Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
48 - Mencintaimu Tanpa Syarat


__ADS_3

"Sayang, ada yang ingin kamu jelaskan?" Awan bertanya dengan menaikan sebelah alisnya.


"Iya, Fe." Sambung Ray. Sedangkan Arya hanya menunggu penjelasan dari Shika, perempuan yang sudah seperti adiknya sendiri.


Shika menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan, tatapan horor ketiga pria itu membuatnya seperti kesulitan bernafas. Saat ini mereka berada diruang tengah menunggu penjelasan dari Shika.


"Sejak kapan Zie bisa melakukan itu, kami juga tidak tau. Pastinya saat itu, Kak Kevin tidak sengaja melihat Zie yang begitu fokus didepan laptop miliknya. Awalnya Kak Kevin pikir Zie sedang menonton kartun kesukaannya, melihat tidak ada pergerakan dari Zie ketika Kak Kevin datang membuatnya curiga takut Zie melihat hal-hal yang tidak pantas. Tapi ternyata, Zie sedang meretas sebuah perusahaan mainan."


"Why?" tanya Ray tak percaya.


"Iseng!" jawab Shika.


"APAAA...?? ISENG...???" pekik serempak Awan, Ray dan Arya. Mereka masih terheran-heran dengan bocah itu. Entah kejutan apalagi yang nanti akan mereka lihat.


"Ssstttt... nanti mereka bangun." Shika meletakkan telunjuk didepan bibirnya seraya berkata dengan pelan.


"Sulit dipercaya?" ketiga pria itu mangut-mangut.


"Tapi itulah kenyataannya, Zie merasa perusahaan itu telah membohongi Daddy nya yang sudah membeli mainan mahal. Tapi, harga mainan itu tidak sesuai kualitas yang didapat. Jadi Zie ISENG, mengacak-ngacak perusahaan itu." Lanjut Fe.


"LUAAARRR BIASAAA! gue kudu hati-hati sama kedua bocah ini, salah-salah gue sama mereka. Perusahaan bokap gue diacak-acaknya!" frustasi Arya memikirkan kejeniusan bocah-bocah itu.


Kata-kata Arya mengundang gelak tawa Awan dan Ray, Shika hanya tersenyum simpul.


"Sebenarnya wajar Zie bisa melakukannya, memiliki IQ diatas rata-rata ditambah Daddy nya juga memiliki keahlian dibidang itu. Yang ngga wajarnya hanya usia mereka. Tapi disaat terdesak seperti tadi, Zie harus bertindak." Kata Shika.


"Ini juga salah satu alasan Kak Kev menyerahkan twins pada Kak Awan." Awan merangkul istrinya, membawanya bersandar didadanya. Tanpa diucapkan, Awan bisa merasakan kesedihan dihati istrinya itu.


Ray yang melihat apa yang dilakukan Awan, hatinya menghangat. Sahabatnya itu paling bisa diandalkan, ia sangat mengerti keadaan Shika.


Setelah ini, hanya akan ada kebahagiaan dalam rumah tangga kalian. Doa tulus Ray yang hanya bisa diucapkannya dalam hati.


"Gue salut sama Kevin sudah memprediksi semua ini dan dia langsung bertindak cepat. Menyerahkan anaknya pada lo, dan rela digantikan statusnya." Arya kagum dengan tindakan Kevin yang sudah memikirkan segalanya jauh kedepan.


"Coba deh Kakak perhatikan twins, terkadang mereka memiliki kemiripan dengan Kakak. Walaupun wajah mereka hampir 99 persen copyan Kak Kev. Fe, sering memperhatikan saat Kakak dan twins tidur bersama." Ungkap Shika pada suaminya untuk memperhatikan wajah anak-anaknya.


"Kata orang tua, wajah seorang anak itu akan mirip wajah dari orang yang sering bersamanya. Mungkin itu yang membuat twins terkadang mirip Awan, apalagi mereka sehari saja tidak bisa jauh dari Daddy nya. Ke rumah sakit aja ngekorin, kalau OK bisa masuk mungkin mereka juga bakal ngintilin sampai dalam OK." Pungkas Arya.


"Sirik aja lo, lo bawa juga anak lo ke rumah sakit kalau lo mau." Ketus Ray.

__ADS_1


*****


Pagi ini Shika akan datang ke perusahaan, ia yakin setelah melakukan kekacauan diperusahaan mendiang suaminya kemarin. Om Edgar pasti akan menampakkan batang hidungnya, karena tujuan Om Edgar adalah agar dirinya muncul. Setelah semalam menghubungi Dika dan Afnan untuk berunding dan membicarakan segalanya, akhirnya mereka mengijinkan Shika mendatangi perusahaan.


Dan disinilah Shika sekarang, duduk dengan anggun dikursi kebesaran milik mendiang suaminya. Tidak ada satupun yang berubah dari ruangan itu, masih seperti saat terakhir kali Kevin menempatinya.


Dada Shika terasa sempit, seakan pasokan udara dalam ruangan itu habis. Mata Shika perlahan terpejam, jiwanya seakan melayang. Semua menjadi gelap.


"Sayang..." Sayup-sayup terdengar suara yang sangat dirindukannya. Tapi matanya seperti diberi perekat, sangat sulit untuk dibuka.


"Tidurlah, Kakak akan menemanimu." Shika merasakan elusan lembut dikepala hingga wajahnya. Ia begitu nyaman dalam dekapan hangat tubuh itu.


"Sayang, bukalah hatimu untuk lelaki yang ada dalam hidupmu saat ini. Dia suamimu sekarang, dia imammu, dia surgamu, dia juga lelaki yang sangat mencintaimu tanpa syarat. Jangan sampai kamu menyesal karena terlambat menyadari hadirnya cinta dihatimu. Dia pantas mendapatkan cintamu, dia berhak bahagia. Jangan biarkan cinta tulusnya tak bertuan."


"Bila merindukkan Kakak, ada Kenzo dan Kenzie yang mengobati rindumu. Sentuh jantung mereka, maka kamu akan merasakan hadirnya Kakak disana."


"Kembalilah sayang, katakan padanya kalau kamu juga mencintainya. Jangan siksa hatimu."


"Sayang, terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Kamu wanita kuat, istri terbaik dan juga ibu terhebat. Kakak beruntung pernah menjadi bagian dalam hidupmu, makasih atas semua cintamu yang tulus untuk suamimu ini. Kakak mencintaimu sayang, I Love You, Restaku."


Tes


Tangan itu begitu terasa, pelukannya begitu nyata! batin Shika. Ia kembali meneteskan air mata.


Shika mengambil tasnya, dengan buru-buru ia melangkah keluar ruangan.


"Tolong atur ulang jadwal hari ini pindahkan untuk besok. Saya harus pulang, ada hal penting." Ucap Shika pada sekretarisnya, tanpa banyak bertanya sekretarisnya langsung mengiyakan karena melihat mata atasannya yang sembab.


Shika berjalan setengah berlari menuju lift, ia ingin segera bertemu dengan suaminya. Kata-kata dari mendiang suaminya terus tengiang-ngiang di indera pendengarannya.


Kini Shika dalam perjalanan menuju tempat dinas sang suami, berkali-kali ia menghapus air matanya dengan kasar. Jalan yang lenggang, membuat Shika tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana. Setelah memarkirkan mobilnya, Shika segera berlari menuju ruangan suaminya tidak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang melihatnya. Tujuannya adalah segera bertemu sang suami.


Braakk


Pintu ruangan itu dibuka dengan kasar, sosok yang dicari tidak ada disana. Shika juga mencari kedalam toilet hasilnya sama, lalu ia mengambil ponselnya tersambung tapi sayangnya ponsel sang suami ada didalam ruang itu.


"Ruang operasi," gumam Shika.


Shika tanpa pikir lagi langsung berlari menuju lift yang akan mengantarnya kelantai dua dimana ruang operasi berada.

__ADS_1


Shika mondar mandir dengan gelisah seperti setrikan didepan ruang OK, hatinya berkecamuk, tangannya ia re mas -re mas. Sesekali ia mengusap air mata yang menetes, waktu seakan mempermainkannya berputar sangat lambat.


"Shika!" seru Awan melihat sang istri berdiri kaku sesaat setelah keluar dari OK.


"Hei, ada apa sayang? kenapa nangis?" Awan mendekati istrinya, ia begitu panik melihat istrinya terlihat berantakan.


Shika tidak menjawab ia langsung menabrak tubuh Awan, memeluk suaminya dengan sangat erat. Tidak peduli sejawat suaminya yang masih ada disana, ia hanya ingin memeluk suaminya sampai puas. Tak lama sejawatnya meninggalkan mereka berdua setelah memberi kode pada Awan.


"Aku mencintaimu, Kak." Kata Shika dengan suara serak.


Deg


Ada yang berdesir dalam dari Awan, sebuah kalimat sederhana tapi mampu menembus relung hatinya. Apakah ia bermimpi? tentu ini nyata, ia dapat merasakan hangatnya pelukan seorang wanita yang sangat dicintainya mengatakan cinta. Tapi kenapa....


"Aku benar-benar mencintaimu." Ulang Shika.


"Sayang, kamu kenapa, hm?" Awan masih bingung dengan tingkah istrinya. Tiba-tiba datang mengatakan cinta, istrinya ini baik-baik sama bukan? tangannya terus mengusap punggung Shika.


"Aku cinta sama Kakak." Shika berucap dengan manja.


"Iya, kamu cinta sama Kakak."


"Pokoknya, aku mencintai Kakak." Ucap Shika lagi menekan setiap kata.


"Kakak juga sangat mencintaimu, sayang." Balas Awan akhirnya, mengerti apa yang diinginkan sang istri.


Shika melepas pelukannya, hatinya lega apa yang selama ini mengganjal kini telah hilang. Shika bisa melihat wajah suaminya yang menatapnya dengan teduh dan sorot mata penuh cinta. Kedua ibu jari tangan Awan menyeka sisa air mata diwajahnya dengan lembut. Tangan lebarnya menangkup kedua pipi milik sang istri.


"I Love You, Bee." Kata Shika dengan wajah berbinar dan tersenyum manis.


"I Love You more, cengeng." Balas Awan mengulum senyum.


"Kok cengeng?" protes Shika dengan wajah memberengut.


"Karena kamu cengeng, sayaaaang." Awan kembali menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya. Menjatuhkan kecupan-kecupan lembut dikepala istrinya, hari ini ia sangat-sangat bahagia, cintanya selama ini akhirnya terbalaskan.


Mereka larut dalam suasana hati yang berbunga-bunga, ruang tunggu OK menjadi saksi bisu kedua insan yang sedang berbahagia itu mengungkapkan isi hati mereka.


Tanpa Awan dan Shika ketahui, seseorang memperhatikan mereka dari layar monitor didepannya. Tampak wajah itu tersenyum menyaksikan kisah cinta penuh pengorbanan yang dilakukan oleh sang pria untuk kebahagiaan wanitanya.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2