
Shika membuat dirinya sibuk dengan segala macam urusan dibutik, mulai dari hasil desain, contoh kain, pesanan, pengiriman dan juga pertemuan dengan klien ia lakukan semuanya, bahkan ia melewati jam makan siangnya. Ia sangat kesal dari tengah malam bahkan tadi pagi saat sarapan dengan kedua kakaknya tidak ada tanda-tanda mereka akan memberinya sebuah ucapan. Sikap kedua kakaknya begitu santai seolah mereka tidak ingat hari ini.
"Mereka sangat menyebalkan, masa sih mereka lupa hari ini? dulu aja sewaktu masih masa terbang walaupun cuma lewat video call mereka tetap melakukannya. Tapi sekarang orangnya ada didepan mata mereka melupakannya. Kalau sibuk engga mungkin deh ampe lupa, apa sengaja? engga mungkin juga bukan kebiasaan mereka. Pasti mereka lupa, iya benar mereka pasti lupa." ujar Shika panjang kali lebar kali tinggi pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas, ia akan mengajak Ray dan Dika pergi kesuatu tempat tanpa mengatakan pada mereka alasan ia ingin berkunjung kesana. Sudah sangat lama mereka tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Dan ini kesempatan emas yang harus ia manfaatkan tanpa menerima penolakan dari mereka.
"Kamu emang cerdas, Resta!"
Deg
Sesuatu yang tidak pernah terlintas dibenaknya hari ini tanpa sadar terucap dari bibirnya.
Kamu memang cerdas, Resta
Kamu memang cerdas, Resta
Kamu memang cerdas, Resta
Hanya satu orang yang selalu mengucapkan kalimat itu, ingatannya berputar kembali ke belasan tahun silam. Dimana saat ia selalu berhasil melakukan sesuatu dan menjadi juara dalam setiap kegiatan yang diikutinya kalimat itu akan selalu terucap dari bibir seorang anak lelaki yang saat itu usinya sama dengan sang kakak, Dika. Perlahan ia memejamkan matanya, sosok itu muncul dalam ingatannya.
"Apa kau masih mengingatku, kak?"
Tes
Tanpa diharapkan ia jatuh begitu saja, kerinduannya pada sosok itu telah lama menyiksa hatinya. Akankah ada harapan pertemuan kembali diantara mereka atau semua hanya tinggal kenangan? kenangan yang dibawa tanpa sekali pun janji itu ditepati.
Aku hanya manusia biasa yang merindukanmu dalam diam, kemudian menghapusnya dengan air mata yang menetes.
Merindukanmu seperti manis dan pahit bagiku. Aku merasa bahagia ketika aku mengingat semua momen yang kita lalui bersama, masa-masa yang takkan pernah terulang kembali hanya memori yang mampu berputar untuk mengenangnya. Aku merasa sedih ketika tangan ini tidak dapat memelukmu lagi. Aku merindukanmu.
Waktu sudah menjelang sore, ia masih bertahan dalam lamunannya hingga pintu ruangan itu dibuka dari luar.
Ceklek
"Shika, sudah waktunya pulang. Apa kau ingin tidur disini?" Ucap Zoya. Orang yang selama ini dipercaya Dika untuk mengurus butik milik Shika.
"Aku akan membersihkan diri dulu, mba."
__ADS_1
"Baiklah, mba duluan dan itu pesananmu. Ingat! langsung pulang, jangan buat kedua kakakmu khawatir." Tegas Zoya.
Shika tersenyum lalu mengangguk "Hati-hati, mba."
Tanpa buang waktu Shika langsung mengambil paper bag diatas meja dan masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama ia telah berganti pakaian, wajahnya terlihat jauh lebih segar. Shika mengambil pelembab wajah dalam laci nakas yang berada disudut ruangan itu dimana disana terletak sebuah cermin ukuran besar. Tak lupa ia mengolesi bibirnya dengan lip balm warna cherry kesukaaannya.
Perfect
*****
"Kakaaaak...Aku pulaaaaang.."
"Sepi banget, tumbenan. Engga mungkin pergi kan? mobil ada semua digarasi. Mungkin dikamar, samperin aja deh." Ucap Shika semangat karena ia akan mewujudkan idenya sore tadi.
Tok tok tokk
"Kak... kak Dika. Kakak di dalam kan? Fe, masuk ya.." Hening tidak ada jawaban dari dalam kamar Dika.
Tok tokk Tok
"Kak..." Suara Shika melemah perasaannya mulai tak menentu, ia menekan knop pintu membuka perlahan matanya mengitari setiap sudut kamar itu, nihil! tidak ada tanda-tanda sang kakak berada di dalam sana. Ia menghirup udara dalam-dalam membuangnya dengan perlahan demi menekan rasa sesak didada. Ia menutup kembali pintu kamar, berdiri sejenak menatap nanar pintu didepannya. Matanya mengembun, hatinya sangat sedih.
Dengan langkah pelan, Shika mendatangi kamar Ray ia berharap kakaknya itu ada dirumah malam ini. Setelah mengetuk pintu beberapa kali tidak ada sahutan juga dari dalam, setelah mengecek kedalam betapa sedihnya Shika kedua kakaknya benar-benar melupakan hari ini. Shika pun melakukan hal yang sama didepan kamar Ray.
"Kak Ray juga lupa ya, Fe ulang tahun hari ini?" ucapnya pelan dengan air mata telah jatuh berderai, ia terisak didepan kamar itu. Shika kembali kekamarnya, saat tangannya ingin menekan knop pintu ia teringat sesuatu lalu bergegas menuruni tangga sambil memanggil Bi Ijah asisten rumah tangganya.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, Bi Ijah mendatangi Shika.
"Bibi tau kak Ray sama kak Dika kemana?"
"Kalau den Dika tadi sore berangkat ke London, non. Kalau den Ray pergi sama temennya. Ada apa non? sepertinya non terlihat baru siap nangis?" Melihat Shika dengan wajah sembab dan mata merah yang kembali berkaca-kaca.
"Engga apa bi, hanya rindu sama mereka aja. Ya udah, Fe kekamar ya bi, biar Fe telpon aja."
Maafin bibi, non. Semoga non, baik-baik aja. Lirih bi Ijah dalam hati.
Shika berlari menuju kamarnya dengan air mata yang tak mampu lagi dibendungnya.
__ADS_1
SURPRISEEEEEE
HAPPY BIRTHDAY
HAPPY BIRTHDAY
HAPPY BIRTHDAY TO YOUUUU....
Betapa terkejutnya Shika setelah pintu kamarnya terbuka. Ia tertegun melihat semua orang berada dalam kamarnya, tubuhnya kaku. Dika yang melihat tidak ada pergerakan dari Shika berjalan mendekatinya, menangkup kedua pipi mulus itu.
"Barakallah Fii Umrik Feshika Clearesta Anggara. Adik kakak yang paling manja, adik tercinta, adik tersayang harta kakak yang paling berharga. Segala doa terbaik hanya untuk kamu, kakak sangat teramat menyayangi kamu." Doa tulus Dika untuk adik perempuan satu-satunya.
Dengan mata berkaca-kaca Dika mencium kening Shika, kedua pipi lalu membawa tubuh adiknya kedalam dekapannya. Menyalurkan segala rasa cinta dan kasih sayang yang ia miliki. Shika yang sedari tadi terdiam kini terisak dalam pelukan Dika, ia membalas erat pelukan sang kakak.
"Fe, sedih kak, Fe, pikir kakak lupa hari ini." Ucap Feshika dalam tangisnya.
"Maafkan kakak udah buat kamu seharian ini sedih. Kakak ngelakuin ini, karena mau kasih kamu hadiah spesial."
Semua yang hadir dalam kamar itu merasakan suasana haru, melihat betapa kedua adik kakak itu saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain.
"Hadiah spesial??" Shika mendonggakan kepalanya menatap Dika ia masih berada dalam pelukan Dika. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah sedih-sedihnya, Bunda juga mau peluk putri kecil Bunda yang super manja ini, hari bahagianya malah dibikin nangis." Ujar Bunda Santi mencairkan suasana, ia meraih tubuh Shika memeluknya dengan penuh kelembutan. Mengecup puncak kepalanya.
"Selamat ulang tahun, putri kecil Bunda. Jadilah kebanggaan Mami-Papi dan ketiga kakakmu, dan menjadi penyejuk untuk Bunda. Bunda sangat menyayangimu, nak."
Putri kecilmu sudah dewasa mas, semakin cantik. Semua yang ada dirinya menuruni Mela.
Kini giliran Ray yang memeluk Shika. "Adik kakak yang cengeng, selamat ulang tahun. Maaf udah bikin kamu sedih."
"Jangan lupa kadonya mentah aja, tiga digit!"
Mata Ray melotot mendengar permintaaan adiknya. "Kamu meras kakak!" Sontak ucapnya mengundang gelak tawa semua orang.
Shika langsung memeluk Afnan, seolah meminta perlindungan. Ia menjulurkan lidahnya mengejek Ray yang tidak bisa berbuat apa-apa karena posisi Shika yang berada dalam pelukan Afnan.
Shika tidak menyadari, jika ada sepasang mata yang terus menatapnya.
__ADS_1
"Kamu semakin cantik... "
❄❄❄❄❄❄❄