!"


Mereka kembali tertawa, berbincang ngalor kidul seakan lupa kalau hari ini adalah hari bahagianya Awan. Hingga Awan melirik ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu.


"Cari apa lo?" tanya Arya mengikuti apa yang di lakukan Awan.


"Anak-anak gue, dari tadi abis acara ngga liat gue!" Awan masih celingak celinguk.


"Ya elah, Wan. Anak-anak aman, lagi sama bini dan anak gue, santai aja nikmati masa-masa manten baru." Sela Ray menenangkan sohibnya itu.


"Oh iya, selama gue disini belum pernah lo kenalin gue ama bini lo."

__ADS_1


"Nanti gue kenalin, kan lo tau kemarin-kemarin dia ke tempat mertua gue. Anak gue udah kayak barang, sebentar disini sebentar ditempat omanya. Pusing gue!" keluh Ray yang harus membagi waktu anaknya dengan sang mertua.


"Tinggal bikin adiknya, biar lo ngga pusing."


"Nah itu dia masalahnya, anak gue ngga mau punya adik. Mencak-mencak dia setiap gue bilang mau bikin adik."


"Persis Fe kecil, kalau ngamuk. Ngga ada dikitpun nurun gue, padahal gue yang cape kerja keras pagi siang sore malam ke pagi lagi. Eh.. cuma kebagian wajahnya aja." Lanjut Ray lagi.


"Hahaha, kurang maksimal kerja lo." Ejek Awan.


"Ck, kayak lo bisa aja."


Awan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pasalnya ia juga belum pengalaman.


"Gue berharap nanti anak gue ngga seperti lo, bisa gagal produk Narendra"


*****


Berkali-kali ia mencoba menghirup udara yang banyak, namun tetap saja tidak mampu membuat dirinya tenang. Hingga pintu kamar mandi terbuka menampakkan sosok Awan yang terlihat segar dengan tetesan air dari rambutnya, ia hanya memakai handuk yang melilit dipinggangnya membuat Shika kesulitan menelan salivanya. Dada bidang yang berotot ditambah perut kotak-kotak semakin membuat jantung Shika gonjang ganjing.


Ya Tuhan kenapa aku gugup seperti ini. Gumam Shika dalam hatinya.


Shika membuang pandangannya kesembarang arah, rona wajahnya begitu merah. Ia duduk gelisah, menggigit kecil bibirnya dengan kepala menunduk. Semua itu tak lepas dari pandangan Awan yang terus melihat kearah istrinya.


Awan tersenyum tipis, dengan langkah pelan ia mendekati Istrinya, menjatuhkan bokongnya diatas tempat tidur disamping sang istri.


"Sayang..." Panggil Awan dengan begitu lembut lebih terdengar seperti sebuah bisikan. Diraihnya jemari Shika lalu membawa kedua tangan itu ke arah bibirnya dan mengecup lembut punggung tangan itu secara bergantian.


"Suamimu disini, kenapa terus melihat lantai. Apa lantai lebih tampan dari pada suamimu ini, hm?" tubuh Shika menegang saat jari telunjuk Awan mengangkat dagu sang istri agar melihat kearahnya, hingga netra keduanya bertemu. Awan tersenyum manis sama seperti senyumannya saat pertama kali mereka bertemu.


Bisa-bisanya berkata seperti itu, apa ia tidak tau kalau jantung Istrinya ini udah mau lepas. Aargh...pake senyum lagi, udahlah babam adek udah meleyot-leyot ini. Cicit Shika dalam hati.

__ADS_1


Awan mengecup dalam dan lama kening Shika perlahan turun ke mata terus mengecup pipi kiri dan kanan, Awan menghentikan sejenak kegiatannya kembali menatap wajah Shika.


"Terima kasih sudah memberi kesempatan pada Kakak untuk jadi suamimu, Kakak benar-benar tidak menyangka kalau kita akan sampai dititik ini."


"Terima kasih juga, untuk semua yang telah kakak lakukan untukku dan anak-anak." Lirih Shika.


Shika rasanya, kalau bisa menghilang ia akan menghilang entah kenapa malam ini ia begitu malu dan gugup. Dengan mendiang Suaminya ia tidak salah tingkah seperti ini, namun sekarang dihadapan Awan ia seperti seorang perawan yang baru pertama kali disentuh oleh seorang lelaki.


Awan kembali mendekati wajah Shika pelan tapi pasti bibirnya menyentuh bibir ranum milik istrinya, Shika memejamkan matanya merasakan benda kenyal itu hanya menempel tidak ada gerakan sama sekali.


Lelaki itu tersenyum kemudian mencium bibir ranum itu dengan penuh cinta, Shika membuka diri membalas ciuman Awan dengan perlahan kedua tangan Shika mengalung dileher sang suami. Mereka saling melu mat, mengesap, Awan merebahkan tubuh Shika tanpa melepas pagutan ciumannya.


Awan melepaskan ciumannya disaat Shika masih terlena, ia mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya.


"Boleh, Kakak melakukannya?"


Shika membuka matanya kembali menatap wajah tampan itu sambil tersenyum dengan semburat merah di pipi ia mengangguk pelan, mengijinkan suaminya melakukan kewajiban dan mengambil haknya.


❄❄❄❄❄❄❄


Hai Zheyeng....


Maaf ya, baru Up lagi🙏


Kak Jingga baru selesai Semedi di pucuk gunung😁


Tapi ngga bawa edelweiss, bawa pulang cuma pisang ☺


Kita makan pisang aja sebagai pengobat rindu🤣🤣 aduuuh.... garing banget sih Aku🤦‍♀️


🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌

__ADS_1


__ADS_2