Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
58 - Menemukan Petunjuk


__ADS_3

Setengah jam kemudian pintu kamar yang di tempati Shika dan Adit kembali dibuka dari luar, seorang pria masuk beserta dengan anak buahnya. Adit semakin mempererat pelukannya pada Shika.


"Apa kabar Nyonya Ardhinata, oh! mungkin lebih tepatnya mantan Nyonya!" pria tua itu terkekeh.


"Siapa anda, kenapa anda menculik dan menyekap kami disini?" tanya Shika emosi.


"Tenang, jangan emosi. Saya hanya ingin say hello dengan penerus Ardhinata." Ucap pria tua itu melihat kearah Adit yang berada dalam pelukan Shika, Adit membenamkan wajahnya diperut Shika.


"Apa maksud anda, katakan! apa tujuan anda?" ketus Shika.


"Ternyata mantan Nyonya Ardhinata tidak sabaran ya,"


"Baiklah, saya juga tidak ingin membuang waktu." lanjut pria tua itu lagi.


"Saya ingin anak ini membantu saya mengalihkan semua aset dan kekayaan Ardhinata kepada saya, mudah bukan? setelah itu kalian bebas!"


Siapa pria tua ini, kenapa dia juga ingin menguasai kekayaan keluarga Kak Kev? apa dia.... Batin Shika menerka-nerka orang itu.


"Heeh... anda salah besar Tuan. Jika berpikir anak laki-laki ini adalah keturunan Ardhinata, seharusnya sebelum menculik terlebih dahulu anda cari tau." Shika sangat geram dengan pria yang dihadapinya ini.


Bukannya menjawab pria tua itu memerintahkan anak buahnya untuk segera membawa Adit.


"Bawa anak itu!" titah pria tua itu.


Shika berusaha menahan Adit yang sedang berada dalam pelukannya, ia tidak ingin Adit sampai dibawa. Namun tenaga Shika kalah jauh dengan anak buah pria itu yang berbadan besar.


Adit meronta-ronta dalam pegangan lelaki bertubuh besar itu, hingga membuat kulit tangannya memerah.


"Lepaskan dia!" teriak Shika dengan air mata yang berurai melihat raut wajah Adit yang sangat ketakukan.


"Mommy... hu..hu.. hu..." Raung Adit yang dibawa paksa keluar dari kamar itu air mata anak laki-laki itu terus mengalir.

__ADS_1


"Aku sudah berbaik hati, meminta secara baik-baik. Tapi kau sendiri menantangku!" bentak pria tua itu dengan wajah yang amat menjengkelkan dimata Shika.


"Sudah aku katakan dia bukan Putra Kevin!" Shika memberontak dalam genggaman sang anak buah.


"Kau pikir aku percaya,,, hahahahaha.. Kau mau membodohiku, itu tidak bisa mantan Nyonya Ardhinata!" pria tua itu tertawa menggelegar, didalam kamar itu dipenuhi dengan suara tawanya yang membuat Shika semakin murka.


Kalau saja saat ini, aku tidak sedang hamil. Aku pasti akan melawan iblis ini, aku harus bisa mengulur waktu. Aku yakin, Kak Awan dan Kak Dika pasti akan segera datang. Batin Shika


"Jika kau berani melawan, maka anak ini akan tinggal nama!" ancam pria tua itu.


"Ikat dan bawa dia ke gudang." titah pria itu lagi sambil berjalan meninggalkan kamar itu.


Shika tidak melawan lagi, ia tidak ingin mereka menyakiti Adit jika ia terus melawan. Selain itu juga karena kondisinya yang sedang hamil. Tubuhnya juga mulai lemas, karena tidak ada makanan yang masuk kedalam tubuhnya.


Shika sudah dibawa ke sebuah gudang, kaki tangannya diikat. Ia masih menangis, entah apa yang akan mereka lakukan pada keponakannya itu, Shika sangat cemas tapi ia tidak bisa berbuat apa pun.


"Nak, yang kuat ya. Daddy pasti akan datang selamatkan kita!" lirih Shika berbicara pada janin yang ada didalam perutnya.


"Sayang, apa yang terjadi? apa kalian baik-baik aja!" gumam Awan lirih.


Tes


******


Edo dan Alex bekerja keras melacak lokasi penyekapan, dengan bantuan dari rekaman CCTV pada sebuah rumah diujung jalan dimana mobil yang dikemudi Shika dihadang. Beruntung sang pemilik rumah tersebut memberikan ijin pada mereka untuk melihatnya, pada saat kejadian hanya ada tiga mobil yang lewat disana. Sehingga membuat pekerjaan mereka lebih mudah, tidak membutuhkan waktu lama Edo dan Alex berhasil menemukan lokasi penyekapan Shika.


Dika, Awan, Ray dan Edo langsung bergerak ke lokasi. Mereka tidak ingin membuang waktu lagi, walaupun hari sudah malam. Tapi keselamatan Shika dan Adit lebih utama, tidak tau seperti apa kondisi mereka saat ini.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Kini mereka sudah sampai dihutan tersebut, disusul oleh Alex dan beberapa anak buah Yudha yang sudah terlatih lengkap dengan segala senjata bahkan sniper.


Menurut pantauan anak buah Edo yang sudah lebih dulu memantau disana, rumah itu dijaga dengan sangat ketat. Bahkan pagarnya diberi aliran listrik, sehingga harus hati-hati saat akan masuk kedalam sana.

__ADS_1


*****


Sementara didalam rumah tersebut, sedang terjadi keributan antara Edgar dengan pria tua yang memaksa membawa Adit bersamanya.


"Apa yang kau lakukan padanya, Delas?" tanya Edgar pada pria tua itu, saat melihat anak buah mereka membawa Adit.


"Aku ingin menyelesaikan semua secepatnya, menunggumu hanya buang-buang waktuku saja." Delas tersenyum licik.


Setelah semuanya sudah berpindah ketanganku kau pun akan aku singkirkan dari muka bumi ini, aku akan mengirimmu menyusul orang tua dan saudara tirimu yang bodoh itu. Suara hati Delas si pria tua yang serakah tertawa penuh kelicikan.


"Apa kau tidak bisa menunggu besok, hah! kau membuatnya takut Delas, kita membutuhkannya bukan menyakitinya." Edgar memberi pengertian pada Delas.


"Aku tidak peduli, yang ku inginkan kekayaannya semua segera menjadi milikku. Sehingga aku bisa memperluas jaringan dunia hitam, dan menjadi pemimpin yang disegani. Hahahah..... Kau tau bukan, sudah sangat lama aku menantikan saat-saat seperti ini!" sahut Delas menyeringai, tanpa diketahui oleh Edgar karena ia berdiri membelakanginya.


*****


Sementara Delas dan Edgar masih melanjutkan perdebatan mereka tanpa tau jika diluar, rumah yang mereka tempati sudah dikepung. Awan dan yang lainnya berhasil masuk kedalam halaman rumah itu, beberapa anak buah yang sedang berjaga sudah dilumpuhkan tanpa menimbulkan suara.


Sesuai arahan yang diberikan oleh Alex, mereka bergerak mendekati rumah tersebut yang dijadikan tempat penyekapan Shika dan Adit. Sebuah bangunan tua yang masih terlihat kokoh, mereka semakin mendekat dengan sangat hati-hati.


"Tunggu." Ucap Alex tiba-tiba menghentikan langkahnya, diikuti yang lain.


"Sebaiknya kita berpencar, jika ada diantara kita ketahuan. Setidaknya masih ada yang bisa menyelamatkan yang lain." Alex yang sudah berpengalaman memberi saran.


"Karena saya merasa aneh, tidak ada pergerakan apapun dari dalam. Seharusnya mereka pasti ada yang keluar untuk mengecek bagaimana keadaan diluar." Jelas Alex, menjabarkan apa yang ada didalam pemikirannya.


Mereka tampak memperhatikan sekitar, memang benar apa dikatakan oleh Alex. Akhirnya mereka mencari pintu atau jendela yang sekiranya aman untuk menyelinap masuk kedalam tanpa ketahuan.


Edo terus mengawasi dari luar, ia tidak ikut masuk. Jari-jari tangannya bermain dengan lincah diatas keyboard laptop yang ada


pangkuannya.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2