Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
39 - Shika Cemas


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya seorang pria saat panggilan teleponnya terhubung dengan seseorang.


"Wanita itu tinggal berdua dengan ibunya, Bos. Saat ini ibunya sedang dirawat dirumah sakit karena penyakit jantung yang dideritanya. Wanita itu hanya dibayar, Bos. Mereka mengancam akan menyakiti ibunya dan mereka memanfaatkannya karena wanita itu juga sedang terdesak biaya pengobatan ibunya yang harus segera dilunasi, Bos." Jelas orang yang dihubunginya.


"Awasi terus, dan tempatkan beberapa anak buahmu untuk menjaga wanita itu dan ibunya." Perintah sang pria sebelum mengakhiri percakapan mereka.


"Baik, Bos."


Pria itu menarik nafas dalam-dalam, ia memijit pangkal hidungnya, kepalanya berdenyut belum selesai satu masalah sudah muncul masalah yang baru.


"Kau benar-benar ingin bermain denganku!" geram pria itu dengan tangan yang mengepal, kemudian menekan penggilan telepon yang langsung terhubung dengan ruang asistennya.


"Bian, keruangan saya!"


Tak menunggu lama, seorang laki-laki tampan nan gagah telah berada diruang atasannya. Tampak pria yang menjadi atasannya itu menghela nafas berat, Bian sang asisten sudah memprediksi ada masalah besar yang akan terjadi.


"Kita akan ke London hari ini, dan tolong siapkan semuanya," Bian yang merupakan asisten pribadi merangkap tangan kanan dengan sigap dan cekatan melaksanakan perintah atasannya, karena sebagai seorang yang sudah lama mengikuti sang atasan ia sudah tau apa yang harus di lakukannya.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi untuk mempersiapkan semuanya." Dika yang merupakan atasan Bian hanya mengangguk sebagai jawaban.


Bian pun segera keluar dari ruangan itu, sesampainya diruangannya ia terlebih dahulu menghubungi sopir pribadi Dika untuk menyiapkan mobil yang akan mengantar sang atasan pulang kerumahnya terlebih dulu.


Tidak membutuhkan waktu lama sekitar tiga puluh menit, mobil yang ditumpangi Dika memasuki perkarangan rumahnya. Ia bergegas turun dan masuk kedalam rumah.


"Loh, Mas. Tumben udah pulang?" Zoya heran ngga biasanya suaminya pulang siang, jika ada yang tertinggal biasanya pasti minta sopir yang antar.


"Mas akan berangkat ke London hari ini." Ucap Dika setelah mencium kening istrinya.


"Ada masalah lagi?"


Dika mengangguk, "Mas, akan menjemput Adit. Mas khawatir dengan anak itu," Dika kemudian menceritakan apa yang terjadi disana. Zoya pun ikut cemas dengan keponakan suaminya itu dan juga adik-adiknya disana, apalagi dengan keadaan tante Sofi.


*****


Ketiga sahabat itu sedang berkumpul dikantin rumah sakit, saking asiknya mereka dengan dunianya tidak menyadari kedatangan seorang wanita cantik yang sejak tadi sudah memperhatikan ketiganya yang terlihat sangat cuek dengan sekelilingnya.


Kenapa suamiku makin ganteng aja, abis nikah kayak nya makin hot aja,,eh..eh..apaan sih Feshika, suami kamu kan emang dari dulu ganteng. Shika berdebat dengan hatinya.


"Kak..."


Ray, Awan dan Arya menoleh kesamping dimana disana sudah berdiri seorang wanita cantik dengan senyum khasnya yang membuat pria terpesona melihatnya.


"Sayang.." Awan mengulurkan tangannya menyambut pujaan hatinya.

__ADS_1


"Cieleh.. panggilnya udah sayang!" goda Arya.


"Diem lo, berisik."


"Kok ngga ngabarin mau kesini?" tanya Awan,


"Coba cek ponsel kakak, udah ribuan mungkin panggilannya." Awan merogoh saku celananya tapi tak ditemukan ponsel miliknya.


Awan meringis, "Kayaknya ponsel kakak tertinggal di ruangan,"


"Kebiasaan lo! terus kamu dari mana tau kami ada disini?" tanya Ray pada sang adik.


"Dari suster," jawab Shika sambil menyedot minuman suaminya.


"Haus banget?" Awan melihat istrinya menyedot hampir tandas minumannya.


"Hu'um, diluar panas banget kak. Pantesan pada betah disini adem." Shika mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kantin itu, tempatnya begitu nyaman persis seperti cafe.


"Siapa dulu dong yang punya ide." Ucap Ray dengan mengangkat dagunya.


"Kumat sombongnya," sindir Arya.


"Mau nambah minumnya?" tawar Awan.


"Boleh, tapi less sugar." Shika mengangguk, Awan memanggil pelayan kantin itu untuk memesan minuman istrinya. Mereka kembali bercengkrama sambil menunggu minuman Shika datang,


Drrt


Drrt


"Kak Dika." Gumamnya pelan, Ray langsung dihinggapi perasaan tak menentu lalu ia menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari Dika.


"Halo, kak."


"Ray, Kakak sama Bian berangkat ke London. Tolong untuk sementara kamu handle perusahaan."


"Dadakan banget kak, ada masalah?"


"Kakak jemput Adit, ada sedikit masalah disana. Kakak ngga bisa cerita di telepon, pulang nanti pasti akan kakak cerita semuanya. Ya sudah, kakak mau take off ini, kalian jaga diri baik-baik ya."


"Oke kak.."


Ray meletakkan kembali ponselnya diatas meja, lalu melihat semua mata tertuju padanya, ia sudah seperti tersangka yang akan diadili.

__ADS_1


"Kenapa tatapan kalian seperti itu?"


Tidak ada yang menjawab, Ray mendengus. "Kak Dika ke London sama Bian, katanya jemput Adit."


"Ada masalah apa, Ray?"


Ray mengedikan bahunya, "Kak Dika cuma bilang jemput Adit dan untuk sementara gue di minta handle perusahaan seperti biasa."


"Apa ada hubungannya dengan keluarga kak Kev, Kak?" tanya Shika dengan raut wajah cemas, karena sudah beberapa kali ia tidak bisa menghubungi ibu dari mendiang suaminya itu.


"Pikir positif aja," Awan mencoba menenangkan istri, ketiga pria itu saling melihat satu sama lain dan hanya mereka saja yang mengerti isyarat yang mereka berikan.


"Semoga aja kak!"


"Sebaiknya kalian tunda dulu pulang kerumah lo. Paling tidak sampai kak Dika kembali."


"Gue pikir juga gitu, Ray."


"Kita pulang ya, jemput anak-anak. Kakak rindu banget sama mereka," lanjut Awan lagi seraya mengajak Shika pulang, dengan adanya twins setidaknya bisa sedikit mengalihkan pikiran Shika.


*****


"Ma... Pa..."


"Ken.. Zie.."


"Sepi kak? lagi pada pergi mungkin."


"Kita coba liat ke belakang, biasanya anak-anak suka main disana." Awan tidak sedikitpun melepas genggaman tangannya Shika, ia menarik lembut tangan wanitanya untuk tetap berjalan disisinya.


Seperti kata Awan bahwa anak-anaknya memang sedang berada dihalaman belakang yang telap disulap oleh Awan menjadi tempat bermain untuk anak-anaknya agar tidak bosan jikalau terus bermain didalam ruangan tertutup.


Disini anak-anaknya bisa bermain sambil belajar dengan alam, pohon-pohon yang rindang dengan gemericik air dari kolam ikan membuat kedua bocah tampan itu lebih tenang dan nyaman. Bilang mereka lelah, bisa langsung tidur disana karena terdapat sebuah gazebo.


Seperti saat ini kedua bocah tampan yang bijak dan menggemaskan itu ternyata sedang berada dialam mimpi, cara tidur mereka yang aneh bin ajaib mampu menampilkan senyum mengembang diwajah orang tuanya.


"Bi, Mama sama Papa kemana?" tanya Awan pada ART nya yang sedang menjaga kedua anaknya.


"Tuan besar diruang kerjanya, Tuan. Kalau nyonya tadi pamit ke kamar untuk istirahat setelah bermain dengan Tuan muda kecil sampai mereka tidur." Jelas ART nya.


"Bibi kembali saja kedalam, biar saya yang jagain mereka."


"Baik Tuan, saya permisi. Mari Nyonya."

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2