
"Daddy...." Pekik Zie, saat melihat pria itu ada didepannya.
Zie dengan perlahan turun dari bangku itu, dengan langkah kecilnya ia berjalan mendekat dan memeluk kaki pria itu. Zie mendongak dan merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong. Kedua mata bulat coklat jernihnya berkaca-kaca.
Pria itu segera meraih tubuh kecil Zie dan menggendongnya, Zie menyerukan wajahnya dileher pria itu, air mata Zie akhirnya turun juga. Pria itu bisa merasakan bajunya basah karena air mata, pria itu membelai lembut pucuk kepala anak kecil itu serta menepuk-nepuk punggung balita laki-laki itu.
"Sayang, jangan nangis!"
"Daddy napa balu pulang? Zie sama Kak Ken nyaliin Daddy. Jangan pelgi lagi, Dad!" ucap balita laki-laki itu sesegukan.
Siapa anak ini? kenapa aku merasa begitu dekat dengannya. Cara dia menatap mengingatkanku pada seorang yang sampai saat ini masih ada dalam hati ini. Gumam Pria itu dalam hati.
Di usianya yang belum genap 5 tahun kedua balita laki-laki itu tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas, didikan sang Daddy membuat mereka sudah dapat berbicara dengan sangat jelas, hanya Zie yang sedikit susah mengucap huruf 'R' saat berbicara.
"Zie..!" Panggil Ray yang baru kembali dari toilet dengan Ken berada dalam gendongannya, Ray sangat khawatir melihat Zie dalam gendongan seorang pria yang tidak dikenalnya, karena sang pria berdiri membelakanginya.
"A-Awan!" Ray terbata-bata, matanya membola lebar melihat siapa yang berdiri dihadapannya, saat pria itu membalikkan badannya. Mulut Ray ikut ternganga, pandangannya menelisik dari kepala sampai ujung kaki. Ray merasa seperti mimpi, laki-laki yang beberapa tahun hilang bak ditelan bumi kini ada didepan matanya.
Pria yang di panggil Awan oleh Ray hanya membalas dengan seuntas senyuman. Pandangannya beralih menatap tubuh kecil dalam gendongan Ray, ia seperti sedang berdiri didepan sebuah cermin dan melihat bayangan anak kecil yang sedang digendongnya.
Zie mengangkat wajahnya dari pundak Awan, kedua mata bulat itu berair hidungnya memerah karena menangis.
"Papa!" seru Zie saat melihat Ray.
"Anak lo, Ray?" kata Awan mendengar laki-laki kecil yang digendongnya memanggil Ray dengan sebutan Papa.
"Iya!"
"Papa, benarkah ini Daddy?" sebuah celetukan keluar dari bibir mungil Ken yang sedari tadi terus menatap lekat pada wajah Awan, membuat Awan semakin mengerutkan keningnya berlipat-lipat. Ia bingung dengan kedua anak itu, kenapa memanggilnya Daddy. Padahal ini pertemuan pertama mereka dan juga hari pertama Awan kembali ke Indonesia.
"Iya, ini juga Daddy kalian!"
"Benarkah, Pa?" mata bulat coklat terang itu berseri-seri menatap sang Papa, Ray hanya mengangguk pelan. Awan sendiri bisa melihat binar bahagia dari kedua mata balita laki-laki itu.
"Ray, kenapa kedua anak ini memanggil gue Daddy?"
"Apa lo keberatan mereka manggil lo Daddy?"
"Bukan, bukan gitu. Gue malah senang di panggil Daddy oleh mereka, karena gue udah jatuh hati sejak pertama melihat....?"
"Zie namanya Kenzie."
__ADS_1
"Hati gue seperti terpanggil untuk dekat dengannya dan saat gue mendekapnya seperti ini, gue merasa ada ikatan bathin antara kami." Awan mengecup pipi gembul itu bertubi-tubi dengan sayangnya, membuat si empunya tertawa senang.
"Jangan lupa lo juga punya Ken, mereka sepaket!" ketus Ray mengingatkan Awan.
Awan menghentikan kegiatannya mencium gemas Zie, matanya beralih pada Ray dan Ken. Bocah kecil pendiam yang sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Ini Kenzo Kakaknya. Daddy macam apa lo, melupakan salah satunya." lanjut Ray menyindir Awan.
Awan hanya tersenyum tipis, lalu mendekati Ken. Meraih tubuh kecil Kenzo membawanya kedalam pelukan, mencium sangat lama pucuk kepalanya.
"Jangan tinggalin kami lagi Dad!" Ucap Ken setelah berada dalam dekapan Awan, Ken mengeratkan rangkulannya pada leher Awan. Mata Awan terpejam sejenak, darahnya berdesir merasakan sebuah ikatan layaknya seorang Ayah dengan Putranya. Hatinya begitu menghangat ketika mendekap tubuh kecil kedua balita laki-laki itu.
"Daddy engga akan tinggalin kalian."
*****
Malam hari dikediaman Anggara terjadi kegaduhan, siapa lagi sang pembuat onar kalau bukan twins yang membuat seluruh penghuni rumah kalang kabut. Zie sejak sore hari bangun dari tidurnya tidak menemukan Awan di dekatnya terus saja menangis hingga sang Mami membujuknya dengan alasan jika Awan sedang berkerja membuat tangisan Zie reda.
Hingga malam tiba Awan tidak kunjung pulang, Zie kembali menangis membuat badannya demam tinggi begitu juga tubuh kecil Ken mengalami hal yang sama. Dika yang baru saja sampai rumah mengetahui kedua putra kecilnya demam langsung panik.
"Sayang, kenapa engga telpon mas bilang mereka sakit. Sekarang kita ke rumah sakit, badan mereka sangat panas."
"Tenang dulu mas, Ray sama Dokter sedang kesini."
"Mungkin karena Zie dan Ken engga bisa jauh dari Awan."
"Awan?" beo Dika. Zoya mengangguk.
"Iya, Awan. Tadi siang mereka pulang diantar Awan, dalam keadaan tidur. Saat bangun tidur sore tadi Zie nangis-nangis karena ngga lihat Awan disampingnya."
"Jadi, Awan ada disini? anak itu dicari-cari malah muncul sendiri." Dika menghela nafas meraup wajahnya dengan kasar.
Awan yang sedang memeriksa laporan perusahaannya dirumah merasakan firasat tidak enak dihatinya, pikirannya melayang pada dua bocah kecil yang telah mencuri hatinya itu.
Dengan di penuhi rasa khawatir takut terjadi sesuatu dengan mereka, Awan langsung menutup laptopnya meraih kunci mobil dan bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Dika.
Tok tok tokk
Setelah mengetuk beberapa kali pintu rumah di buka, Ray yang membuka pintu bernafas lega melihat orang yang sedang dicari muncul dirumahnya.
"Untung lo datang tepat waktu, ayo ikut gue"
__ADS_1
"Ada apa?"
Ray tidak menjawab, ia terus berjalan menapaki anak tangga hingga sampai di lantai atas dan masuk kesalah satu kamar yang ada disana diikuti Awan yang berjalan dibelakangnya.
Begitu sampai di kamar, Awan melihat Dika sedang mendekap Zie dalam gendongannya seperti koala. Wajah putih Zie tampak merah, sedangkan Ken tertidur disamping Zoya sang Mami dengan handuk kompres dikeningnya.
"Zie sayang!" mendengar suara Awan. Zie mengangkat wajahnya, membuka matanya sayu melihat Awan.
"Daddy!"
Zie merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong. Awan meraih tubuh kecil Zie membawanya masuk kedalam dekapannya, merasakan suhu panas tubuh Zie yang menguar.
Jantungnya berdenyut melihat kedua anak itu dalam keadaan sakit. Padahal siang tadi begitu aktif dan lincahnya mereka, tapi sekarang tidak ada lagi ocehan yang keluar dari mulut kedua balita itu.
Tak menunggu lama Zie terlelap dalam dekapan Awan, panas ditubuhnya berangsur turun. Awan melangkah mendekati tempat tidur yang ditempati Ken, membaringkan tubuh Zie disamping sang Kakak dengan perlahan agar tidak terganggu tidurnya.
Menarik selimut hingga sebatas dada, mencium kening keduanya dengan lembut secara bergantian. Ada rasa bahagia bersemayam dihati ketika ia melakukan semuanya. Perasaan yang tak pernah dirasakan selama ini, sesuatu yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata.
Aah, ternyata begini rasanya jadi seorang Ayah.
"Selamat tidur kesayangan Daddy,"
*****
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Dika setelah memastikan twins dalam keadaan baik dan demam mereka juga sudah turun. Saat ini mereka berempat sedang duduk di ruang santai depan kamar balita kecil itu.
"Seperti yang kak Dika liat, semua baik."
Dika mangut-mangut, "Tapi kamu membuat kami disini yang tidak baik selama bertahun-tahun!"
"Maaf, Kak!"
Dika mendengus, "Kenapa kamu berbuat sejauh itu, Wan? kenapa tidak dibicarakan dulu!"
"Apa Kak Dika akan mengijinkannya, jika aku mengatakan sejak awal, tidak kan?"
"Tapi tidak dengan mengorbankan nyawa kamu, Wan. Apa kamu tidak memikirkan Mama-Papa."
"Aku sudah memikirkan semuanya, Kak. Mereka juga tau."
Pantas saja....
__ADS_1
Bersambung...
❄❄❄❄❄❄❄