
"Sebelum kau menginjakkan kakimu di kantor polisi, kakimu sudah lebih dulu menginjak pintu neraka."
Awan masih terngiang-ngiang ucapan dan senyum Shika hari itu, apalagi setelah bertemu Dika beberapa waktu lalu. Dan menceritakan semuanya.
"Kakak harap kau bisa menjaga emosinya. Jangan sampai, sisi gelapnya itu muncul. Tidak ada kata ampun, jika dia sudah menguasai pikiran istrimu itu. Untung saja kejadian di Rumah Sakit tempo hari, kau cepat sehingga Fe masih bisa terkendali."
Awan jadi teringat kembali saat dulu ia kenal Shika. Betapa dinginnya sikap Shika padanya, namun beberapa hari kemudian Shika berubah begitu hangat. Tidak mungkin dalam sekejap bisa langsung berubah, Ray? iya Ray, Awan yakin Ray yang mengontrol emosi Shika saat itu.
Awan menghela nafas panjangnya, tidak sanggup membayangkan se-sadis apa istrinya itu. Dia yang seorang Dokter bedah saja, memerlukan anestesi untuk pasien yang akan dibedahnya. Sedangkan Shika istrinya, hewan masih hidup ia mutilasi begitu saja. Apa ia tidak mendengar raungan dari hewan-hewan itu.
"Huh... sebaiknya aku istirahat, pikiranku mulai aneh-aneh menyamakan operasi dengan apa yang dilakukan Shika. Udah ngga benar nih otak!" Awan mendesah, meraup wajahnya dengan kasar.
*****
Waktu berlalu begitu cepat, hari ini Shika berencana akan berbelanja tapi sebelum itu ia akan mengantar anak-anaknya terlebih dulu ke rumah Dika. Xena sang keponakan sejak semalam terus merengek ingin bertemu twins.
"Sayang, Kakak pergi ya. Kamu nanti hati-hati nyetirnya, kalau udah sampai jangan lupa kabari." Awan mengecup kening sang istri lalu ia menunduk didepan perut Shika, menciuminya dan berbisik. "Daddy pergi kerja, jangan buat Mommy susah ya, nak." Shika tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Awan, tangannya kemudian terulur mengusap perut istrinya.
"Jaga mereka juga," lanjut Awan kemudian.
"Iya, Kakak juga hati-hati. Awas jangan genit." Gurau Shika.
"Mau genit sama siapa, paling sama Ray dan Arya." Kekeh Awan. Kemudian beralih pada twins, Awan mensejajarkan tubuhnya dengan twins.
"Jagoan Daddy, jagain Mommy sama adik-adik ya. Daddy kerja dulu."
"Siap, Dad." Seru twins kompak. Mereka berdua mencium pipi Awan, begitu juga Awan tak lupa ia mengusap kepala twin dengan sayang.
Mobil yang dikendarain Awan perlahan dan menghilang dari gerbang pagar, Shika beserta twins masuk kedalam rumah mereka harus bersiap-siap.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, Shika dan anak-anaknya tiba di rumah Dika.
"Mamiii..." Jerit twins, melihat Zoya sudah berdiri didepan pintu menyambut kedatangan mereka. Twins bergegas turun dari mobil berlari menghampiri sang Mami.
__ADS_1
"Ken, Zie. Jangan lari-lari!" seru Shika, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak-anaknya ini super aktif.
Twins sudah menghambur kedalam pelukan Zoya. "Jagoan Mami, akhirnya datang juga." Zoya mencium gemas pipi twins secara bergantian.
"Twins!" Pekik Xena berbarengan dengan Adit dari dalam rumah, mereka kegirangan saat melihat siapa yang datang.
"Eh, ada Mommy juga!" Xena memeluk Shika, Sang Mommy kesayangannya, karena menurut Papinya ia persis seperti Mommynya sewaktu kecil.
"Kamu makin cantik aja." Ucap Shika sambil menangkup kedua pipi tembem Xena.
"Kan seperti Mommy." Balas Xena manja.
"Huaaa.. adik-adik Mba yang gemes, makin gemes. " Kemudian Xena beralih pada twins, mencubit pipi kedua adiknya.
"Mami, lihat Mba Xena. Cubit pipi Ken sama adik Zie!" Adu Ken pada Maminya.
"Itu aja ngadu, ayok kita main." Xena menarik tangan twins lalu menggandengnya membawa kedalalam rumah. Zoya dan Shika tersenyum senang melihat kedekatan mereka.
"Abang, ayo.." teriak Zie melihat ke belakang memanggil Adit yang masih berdiri disamping Shika.
"Adit mau sama Mommy," tiba-tiba saja ia memeluk erat Shika. Zoya dan Shika saling pandang, mereka tampak bingung dengan sikap aneh sang keponakan.
"Adit, kamu kenapa?" tanya Shika, tangannya membelai punggung Adit yang masih memeluknya.
"Adit sama Mommy aja." Ucapnya lagi.
"Tapi, Mommy mau belanja sayang. Adit main dulu sama Xena dan twins, nanti Mommy balik lagi." Bujuk Shika.
"Kamu mau belanja, Ka?" tanya Zoya.
"Iya Mba, kebutuhan dirumah banyak yang udah abis."
"Adit temanin Mommy kalau gitu." Sela Adit tiba-tiba.
__ADS_1
Shika menghela nafasnya, kemudian mengangguk. "Baiklah, ya udah ayo."
"Mba, kami pergi dulu ya. Titip twins." Kata Shika.
Zoya mengangguk, "Ya udah, hati-hati."
*****
Sepanjang jalan Adit hanya diam saja, pandangannya lurus kedepan.
"Ada yang mau kamu cerita sama Mommy," tanya Shika kemudian memecahkan kebisuan diantara mereka. Shika fokus kedepan, sambil sesekali melirik keponakannya.
Adit menunduk, "Adit rindu Ayah sama Ibu, Mom!" Ucap Adit dengan suara serak, Adit terisak. Shika menepikan mobilnya, ia memeluk anak dari Abangnya itu dengan sayang. Mengecup puncak kepala anak laki-laki itu. Shika membiarkan Adit menangis, menumpahkan semua rasa rindunya.
Setelah puas menangis, Adit merasa lebih baik walaupun matanya terlihat bengkak dan hidung merah.
"Sayang, dengerin Mommy." Shika menangkup wajah Adit yang sangat mirip Afnan. Adit melihat wajah sang Mommy yang begitu lembut menatapnya dengan teduh.
"Adit disini punya Mommy-Daddy, Papi-Mami, Papa juga Mama. Adit ngga sendirian, Besok Adit juga mulai sekolah dan akan punya banyak teman."
"Kami semua sangat menyayangi kamu, Mommy harap kamu tidak sedih dan berkecil hati karena untuk sementara jauh dari Ayah dan Ibu. Jika ada yang mengganjal dihati, katakan. Bilang sama kami, jangan dipendam. Ayah, Papi dan kami semua menginginkan yang terbaik untuk kamu. Percayalah, setelah pekerjaan Ayah selesai, Ayah akan segera menjemputmu." Jelas Shika memberi pengertian. Shika bisa merasa apa yang sedang dirasakan oleh keponakannya itu, tapi ia tidak bisa mengatakan seperti apa keadaan sebenarnya.
"Ayo senyum, masak anak Ayah Afnan cengeng." Goda Shika. Wajah yang tadi mendung kini kembali cerah dan tersenyum.
"Nah gitu dong, ini baru anak Ayah Afnan. Keponakan Mommy. yang ganteng," Shika mengacak gemas rambut Adit.
Shikha kembali melajukan mobilnya menuju ketempat perbelanjaan. Kini mereka sudah berada disana, keduanya sibuk berbelanja memilih apa-apa saja yang akan dibeli oleh Shika.
Kadang mereka tertawa ketika ada yang sesuatu yang lucu, mereka terlihat seperti ibu dan anak yang sangat kompak. Setelah memastikan semua sudah dibeli, Shika mengajak Adit membeli pizza untuk dibawa pulang. Mereka akan makan bersama saat dirumah.
Saat sedang memasukan barang belanjaannya kedalam bagasi, mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata yang terus menatap mereka dengan tatapan penuh dendam dan benci.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba!" Ucap wanita itu dibalik kemudinya. Ia yang ingin pergi dari parkiran itu tidak sengaja melihat perempuan yang sudah membuat hidupnya berantakan ada disana terlihat sangat senang.
__ADS_1
Wanita itu kemudian mengambil sebuah pisau dari dalam laci mobilnya, dengan wajah merah padam karena amarah ia keluar dari mobil. Wanita itu melangkah cepat, berjalan kearah Shika dengan pisau ditangannya.
❄❄❄❄❄❄❄