
"Kau!! Kau berani menamparku?" tunjuk Bella didepan wajah Shika, sebelah tangannya memegang pipi yang terasa kebas.
"Jangankan hanya menamparmu, membunuhmu pun aku berani! tangan kotormu sudah berani menyentuh Putraku." Murka Shika menatap tajam wanita itu.
"Pu...putra?" lirih Bella, pandangannya beralih melihat bocah laki-laki yang didorongnya tadi.
Kalau Awan mengakui perempuan ini Ibu dari anak-anaknya, berarti...? bocah ini... Ah, bodo amat itu urusan nanti. Bella bergumam dalam hatinya.
"Iya, dia Putraku. Kuperingatkan kau, jangan pernah menyentuh keluargaku. Atau kau akan menyesal." Shika meraih tangan mungil Ken, membawanya pergi dari sana.
"Kau pikir aku takut sama ancaman murahanmu itu? cuiih... kau seharusnya sadar diri, kau itu hanya se-onggok sampah yang dipungut Awan, sebentar lagi juga bakal ditendang." Pekik Bella meludah kesamping menatap jijik kepada Shika. Senyum sinis terpancar diwajahnya.
Shika yang sudah melangkah menghentikan langkahnya lalu jongkok didepan Ken.
"Sayang, kamu keruangan Daddy ya, nanti Mommy nyusul!" titah Shika dengan wajah lembut pada sang Putra, Ken mengangguk patuh kemudian bocah tampan itu berlari menuju ruang sang Daddy.
Setelah melihat anaknya sudah menjauh, Shika membalikkan badannya, menatap dingin pada Bella membuat wanita itu membeku. Nyalinya yang diatas angin tadi, tiba-tiba saja menciut, sisi lain dari diri Shika muncul. Tidak ada lagi wajah cantik yang lembut, yang terlihat adalah Shika berwajah sadis.
Tatapan mata itu, aku seperti pernah melihatnya, tapi siapa? ah.. peduli setan aku tidak boleh takut, aku harus tetap memberi perempuan ini pelajaran. Batin Bella.
"Oh ya, bukannya kau yang ditendang, hm? bahkan dianggap pun tidak, miris sekali nasib kau. Cantik sih cantik, tapi... MU RA HAN." Hina Shika tangannya bersidekap didepan dadanya, bahkan senyum dan tatapannya sangat merendahkan Bella. Bella tidak terima dihina oleh orang yang menurutnya derajat Shika lebih rendah darinya. Bella menjambak rambut Shika dengan sangat keras.
"Kau terlalu banyak omong, wanita sampah!" hardik Bella, semakin menarik keras rambut panjang Shika sehingga kepala wanita itu tertarik ke belakang.
Shika meringis menahan sakit, rasa-rasanya kulit kepalanya akan lepas dari batok kepalanya. Shika memejamkan matanya, dengan sisa tenaga menyikut perut Bella.
"Awwh... sialan kau!" umpat Bella, tangan yang menjambak rambut Shika terlepas. ia agak membungkuk meringis memegang perutnya.
"Itu belum seberapa!"
Shika mencengkram kuat leher Bella, "Kau belum tau siapa aku, tapi kau sudah berani mencari masalah denganku." Shika berkata dengan sangat bengis.
"Le..pas?" suara Bella terkecat, cengkraman Shika sangat kuat. Kedua tangan Bella tak mampu melepas tangan Shika dari lehernya.
"Aku benar-benar akan membunuhmu, kalau kau masih berani menganggu keluargaku!"
*****
"Daddy.... Daddy.. Daddy!" teriak Ken dari luar membuka pintu ruangan sang Daddy, berlari kearah Awan. Disana juga ada Arya, mereka serempak menoleh kearah Ken.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Awan meraih tubuh Ken lalu menggendongnya. "Mana Mommy?" Awan tidak melihat keberadaan sang istri.
"Mommy didekat beli ice cream, Dad. Ada Tante jahat, Daddy ayo tolongin Mommy."
"Tante jahat?" tanya Awan, alisnya berkerut lalu melihat Arya, Arya hanya mengangkat bahunya.
"Daddy ayo cepat, tolongin Mommy!" Ken bergerak-gerak dalam gendongan Awan.
"Iya, Daddy tolongin Mommy. Ken disini dulu sama sama adik Zie. Oke!" Ken mengangguk, Awan menurunkan Ken.
"Ar, gue titip anak-anak."
"Ok."
Awan langsung lari kearah kantin tempat dimana Ken dan Shika membeli ice cream tadi. Dari jauh ia sudah melihat Satpam sedang melerai dua orang perempuan yang tengah baku hantam. Satu diantaranya sudah pasti istrinya, Awan mempercepat larinya, untungnya tidak ada orang yang lalu lalang disana.
Saat Awan sudah dekat baru ia bisa melihat dengan jelas perempuan yang terlihat sangat berantakan itu, celana yang terkena tumpahan ice cream itu robek dari bawah hingga atas memperlihatkan pahanya. Salah satu sudut bibirnya berdarah, kancing kemeja sifonnya terlepas bagian atas.
Bella! mau apalagi perempuan itu? gumam Awan dihatinya.
"Sayang..." Panggil Awan, Shika yang sangat mengenal suara suaminya menoleh. Begitupun Bella, ia sangat senang melihat kedatangan Awan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa? katakan mana yang sakit." Awan memeluk istrinya, menenangkan Shika yang tadi dipegang oleh Satpam. Ia yakin istrinya itu masih menahan amarah.
"Aku ngga pa-pa, Kak," wajahnya kembali lembut saat berhadapan dengan suaminya. Awan merapikan rambut Shika yang berantakan. Apa yang dilakukan oleh Awan tidak luput dari tatapan Bella yang semakin membenci Shika.
"Awan, seharusnya aku yang kau tanya. Aku yang terluka akibat perempuan rendahan ini. Kenapa kau malah perhatian sama dia?" teriak Bella, tangannya masih dipegang oleh Satpam.
"Jelas saya lebih perhatian sama wanita ini, secara dia istri saya. Lalu anda siapa? yang menuntut untuk diperhatikan oleh saya." Kata Awan dengan datar.
"Tapi dia duluan yang serang aku, Wan!" kekeuh Bella.
"Saya sangat mengenal istri saya, dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya, kecuali! anda yang memulai duluan." Kata Awan tenang.
"Pak, bawa pergi perempuan ini. Jangan sampai dia membuat onar lagi," titah Awan pada kedua Satpam itu. Awan merutuki nasibnya kenapa harus kenal perempuan itu.
"Baik, Dok." Kedua Satpam terpaksa menyeret Bella yang terus memberontak.
"Aku akan melakukan visum, setelah itu akan melaporkan kau kekantor polisi, agar kau membusuk dalam penjara!" teriak Bella.
__ADS_1
Bella masih bersikeras, ia tidak peduli pada ucapan Awan. Hatinya telah dipenuhi kebencian, ia ingin secepatnya menyingkirkan wanita itu dari hidup Awan.
"Sebelum kau menginjakkan kakimu di kantor polisi, kakimu sudah lebih dulu menginjak pintu neraka." Sahut Shika tersenyum Devil.
Awan menelan saliva susah payah, ini istrinya bukan sih? sangar benar. Awan juga tidak pernah melihat senyuman istrinya yang seperti itu, seolah-olah senyuman itu bisa membunuh tanpa menyentuh, Awan sampai bergidik ngeri.
*****
Awan sedang mengompres kepala istrinya yang memar, karena Shika menolak untuk diolesin salap. Twins sedang tidur dengan lelapnya setelah tadi dibacakan cerita oleh Arya.
Pintu ruangan Awan dibuka sedikit kasar, untung saja tidak sampai membuat twins terbangun. Ray masuk dengan terburu-buru, tampak raut wajah itu sangat cemas.
"Dek, ada yang terluka? itu kepala kamu kenapa?"
Shika mengeleng, "Cuma sedikit pusing aja." Ucap Shika, yang tidur diatas sofa dengan paha Awan sebagai bantalnya.
"Memar, tapi ngga mau dipakein salap," sambung Awan.
"Nah, itu yang harus lo tau. Bini lo paling anti dengan yang namanya salap, jangan sekali-kali lo coba pakein dia salap kalau dia sedang tidur. Kalau lo ngga mau kena murkanya." Kata Ray. Shika hanya diam saja, matanya terpejam karena pusing yang dirasakannya. Dibiarkan saja Kakaknya itu mau bicara apa.
"Pokoknya lo nurut apa kata gue, kalau lo mau aman." Tegas Ray, "Tunggu aja sampai bini lo, cerita." Awan mengangguk, walaupun sebenarnya ia sangat penasaran. Tadi istrinya bilang, ia hanya tidak suka.
Ray menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, hari ini dia benar-benar lelah. Ray meraup wajahnya, menghirup nafas dalam-dalam.
"Gue udah liat semuanya, setelah tadi Satpam laporan ke gue. Perempuan itu juga gue usir dari Rumah Sakit ini." Ujar Ray
"Juga? maksud lo?" tanya Arya.
"Dokter Burhan tadi udah gue berhentikan, karena dia bermain dengan perempuan itu. Dia yang menerima perempuan itu kerja disini tanpa persetujuan dari gue." Ray menghela nafas kasar.
"Ngga percaya gue Ray! Dokter Burhan seperti itu."
"Tapi gue punya video panas mereka. Setelah gue minta anak buah Kak Dika selidiki, ternyata perempuan itu mempunyai track record yang buruk di negara sebelumnya." Jelas Ray.
"Dan juga.... dia kembali kesini karena lo."
Deg
❄❄❄❄❄❄❄
__ADS_1