Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
71 - Upah Begadang


__ADS_3

Wajah Awan tampak berseri-seri pagi ini, berbeda dengan Shika yang cemberut. Awan bisa melihat dengan jelas betapa lucunya wajah istrinya dari pantulan cermin didepannya, Awan yang sedang mengeringkan rambut sang istri seakan tidak peduli dengan tatapan horor istrinya itu.


Shika memplototin suaminya, dengan bibir manyun.


“Apa liat-liat?” ucap Shika dengan gerakan bibirnya tanpa suara.


Awan terkekeh, betapa imut istrinya bila sedang mode galak seperti ini.


“Kamu makin gemesin kalau lagi marah-marah seperti ini, sayang.” Awan mematikan dan meletakkan pengering rambut di atas meja rias. Awan menaruh dagunya di puncak kepala Shika, tangannya merangkul istrinya dari belakang. Sangat empuk memeluk istrinya seperti itu, yang semakin hari semakin montok saja.


Awan memandang wajah cantik sang istri, bulu mata lentik dengan netra berwarna coklat. Mata mereka bertemu tatap di dalam bayangan cermin. Sampai saat ini, Ah! Awan merasa masih seperti mimpi bisa menikah dengan cinta pertamanya, bahkan wanita dihadapannya itu kini sedang mengandung buah cinta mereka.


Awan melepaskan rangkulannya setelah puas memeluk istrinya, puas? Tentu saja Awan tidak akan pernah puas memeluk tubuh yang seperti magnet baginya. Ia memutar tubuh istrinya lalu ia bersimpuh dihadapan sang istri. Menggenggam tangan dengan jari-jari lentik yang sekarang menjadi buntel-buntel karena perubahan tubuh Shika selama hamil. Satu tangannya terulur mengelus pipi bakpau istrinya.


“Sayang, Kakak mau katakan sesuatu. Tapi janji kamu harus tetap tenang ya?” Awan berucap dengan lembut, Ibu jari tangannya mengusap-usap tangan istrinya. Shika pun mengangguk, Awan menarik nafas dalam dan panjang.


“Ken dan Zie dini hari tadi Kakak bawa ke Rumah Sakit.” Ucap Awan dengan pelan dan sangat hati-hari sembari memperhatikan raut wajah istrinya.


“Mereka kenapa Kak?” tanya Shika dengan shock, tangan Shika gemetar dan dingin dalam waktu bersamaan.


“Sssstt.. Tenang dulu sayang kamu harus tenang.” Awan mengenggam semakin erat tangan istrinya.


“Gimana aku bisa tenang Kak, anak-anak masuk Rumah Sakit. Sedangkan aku Ibunya tidak tau apa-apa.” Tangis Shika pecah, ia menarik tangannya dari genggaman suaminya. Shika merasa kesal dengan suaminya itu, tidak memberitahunya apa yang terjadi dengan kedua Putranya.


“Makanya kamu tenang dulu, dengarin Kakak.” Ucap Awan tegas kembali meraih tangan istrinya.

__ADS_1


“Lihat Kakak,” kata Awan lagi, tatkala sang istri mengalihkan pandangannya kearah samping. Shika menurut, ia menatap suami.


“Semalam mereka muntah-muntah, keadaan Zie sangat lemah karena Zie yang paling parah muntahnya tidak berhenti. Jadi kami membawa mereka ke Rumah Sakit, dan sekarang kondisi mereka sudah membaik. Tapi masih tetap harus di rawat beberapa hari.” Jelas Awan.


“Kakak tidak membangunkanmu semalam, karena kamu sendiri baru bisa tidur. Kamu butuh istirahat yang cukup, kamu juga harus memikirkan dia yang ada disini, jika Mommy sakit dia juga ikut sakit. Kalau dia hanya kamu yang bisa tau apa yang sedang dia rasakan, sementara twin Kakak masih bisa menjaga dan merawatnya dengan tangan Kakak sendiri dan masih ada yang lain juga yang sayang sama mereka.” Awan mengelus-elus perut Shika.


Shika memperhatikan wajah suaminya, tampak mata lelah dan lingkaran hitam di sekitar mata suaminya.


“Maafin aku Kak! Kakak pasti belum tidur dari semalam.” Lirih Shika, sorot matanya memancarkan kesedihan.


Suaminya itu sudah lelah mengurus dirinya, tetapi masih harus merawat twin. Tidak pernah terdengar laki-laki di depannya ini mengeluh sedikit pun.


Padahal pekerjaannya berhubungan dengan keselamatan nyawa pasien yang ditangani nya, kondisi fisiknya harus tetap prima. Shika merasa sudah egois kepada suaminya itu.


“Hee... Mommy ngga boleh sedih, nanti anak-anaknya ikut sedih. Kakak udah tidur pagi tadi, kamu juga udah kasih Kakak upah begadang.”


*****


Shika dan Awan sudah berada di ruang rawat twin, kedua Putra kembar mereka masih tidur. Kondisi twin sudah mengansur membaik, hanya wajah mereka yang masih terlihat pucat. Sebelum berangkat tadi Awan meminta istrinya untuk tidak menangis di depan Putra-putranya saat di Rumah Sakit. Ia tau istrinya itu sangat sensitif, jadi Awan mewanti-wanti sedari awal.


Awan dan Shika juga membawa sarapan dan baju ganti untuk Kakaknya yang semalam hanya memakai piyama tidur saja ketika membawa twin.


“Ray belum nyampe?” tanya Dika saat keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


“Mungkin terjebak macet Kak.” Sahut Awan.

__ADS_1


Dika mangut-mangut, ia teringat kawasan sekolah Putrinya terkenal rawan macet. Awalnya tadi Awan yang akan mengantar Xena, tapi karena ada jadwal operasi pagi jadilah Ray yang mengantar keponakannya itu sekalian ia mengantar Qilla Putrinya kesekolah walaupun sekolah mereka berlawanan arah.


Awan kemudian pamit dan menitipkan istrinya pada Dika, karena OK sudah menunggunya. Awan melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit ketika kemudian Rizal tiba-tiba muncul dan melangkah bersisian di sampingnya.


“Si-alan lo, bikin kaget aja.” Awan tertawa.


“Lo yang jalan sambil melamun, bukan salah gue dong.” Rizal menonjok lengan Awan. Bukannya membalas Awan justru tertawa, entahlah hari ini dia sangat bahagia. Mungkin karena udah dapat upah kali ya, makanya hatinya seakan banyak kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari.


Rizal memperhatikan sejawatnya itu terus menyunggingkan senyum di wajah tampannya, “Tampang lo cerah amat, jangan bilang lo abis melancarkan aksi serangan fajar?” tebak Rizal.


“Serangan pagi lebih tepatnya.” Awan tertawa lepas.


Rizal menepuk punggung Awan keras-keras, “Si-alan lo, untung aja bini lo ngga ngamuk. Bisa kentang lo!” cibir Rizal.


“Siapa bilang?”


“Lhah, buktinya lo senyam senyum gitu. Berarti aman dong?” sahut Rizal dengan satu alis terangkat.


“Saat itu aman, tapi setelah selesai lebih serem dari singa ngamuk!” Awan tertawa keras.


“Hah kok bisa?” tanya Rizal heran.


“Gue gempur lagi di kamar mandi.” Ucap Awan dengan senyum lebar selebar daun kelor.


“Gilaaa.. Dasar Dokter Bedah gilaaa lo...” Awan tertawa terpingkal-pingkal, Rizal geleng-geleng kepala sendiri.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2